InspirasiOpini

Catatan Penting Isra dan Mi’raj

Oleh Uus Muhammad Husaini

biem.coSaat ini kita memasuki bulan Rajab. Ada sebuah peristiwa besar dan agung dalam sejarah umat Islam, yaitu peristiwa Isra’ dan Mikraj. Perjalanan Nabi Muhammad Saw dari Masjid al-Haram di Kota Mekkah ke Bayt al-Maqdis di Palestina, kemudian naik ke Sidrat Al-Muntaha, dan kembali lagi ke Kota Makkah dalam waktu yang sangat singkat, merupakan tantangan terbesar sesudah Alquran disodorkan oleh Allah kepada umat manusia. Peristiwa ini membuktikan bahwa ilmu dan qudrat Tuhan meliputi dan menjangkau, bahkan mengatasi, segala yang finite (terbatas) dan infinite (tak terbatas) tanpa terbatas ruang dan waktu.

Banyak orang meragukan bagaimana mungkin manusia mampu melakukan perjalanan yang sangat jauh dalam waktu yang begitu singkat, hanya sebagian malam saja. Sehingga tak heran ada sekelompok masyarakat yang mengimaninya dan ada juga yang mengingkarinya.

Baca juga: Uus Muhammad Husaini: Ketika Tangan dan Kaki Bicara

Ada beberapa poin yang dapat kita jadikan catatan untuk lebih memahami hikmah dan bersungguh-sungguh dalam memaknai peristiwa agung ini, antara lain:

Pertama, memang, pendekatan yang paling tepat untuk memahami peristiwa Isra dan Mikraj ini adalah pendekatan imany. Inilah yang ditempuh oleh Abu Bakar al-Shiddiq, sebagaimana yang tergambar dalam ucapannya:

“Apabila Muhammad yang memberita­kannya, pasti benarlah adanya.” Karena kesemuanya ini adalah murni untuk menunjukkan ke Maha Kuasaan Allah Swt.

Penulis seringkali mengilustrasikan peristiwa Isra Mikraj ini dengan peristiwa yang terjadi pada masa Nabi Sulaiman ketika menyeru Ratu Balqis untuk masuk Islam, di mana kisahnya diceritakan dalam Alqur’an surah al-Naml ayat 38-40.

Ada pelajaran penting yang dapat kita ambil dari ayat-ayat tersebut di atas, bahwa seandainya makhluk Allah saja sanggup memindahkan singgasana Ratu Balqis dari Negeri Saba ke tempat Nabi Sulaiman dalam waktu yang begitu singkat, maka sangatlah mudah bagi Allah Yang Maha Kuasa untuk memperjalankan baginda Nabi Muhammad Saw dari Masjidil Haram di Kota Mekkah ke Masjidil Aqsho di Palestina lalu ke Sidratul Muntaha dalam waktu yang sangat singkat, hanya sebagian malam saja. Ini menunjukkan ke Maha Kuasaan Allah Swt tanpa perlu kita meragukan, gunjang-ganjing tentang kendaraan apa yang Rasulullah gunakan? Bertemu dengan siapa saja? Dan lain sebagainya.

Kedua, arah perjalanan vertikal-horisontal. Dalam perjalanan horisontal ini Beliau digambarkan bertolak dari Masjid al-Haram ke Masjidil al-Aqsha. Ini berarti bahwa dalam kita melangkahkan kaki di tengah perjalanan kita menuju tujuan akhir, alangkah pentingnya diperhatikan awal langkah. Motivasi dasar dan niat kita dalam melakukan sesuatu harus karena “masjid” (sujud) atau dalam kerangka ketaatan kepada Allah. Pertautan niat dan tujuan karena ketaatan menjadikan setiap langkah yang kita lakukan akan selalu harmonis dengan keduanya. Bagaimana mungkin seseorang melakukan amal baik karena dan untuk Allah, namun dengan cara yang tidak diridhai oleh-Nya?

Ketiga, hasil dari perjalanan ini adalah perintah salat lima waktu dalam sehari dan semalam. Ini berarti salat memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam ajaran Islam. Salat adalah amal yang pertama kali dihisab di hari kiamat kelak. Salat adalah tiang agama. Salat adalah yang membedakan antara Muslim dan kafir. Dan salat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Baca juga: Kebaikan Beragama Seorang Muslim

Dalam konteks keindonesiaan, bahwa apabila salat ini dilaksanakan dengan baik dan benar sesuai dengan tuntunan agama, maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar, maju, bebas dari korupsi serta perbuatan melanggar lainnya, baik melanggar hukum ataupun norma-norma yang hidup di masyarakat.

Di sisi lain, kalau kita telaah ke belakang, peristiwa Isra Mikraj ini, dilatarbelakangi oleh kisah sedih Rasulullah yang ditinggalkan oleh paman dan isteri yang sangat beliau cintai, sehingga tahun tersebut dikenal dengan aam al huzn atau tahun duka cita. Di tengah hati yang gundah gulana itulah kemudian Allah menghiburnya dengan memperlihatkan sebagian dari tanda-tanda kekuasan-Nya.

Kisah tersebut tentunya menjelaskan secara tersirat kepada kita bahwa dikala hati kita sedang sedih, gundah gulana, galau, maka yang perlu kita lakukan adalah salat, bermunajat kepada Allah, memohon ampunan-Nya, memohon dibukakan jalan keluar dalam segala urusan kita. Karena sesungguhnya Allahlah sebaik-baik penolong kita semua.

Semoga kita semua dapat mengimani peristiwa Isra dan Mikraj dengan iman yang kokoh sebagaimana imannya Abu Bakar al-Shiddiq serta dapat memperbaiki salat kita, sehingga salat kita menjadi lebih berkualitas, bukan hanya gerakan rutinitas yang tanpa makna dan dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Wallahu ‘alam bi al-showab.


Uus Muhammad Husaini, adalah Pengurus Forum Dosen Agama Islam Universitas Serang Raya dan Alumni Universitas Al-Azhar Mesir. 

Editor : Andri Firmansyah

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *