Irvan HqKolom

Catatan Irvan Hq: Bekerja Dengan Hati

biem.co — Kalau saya bisa pulang kerja tepat waktu, biasanya dimanfaatkan untuk makan malam diluar bersama keluarga. Di dekat alun-alun Kota Serang sepanjang jalan Diponegoro sampai dengan kawasan Pasar Lama, banyak menu makanan yang dapat kita pilih. Hanya saja kalau ingin lebih santai sedikit, kita perlu membawa banyak uang receh untuk para pengamen yang terus menerus datang selama kita makan. Kecuali kalau kita cukup energi untuk mengatakan ‘tidak’ secara berulang-ulang karena satu pengamen yang datang tidak dengan mudah beranjak pergi kalau belum diberikan uang.

Kehadiran mereka memang berbanding lurus dengan semakin cepatnya perkembangan sebuah kota, pengamen jalanan kini sudah menjadi pilihan banyak orang yang hidup dalam kemiskinan. Anak-anak yang seharusnya duduk di bangku sekolah itu terpaksa berdiri diperempatan jalan dan menengadahkan tangannya di pintu-pintu mobil yang menunggu lampu hijau menyala atau malamnya mereka menyerbu tenda-tenda makanan berharap rejeki dari mereka yang makan. Sayangnya mereka sudah lupa kalau tujuan mengamen selain untuk mencari uang, juga untuk menghibur orang. Bernyanyi untuk menghibur orang dan mendapatkan imbalan atas jasa menghibur itu. Mereka bernyanyi seadanya lalu menengadahkan tangannya dan langsung pergi ketika sudah diberi uang. Sehingga apa yang terjadi? Mereka hanya mendapatkan imbalan 500 sampai dengan1000 rupiah setiap kali bernyanyi, itupun belum tentu dapat.

Berbeda ketika saya makan di bakso meddy di kawasan taman sari, disana pengamennya hanya satu dan tidak pernah menengadahkan tangan kepada setiap pengunjung yang sedang memakan bakso, dia hanya memposisikan diri di satu tempat dan bernyanyi dengan serius tiga sampai dengan lima lagu, dia tidak pernah mempermasalahkan apakah ada yang akan memberinya uang atau tidak saat ia bernyanyi, yang ada di fikirannya hanya bagaimana caranya bernyanyi sebaik mungkin agar para pengunjung merasa terhibur, suaranya merdu, lagu yang dipilihnya juga enak untuk di dengar, belum kepiawaiannya memainkan gitar dan harmonika menjadi hiburan tersendiri bagi para penikmat bakso itu. Kemudian apa yang terjadi? Saya melihat tanpa diminta setiap pengunjung yang sudah selesai makan bakso menghampiri pengamen itu dan memberinya uang, ada yang memberinya 5000 rupiah bahkan ada juga yang 10.000 rupiah. Luar biasa!

Pengamen di bakso meddy ini menyadarkan saya bahwa ketika kita bekerja dengan hati, kemauan kita akan lebih kuat. Selain bisa menikmati yang sedang kita kerjakan, bekerja dengan sepenuh hati tentu saja hasilnyapun akan lebih maksimal, karena bekerja dengan hati membuat pikiran kita akan semakin tajam dan lebih produktif. Ada orang yang bekerja dengan kepandaian dan pengetahuannya, ada pula yang bekerja mengandalkan kedekatan dengan penguasa, namun semua itu tidak menjamin bahwa mereka akan menikmati pekerjaannya senikmat ketika mereka bekerja dengan hatinya.

Baca juga: Catatan Irvan Hq: Menyepelekan yang Sepele

Kemudian saja jadi ingat juga akhir-akhir ini banyak yang mengatakan kita harus bekerja cerdas. Kebanyakan kita sering terjebak dalam rutinitas yang mengantarkan dirinya pada cara bekerja keras dibandingkan dengan kerja cerdas. Sebenarnya apa sih bedanya bekerja keras, bekerja cerdas dengan bekerja dengan hati?

Ada yang menjawab kalau bekerja keras itu lebih identik dengan pekerjaan fisik, seperti orang yang bongkar muat barang, memecah batu, kuli panggul, dsb. Mereka bekerja keras siang dan malam. Sedangkan orang yang bekerja cerdas adalah mereka yang memaksimalkan fungsi otaknya untuk mencari cara menyelesaikan suatu pekerjaan dengan lebih cepat dan lebih baik, bisa jadi jenis pekerjaan dan kuantitasnya sama tetapi dia akan menggunakan metode tertentu untuk mempercepat pekerjaannya, entah itu dengan memanage waktu sedemikian rupa, menemukan inovasi-inovasi baru atau menambahkan alat-alat tertentu sehingga pekerjaannya menjadi lebih mudah diselesaikan dengan hasil yang lebih baik.

Bagaimana yang bekerja dengan hati? Sepertinya bisa juga disebut dengan bekerja dengan ikhlas yaitu mereka yang bekerja dengan hatinya. Semua pekerjaan yang akan diselesaikannya diniatkan sebagai bagian dari ibadah sehingga ia menjalaninya dengan penuh tanggung jawab, dengan penuh konsentrasi, dengan penuh pengabdian, karena ia menyadari harus mempertanggung jawabkan semua hasil pekerjaan dan gaji yang telah diterimanya tidak hanya kepada atasan tetapi juga kepada Tuhannya. Artinya ada atau tidak ada atasannya, ada atau tidak ada yang melihat, ia akan terus bekerja sebaik mungkin.

Dalam sebuah artikel saya pernah membaca kalau bekerja keras itu menghasilkan, bekerja cerdas itu melipatgandakan dan diantara keduanya ada yang namanya bekerja dengan hati dan itu menentramkan. Bekerja dengan hati akan melahirkan energy positif yang menggerakan otak kita untuk berfikir dengan cerdas dan menggerakan otot-otot serta jasmani kita untuk bekerja dengan kuat, sehingga pekerjaan yang berat akan terasa ringan, pekerjaan yang menumpuk akan terasa sedikit, dan pekerjaan yang rumit akan terasa mudah karena kita ikhlas melakukannya. Hati kita akan terasa lebih damai dan tentram karena hati dan fikiran kita tidak terbebani oleh pekerjaan-pekerjaan yang akan kita lakukan.

Untuk dapat bekerja dengan hati tentu saja kita harus mampu menetapkan tujuan yang mulia yang lahir dari hati nurani ketika akan bekerja, jangan terjebak untuk mencapai kepuasan finansial, kepuasan karir dan lain-lain karena tidak akan ada habisnya. Kita harus senantiasa memotivasi diri agar tetap teguh dan tidak kalah sebelum berperang, perasaan kurang mood dan berbagai kondisi yang melemahkan lainnya hanya akan menjadi penghalang buat kita. Jikalau perlu buatlah team yang kuat, utuh, solid dan kompak, tidak ada orang yang bisa sukses maksimal dengan bekerja sendirian. Yakinlah apapun yang dikerjakan dengan sepenuh hati, keseriusan, fokus dan totalitas akan membuahkan hasil yang prima. Kesuksesan selalu diraih oleh mereka yang bekerja dengan segenap hatinya.


Tulisan ini dibuat pada tanggal 10 Mei 2012 khusus saya persembahkan untuk almarhum Seniman Banten yg telah meninggalkan kita semua pada hari Selasa, 31 Oktober 2017, Selamat Jalan Kang Toton Greentoel, Semoga mendapatkan tempat yg terbaik. Aamiin.


Berita Terkait :

Catatan Irvan Hq: Generasi Ayam Negeri
Hendry Gunawan: Implementasi Teknologi Menuju Serang Madani Berbasis Smart City
Dani Maulana, Berawal dari Blogger Hingga Jadi Penulis ‘Opini Si Karung Goni’

Editor : Esih Yuliasari

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *