InspirasiPuisi

Puisi-Puisi Encep Abdullah

 

AKAN KE MANA BULU MATAMU JATUH

 

akan ke mana bulu-bulu matamu jatuh

beterbangan ke tanah leluhur

atau ke tanah para perantau

 

di tanah leluhur. bulu matamu

berjarak sejengkal dengan ibumu

kau tak dapat bergerak bebas laiknya

burung dalam sangkar

 

di tanah para perantau. bulu matamu

akan rontok di makan musim

tapi kau bisa asik bermain laiknya

layang-layang di udara

 

bolehkah aku memetik sendiri

bulu mata yang menyisa di matamu

aku mau menyimpannya di bawah bantal tidur

biar terpenjara di dalam kamarku

 

kemudian beranak-pinak menjadi bulu mata cantik

secantik ibu yang melahirkanmu

 

akan ke mana lagi bulu matamu jatuh

selain bersama gugur bunga di taman

namun kau tampak riang bak kumbang berkelana

di atas kembang

 

bulu matamu semakin berguguran

aku memungutinya dan kutaruh di atas ranjang

kelak bulu-bulu mata itu menjelma manusia

menjelma kita berdua.

 

2014


 

BUNGA YANG TAK PERNAH TUMBUH DI KEPALAMU

 

hampir tujuh tahun kau mendamba bunga-bunga di taman

kala terang, bunga-bunga tumbuh menjamur di kepalamu

menyiksa ubun-ubunmu. tak kau petik meski tak cantik.

kala gelap, bunga-bunga tumbuh subur di kulitmu

menutupi bulu-bulu kaki dan tanganmu yang terlampau lama

kau risaukan.

 

kau protes pada tuhan. “aku stres bukan kepalang!”
berdiam dalam kamar tanpa cahaya berkelebatan

sekarang bunga-bunga yang tumbuh di tubuhmu

sudah layu di makan waktu. tuhan telah mencabutnya

sampai ke akar-akarnya.

 

kau kini hanya menangis menyaksikan bunga-bunga itu

tumbuh pada tubuh lelaki lain yang tak kau kenali

bunga-bunga itu segar dan hamil. melahirkan putik-putih kehidupan

yang barangkali kau sesalkan selepas kau tidur panjang

di ranjang kegilaan.

 

bunga-bunga tak akan kembali tumbuh di kepalamu

bila napsu telah merenggut otak dan pikiranmu yang waras

aku hanya bisa berdoa. kelak bunga yang kau harapkan

akan segera datang. dan kau harus ingat

berdoalah pada tuhan biar alam tak merestui hubunganmu

dengan kesepian.

 

Maret 2015


 

YAN  I

 

/1/

yan, ada daun yang tumbuh di kepalamu

menghiasi rambutmu yang kelebat hitam

/2/

yan, daun-daun itu semakin lebat

menutup kepalamu yang bulat

/3/

yan, daun-daun menyelimuti tubuhmu

merajai ayumu menutupi payudaramu

/4/

yan, bisakah kau memotong habis daun-daun itu

“jangan, nanti kau akan menyesal bila daun-daun ini

habis dari tubuhku,” ujarmu

/5/

yan, ada buah yang menggantung di ranting daunmu

buah siapa?

“ini buahmu. yang kelak akan menjelma kamu.”

/6/

yan, sudahi saja percakapan ini

mari kita rayakan saja kebahagian kita

pada daun-daun cinta yang beraroma kasturi

 

2014

 

YAN III

 

/1/

yan, jangan jadikan kerundungmu sekadar penghias wajah

atau sekadar penutup dadamu

kelak ia akan berbicara pada tuhannya

untuk apa dikenakan

/2/

yan, bajumu jangan pernah sekali-kali kotor

lusuh berdebu dijilati kuman-kuman sialan

sirami dengan parfum kesukaanmu; kesukaanku

biar wangi; biar tuhan senang

/3/

yan, pakailah baju berlengan panjang

biar kulitmu tak tampak hitam seperti apa kata ibuku

tutup rapat-rapat kulitmu biar hangat

/4/

yan, coba lihat belakang celana atau rokmu itu

apakah tampak guratan yang membekas dan membias

yang kadang tiap pasang mata lelaki melototi pantatmu

/5/

yan, kau tak harus berkomentar tentang puisiku

ia hanya benda mati. terima saja.

 

2014


 

BIDUK

 

bidukku bocor dayungku patah

aku sudah kadung di tengah lautan

 

ikan-ikan buas menantiku di dasar laut

siap melahap tubuhku yang mungil

 

aku tak menemu biduk yang berlayar

selain angin dan badai menerpa rambutku

 

tubuhku menggigil serupa daun-daun

di pinggir pantai

 

gigi bergemeletak lebih cepat dari detak

mengadu nasib

 

tak ada perlawanan yang bisa kulayangkan

hanya menunggu jasadku tenggelam.

 

2014


 

BATU

 

hatimu batu

yang membisu

 

aku tak menjamahmu

kau bukan apa-apa!

 

2014

 


Encep Abdullah, dilahirkan di Serang, 20 September 1990. Alumnus Untirta. Tulisannya pernah dimuat di Pikiran Rakyat, Lampung Post, Jurnal Nasional, Bali Post, Republika, Media Indonesia, Suara Merdeka, majalah Esquire, dll.. Bergiat di Kubah Budaya. Bukunya yang sudah terbit Tuhan dalam Tahun (puisi, 2014) dan Cabe-cabean (bahasa, 2015). Kini tinggal di Perum Bumi Mutiara Serang (BMS), Blok O 16, Pakupatan, Serang. (@arayrayza).

Editor :

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *