InspirasiOpini

Ali Faisal: Lailatul Qadr

Oleh : Ali Faisal

biem.co – Membaca sebuah artikel berjudul Qadaran, yang dibagikan oleh Pak Embay Mulya Syarif tanpa menyebutkan penulisnya dalam WA Grup MUI Banten, dalam artikel tersebut diceritakan tentang seorang nenek yang berjualan buah pisang hasil tanamannya sendiri, ketika ada seorang pembeli bertanya, mengapa sang nenek  masih terus berjualan, dan pembeli itu menyarankannya untuk beristirahat. “Lha nggih, ini karena syiyam niku toh, nggak boleh rehat, mumpung Gusti Allah paring sehat” jawab nenek. Setiap harinya nenek ini harus pulang sebelum waktu ashar karena punya kewajiban menyiapkan wedang semacam ta’jil buat lima puluh anak TPA, dengan harapan anak-anak  rajin ngaji. “Jangan bodoh kaya mbahe yang cuma bisa fatikah” ujar nenek.

Mendengar cerita nenek yang harus menyiapkan wedang bagi limapuluh anak TPA, ada seorang pembeli, selain dia membayar buah pisang yang dibelinya, tanpa sepengetahuan nenek ia menyelipkan uang lima ribuan sebanyak limapuluh amplop. Menurut cerita pedagang sebelahnya, sang nenek menangis sejadi-jadinya, dan mengatakan bahwa ia telah mendapat Qadaran.

Bagaimana hubungannya, dengan malam lailatur qodr yang kita tunggu-tunggu itu?

Bulan Ramadhan adalah bulan yang memiliki banyak keistimewaan dan tercatat dalam sejarah beberapa peristiwa besar pernah terjadi dibulan ini. Pada bulan Ramadhan, umat Islam yang dipimpin Rasulullah untuk pertama kalinya berperang yang dikenal dengan perang Badar. Dalam perang ini umat Islam menjadi pemenang, demikian juga peristiwa Fathu Makkah (penaklukan kota Mekkah) terjadi di Bulan Ramadhan.

Selain dari dua peristiwa tersebut, yang paling besar dan agung adalah peristiwa turunnya Al-Qur’an (Nuzulul Qur’an) pada sebuah malam yang disebut Lailatul Qadr, yaitu satu malam yang oleh Al-Qur’an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Secara etimologi (harfiyah), Lailatul Qadr terdiri dari dua kata, yaitu Lail atau Lailah  yang berarti malam hari dan  Qadr Mmenurut Aidh Abdullah Al-Qarni  berarti ukuran atau ketetapan. Sedangkan menurut Quraish Shihab dalam bukunya  Membumikan Al-Qur’an memberi tiga arti mengenai kata Qadr, yaitu penetapan, kemuliaan dan sempit. Menurutnya, secara maknawi ketiga arti kata Qadr  itu semuanya bisa jadi benar. Malam  Qadr  atau ketetapan dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia, sebagaimana dikuatkan dalam QS.Ad-Dukhaan ayat 3. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan”

Malam tersebut adalah malam mulia yang tiada bandingnya karena ia terpilih sebagai malam turunnya Al-Qur’an. Sementara  Qadr yang berarti sempit, maksudnya bahwa malam tersebut sempit dan sesak karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi. Pada malam itu, malaikat-malaikat turun ke bumi membawa kedamaian dan ketenangan bagi muslim yang terpilih mendapatkan Lailatul Qadr.

Tradisi ketupat, qunutan, malam likuran dan peringatan Nuzulul Qur’an yang dilakukan oleh masyarakat kita, Banten khususnya, terkait erat dengan makna dan peristiwa ini. Peristiwa turunnya Al-Qur’an atau sering disebut sebagai Nuzulul Qur’an  adalah istilah yang merujuk kepada peristiwa penting penurunan wahyu Allah pertama kepada nabi Nabi Muhammad SAW. Menurut Sufriyansyah dalam tulisan Melacak Sejarah Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadr,   biasanya umat Islam di seluruh negara Arab merayakannya pada malam ke-27. Sedangkan di Indonesia biasanya diperingati setiap tanggal 17 Ramadhan.

Al-Qur’an adalah kitab suci, sumber ajaran Islam yang pertama dan utama. Menurut bahasa, kata Al-Qur’an adalah bentuk masdar dari kata kerja iqro yang berarti bacaan. Setiap definisi Al-Qur’an yang diberikan oleh para ulama, selalu saja menggunakan istilah wahyu/kalam “yang diturunkan”  kepada Nabi Muhammad SAW. Kata yang semakna dengan itu memang banyak didapat dalam Al-Qur’an. Misalnya dalam QS. Annisa ayat 105. Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia berdasarkan (hukum) yang telah Allah perlihatkan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (bagi orang-orang yang tidak bersalah) karena (membela) orang-orang yang berhianat. Kemudian, terdapat pula dalam QS. Al-Insaan ayat 23. “Sesungguhnya Kami (Allah) telah menurunkan Al-Qur’an kepadamu (Muhammad) dengan cara berangsur-angsur”.

Menurut Abdul Adzim Ma’ani dan Ahmad al-Ghundur sebagaimana telah dikutip oleh Muhammad Amin Summa dalam buku Ulumul Qur’an, bahwa penggunaan istilah Al-Qur’an “diturunkan” oleh Allah SWT kepada Nabi  Muhammad SAW, besar dugaan karena dua hal. Pertama, mungkin karena Allah sebagai sumber wahyu adalah tinggi, bahkan yang maha tinggi, sedangkan yang selain Allah, termasuk Nabi Muhammad SAW adalah rendah dibandingkan dengan Allah. Kedua, boleh jadi karena malaikat jibril yang menyampaikan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW itu turun dari atas langit dalam hal ini alam arwah,  sementara Nabi Muhammad SAW, dan apalagi manusia berada di bawah.

Berkenaan dengan proses penurunan Al-Qur’an, Muhammad Abdul Azhim al-Zarqoni menyebutkan tiga macam tahapan:  

Tahapan pertama, Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT  ke Lauhil Mahfudz, sesuai dengan QS. Al-Buruj ayat 21-22: “Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al-Qur’an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh al-Mahfudz. Tahapan kedua, Al-Qur’an diturunkan dari Lauhil  Mahfudz  ke Bait al-Izzah dilangit dunia, sesuai dengan beberapa ayat, seperti: QS. Al-Dukhaan ayat 3. QS. Al-Qadar ayat 1 “Sesungguhnya Kami Menurunkan Al-Qur’an itu di dalam malam Al-Qadar”. Dan lalu dalam QS. Al-Baqarah ayat 185 “Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an”. Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada suatu malam yang dinamakan Lailah al-Qadr  yang terjadi pada bulan ramadhan. Ketiga atau terahir, Al-Qur’an diturunkan dari Bayt al-Izzah Kepada Nabi Muhammad SAW, dengan perantaraan Malaikat Jibril, seperti tertera dalam QS. Al-Syu’ra ayat 193-194 “Dia (Al-Qur’an) dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatinya (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara orang-orang yang member peringatan”

****

Hari  pertama, atau sepuluh hari terakhir?

Dalam QS. Al-Qadr ayat 1-5 Allah berfirman : Artinya: Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Kapan tepatnya malam Lailatul Qadr itu? Rasulullah SAW. pernah mengabarkan tentang kapan akan datangnya malam Lailatul Qadr. Beliau bersabda: “Carilah malam Lailatul Qadr di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan” (HR. Bukhari No. 2020 dan Muslim No.1169).  Berdasarkan hadits di atas, kemungkinan Lailatul Qadr terjadi pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan yaitu pada malam-malam ganjilnya 21, 23, 25, 27 atau 29 Ramadhan. Akan tetapi kemungkinan pula yang dijadikan dasar kaum muslimin dalam memperingati Nuzulul Qur’an pada tanggal 17 Ramadhan dimungkinkan karena pada tanggal itu diturunkannya ayat pertama dari surat al-Alaq kepada Nabi Muhammad SAW.

Akan tetapi banyak pendapat yang keberatan bahwa turunnya Al-Qur’an pada tanggal 17 Ramadhan, keberatan ini di dasarkan atas pemahaman mereka terhadap jatuhnya malam Lailatul Qadr, sebagaimana hadits Nabi yang menyatakan  untuk mencari sepuluh hari terakhir seperti yang telah ditulis di atas.

Terkait dengan ketidak pastian tanggal malam Lailatu Qadr, Rasulullah SAW, dalam haditsnya justeru memerintahkan agar kaum muslimin menegakkan malam-malam Ramadhan sejak awal hingga ahir, jika mereka ingin mendapatkan rahmat dan maghfiroh (ampunan) dari Allah SWT.

Siapakah yang beruntung mendapatkan segala kemulyaan malam  Lailatul Qadr? Dialah yang sedari awal menginginkannya, berpeluh i’tikaf di masjid dalam maknanya yang berbentuk dimensi ruang, menghanyutkan diri dalam sepuluh hari terakhir, atau siapapun kita, termasuk nenek penjual buah pisang yang hanya bisa “fatikah” yang telah i’tikah di masjid dalam maknanya yang lebih luas dari hanya sekadar bangunan ibadah, nenek yang menjadikan berbagi dan keikhlasan sebagai caranya dalam memaknai rasa syukur, tanpa menghitung awal-tengah dan akhir waktu untuk mendapatkan balasan.

Maka, keutamaan Lailatul Qadr bisa mungkin pada malam  pertama, kedua, 17, 21, 23,25,27, 29 atau hari-hari sebelum dan sesudahnya, karena logisnya hari pengumuman kelulusan ditentukan oleh proses waktu yang jauh sebelum ujian dilaksanakan, tak bisa dikejar lewat akhiran secara instan, menuju seribu anak tangga harus dimulai dari anak tangga pertama, bukan metode  menghadapi ujian dengan sistem kebut semalam (SKS), lebih-lebih esensi Lailatul Qadr adalah komitmen-kosistensi sebelum-pada saat-sesudah Ramadan ini usai. Semoga kita bisa meraihnya.

Editor : Esih Yuliasari

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *