Opini

Eko Supriatno: “Perjalanan Panjang” Sang Maestro Gebar Sasmita

Gebar Sasmita bagi saya adalah seorang ‘Maestro Agung dari Banten’. Maestro adalah orang yang terkemuka, dianggap mumpuni, dan telah mengabdikan dirinya tanpa pamrih. Pengabdian Gebar adalah di bidang seni lukis dan seni pahat. Dalam sebuah teori, peranan maestro sangatlah signifikan karena telah memberi warisan berupa nilai-nilai budaya yang sangat berguna. Dengan demikian betapa pentingnya seorang maestro dalam menentukan jatidiri sebuah bangsa.

Siapa Gebar Sasmita?

Di jagat seni rupa Indonesia, nama Gebar Sasmita tak asing lagi. Gebar Sasmita, dilahirkan pada tanggal 11 Agustus 1949 di Desa Citeureup, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

Gebar pernah di tangkap oleh pemerintah karena aktif di IPPI (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia) padahal ia tidak mengetahui apa-apa, apalagi tentang politik, dan lain-lain, wong dia masih SMP. Gebar menjadi tahanan politik (tapol) termuda Nusa Kambangan Selama, di LP ia sering memahat batu yang menjadi rutinitas para napi disana, salah satu karyanya adalah mulut goa Nusa Kambangan. Sejak remaja dia mendapatkan bimbingan dan pelajaran melukis dari Hendra Gunawan yang dikenal sebagai bapak pelukis realisme sosial Indonesia.

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Setelah lepas dari tahanan, Gebar aktif kembali di seni lukis dengan mengusung semangat realisme kerakyatan, maka karya-karya Kang Gebar pun diselimuti nuansa kerakyatan, kemudian ia mendirikan seni yang bernama saija pada tahun 1980. Gebar adalah pelukis yang banyak menghasilkan lukisan-lukisan berkualitas dan memberikan pengaruh kepada perupa-perupa muda di Banten.

Gebar Sasmita mempunyai keyakinan bahwa pelukis kerakyatan akan tetap mendapat tempat di hati rakyat, terutama kalangan pergerakan dan kaum nasionalis. Ia pernah berujar, “Kalaupun galeri tidak akan memberi tempat kepada karya kami, tapi akan menggunakan trotoar dan jalanan untuk mendekatkan karya kami dan rakyat.”

Berkesenian bagi Gebar adalah kemampuan menangkap rasa. Dalam menangkap rasa inilah, Gebar selalu membuat karya tenga kemiskinan dan kerakyatan sebagai pilihan sosial politiknya. Bukankah karya-karya masterpieces biasanya lahir di saat-saat pahit, derita mengelucak, dan kemiskinan mendera. Lihat saja karya Vincent van Gogh, Rembrandt van Rijn, Frida Kahlo, Hendra Gunawan, S. Sudjojono. Penderitaan adalah kekuatan yang merupakan sumber tenaga kreativitas terbaik. Inilah yang membuat Gebar selalu berkata, “Kalau takut miskin jangan jadi pelukis!”

Gebar adalah salah satu pelukis ’Luar Biasa’. Pasalnya, dengan karya lukisnya, Gebar mampu mengharumkan Kabupaten Pandeglang hingga mancanegara. Hingga usianya yang sudah lanjut inipun masih terus berkarya. Kegiatannya selama ini antara lain melakukan pameran-pameran seni rupa, seminar-seminar, dan aktif dalam edukasi sosial budaya. Disamping melukis dia juga memiliki keahlian dalam membuat patung. Salah satu hasil karyanya yaitu monumen perjuangan manunggal ABRI dan rakyat di Cilegon Banten. Gebar adalah perupa impresionis Gebar adalah murid perupa Hendra Gunawan, yang juga murid S. Sudjojono, pendiri Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi).

Bagi Kang Gebar, melukis dan merupa bukan sekadar menggores keindahan. Sebuah karya hendaknya mampu menjewer jiwa-jiwa yang terlelap. Pada tahapan tertinggi, sebuah karya mampu menggerakkan semangat kaum yang diperlakukan tidak adil. Meski tidak melupakan keindahan sebuah karya. Empat belas tahun dalam kurungan rezim Soeharto tanpa pernah diadili mengajarkan Kang Gebar banyak hal. Kini dia bisa menafkahi keluarga dan membeli sebidang tanah dari hasil melukis.

Kisah hidupnya itupun ditorehkan dalam sebuah lukisan potret diri berjudul ‘Perjalanan Panjang’. Secercah sinar menyeruak dibalik dominasi warna suram lukisan itu.

Belajar dari Gebar

Ya, sosok Gebar bagi penulis adalah seorang spiritualis yang memeluk ‘Islam sufisme’ dalam hidupnya. Belajar dari Gebar, menurut penulis ada 3 (Tiga) nilai penting. Pertama, Kejujuran, berkesenian haruslah didasarkan pada kejujuran ketika berkarya. Gebar pernah berujar, “Karya seni itu indah, tapi kejujuran, keadilan,dan kesejahteraan umat manusia jauh lebih indah, dan tubuhku kan kubawa kearah sana”.

Gebar dalam berkesenian memiliki kredo “Jiwa Jujur”. Bahwa, seni adalah jiwa si seniman yang terlihat. Jiwa Jujur ialah wujud kejujuran di dalam karyanya. Bagi Gebar, pelukis perlu malu kalau tak bisa membuat karya bagus. Mengejar mutu itu kewajiban. Dari semenjak keluar dari penjara, Gebar telah menggedor-gedor jantung kreativitas para murid dan sahabatnya.

Gebar dalam berkesenian selalu berujar, pelukis sejati tak ada alasan untuk tidak melukis. Kalau tak punya kanvas dan cat melukislah dengan kertas bekas dan pensil. Kalau tak ada kertas dan pensil melukislah dengan arang di lantai atau tembok. Kalau tak ketemu arang dan lantai atau tembok, melukislah dengan jari di atas tanah. Dan kalau tak dapat tanah? Melukislah di langit dengan matamu! Bagi Gebar, hidup untuk seni dan seni untuk hidup. Itulah prinsip Gebar selama menjalani profesinya sebagai pelukis. Lebih tegasnya Gebar menjelaskan, hidup seorang seniman diabdikan untuk seni tetapi seorang seniman pun harus bisa hidup dari hasil seninya.

Kedua, totalitas dan otentik. Gebar memang dinilai oleh banyak kalangan memiliki ‘keotentikan’ tersendiri. Otentik ala seniman yang bukan dibuat-buat, alias otentik sejati. Otentisitas hidup diri dan karyanya inilah kata kunci di balik kesuksesan dirinya sebagai seniman multi talenta, khususnya pada profesinya sebagai seorang pelukis.

Perlunya sebuah totalitas berkarya, memfokuskan getaran sukma, menjaga intensitas penghayatan diri meluncur tanpa terputus dalam tegangan psikologis tinggi membuat karya seni itu bermain tapi tidak main-main. Berkarya adalah pertaruhan harga diri. Suatu upacara untuk menghormati diri sendiri.

Ketiga, ikhlas, berkesenian merupakan sebuah proses ‘ikhlas’. Dalam penciptaan karya, penghayatan yang ikhlas saat bekerja menjadi tiang utama. Melukis itu harus semaunya sendiri tapi jangan semau-maunya. Ikhlas dalam berkarya adalah sebuah persembahyangan bagi sang sukma sejati. Saat melukis sebaiknya tidak memikirkan hasil akhir. Sebab hasil akhir hanyalah akibat belaka. Yang terbagus, luruh total dalam gelombang proses kreatif.

Ajaran Gebar selalu didiskusikan di berbagai tempat. Pemikiran Gebar sepadan dengan konsep jiwanya. Lukisan yang baik pastilah menampilkan jiwa pelukisnya. Jiwa Jujur tak bakal ada jika pelukisnya tidak total bekerja, konsentrasinya ‘buyar’, imajinasinya patah dan daya hidupnya digoyang gempa. Apalagi kalau kejujurannya digadaikan, yang tampil hanyalah kehampaan jiwa Bagi Gebar, seorang pelukis mestinya menjamin setiap jengkal gambar di kanvasnya merupakan sentuhan murni tangannya sendiri yang ajaib dan berbudi. Pelukis tak cukup bermodal ahli menaklukkan garis dan warna, menjinakkan binatang jalang di hutan pikiran.

