HiburanKabarKomunitasTerkini

Teater Garasi Adakan Acara Syukuran Studio Baru 7 Hari 7 Malam

YOGYAKARTA, biem.co – Perayaan syukuran studio baru Teater Garasi/Garasi Performance Institute, kini menampilkan kegiatan Buka Studio: 7 Hari 7 Malam. Acara tersebut diselenggarakan sebagai rasa syukur atas pengembangan sarana Studio Teater Garasi/Garasi Performance Institute. Dengan bantuan dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), awal tahun 2018 menjadi momen yang tepat untuk meluncurkan ruang “baru” presentasi dan kerja eksperimentasi kesenian bagi mereka.

 

Kapan acara ini berlangsung?

Acara tersebut sudah mulai terlaksana sejak 14 Januari lalu, dan berakhir pada 20 Januari. Bertempat di Studio Teater Garasi/Garasi Performance Institute, Jl. Jomegatan 164 B, Nitripayan, Kasihan, Bantul., Yogyakarta ini dihadiri oleh beberapa seniman-seniman muda Yogyakarta, Solo, Jakarta, dan Bandung.

 

Teater yang didirikan tahun 1993 ini, telah menjadi salah satu rombongan teater utama di Indonesia. Dikutip dari The Jakarta Post, pada tahun 2013, Belanda Prince Claus Fund memberikan Prince Claus Award kepada grup ini atas karya inovatifnya, merayakan pluralisme Indonesia dan mempromosikan seni pertunjukan di Asia Tenggara.

Kegiatan buka studio baru ini menyuguhkan beberapa penampilan, seperti: Peluncuran Buku “Kembang Sepasang” karya Gunawan Maryanto; Tari Gedruk Topeng Ireng oleh Komunitas Seni Kampung Nitripayan; Yoga bersama Lusia Neti Cahyani; Peluncuran Buku “Gentayangan” karya Intan Paramaditha; dan di malam terakhir akan ada penampilan dari Melancholic Bitch.

Dalam salah satu program, yakni peluncuran buku Kembang Sepasang karya Gunawan Maryanto, beliau menuturkan bahwa ia mencoba menafsirkan kembali pandangan orang Jawa terhadap anak-anak dalam buku tersebut. Penyair dan penulis cerita pendek tersebut mengatakan dalam budaya Jawa, judul buku mengacu pada keluarga memiliki anak perempuan kembar.

Joko Pinurbo salah satu penyair terkenal di Indonesia yang juga mengkaji ulang buku tersebut, mengatakan bahwa seorang penulis puisi harus memiliki komando budaya yang dengannya dia dapat memproses kata-kata dari budaya lokal untuk memperkaya kosa kata bahasa Indonesia.

“Saya melihat karya Gunawan sebagai macapat dalam budaya Jawa, yang harus dibaca berkali-kali untuk memahami maknanya,” tuturnya. [uti]

Editor : Muhammad Iqwa Mu'tashim Billah

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar