InspirasiOpini

Anas Al Lubab: Taman Pelajar di Taman Surga

Oleh Anas Al Lubab

biem.co – Info pengajian Gus Mus saya temukan tak sengaja di status WA Ade Ubaidil. Saya langsung men-screenshot info tersebut, membagikannya kembali di status WA, FB, dan grup Maiyah. Alhamdulillah banyak yang mau hadir.

Awalnya saya hendak berangkat sendiri, namun Pak Asep dan Pak Dede, tetangga komplek yang punya mobil, mengajak bareng.

Kami berangkat bakda magrib, tiba di mesjid Raudatul Jannah PCI Cilegon ketika orang-orang sholat Sunnah bakdiyah isya.

Setelah sholat, kami memilih duduk tepat di depan panggung, menanti kehadiran Gus Mus yang menurut panitia sudah berada di Cilegon, menuju lokasi.

Gus Mus tiba di lokasi sekitar pukul 20.30 WIB, disambut lantunan sholawat dan jamaah yang berebut salaman. Saya hanya mematung memerhatikan.

Setelah Gus Mus duduk dikawal ketat anggota Banser NU, acara segera dimulai dengan pembacaan Kalam Ilahi serta pembacaan sholawat Diba Rasul yang membuat saya mentitikkan airmata, merasa seakan Rasul tengah berdiri di hadapan saya.

Setelah pembacaan sholawat Gus Mus naik panggung. Beliau mengenakan baju hitam dan sarung batik bercorak yang juga hitam. Meski rambutnya sudah memutih beliau tampak bugar, suaranya masih lantang, gerakkannya masih energik.

Setelah mengucapkan selamat tahun baru Islam. Gus Mus memberikan prolog kepada jamaah mengajak kontemplasi berpikir ulang selama 11 atau 12 bulan, sebenarnya apa yang kita sibukkan? Kemudian langsung menukik pada pembelajaran tauhid “Jangan-jangan kita tidak kenal Allah? Kalau kita belum kenal Allah, bagaimana kita hendak menyenangkan Allah?”

Beliau pun mengilustrasikan air minum yang ada dihadapannya.

“Kalau misalnya saya nggak suka air ini, panitia yang berusaha menyenangkan saya berarti nggak kenal saya.”

Gus Mus kemudian menceritakan orang yang semangat demi  mencium Hajar Aswad dengan menyikut sana-sini untuk membuka kesadaran para jamaah akan inti berislam.

Gus Mus menguji jamaah dengan memberikan pilihan jawaban mana yang lebih baik; ada orang yang rajin ibadah hingga haji berkali kali tetapi pelit dan kurang baik pada tetangga, atau orang yang selalu baik kepada siapa pun tapi tidak pernah sholat.

Gus Mus rupanya tengah berupaya memberi pencerahan kepada jamaah agar memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia. Fragmen yang mencium Hajar Aswad dengan menyikut dijelaskan Gus Mus dengan mengatakan membela yang sunah dengan cara yang haram.

“Kalau Anda hendak menyenangkan saya, lantas menyikut atau menyakiti anak saya, saya injek sampeyan!”

Ilustrasi yang disampaikan dengan serius tapi santai itu direspon tawa segar jamaah.

Gus Mus mengajak jamaah berpikir kritis dan mengingatkan pada hal-hal prinsipil. Menurutnya agama itu mudah tidak mempersulit.

“Jika guru ngajimu menyulitkanmu tinggalkan berarti ada yang salah,” kelakar beliau dalam. “Kenapa naik haji mesti diacarakan syukuran hingga 2 kali sementara sholat tidak? Apa sholat bukan anugerah? Sholat itu anugerah luar biasa. Bahkan kata nabi sebagai mikrajnya kaum mukmin.”

Gus Mus menekankan pemahaman bahwa agama itu untuk kepentingan manusia.

“Agama itu bukan untuk Allah bukan untuk Rasulullah, tetapi untuk manusia. Makanya Allah memilih Kanjeng Nabi sebagai manusia paling manusia, paling mengerti manusia, dan paling memanusiakan manusia.”

Terlalu banyak yang mesti ditranskripsikan, dari pemaparan Gus Mus selama kurang lebih 2 jam. Yang intinya memberi pesan kemudahan dalam beragama dan tidak tertipu oleh simbol-simbol pencitraan.

“Kita mesti berhijrah dari sekadar sholat ragawi ke sholat rohani, dan puasa badan, ke puasa batin,” ujar Gus Mus.

Acara ditutup dengan doa yang menurut Gus Mus semua doa pasti terkabul. Apa yang sulit bagi Allah yang maha kaya. Kasih sayang Allah jika diibaratkan samudera, dan 7,5 miliyar manusia semua permintaannya dikabulkan oleh-Nya maka air samudera tersebut tak akan berkurang, sekadar ibarat jarum yang basah karena dicelupkan.

“Jika tidak terkabul kemungkinannya hanya 3. Pertama Anda tidak percaya saya, kedua doa Anda mustahil, misalnya jamaah di sini pengen jadi Menko,” ungkapnya sambil terkekeh. “Ketiga Allah sayang kepada Anda karena permintaan anda tidak baik jika Allah kabulkan.

Setelah doa dan bubar acara sebenarnya saya ingin mengikuti Gus Mus yang ditampung jamuan makan di rumah dekat masjid, karena berangkat numpang dan kebetulan istri Pak Asep mengabari anaknya tengah sakit muntah-muntah kami akhirnya langsung pulang.

Dua buku Gus Mus Lukisan Kaligrafi dan Membuka Pintu Langit yang kubawa hendak meminta tandatangan sebagai alasan sowan tak jadi saya keluarkan.

Saya menulis ini di beranda rumah lantaran tak tega membangunkan istri yang mungkin kecapekan lantaran sebelum berangkat terus menimang-nimang Nussa yang berusia 4 bulan rewel karena pilek. Itung-itung mencontoh kanjeng nabi Muhammad.

Hehe “geer” kalau kata Gus Mus.

Oh, iya hampir lupa, pemilihan judul di atas karena Gus Mus pengasuh Ponpes Raudatul Thalibin dan acaranya di masjid Raudatul Jannah. Lagian memang yang disampaikan Gus Mus adalah surga bagi para penuntut ilmu yang hadir.

Wallahu a’lam


Anas Al Lubab adalah penulis lepas dan pengulas buku sekaligus penghobi belajar handycraft.

Editor : Muhammad Iqwa Mu'tashim Billah

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ragam Tulisan Lainnya
Close
Back to top button