InspirasiOpini

Udi Samanhudi: Masa Muda, Masa Depan dan Passion

Oleh: Udi Samanhudi

biem.co — Riuhnya dunia media sosial (sosmed) dengan hilir mudik beragam informasi yang ada tak dapat dipungkiri telah memposisikannya sebagai salah satu media komunikasi yang efektif dalam penyampaian informasi yang sarat dengan manfaat dan dalam banyak ragam, menumbuhkan para penggunanya. Terlepas dari nada-nada miring dan nyanyian-nyanyian usil seputar media sosial yang ditengarai telah menjadi ‘pencuri waktu’ bagi banyak penghuni jagat raya saat ini, nyatanya media sosial  juga telah menjadi ruang tumbuh kembang akademik maupun sosial bagi para penggunanya.

Hilir mudiknya cerita-cerita inspiratif di berbagai media sosial seperti facebook, instagram atau twitter, misalnya, menjadi salah satu contoh kongkrit bahwa media sosial sangat berperan dalam upaya kolektif membangun peradaban yang sudah maju seperti saat ini menjadi jauh lebih maju dengan mendekatkan penggunanya pada sisi terbaik dalam dirinya masing-masing untuk terus digali dan dikembangkan. Satu dari sekian banyak topik-topik lumrah namun senantiasa sensasional adalah hal-hal yang bersangkut paut dengan passion.  

Kata ajaib bernama ‘passion’ ini seolah menjadi semakin berdaya guna manakala seseorang mampu memaknai kata ini dengan benar dan menjadikannya rujukan untuk pengembangan diri. Ibarat makanan, passion mengandung banyak sekali ‘vitamin’ yang cocok untuk mendukung tumbuh kembang generasi muda seperti ‘vitamin gairah berkarya’, ‘vitamin anti bosan dalam melakukan suatu hal’, dan ‘ vitamin cinta sepenuh hati pada apa-apa yang tengah dikerjakan’. Jelas sudah bahwa passion adalah sebuah magic word yang mampu menggerakan, memupuk semangat dan mempertahankan gairah seseorang untuk terus berkarya pada bidang yang tengah digeluti yang tentu juga dicintainya.  Sederhananya, passion adalah motivator sejati dalam diri seseorang untuk terus produktif dan memberikan makna kehadirannya pada lingkungan sosialnya.  

Banyak anak muda yang masih berproses dalam memetakan hidupnya ke depan menggunakan ‘passion’ sebagai salah satu panduan dalam upaya meraih mimpi-mimpi masa depan mereka- what I like most in my life. Para anak muda yang cerdas ini menjadikan passion  sebagai pengarah mereka melihat siditel-ditelnya tentang apa yang dimaui oleh hati, disukai dan dicintai untuk dilakukan. Passion telah memampukan para pemuda kelompok ini untuk lebih cerdas dalam memilih, misalnya, pekerjaan yang hendak ditekuni di masa yang akan datang yang oleh sebagian pemuda lain justru dianggap sebagai ‘hantu’ yang mengerikan dalam kegelapan dan bukan melihatnya sebagai sebuah tantangan untuk lebih antisipatif dan kreatif. Dan, dalam banyak kasus, mereka yang bekerja dengan passion-nya mampu menjadi seorang professional yang leading atau unggul pada bidang yang digeluti dan termasuk dalam deretan ‘men on top’ . Anda bisa menyebutkan beberapa contoh nama yang saya maksud, I am sure.

