CerpenInspirasi

Cerbung Kholi Abas: Pesan Cinta Dandelion (Bagian 3)

Cerita Bersambung Kholi Abas

 

Baca kisah sebelumnya: Pesan Cinta Dandelion (Bagian 2)

 

Aku rasa, aku memang menyukaimu, Dan.

 

Ya Allah, aku ingin bercerita pada-Mu. Tentang seseorang. Tentang dia, orang yang selalu mengusik hati ini. Ya, dia. Aku tahu, Engkau sudah jauh lebih tau tentang apa yang akan kuceritakan. Engkau jauh lebih tau tentang isi hati ini. Aku yakin, Engkau maha tau tentang semua ini. Semua hal yang terjadi padaku.

 

Ya Allah, aku jatuh cinta? Mungkinkah itu? Aku sendiri tak tahu. Aku hanya yakin jika ini bagian dari rencana-Mu yang indah. Aku hanya tau bahwa ini merupakan rasa yang Kau hadirkan sebagai bukti cinta kasih-Mu. Maha Agung Engkau, ya Allah, yang telah menciptakan rasa yang begitu indah pada setiap insan.

 

Di kesunyian malam, Januari 2014

 

Aku tersenyum kecil melihat tulisan dua tahun yang lalu itu. Mencoba membayangkan kembali bagaimana perasaanku saat menuliskannya. Sangat indah. Satu tahun dari kejadian rapat di Gymnasium, aku baru bisa memastikan jika rasa itu benar-benar cinta. Bukan waktu yang sebentar untuk memastikannya. Aku sangat mengenal bagaimana diriku. Orang yang tidak mudah untuk jatuh cinta. Sikapku yang jutek dan dingin bagi orang yang pertama kali mengenal membuat mereka memilih mundur sebelum mendekatiku. Sikap cuek yang aku miliki pun membuatku tidak peka dan tak mau tahu tentang orang lain.

 

Aku teringat apa yang membuatku menuliskan curahan hati itu di buku biru. Saat itu minggu tenang sebelum menjelang ujian akhir semester. Minggu tenang di kampus rakyat ini sepertinya hanya sebuah mitos. Ketenangan yang diharapkan para mahasiswa di minggu tenang jarang didapat. Teror deadline laporan sebagai tiket masuk ujian menghantui minggu tenang kami para mahasiswa. Belum lagi jadwal ujian praktikum dan kuliah pengganti yang diadakan pada minggu tenang, lengkap sudah menyempurnakan agenda di minggu tenang.

 

Padatnya aktivitas membuatku merasa penat dan jenuh. Satu-satunya hal yang bisa mengobatiku dari kondisi ini adalah pulang ke rumah. Menjemput ketenangan dan semangat dari orang-orang tersayang. Waktu liburan di minggu tenang yang tersisa dua hari kurasa cukup untuk pulang. Perjalanan dari kota hujan ke kota baja tidak terlalu lama, hanya membutuhkan waktu sekitar 4 jam.

 

Sejak merantau ke kota hujan, setiap pulang ke rumah, aku pasti akan tidur bersama Ibu. Rindu berbincang dengannya. Kebiasaan aku dan Ibu sebelum tidur adalah bercerita tentang banyak hal. Dari hal-hal penting sampai yang sangat tidak penting. Pertanyaan Ibu malam itulah yang membuatku berpikir dan yakin jika memang aku menyukai Dani.

 

“Li, apa kamu punya pacar?” tanya Ibu membuatku sedikit syok.

 

Pertanyaan apa ini?

 

“Lion enggak dibolehin pacaran sama Ayah, Bu,” jawabku sekenanya.

 

“Kamu, tuh, ya, bisa aja. Pacaran itu bukan enggak dibolehin sama Ayah, tapi sama Allah.”

 

Ibu tersenyum sambil mencubit ujung hidungku, barangkali jawabanku yang mengkambinghitamkan Ayah terdengar lucu di telinga Ibu.

 

“Iya, Bu, iya, Lion paham. Memangnya kenapa Ibu tiba-tiba nanya gitu?” aku bertanya heran.

 

“Ibu cuma heran aja, Li. Di usiamu yang udah masuk kepala dua ini, kok, kayaknya Ibu belum pernah dengar kamu cerita tentang laki-laki, yah? Ibu tahu pacaran itu dilarang, tapi kalau suka sama seseorang masih boleh, kan, yah?” Ibu menggodaku dengan tatapan tajamnya.

 

Aku masih terdiam mencoba menerka maksud pembicaraan Ibu.

 

“Ibu ingin tahu, anak Ibu yang paling manja ini suka sama siapa, sih? Masa iya nggak ada satu pun laki-laki yang disuka?” Ibu semakin membuat pipiku bersemu merah.

 

Pertanyaan Ibu membuatku sedikit tersentak. Entah kenapa, nama Dani Muhamad Firdaus seketika muncul begitu saja di otakku.

 

Aku masih menenun kebisuan, menyisakan senyap yang mengurung kami berdua. Aku masih berkutat dengan pertanyaan yang tiba-tiba mengusai kepalaku, benarkah Dani orang yang aku suka?

 

“Dari sekian banyak laki-laki di kampusmu apa nggak ada gitu yang bisa buat kamu suka, Li? Satu pun? Ayolah, Ibu pengin mendengar ceritanya. Kalau ada yang kamu suka ceritakan ke Ibu. Ibu pengin tahu siapa orangnya dan bagaimana dia,” Ibu tiba-tiba begitu antusias, merapatkan duduknya. Sengaja menggodaku sekali lagi dengan tatapan matanya. Ah, untuk kali ini, Ibu tiba-tiba menjelma sebagai sahabatku, yang sedikit genit.

 

“Hmmh… laki-laki yang disuka, yah, Bu?”

 

“Iya, ayo cerita sama Ibu,” mata Ibu membulat. Terlihat semakin lucu.

 

“Nggak, ah, Lion malu…” jawabku, sengaja balik menggodanya.

 

Aih, kamu ya, sama ibu sendiri pakai malu segala? Ayo, jangan bohong, ibu sudah tahu. Kamu itu lahir dari ibu, toh? Ibu sudah hafal gimana anak ibu.”

 

Glek! Aku menelan ludah. Pasrah. Kutarik napas lebih dalam. Seliter, dua liter udara terasa memenuhi rongga dadaku.

 

“Hmmm, entahlah, Bu, Lion juga masih belum tahu ini suka atau bukan,” jawabku pelan. Ada jeda. Aku dan ibu sama-sama menunggu. Ibu menunggu kelanjutan ceritaku, dan aku menungggu keberanian terkumpul penuh dalam diriku. Keberanian untuk mengungkapkan segala rasa yang bersarang dalam diriku selama ini. Tentang rasa pada seseorang….

 

“Tapi, ada satu orang yang sering mengusik hati dan pikiran, Lion,” aku melanjutkan, “Lion gugup kalau berhadapan dengannya,” kuangkat wajahku, mataku menyerbu mata Ibu. Berharap ada pertolongan di sana.

 

Ibu terlihat khusuk menyimak. Bibirnya menyungging senyum tipis, penuh makna,

 

Sekali lagi kukumpulkan keberanian sampai benar-benar penuh. “Lion ingin tahu lebih banyak tentangnya. Lion selalu senang kalau tak sengaja bertemu dengannya. Bertemu di satu forum bersama, berpapasan di jalan dan koridor, atau sekadar melihatnya dari jauh. Kita tak pernah saling tegur sapa apalagi sampai ngobrol. Hanya melihat dan saling melempar senyum kalau bertemu. Tapi itu membuat Lion senang tak terkira, Bu. Bertemu dengannya itu membuat Lion jadi orang yang aneh, senyum-senyum sendiri….”

 

Hah! Seperti air bah, semua rahasia meluap sudah. Aku lega.

 

“Waaah… Lion, itu pasti suka. Apalagi untuk orang kayak kamu yang sama laki-laki aja galak. Sejak kapan kamu suka?” tanya Ibu antusias.

 

“Mmmmm… sekitar satu tahun yang lalu sepertinya, Bu,” jawabku. Aku seperti kucing kedapatan mencuri ikan. Menunduk.

 

“Ya ampun, Liooon… sudah setahun dan kamu baru cerita ini ke Ibu? Siapa namanya, Nak, siapa?” Ibu semakin menjadi-jadi.

 

“Namanya…,” aku menggantung kata. Ibu merapatkan duduknya kepadaku. “Dani, Bu. Dani Muhamad Firdaus.”

 

“Coba tunjukkan ke Ibu yang mana orangnya. Ada fotonya, kan? Dia orang mana? Fakultas apa?” pertanyaan Ibu bertubi-tubi. Aku kelabakan.

 

Aku mengulas senyum menyaksikan rona bahagia yang tergambar jelas di wajahnya. Sepertinya ia sangat senang mengetahui putri semata wayangnya ini telah menyukai seorang laki-laki. Maklum saja, aku selalu dingin jika ditanya hal-hal seperti ini. Menurutku itu bukan hal yang penting untuk diceritakan. Mungkin lebih tepatnya karena sebelumnya aku memang tak pernah menyukai siapa pun, sehingga tak ada jawaban yang bisa kujelaskan untuk menjawab pertanyaan Ibu.

 

“Apa, sih, Bu? Nggak usah dibahas, ya… Please… Lion belum tahu apa pun tentang Dani. Lion ngantuk, mau tidur. Lagipula Lion nggak punya fotonya,” kilahku, menghindari perbincangan yang semakin panjang tentang Dani.

 

Aku memutuskan untuk segera memejamkan mata dan berpura-pura tidur. Akhirnya Ibu pun mengalah, menghentikan obrolan tentang siapa yang aku suka. Ibu tertidur lelap di sampingku. Saat itu, mataku memang terpejam, tapi pikiranku masih bermain dengan bayangan Dani. Aku rasa, aku memang menyukainya. Hatiku tak tenang, aku masih enggan terlelap. Di tengah malam yang sunyi, akhirnya aku menuliskan apa yang aku rasa di buku biru yang saat itu belum bersampulkan “All About You, Dandelion”.

***

Aku menghela napas panjang. Kenangan demi kenangan tentang Dani hadir dengan sangat jelas ketika aku buka kembali lembaran-lembaran buku biru itu. Sangat menyesakkan memang, tapi aku tetap menyukainya. Mengenang segala hal tentang Dani adalah satu-satunya cara yang bisa aku lakukan saat ini. Di saat aku tak bisa menyapanya lagi. Malam ini, di saat semua orang telah bermain dalam mimpinya, aku masih belum bisa terpejam. Aku merindukannya. Merindukan Dani si pemilik wajah teduh dan bermata tajam. Lagi dan lagi, aku putuskan untuk menuliskan pesan cinta ini. Pesan yang entah akan sampai pada Dani atau tidak.

 

Assalamualaikum. Dan.

Kamu tahu? Malam ini akhirnya hujan turun lagi di kotaku. Apakah di tempatmu saat ini sedang hujan? Irama yang disisakan rintikannya terdengar merdu. Aku memang tidak jatuh cinta padamu saat hujan, seperti kisah Lail dan Soke Bahtera dalam novel Hujan. Tapi entah mengapa, hujan selalu membawa kenangan tentangmu, Dan. Mungkin karena kamu menyukainya. Di luar memang ramai dengan suara hujan, tapi aku merasa sepi. Bagiku, hujan ini menyempurnakan kesepianku. Dulu, kamu pernah menjuluki diriku sendiri sebagai jelmaan sunyi. Orang yang bisa menghilangkan kesunyian dari kehidupan orang lain, namun tetap merasa sepi sendiri.  Saat ini, aku merasakannya lagi.

 

Hufffft, sudahlah. Aku tidak ingin terus menerus menyalahkan hujan juga rasa rindu yang datang karenanya. Justru lewat pesan ini, aku ingin menghilangkan kesunyian dalam diri. Aku ingin menyapamu lagi. Dani, aku ingin bercerita. Aku ingin bercerita bagaimana aku yakin jika aku benar-benar menyukaimu. Maukah kau mendengarnya?

 

Aku jatuh cinta? Benarkah itu? Ada satu kutipan seorang tokoh di Jepang yang pernah aku baca. Tokoh itu mengatakan, jika kau menyukai seseorang, tunggulah hingga 120 hari. Jika rasa itu masih ada, bisa jadi kau memang menyukainya.

Seratus dua puluh hari dari pertama kali aku merasa suka, rasa itu masih tertanam di hatiku. Bahkan sampai satu tahun kemudian rasa itu masih ada. Saat itulah aku yakin kalau aku memang menyukaimu, Dani si pemilik senyum indah itu. Rasa itu tumbuh tanpa aku pelihara. Tumbuh dengan sendirinya.

 

Masih teringat betul, di saat pertama kali merasakannya aku pikir ini tak akan lama. Hanya perasaan sesaat saja. Aku tak pernah ingin memupuk rasa ini, tapi tetap saja ia tumbuh subur. Intensitas pertemuan kita saat itu juga tidak sering bahkan sangat jarang. Fakultas kita berbeda, tentunya kita sibuk di fakultas masing-masing. Tak pernah bertemu. Kegiatan bersama di organisasi kemanusiaan juga hampir tidak ada lagi. Kita aktif di divisi masing-masing. Keperluan kordinasi organisasi itu sudah tanggung jawab ketua divisiku. Tapi, mengapa rasa itu bisa bertahan sampai satu tahun? Entahlah, yang aku tau ini semua sudah dalam rencana-Nya. Ada hal indah yang ingin disampaikan-Nya kepadaku.

 

Kamu tahu, Dan? Kamulah satu-satunya orang yang berhasil meruntuhkan benteng pertahanan hati ini. Dari awal aku mulai menyukaimu, aku sudah memasang alarm tanda bahaya padamu. Kamu adalah orang yang harus aku hindari. Menjaga jarak dan tidak berkomunikasi denganmu adalah cara terbaik untuk membentengi hati ini agar tidak semakin runtuh. Aku sudah cukup nyaman dengan mencintaimu dalam diam. Tapi, sekeras apa pun usahaku untuk menghindar selalu ada saja takdir yang akhirnya mempertemukan kita. Mungkin di situlah letak ujian-Nya. Allah sedang mengujiku pada titik terlemah yang aku miliki, dan ternyata aku memang lemah jika dihadapkan denganmu, Dan.

 

Kamu ingat, Dani? Aku pernah meminjam salah satu peralatan lapang untuk keperluan praktik di hutan padamu. Dari sekian banyak orang yang aku tanyai, ternyata kamu satu-satunya yang merespons. Bukan hanya itu, aku sering menanyakan berbagai hal kepada teman-teman termasuk kamu melalui pesan singkat. Lagi-lagi, kamu selalu meresponnya dengan baik. Mungkin karena kamu memang orang yang baik dan ramah pada setiap orang. Seharusnya aku tak perlu merasa istimewa karena responmu itu, tapi taukah kamu, Dan? Hal-hal sepele dan sesimpel itu saja bisa membuatku sangat senang.

 

Dani, aku selalu berpikir bagaimanakah akhir kisah kita? Apakah akan seindah akhir cerita Lail dan Esok? Atau bisa jadi sebaliknya? Pernahkah kau memikirkannya juga, Dan? Hmmm, aku tahu ini bukan topik yang kau sukai untuk dibahas. Biarlah takdir yang akan menjawabnya. Apakah kita akan dipertemukan lagi atau semakin dipisahkan?

 

Sudah ya, Dan. Pesanku kali ini cukup sampai sini saja. Tapi, sebelum aku mengakhirinya izinkan aku menyampaikan ini padamu. Aku mencintaimu, Dani. Itulah sebabnya aku akan terus mendoakanmu. Mendoakan untuk segala kebaikanmu, kesehatanmu, keselamatanmu, segala urusan dan aktivitasmu, juga untuk cita-citamu. Dan, izinkan aku untuk terus menuliskan pesan cinta ini, karena hanya dari sudut inilah aku bisa menyapamu sekarang.

 

Yang merindukanmu, Liontin.

Bersambung


Pesan Cinta Dandelion, biem.co, Kholi Abas, Cerbung

Kholi Abas adalah nama pena dari Kholiyah. Kelahiran 18 Oktober 1993 ini gemar menulis. Cerita-ceritanya terangkum dalam antologi Gilalova 2, Gilalova 3, dan Toga di Tepi Jendela. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di koran Radar Banten. Saat ini bergiat di lembaga kemanusiaan Dompet Dhuafa cabang Banten.

Editor:

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button