InspirasiKolomOpiniRois Rinaldi

Muhammad Rois Rinaldi: Baku Hantam di Dunia Pendidikan Kita

Oleh Muhammad Rois Rinaldi

I/

Di sekolah yang paling berperan adalah pendidik (guru) dan peserta didik (murid). Aktivitas sekolah tidak lain berkisar di dalam proses belajar dan mengajar, tanpa melepaskan urusan-urusan lain semisal bagian tata usaha, kebersihan, dan kepala sekolah, karena semua pada akhirnya bertujuan menciptakan sistem dan suasana belajar yang sesuai dengan harapan. Tidaklah ada hal yang membahayakan atau yang perlu dikhawatirkan di sekolah. Semua orang di dalamnya sudah mengerti tugas dan fungsinya masing-masing.

Para murid yang datang ke sekolah seyogyanya tahu betul bahwa mereka sedang disiapkan sebagai generasi penerus yang diunggulkan. Mereka harus mau menerima posisi sebagai orang yang dididik, bersedia mematuhi dan menghormati guru. Para guru bertugas mendidik murid-murid yang diamanahkan kepada mereka. Setiap apa yang dilakukan oleh para guru harus sehaluan dengan tujuan pendidikan serta mengikuti peraturan yang berlaku. Semua orang menaruh harapan kepada keduanya (guru dan murid) dan keduanya didukung penuh oleh seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama menyongsong masa depan Bangsa Indonesia yang lebih baik.

Begitu idealnya.

Sayangnya kenyataan berkata lain. Seperti lagu dangdut, “surga yang diharapkan, neraka yang didapatkan”. Sekolah yang mestinya dipercaya sebagai “kawah candradimuka” kini mulai dicurigai sebagai “Sarang Penyamun” oleh sebagian orangtua pada masa Milenial ini. Tidak sedikit orangtua murid yang membesar-besarkan masalah “oknum” guru yang melakukan pungli dan kekerasan verbal. Akibatnya tidak sedikit pula orangtua yang bertindak melampaui batas. Mereka datang ke sekolah lalu mencak-mencak. Seakan-akan mereka menganggap sekolah sebagai panti asuhan yang dibayar jasanya sehingga pola pendidikan yang diterapkan di sekolah harus sesuai dengan apa yang mereka inginkan, tidak peduli sesuai atau tidak dengan tujuan pendidikan.

Murid-murid yang menyaksikan sikap orangtuanya, baik langsung maupun tidak,  pada akhirnya terpengaruh untuk berpikir bahwa guru-guru di sekolah tidak lain hanya pesuruh yang sudah dibayar oleh orangtuanya masing-masing. Mereka tidak menaruh hormat kepada guru karena pandangan mereka terhadap guru sebagaimana pandangan mereka terhadap seorang “babu”. Sikap mereka jadi semau-maunya. Tidur di kelas, tidak mau ditegur. Bikin ulah di sekolah, tidak boleh disalahkan. Tidak naik kelas, guru yang disalahkan. Pada keadaan ini, seorang guru yang dituntut tetap sabar menanamkan budi pekerti, selain pelajaran umum, setiap hari harus menghadapi sikap siswa yang demikian. Tentu tidak dapat dibiarkan begitu saja. Para guru berusaha mengingatkan murid-muridnya, sehingga tidak jarang terjadi ketegangan. Guru yang mestinya digugu dan ditiru kerap diposisikan sebagai musuh di dalam selimut oleh murid-muridnya sendiri.

II/

Antara guru, murid, dan orangtua murid/wali murid seperti ada yang sengaja dibiarkan jadi liar. Persoalan demi persoalan terus menggelindingkan bola api. Dari perkara  kulit kwaci yang remeh temeh hingga persoalan orangtua murid yang memaki-maki seorang guru di depan anaknya dapat dijadikan alasan untuk saling menghantam. Misalkan pada suatu kasus, seorang murid dinilai kurang sopan di sekolah. Bahkan murid tersebut tidak segan-segan mengumpat dan mengancam gurunya sendiri. Seorang guru berupaya mengarahkan bahwa prilakunya tidak baik dan berusaha mendidiknya dengan lemah lembut. Sayangnya upaya yang dilakukan tidak membuahkan hasil yang diinginkan, bahkan makin hari makin menjadi-jadi. Berdasarkan perenungan yang mendalam, kemudian hari guru tersebut memutuskan untuk mengambil sikap tegas: menampar yang bersangkutan.

Tamparan seorang guru, lazimnya adalah tamparan yang dilandasi oleh kasih sayang dan menggunakan teknik mendidik. Dengan kata lain, tidak menggunakan tenaga penuh. Tamparan yang dimaksud biasanya hanya menempelkan tiga jari di pipi, tidak boleh mengambil ancang-ancang dari jarak jauh. Tamparan harus dipastikan tidak memberikan rasa sakit sebagaimana pada umumnya orang yang dengan sengaja menampar karena kemarahan. Saya mempelajari tamparan secama ini di Paskibra. Ini metode, bukan mengada-ada. Seorang murid mungkin tidak memahami metode ini. Pipi tidak seberapa sakit, tapi hati yang merasa sangat tersakiti. Inilah yang biasanya jadi alasan untuk melapor kepada orangtua dengan banyak bumbu.

Pada mulanya seorang guru berpikir metode yang digunakan tidak akan melahirkan masalah baru. Sebaliknya, karena pendekatan persuasif tidak berhasil, dengan cara yang sedikit lebih tegas (bukan keras) mungkin akan membuat seorang murid sedikit berubah. Tidak dinyata yang terjadi sebaliknya. Esoknya orangtua murid melapor ke kepolisan dengan tuduhan penganiayaan. Polisi datang ke sekolah menjemput guru tersebut. Para murid satu sekolah menyaksikan gurunya sendiri digelanga ke penjara. Pada keadaan yang semacam itu, tersebutlah “guru” sebagai pelaku kejahatan, “murid” sebagai korban kejahatan, dan “orangtua murid” sebagai sebagai “pelapor”.

Selanjutnya mudah sekali ditebak. Tanggapan-tanggapan yang cenderung tidak mendasar berkembang di tengah masyarakat seperti bunga gula yang pucat. Orang-orang dengan sangat garang bicara tentang perlindungan anak dan hak asasi manusia. Seakan-akan para guru tidak memiliki hak atas sikap dan tindakan yang diambil dalam rangka memajukan pendidikan yang diamanahkan kepada mereka. Masyarakat umum tanpa ragu dan dengan serta merta menghakimi guru bahkan semua orang yang ada di sekolah sebagai para penjahat yang harus menerima hukuman. Seakan-akan para guru juga lembaga pendidikan tidak memiliki perlindungan hukum di dalam menjalankan profesinya.

Simalakama jadinya.

Di satu sisi, orangtua telah menitipkan muridnya di sekolah. Di sisi yang lain, orangtua dengan sangat mudah menuduh guru melakukan tindak kekerasan kepada anaknya hanya karena mendengar laporan dari anak. Padahal secara sadar para orangtua mengetahui mental anak-anak sekolah usia SD, SMP, dan SMA belum stabil. Mereka belum sepenuhnya dapat memahami konsekuensi dari tindakan-tindakan mereka sendiri, sehingga ketika dihukum mereka belum mampu menyerap tujuan dari hukuman. Memang bukan tidak mungkin seorang guru melakukan kesalahan, tapi orangtua mestinya menjalin komunikasi secara intens dengan guru yang bersangkutan, bukan langsung datang ke kantor polisi.

III/

Kekerasan, apapun alasannya, memang tidak dapat diterima, apalagi dilakukan oleh seorang guru yang ghalibnya mendidik. Hanya saja, kekerasan yang belakangan ini dipahami oleh masyarakat makin hari makin rancu sehingga sulit sekali ditemukan batasannya. Tindakan seperti apa yang dapat digolongkan tindak kekerasan dan mana yang bukan? Alat ukur apa yang dapat digunakan untuk menentukan batasan-batasan yang jelas agar para guru tidak dikriminalisasi oleh napsu amarah murid dan orangtuanya dengan menggadang-gadang hak asasi manusia yang terus dirangsekkan ke sekolah. Ini pun agar tidak salah mengartikan antara cinta dan kebencian, antara keinginan mendidik dan hasrat ingin menyakiti.

Sekarang persoalannya, semua hal dapat digebyah-uyah, ditafsirkan dan dipahami secara urakan, dan semena-mena. Mustilah mengambil jeda untuk dapat memahami persoalan yang ada. Mestilah memberi jarak yang cukup antara persoalan dengan orang-orang terlibat di dalamnya. Ini agar hal-hal yang sebenarnya dapat dibicarakan baik-baik tidak selalu berakhir pada adegan baku hantam antara guru dan murid. Repot kalau hanya memukul pelan tangan murid dengan penggaris dianggap sebagai tindak kekekerasan. Kalau hendak bikin tontonan dan kalau sudah bosan dengan cerita sinetron yang itu dan itu saja, sekolah bukan tempat yang tepat untuk didramatisir.

Masyarakat modern memang sangat mengerti peran dan fungsi hukum. Itu baik, karena masyarakat mengerti konsep-konsep dan konsekuensi-konsekuensi hukum yang berlaku. Dengan demikian, masyarakat modern telah benar-benar melek hukum, tidak lagi main hakim sendiri. Akan tetapi, bagaimana bila hukum yang menjadi perangkat yang rigit, terlebih Indonesia yang menganut hukum positif (walau saya ragu ihwal hukum positif dan progresif yang seakan tarik menarik di Indonesia), tidak digunakan dengan bijak. Bagaimana kalau hukum hanya dijadikan alat pemuas napsu birahi dari amarah manusia yang cenderung ingin memenangkan dan mengalahkan. Hukum tidak digunakan sebagai jalan keadilan, tapi sebagai jalan pembenaran atas tindakan sendiri terlepas benar atau salah.

Inilah sesungguhnya yang menjadi masalah masyarakat yang kadung mengurat dan membikin dunia pendidikan kalang kabut. Guru bingung, murid bingung, orangtua murid bingung, menteri pendidikan bingung, ahli-ahli pendidikan bingung, dan terus saling mempertanyakan mengapa baku hantam antara guru dan murid harus terjadi, padahal mestinya baku hantam di dunia pendidikan tidak pernah terjadi. Sayangnya hingga saat ini tidak ada kejelasan mengenai tolok ukur kekerasan di sekolah yang dapat dijadikan rambu-rambu bagi para guru untuk bersikap. Belum ada tolok ukur yang jelas mengenai bagaimana menghadapi murid yang sikap dan ucapannya melampaui batas (batas yang juga belum ditentukan). Belum ada kejelasan mengenai metode pendidikan yang spesifik terkait apa yang boleh dan apa yang tidak boleh, selain panduan dari buku-buku yang cenderung teoritis dan jauh dari kenyataan di lapangan.

Kita semua sangat paham, sudah khatam, dan sudah menyepakati bahwa pendidikan merupakan gerbang pertama untuk menuju perubahan yang lebih baik; jalan utama untuk menuju kemajuan suatu bangsa; dan harapan pertama yang harus diperjuangkan sebelum beranjak kepada harapan-harapan berikutnya mengenai suatu peradaban yang tinggi. Kita juga telah menyepakati, baik buruknya pendidikan di suatu bangsa adalah cikal bakal bagi segala kemungkinan baik atau kemungkinan buruk pada segala lini kehidupan. Jika baku hantam di dunia pendidikan kita ini terus menerus terjadi, apa masih mungkin mengharapkan ada perubahan signifikan di negeri ini, kemajuan misalnya? Mungkinkah kita berharap membawa negara tercinta ini menjadi negara yang bukan kelas tiga lagi? Tidakkah kita perlu mempertanyakan harapan-harapan kita?

Pertanyaan-pertanyaan retoris tersebut memang sangat menjengkelkan. Tetapi baiknya kita mulai berusaha menjawabnya, sebelum kenyataan di hari depan bukan lagi sekadar menjengkelkan, tapi sudah jadi momok yang menakutkan. Sudah jadi monster yang tidak mungkin dapat kita hadapi dengan cara apapun.


Muhammad Rois Rinaldi, adalah penyair, pendiri Rumah Baca Bintang Al-Ikhlas Banten (Serang), BAI Jeruk Tipis Cilegon, dan BAI Bani Ahmad Cilegon.


Rubrik ini diasuh oleh Fikri Habibi.

Editor : Andri Firmansyah

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar