biem.co – Fenomena Kekinian: Antara Ilmu dan Kehidupan Nyata
Dalam dinamika sosial dan ekonomi saat ini, upaya mewujudkan kehidupan yang layak dan setara seringkali menemui hambatan. Tak jarang, keterbatasan akses, jaringan, dan ruang berekspresi membuat pengetahuan yang kita miliki tidak cukup untuk mengurai kompleksitas persoalan hidup.
Di tengah derasnya arus logika, metodologi, dan karya ilmiah, ada satu ranah yang kerap membuat manusia terdiam: ORDAL.
Apa Itu Ordal?
Dalam budaya Indonesia, istilah “ordal” sering dihubungkan dengan orde dalem atau ujian supranatural—sebuah cara pengambilan keputusan dan pembuktian yang melampaui logika umum. Jika ilmu mengandalkan observasi, eksperimen, dan bukti terukur, maka ordal berada di wilayah kepercayaan, intuisi, dan “hukum” yang tak tertulis di buku-buku sains.
Ordal bukan sekadar “percaya begitu saja”, tetapi berangkat dari keyakinan bahwa alam semesta memiliki hukum-hukum yang belum tersentuh oleh instrumen sains. Dalam tradisi kuno, ordal bisa berbentuk ujian supranatural: menaruh tangan di bara api untuk membuktikan kebenaran, berjalan di atas bara, atau melakukan tirakat untuk menguji kemurnian niat.
Ilmu: Pilar Kepastian yang Terukur
Ilmu adalah hasil akumulasi pikiran kritis manusia. Ia dibangun dari pertanyaan, pengujian, dan pembuktian yang dapat diulang. Rumus matematika, eksperimen laboratorium, dan data statistik menjadi fondasinya. Semua dapat dijelaskan: mengapa dan bagaimana sesuatu terjadi.
Namun, ilmu pun memiliki batas. Ia tidak selalu mampu menjawab pertanyaan metafisik atau misteri kehidupan. Mengapa seseorang tiba-tiba sembuh tanpa obat? Mengapa firasat tertentu sering terbukti benar? Ilmu mencoba memberi penjelasan, tetapi tak jarang jawabannya terasa belum tuntas.
Ordal: Melampaui Rasio
Di titik inilah ordal hadir. Ia tidak berbicara dengan angka, melainkan dengan simbol, isyarat, dan rasa. Bagi sebagian orang, ordal adalah jalan pembuktian yang menguji bukan hanya akal, tetapi juga jiwa.
Sebagian menganggap ordal “satu tingkat di atas ilmu” karena ia menembus batas logika. Jika ilmu memerlukan bukti sebelum percaya, ordal memerlukan keyakinan sebelum bukti itu muncul. Dalam situasi tertentu, ordal menjadi the last resort—ketika semua argumen logis habis, namun keputusan akhir tetap harus diambil.
Antara Bahaya dan Kebijaksanaan
Tentu, ordal bukan tanpa risiko. Mengandalkan ordal secara membabi buta dapat menjerumuskan kita pada takhayul atau bahkan manipulasi. Sebaliknya, menutup mata terhadap ordal berarti menolak warisan kearifan yang sudah berusia ratusan tahun.
Kuncinya adalah keseimbangan. Gunakan ketelitian ilmu untuk memahami dunia, dan gunakan kedalaman rasa untuk menangkap hal-hal yang belum terjangkau oleh data.
Penutup
Ilmu mengajarkan apa dan bagaimana, sementara ordal kerap memberi tahu mengapa. Keduanya bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk saling melengkapi. Dalam perjalanan hidup, ada saatnya kita membutuhkan angka, dan ada saatnya kita membutuhkan tanda. Dan di sanalah ordal berjalan sejajar dengan ilmu—kadang, bahkan melangkah setapak di depan. ***
Penulis: Hayumi
Aktivitas sebagai Dosen di Universitas Primagraha
Aktif juga sebagai Sekjen RISMA Masjid Agung Ats-Tsauroh Kota Serang








