InspirasiPuisi

Sajak-sajak Nanang Suryadi

Oleh Nanang Suryadi

 

 

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Awas

Awas tukang kipas, serunya. Aku tak melihat seorang pun membawa kipas. Udara hujan. Dingin. Untuk apa kipas? Nanti masuk angin.

Udara panas pun tak ada yang membawa kipas, gumamku, terlebih ini udaranya dingin.

Lalu siapa yang tadi.berseru awas tukang kipas? Dia mengingatkan kipas yang semakin langka atau bagaimana? Dia mengingatkan orang tentang pembuat kipas, pengguna kipas atau penjual kipas.

Ada pernah kudengar film karena tak pernah kutonton: kipas kipas cari angin. Mengapa angin dicari? Siapa yang menculik?

(Kipas angin menderu. Di ruangan penuh rencana. Udara terasa demikian panas. Hujan menderas di luar).

 

 

Ketika Benda

ketika benda benda berubah menjadi seperti manusia. maka engkau akan.dibisiki tiang listrik, dimarahi hujan, diteriaki matahari, dimakan.sendok, diminum gelas.

aku menulis puisi. benda benda berebut ingin serupa manusia. di dalam puisi mungkin.engkau dijual rumah.

 

 

Kenangan dalam Foto Warna Sephia

7 tahun lalu. Bukan di sebuah kota tua. Hanya foto warna sephia. Waktu beranjak demikan cepat. Atau kita yang teramat lambat? Dan terperanjat.

Sebuah kenangan akan selalu mengigatkan, kita memiliki sahabat, yang teramat dekat. di waktu lalu. foto warna sephia. bukan di sebuah kota tua.

Aku Tak Bisa

aku tak bisa berbuat apapun
selain berdoa: kebaikan untuk kita semua

terjadilah apa.yang semestinya terjadi
segala sesuatu yang sudah digariskan

pintaku, berilah kami yang terbaik
dunia yang penuh kedamaian dan ampunan

 

 

Di Dinding Waktu

Di dinding waktu kau tuliskan
Mungkin cinta yang ingin diabadikan

Di langit harap kau guratkan
Mungkin rindu yang ingin disampaikan

Kau menerka dimana batas
Hingga kau tak melampaui segala yang pantas

Kau menduga gemuruh riuh ada dalam diam
Kau menafsir kekosongan dalam keriuhan remuk redam

Hari ini, kau menulis puisi
Menjenguk diri sendiri

Nun jauh di dalam diri

 

 

Sebaris Puisi, Secangkir Kopi dan Kegaduhan di Luar Sana

sebaris puisi tak usai di tuliskan. hiruk pikuk. kata kata dipilihpadatkan. hiruk pikuk. gaduh tak berkesudahan. kata kata jumpalitan. tak ingin dipenjarakan. diksi kemana diksi? imaji melentur melantur di ranting ranting ingatan. diksi imaji mengaji diri mengkaji diri. sssst diamlah, secangkir kegaduhan kuteguk perlahan. secangkir kopi yang kelam.

Bandung, 2016

 

 

Saat Terpejam

yang diperam ingatan berlalulang saat mata terpejam. sunyi tak sebenar sunyi. kosong tak sebenar kosong. tak serupa gelembung sabun. meletus berulangulang. demikian riang ingatan. demikian sedih ingatan. diperam kata. dalam ingatan. lalulalang saat terpejam.

Bandung, 2016

 


Nanang Suryadi, lahir di Pulomerak, Serang pada 8 Juli 1973. Dosen FEB Universitas Brawijaya. Aktif mengelola fordisastra.com. Buku-buku puisi yang menyimpan puisinya, antara lain: Sketsa (HP3N, 1993), Sajak Di Usia Dua Satu (1994), Orang Sendiri Membaca Diri (SIF, 1997), Silhuet Panorama, Negeri Yang Menangis (MSI,1999), Telah Dialamatkan Padamu (Dewata Publishing, 2002), BIAR! (Indie Book Corner, 2011), Cinta, Rindu & Orang-orang yang Api dalam Kepalanya (UB Press, 2011), Yang Merindu Yang Mencinta (nulisbuku, 2012), Derai Hujan Tak Lerai (nulisbuku, 2012), Kenangan Yang Memburu (nulisbuku, 2012) dan Penyair Midas (Hastasurya & Indie Book Corner, 2013).


Rubrik ini diasuh oleh M. Rois Rinaldi.

Editor :

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button