Menurut Gebar, seniman harus berekspresi. Mengeksplorasi emosi, debaran masa lalu dan detak jantung masa depannya. Mengolah keunikan karakter dan daya spiritualitasnya. Akhirnya, yang tampil di kanvas bukan saja apa yang diucapkan tapi juga apa yang dirahasiakan. Yakni rahasia hidup pelukisnya sendiri. Itulah kekayaan budi kesenimanan yang ajaib. Yang memberi napas kehidupan karya seni. Lukisan Gebar adalah dirinya Gebar.

Spektrum Pemikiran Kebudayaan

Selama ini, membincangkan dan mengelola soal kebudayaan cenderung sebatas penampilan seni dan budaya, dan bukan menjadikan kebudayaan itu sebagai roh dalam pengelolaan negara dan bangsa. Bagi Gebar, kebudayaan bukan hanya untuk ditampilkan atau dipertontonkan, tetapi seharusnya lebih dari itu, dapat kita manfaatkan secara proporsional. Artinya, kebudayaan perlu diwariskan pada setiap generasi warga bangsa dan diinternalisasi terus-menerus untuk membangun kepribadian (character building) agar berkarakter.

Kebudayaan bukan pula ranah sektoral dan terpisah, tapi terintegrasi utuh dalam diri warga bangsa. Oleh karena itu, proses internalisasi itu perlu dilakukan secara sistemik melalui dunia pendidikan formal dan informal, tanpa sekedar menghandalkan keberlangsungannya secara alami.

Berdasar atas logika dan filosofi itu, benar jika kini kementerian dikembalikan lagi dalam nama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dua ranah ini memang merupakan satu-kesatuan yang tak saling terpisah, tapi harus saling tergabung. Maka, tidaklah mungkin menjalankan pendidikan yang baik tanpa kebudayaan, dan sebaliknya tidaklah mungkin membangun kebudayaan yang baik tanpa pendidikan. Pendidikan perlu diarahkan oleh kebudayaan, dan kebudayaan itu perlu dibangun melalui pendidikan.

Pendidikan jangan pula diposisikan semata-mata sekedar sebagai sektor untuk mencerdaskan bangsa, tapi melalui pendidikan inilah kualitas generasi akan ditentukan dan masa depan bangsa ini akan dijamin keberlangsungannya. Pendidikan yang efektif dengan demikian adalah yang memang bermanfaat untuk kemajuan negara dan bangsa, umat manusia, serta dapat melestarikan dan mengembangkan alam semesta.

Menurut Gebar, ketika kebudayaan kita jadikan roh pengelolaan negara dan bangsa, yang mengarahkan, maka perlu ada strategi kebudayaan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Ini berarti, secara dinamik strategi kebudayaan perlu terus disempurnakan, agar dapat memberi arah yang sejalan dengan tuntutan perkembangan zaman. Maka itu, untuk penyempurnaan, perlu bersinergi dengan ahli kebudayaan, pemikir kebudayaan, dan pemikir kebangsaan.

Sekali lagi, pada intinya, kebudayaan memang tak cukup diartikan sebatas tampilan tentang seni dan budaya sebagaimana kecenderungan selama ini tapi harus diartikan lebih filosofis dan strategis untuk memperadabkan bangsa. Kebudayaan bukan pula yang terpisah dan berada di luar diri setiap warga bangsa, tapi yang mesti menyatu dengan diri setiap warga bangsa. Kebudayaan sebagai sesuatu yang hidup yang secara langsung membangun karakter dan kepribadian warga bangsa.

Oleh karena itu, dengan strategi kebudayaan, setiap warga bangsa punya jati diri. Kemudian, pada gilirannya, dengan jati diri kita dapat menjadi orang Indonesia yang berkepribadian Indonesia. Anak-anak kita juga menjadi orang-orang Indonesia yang berjati diri kebudayaan Indonesia, dan bukan berjati diri kebudayaan asing. Dengan terbangunnya jati diri yang berkebudayaan Indonesia, kita dapat mencintai Indonesia, dapat menjaga citra Indonesia, dan bangga menjadi orang Indonesia. Dalam kondisi warga bangsa dengan jati diri yang berkebudayaan Indonesia yang kuat inilah kita dapat beranjak menjadi warga dunia yang nantinya berperan dalam forum kebudayaan yang lebih luas untuk kepentingan dunia.

Penguatan jadi diri penting, agar kita tak gampang diombang-ambingkan dalam kebudayaan global. Kita pun akan sangat percaya diri tampil, berinteraksi, dan berkontestasi dengan warga dunia seperti dalam gelar forum kebudayaan dunia itu. Dalam pergaulan kebudayaan dunia, kita harus sama-sama dapat berperan sebagai subjek dan tak hanya objek.

Mimpi Sederhana Gebar

Mimpinya Gebar sederhana saja yaitu ingin menyediakan ruang untuk belajar dan berkreasi dalam berkesenian. Di mata penulis, Gebar adalah sosok yang unik. Meski tak pernah mengenyam pendidikan seni formal, Gebar sangat intelek dan getol melestarikan seni. Alasannya juga sederhana. ”Gebar mencintai seni,”. Gagasannya Gebar adalah membangun Kampung Seni.

Kampung Seni nantinya dibangun di atas lahan dengan luas di sebuah kampung. Sejumlah fasilitas penunjang kegiatan belajar dan berkreasi bagi seniman tersedia di sini. Misal nantinya dalam rumah-rumah studi yang terbuat dari kayu, pengunjung bisa belajar membuat keramik, melukis, membatik, hingga memahat batu untuk patung. Pemandunya adalah para seniman yang ahli di bidangnya. Kampung Seni nantinya adalah untuk seneng-seneng di hari tua. Ya, melihat anak-anak muda berkreasi di sini adalah kebahagiaan tersendiri.

Nantinya dalam kampung seni tersebut, terdapat arena pelatihan karya seni juga aksi pertunjukan seni budaya yang ada di Banten. Selain itu juga sebagai wadah pengembangan seni. Kampung seni akan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, pemuda juga ratusan seniman yang ada di Banten, seperti seniman rampak bedug, saman juga yang lainnya. Konsep kampung seni adalah bagaimana mengangkat potensi seni dan budaya lokal yang ada di Banten yang selama ini mati suri. Gebar tegaskan, Banten memiliki banyak seniman berpotensi.

Dalam Kampung Seni nantinya ada galeri. Galeri ini ingin menjadi semacam oase di tengah keringnya kegiatan seni di Banten. Selain menjual lukisan, galeri ini juga ingin menyemaikan wacana tentang perkembangan seni di Banten. Bagi Gebar, proses kreatif seorang seniman harus diberi tempat yang layak. Ia berharap kehadiran Kampung Seni nantinya bisa mewadahi proses kreatif tersebut. Gebar berharap dengan adanya gagasan dan membentuk wadah melalui kampung seni ini nanti dapat melestarikan dan mengangkat seni budaya lokal Banten di kancah Nasional bahkan Internasional. Mimpi Gebar dari dulu adalah Banten bangkit dan terkenal dalam karya-karya kebudayaan, baik nasional hingga ke mancanegara.

Saat ini, Gebar menilai Banten dalam berkesenian mengalami kemunduran. Hal itu terjadi karena kurangnya perhatian pemerintah terhadap kemajuan seni budaya. Harapannya bahwa pemerintah bisa memberikan ruang untuk berekspresi bagi pecinta seni, terutama seni lukis. Untuk mengembangkan seni lukis, misal: seyogyanya pemerintah daerah untuk mengaktifkan kembali Gedung Balai Budaya. Sebab, pada zaman dulu gedung itu digunakan untuk berkumpulnya para seni rupa dan budayawan.

Geber pernah berharap, “Kalau dulu gedung itu tempat berkumpul pelaku seni dan sebagai geleri lukisan, tetapi sekarang dijadikan kantor pemerintahan. Saya harap bisa kembali digunakan lagi, agar para pelaku seni bisa mengembangkan bakatnya.”

Dalam mimbar ini, yu jangan sampai Gebar bekerja seorang diri, Gebar butuh kita, baik dari segi modal maupun ide perencanaan bangunan tentang kampung seni tersebut.

Bagi penulis, karya Gebar merupakan jalan pembelajaran ‘hidup’. Gebar selalu menghayati peristiwa, tokoh, tempat, dan waktu. Gebar dengan perkerjaannya adalah kerja-kerja sejarah menjadi etos kebudayaan.  Karyanya tak lekang oleh waktu. Lukisannya adalah gambaran bingkai mentalitas sejarah. Dengan begitu, bangsa dapat memahami ‘perjalanan panjang’, masa lalu untuk cermin kini ke depan.


Eko Supriatno* Penikmat Seni, Dosen UNMA Banten

Editor: Redaksi

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button