Akan tetapi, berhati-hatilah terjebak dengan kata passion yang kita elu-elukan ini. Faktanya, banyak anak muda yang tak bertumbuh kembang dengan baik karena terjebak dengan kata nyentrik yang satu ini. Misalnya, banyak pemuda menolak sebuah pekerjaan tertentu atau tidak ingin sedikitpun mempelajari bidang-bidang tertentu hanya karena merasa tidak memiliki passion atau  ‘jiwa’ pada bidang tersebut. Alhasil bukannya menjadi orang yang mampu berkiprah karena pengetahuan dan keterampilan yang semakin mapan, para pemuda dengan pribadi semacam ini justru terkungkung dalam batok gelap dan pengap bernama passion. Prof. Kim lewat bukunya “ Time of Your Life’ mewanti-wanti generasi muda untuk tidak terjebak dengan kata passion ini- that I only do what I like and do not even want to try those I don’t ! Menurutnya passion adalah sesuatu yang bisa digali dan ditumbuhkan. Passion bergerak dinamis seiring dengan semakin pahamnya kita terhadap suatu hal yang awalnya mungkin kita tak sukai sama sekali. Seseorang yang sebelumnya tidak memiliki passion untuk menulis, misalnya, bukan tidak mungkin menjadi seorang penulis besar dan masyur setelah ia menyadari bahwa menulis adalah ‘jiwa hilangnya yang kembali pulang’. Gairah untuk bertransformasi menjadi seorang penulis pun membuncah bahkan tak terbendung.

Akan sikap hati-hati terhadap passion ini, saya jadi teringat cerita seorang sahabat akademik di kampus dimana saya mengabdikan diri di Kota Serang, Banten. Dalam sebuah naratif yang menggugah, kakak profesional saya yang cerdas ini menceritakan seorang mahasiswa yang cukup bisa dibilang sangat berprestasi dalam urusan public speaking. Di tingkat nasional kiprahnya sebagai seorang debater teruji sudah. Mahasiswa ini mapan dalam hal berargumentasi lisan. Namun, si mahasiswa yang cerdas ini nampak galau dengan kemampuannya dalam menulis. Dengan alasan tidak suka menulis dan tidak memiliki passion untuk keterampilan ini, ia kemudian merasa tidak perlu bekerja keras untuk melatih keterampilannya dalam menulis. Sampai suatu saat muncul ‘sumpah serapah akademik’ saat tugas akhirnya (baca: S-K-R-I-P-S-I) harus sejadi-jadinya ia revisi sesuai arahan sang pembimbing. Apa yang salah sebetulnya? Bisa jadi kesalahan bukan pada kemampuan menulisnya yang masih perlu banyak pembinaan namun lebih pada cara pandangnya tentang keterampilan menulis yang menurutnya bukan passionnya sama sekali dan karenanya tak peduli akan tumbuh kembang keterampilan berharga warga dunia masa kini yang satu ini. Kasus ini menjadi contoh bagaimana passion ternyata bisa menempatkan seseorang pada posisi yang merugikan dan memenjarakan potensi yang mungkin  justru yang terbaik bersemayam dalam diri.

Tulisan ini akan saya akhiri dengan nasehat sederhana. Bahwa passion itu penting sebagai panduan dalam memilih, misalnya, suatu pekerjaan di masa yang akan datang. Namun, sikap bijak juga diperlukan. Bahwa sesuatu yang mungkin tidak kita sukai saat ini adalah sesuatu yang justru kita amat cintai di kemudian hari setelah kita mencobanya. Just give it a try, reflect and say something about it! Rasanya tak adil jika kata yang banyak ‘followernya’ ini justru menjadi kata yang mengkerdilkan kapasitas kita akan suatu hal. So, just be wise! Start learning something new and see whether you find yourself really ‘into’ it! Good luck ^_^


Udi Samanhudi adalah Akademisi Untirta, Awardee Beasiswa LPDP program Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) Kemenkeu RI dan saat ini tengah menempuh studi doktoral dalam bidang Teaching of English for Speakers of Other Languages and Applied Linguistics, Queen’s University of Belfast, United Kingdom.


Berita Terkait :

Udi Samanhudi: Membangun Pengetahuan dengan Menulis
Udi Samanhudi: Berbahasa Inggris seperti Native Speaker, Haruskah?
Udi Samanhudi: Sensasi Nilai-Nilai Islam di Negara Maju


Rubrik ini diasuh oleh Fikri Habibi

Editor : Esih Yuliasari

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *