CerpenInspirasi

Serial Ramadhan: 30 Hari Menafsir Kehidupan (Bagian 2)

Episode Kita Butuh Ramadhan

Kisah sebelumnya

DENGAN jiwa berpengharapan, Adi melangkah menuju masjid di komplek rumahnya. Ini adalah malam pertama bulan Ramadhan. Suasana di Masjid Al-Anshor penuh sesak hingga jamaah bertebaran di halaman masjid, seolah luas masjid menyempit dengan membludaknya jamaah yang sebagian besar merupakan warga komplek tersebut.

 

Adi duduk di shaf ketiga sambil menunggu waktu shalat tarawih setelah menyelesaikan shalat sunah setelah Isya.

 

Seperti yang sudah-sudah, tradisi di masjid tersebut, sebelum dilaksanakan shalat tarawih berjamaan, mimbar diisi oleh Ustad Aslah sebagai penceramah yang memberi materi pada kuliah sepuluh menit malam itu.

 

“Jamaah tarawih yang dimuliakan Allah, sesungguhnya kita sebagai manusia yang membutuhkan bulan Ramadhan, sehingga bergembiralah kita semua, sebagaimana bergembiranya ketika terpenuhinya sesuatu yang kita butuhkan,” seru Ustad Aslah.

 

Mendengar kalimat tersebut, pikiran Adi kembali melayang ke masa saat dia berkuliah di Universitas Nusantara. Tergambar jelas coretan seniornya, Bung Mujahid yang menjadi mentor untuk mata kuliah Agama Islam.

 

“Berapa jumlah jam dalam kurun waktu satu hari satu malam?” tanya sang mentor.

 

Dengan serempak para mahasiswa menjawab, “Dua puluh empat jam!”

 

Lalu sang mentor melanjutkan, “Berapa lama kalian tidur kalau mengikuti saran dokter?”

 

“Enam, eh, delapan, eh… sepuluh jam…” terdengar jawaban yagg berlainan dari setiap mahasiswa.

 

“Kita ambil rata-rata menurut dokter, waktu tidur yang cukup itu adalah delapan jam. Artinya, sepertiga waktu telah kita habiskan untuk tidur,” kata sang mentor, “kalau jumlah waktu yang kalian pergunakan untuk shalat sebanyak lima waktu berapa jam?” lanjutnya memberi pertanyaan.

 

Seketika itu pula Adi terpana mendengar pertanyaan tersebut, diam-diam dia menghitung dalam hati. Bila dalam waktu shalat paling lama 10 menit maka berarti 5 waktu tersebut jumlah totalnya 50 menit. Padahal dia menyadari lebih sering melakukan shalat gerak cepat dalam waktu maksimal 5 menit setiap waktu. Artinya, dalam sehari semalam, waktu yang digunakan Adi kurang dari  seperdua puluh empat atau hanya 4% dalam sehari semalam dari waktu dan nikmat yang telah dianugerahkan Allah pada dirinya.

 

Masya Allah. Astaghfirullah,” hati Adi bergetar.

 

“Jadi, jamaah sekalian, bagaimana kita merasa diri mau masuk ke surganya Allah jika tidak menjalankan berbagai kewajiban sebagai manusia?” gelegar suara Ustad Aslah membuyarkan lamunan Adi dan menyadarkan bahwa dirinya sedang di Masjid Al Anshor sedang menanti waktu shalat tarawih.

***

“Pak… Bapaaak… kok, jalan sendirian ninggalin ibu?” Wardah, istrinya memanggil dari belakang.

 

Adi baru tersadar, kalau dirinya langsung pulang usai tarawih, padahal jelas-jelas tadi dirinya berangkat berdua bersama Wardah.

 

Dihentikannya langkah kaki, menunggu Wardah yang menyusul di belakangnya.  “Iya, Bu, maaf. Bapak lupa. Bapak  masih memikirkan isi ceramah Ustad Aslah tadi,” ujarnya sembari menyambut uluran salam Wardah.

 

“Bapak emang mikirin tentang apa dari ceramah tadi?” tanya Wardah penasaran.

 

Adi megambil napas dalam-dalam. “Bapak terpikir, selama ini kita hidup seolah tanpa arah, Bu,” ujarnya sembari menatap lepas ke langit malam yang bening. “Kita beribadah hanya shalat wajib saja yang jumlah total waktunya teramat sangat sedikit ketimbang urusan kita yang lain.”

 

 

Dialihkannya pandangan ke wajah istrinya. “Coba Ibu pikirkan, bagaimana mungkin amal-amal kita bisa melebihi jumlah dosa yang sehari hari kita lakukan, seperti menggunjing atau dosa lainnya?” lanjut Adi.

 

Diam menguasai mereka beberapa saat, seolah larut dalam pikiran masing-masing. Hanya desau langkah kaki yang menginjak dedaun kering yang bersuara.

 

Mereka telah tiba di gerbang rumah. Adi masuk lebih dulu, disusul Wardah, “Hmmm… benar juga, ya, Pak.”

 

Adi menoleh ke belakang, “Benar apanya, Bu?”

 

“Iya, benar juga apa yang Bapak bilang tadi. Kalau kita bicara pakai logika manusia, nggak mungkinlah waktu yang sangat sedikit tersebut bisa mengalahkan waktu sia-sia yang lebih besar. Tapi, Pak, bukankah selama ini kita bekerja juga merupakan ibadah untuk memenuhi kebutuhan hidup dan anak-anak?” ujar Wardah sembari meletakkan sajadah dan mukena di raknya.

 

Adi menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu mereka. “Masalahnya, Bu, apakah benar kita telah bekerja dengan tujuan hanya untuk mengabdi kepada Allah sebagaimana ayat yang tadi dikutip oleh Ustad Aslah tadi? Bahwa tidak diciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk menyembahku?” tanyanya pada Wardah.

 

“Lagipula, lebih sering demi pekerjaan, kita menunda bahkan meninggalkan shalat dengan alasan kesibukan,” Adi mengusap wajahnya, jelas sekali gurat penyesalan di sana.

 

Pikiran Adi menerawang, betapa meruginya manusia bila semasa hidupnya dilalaikan oleh berbagai urusan dunia yang menurut ustad Aslah hanya merupakan senda-gurau belaka itu. Hening kembali menguasai.

 

Wardah kembali dengan segelas air putih di tangannya. Diletakkannya air itu tepat di hadapan suaminya. “Minum dulu, Bapak keliatannya haus sekali,” ujarnya sembari duduk di samping Adi.

 

Benar dugaan Wardah, Adi langsung meneguk air pemberian istrinya. Usai minum, Adi memperbaiki duduknya. Dipilihnya posisi duduk yang paling nyaman. Wardah menyadari betul bahwa suaminya itu tengah ingin membicarakan sesuatu yang serius.

“Tapi, Bu…” ujarnya disertai jeda beberapa detik, “kita harus bersyukur, masih bertemu dengan Ramadhan tahun ini, Bu. Karena menurut Pak ustad, semua amal kebajikan akan dilipat gandakan pahalanya,” tambah Adi sambil memberikan gambaran kepada wardah tentang bagaimana cara bekerjanya mesin penghitung bensin yang biasa dilihat di SPBU jika mereka akan mengisi bensin.

 

Adi menjelaskan bahwa dimisalkan ada dua buah alat penghitung, satu untuk menghitung amal kebajikan, dan satu untuk menghitung dosa. Penghitung itu tidak mungkin berhenti atau berputar pada saat yang sama, artinya kalau kita melakukan dosa, maka penghitung dosa yang berputar dan penghitung pahala berhenti. Demikian sebaliknya, jika kita melakukan amal kebajikan maka penghitung pahala yang berputar dan penghitung dosa berhenti. Dan jumlah akhirlah yang akan menetukan bagaimana total jumlah amal kita, apakah lebih besar amal keburukan atau lebih besar amal kebajikan. Bila lebih besar aman kebajikan maka dinamakan khusnul khotimah, sedangan bila amal keburukan yang lebih besar maka disebut dengan istilah su’ul khotimah.

 

“Nah… di sinilah pentingnya bulan Ramadhan bagi kita, karena kecepatan putaran penghitung amal kebajikan dapat berputar lebih cepat bila kita melakukan amal kebajikan, sebagaimana dinyatakan oleh Baginda Rasul bahwa semua amal kebajikan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah,”  seru Adi.

 

Wardah mangut-mangut mendegar penjelasan suaminya. Kagumnya semakin bertambah-tambah pada sosok yang dipilihnya menjadi imamnya itu.

 

“Ditambah bahwa ada malam yang lebih baik dari seribu bulan dengan maksud bila kita beribadah pada malam tersebut maka setara atau dianggap melakukan ibadah selama seribu bulan, kan, Pak?” timpal Wardah.

 

“Betul, Bu, itulah sebabnya Ustad Aslah tadi mengatakan bahwa sebenarnya kita sebagai manusia yang membutuhkan bulan Ramadhan, Bapak jadi teringat hadits tentang keinginan manusia agar seluruh bulan dalam setahun adalah Ramadhan, mengingat besarnya nilai yang kita butuhkan,”  celetuk Adi.

 

“Iya, deh, Pak, kita jadi dapat hikmah dan pelajaran malam ini,” ujar Wardah seraya menarik tangan Adi .

 

“Yuk, Pak, kita istirahat, supaya nanti sahur bisa bangun dengan keadaan segar,” katanya.

(Bersambung)


Penulis: Boyke Pribadi

Editor: Setiawan Chogah

Editor :

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *