CerpenInspirasi

Cerita Pendek Aksan Taqwin Embe: Menjemput Tubuh

Cerita Pendek Aksan Taqwin Embe

 

Langit sangat biru. Angin laut menggigilkan tubuh. Dia melihat ombak berloncatan saling terpa terhunus angin. Lengkung gelombang menghantam karang seakan membawa kabar dari barat bahwa angin yang lebih kencang akan tandang.

 

Semenjak Ester gagal menikah dengan Jose, dia sudah tidak pernah lagi pulang ke rumah. Rumahnya dibiarkan kosong. Ayah dan ibunya sudah meninggal. Dia merasa malu dengan celoteh tetangga terhadap dirinya. Dulu, dia meminta kepada Elisa agar menerima tinggal di rumahnya. Setiap bulan akan dibayar sesuai permintaan Elisa. Tentu selumrahnya harga kamar kos yang lainnya. Elisa tidak mempermasalahkan soal uang bulanan yang diberikan Ester kepadanya. Baginya ada kawan di rumah pun sudah cukup bahagia. Ayah dan ibu Elisa tinggal di kota sebelah bersama dua adiknya. Sementara suaminya sudah meninggal setahun yang lalu.

 

Neisa telah pergi, dia sembunyi tujuh hari yang lalu setelah beberapa pemuda dengan santai mempermainkan lekuk tubuhnya. Neisa tetap waspada dan merapal doa ketika itu. Hingga akhirnya dia menggetarkan bibir lalu berdoa dan pasrah. Bagaimana mungkin dia bisa meronta sementara pemuda bajingan yang tak dikenalinya itu sudah lebih paham titik lemah kekuatannya. Neisa berjanji, setelah permainan ini selesai dia akan naik ke meja hijau. Dia sudah membayangkan teriak-teriak di depan hakim seperti orasi. Orasi yang pernah dia bayangkan beberapa bulan yang lalu untuk beberapa tahun yang akan datang. Orasi itu adalah bayangannya yang pernah berkelebat di suatu ketika dia kuliah nanti. Dia tidak pernah berkata bahwa kepergiannya akan membawa kabung duka bagi Ester.

 

Dia pergi ke kota yang ramai orang-orang memperhitungkan kebaikan dan keburukan, kata Elisa.

 

Ester sudah tahu betul ke mana Neisa pergi. Dia diam karena kalimat itu sudah sering diucapkan Elisa ketika dia sedang termenung. Ester masih berdiri dengan setengah kaki di tepi pantai. Bertumpu lutut di atas paha sambil merentangkan tangan. Dia pandang lekat-lekat gelombang demi gelombang yang datang. Percikan yang menyemburat di sekujur tubuhnya menggigilkan pandangannya. Bibirnya gemetar, seperti memanggil, merapal nama yang tak kunjung datang dalam pertemuan berkali-kali. Dia berdiri di bawah pohon kelapa yang lengkung menjulang.

 

Sementara itu Elisa menyempatkan menuai anggur-anggur pilihan yang akan siap diperasnya.

 

Ester, kata Elisa yang tak dihiraukan sedikit pun.

 

Mari ikut denganku. Akan kuajak kau ke tempat yang mampu melupakan waktu, melupakan kenanganmu, sambung Elisa.

 

Dari kota Brisbane mereka pergi menuju Hutan Daintree yang membutuhkan waktu beberapa jam. Elisa pergi mengikuti Ester dengan membopong tubuh kawannya yang sudah kaku ke perkebunan anggur yang terletak di punggung hutan itu. Ester yang pikirannya kacau, bayangannya entah menelusup ke mana, hanya menganggukkan kepala ketika Elisa menyebut satu per satu nama-nama bunga yang langka rekah di beranda kota.

 

Ester, bicaralah.

 

Ester hanya tersenyum. Sesekali memegang pundaknya, merangkul punggung kawannya. Dia tersenyum, menganggukkan kepala kemudian menghempaskan napas ke dada Elisa.

 

Pelan-pelan langit mendadak pucat. Seorang karib akan menemuinya hari itu juga. Dia berjalan melalui hutan belantara Rosmoelaef, kemudian berbelok tiga puluh lima derajat ke arah kanan melintasi jalan setapak dililit jurang. Sebelumnya mereka berjanji akan bertemu di punggung Hutan Daintree. Namun sayang, Elisa belum menentukan waktu dia pergi lebih dulu.

 

Elisa sangat yakin Neisa pasti datang. Ester dan Elisa yang sudah berada di Hutan Daintree sejak pagi telah menikmati angin dingin yang menelusup pori-pori. Iya, semalam adalah perjalanan yang paling menyeramkan dan bedebah bagi mereka. Mereka tidak tidur, dihajar kantuk yang datang tak tepat waktu. Sementara sang karib masih dalam perjalanan, entah pukul berapa akan datang.

 

Ester, kemarilah. Kita duduk melipat kaki di atas jentangan gugur daun jati.

 

Ester lebih memilih duduk di saung beberapa langkah dari pohon asam. Dia tidak mau menemani Elisa. Dia pandang lekat-lekat tubuh kawan yang terbaring kaku di atas saung itu. Sekali Ester tersenyum, sekali itu pula Ester mencairkan air mata.

 

Elisa menerka karibnya tersesat. Bisa jadi dia kebingungan menemukan jalan menuju  tempat tubuh mereka berteduh. Seharusnya dia sudah sampai tiga jam yang lalu. Itu sudah diperhitungkan dengan waktu untuk dia istirahat merebahkan tubuh. Ada tiga jalan kembar di dalam hutan tersebut. Jalan setapak yang dihimpit pohon jati yang tinggi.

 

Barangkali di dalam praduganya jalan tengah adalah kebenaran yang tak bisa ditolak. Dia yakin bahwa jalan tengah itu akan benar sampai menuju ke tempat mereka. Elisa yakin sudah ada beberapa rencana yang dia tulis. Sudah ada beberapa kalimat-kalimat yang akan diungkapkan kepada Ester. Harapan-harapan yang sudah lama dia pendam dan tahan bersama rapal doa setelah yang memisahkan mereka.

 

Kemarilah Ester, menghunus rindu bersama menghabisi waktu hari ini, ucap Elisa.

 

Reguk anggur yang baru saja diperas itu. Lupakan keluh kesahmu bersama Neisa yang tak kunjung menemuimu. Tak juga menemuimu di saat kenaikan Isa Almasih. Padahal kau sudah merencanakan membuat acara kesunyian bersamanya. Reguk anggur-anggur pilihanku itu. Dia tak mungkin kembali. Padahal dia sudah berjanji akan menemuimu. Namun sayang dia pergi lebih dulu. Kau masih mengharapkannya?

 

Elisa sengaja merahasiakan pertemuan Neisa bersama Ester. Neisa—karib yang disebut-sebut ketika masih dalam perjalanan tadi. Neisa berjalan sekuat tenaga. Di tengah jalan dia bertemu dengan Marose si penjual parfum. Dia  sengaja mengambil bunga-bunga di belakang Hutan Rosmoelaef. Iya, di belakang hutan itu terdapat taman bunga yang sangat menakjubkan. Namun perlu kau ketahui bahwa seseorang yang mampu mengendalikan ilusi dan dirilah yang akan mampu melihat taman itu. Seseorang yang mampu mengendalikan diri, dia akan sampai di taman itu. Kalau tidak mampu dia akan mati.

 

Bagaimana mungkin Madam bisa sampai? ucap Neisa dengan bibirnya yang merah gemetar.

 

Marose hanya tersenyum. Kemudian dia pergi melanjutkan perjalanannya kembali. Neisa berjalan dengan tubuh yang gemetar pula.

 

Mengapa Madam Marose tak menghiraukan kalimatku? katanya.

 

Dia takut tidak bisa melawan ilusi dan diri serupa apa yang getarkan Marose. Dia bimbang. Bagaimana mungkin dia akan sampai ke tempat Ester dan Elisa sementara Marose berkata di pucuk jalan itu terdapat taman bunga yang megah?

 

Wah, salah. Ini bukan tujuanku. Tujuanku menemui Elisa dan Ester, ucap Neisa.

 

 Akhirnya Neisa kembali lagi, padahal dia sudah mendapatkan setengah perjalanan. Neisa kembali dan harus terpaksa memilih di antara dua jalan yang lain lagi. Dia memilih jalan kanan. Konon, bapaknya selalu berkata bahwa sesuatu yang berada di kanan, maka itu akan membawa keberuntungan. Dia lanjutkan perjalanan dengan hati yang tenang. Dia berjalan dengan kelelahan nyeri dada, nyeri rasa. Sampailah dia menemui Ester dan Elisa.

 

Ester yang masih mengelus-elus tubuh kawannya, matanya yang basah sedari kemarin tak kunjung kering. Ia tatap lekat-lekat wajahnya, dia sapu poni kekanan, ke kiri membelah tengah.

 

Neisa kausampai juga, kata Elisa

 

Ester masih diam dan tidak menghiraukan. Dia merasakan kesunyian di punggung hutan. Tanpa siapa pun. Dia ingin menguburkan tubuh Neisa dengan tangannya sendiri. Ester ingin menebus dosa-dosa terhadapnya dengan cara merapikan tubuh Neisa terakhir kali. Ester yang tidak berhasil menjaga dan menyelamatkan diri Neisa dari para pemuda bedebah.

 

Ini tubuhku? tanya Neisa dengan muka terkejut.

 

Iya itu tubuhmu. Tubuhku sudah dikubur lebih dulu, ucap Elisa.

 

Ester masih tidak memedulikan. Ester memeluk tubuh Neisa. Bibirnya gemetar menggigil. Neisa masih belum percaya bahwa ulah belasan pemuda yang mempermainkan tubuhnya itu telah membuat dirinya menjemput tubuhnya sendiri yang terlepas dari ruhnya.

 

Bedebah, rapalnya. (*)

 

Barat Indonesia, 04 Mei 2015


Aksa Takwin Embe

Aksan Taqwin Embe, seorang pendidik. Ceritanya terangkum dalam kumpulan cerpen Banten Suatu Ketika Banten Muda Award 2012. Gadis Pingitan (2014) adalah buku kumpulan cerpennya yang diterbitkan Banten Muda Publishing.

Editor:

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button