InspirasiOpini

Atih Ardiansyah: Narasi Kepahlawanan

Prolog

Saat kalimat pertama untuk 1.300-an kata dalam tulisan ini saya rampungkan, dunia yang kita huni sedang bergerak dengan sangat cepatnya. Bumi tempat kita dilahirkan, hari ini, telah mampu memperjualbelikan 115 unit mobil dalam setiap 1 menitnya.

Hari ini, sekira 300 ribu status Facebook di-update setiap menitnya. Hari ini, setiap 1 menit, terdapat 1,4 milyar cuitan pengguna Twitter, hanya di Indonesia. Dan Xiaomi, per hari ini, berhasil membuat 1 unit smartphone per menit!

Hari ini, saat Anda membaca artikel yang kalimat pembukanya terinspirasi dari surat terbuka Handry Satriago (CEO General Electric Indonesia) untuk para pemimpin Indonesia masa depan ini, saya telah mengetikkan kata “pahlawan” pada mesin pencari Google. Hasilnya, terdapat 26.700.000 tautan yang berkaitan dengannya hanya dalam hitungan 0,44 detik. Tetapi juga hari ini, saya merasa yakin kita akan kesulitan menunjuk sosok dan menyebut nama seseorang yang patut kita sebut sebagai pahlawan.

/I/

Mari kita pergi ke Kota Yogyakarta. Di sana, pada sebuah sore, seorang bapak paruh baya secara tiba-tiba menghentikan mobilnya. Di hadapannya, seorang ibu tengah merentangkan tangan dengan raut muka penuh kecemasan.

“Antarkan saya ke Pasar Beringharjo!,” ujarnya.

Lalu tanpa menunggu persetujuan, Ibu itu langsung masuk ke dalam mobil setelah sebelumnya memasukkan karung-karung berisi sayuran miliknya. Tanpa bertanya, dengan penuh kerendah-hatian, Bapak itu mengantarkannya.

Sesampai di pasar, si Ibu meminta si Bapak menurunkan sayur-sayuran dan barang-barangnya. Masih dengan hati yang lapang, si Bapak segera menurunkan barang-barang tersebut. Setelah karung-karung berisi sayur di taruh, si Ibu bertanya: “Berapa ongkosnya, Pak Sopir?”

“Wah, ndak usah, Bu,” tolak si Bapak dengan ramah.

“Walaaaah, Pak Sopir ini, kayak ndak butuh uang saja,” ujar si Ibu yang langsung direspon santun oleh si Bapak, “Sudah, ndak apa-apa, Bu. Saya cuma membantu.”

Tak lama setelah barang-barang diturunkan, si Bapak tersenyum dan pamit meninggalkan pasar. Si Ibu geleng-geleng kepala. Keheranan karena menemukan orang yang seolah tidak butuh uang di tengah-tengah kebutuhan hidup yang makin mencekik.

Tidak lama kemudian, seorang mantri polisi yang mengamati sejak tadi, datang menghampiri dan memberi tahu sesuatu kepada si Ibu. Si Ibu terkejut bukan main sampai tak sadarkan diri sehingga tubuhnya berdebam ke tanah. Apa gerangan yang dibisikkan oleh mantri polisi itu? Tak lain dan tak bukan, tentang si Bapak tadi. Bapak itu ternyata Bendoro Raden Sultan Dorodjatun, atau lebih dikenal dengan sebutan Sultan Hamengkubuwono IX. Dan beliau adalah salah satu pahlawan Indonesia. Pahlawan mengajarkan kesederhanaan.

/II/

Ada seorang ajudan menteri yang sekuat tenaga menahan ledakan haru yang mendentam-dentam di rongga dadanya. Sambil mengayuh sepeda, air matanya terus mengalir. Hari itu, dia membonceng seorang lelaki kurus dan berpakaian sederhana, yang baru saja meletakkan jabatannya sebagai seorang menteri negara. Seorang pejabat yang “tak sanggup” menggunakan fasilitas negara yang berasal dari uang rakyat, dan memilih diantarkan ajudannya dengan naik sepeda. Sang ajudan telah diantarkan fragmen hidup pada sebuah kesadaran bahwa negeri bawah angin ini memiliki seorang yang besar, seorang negarawan sejati, seorang pahlawan kebanggaan Indonesia: Mohammad Natsir.

Ada kisah lain bagaimana kesahajaan Mohammad Natsir menunjukkan kilaunya. Satu kali, Soebandrio (saat itu menjabat Menlu), pergi melaksanakan ibadah haji dan berniat menemui Raja Faisal. Niat yang awalnya ditolak Raja Faisal itu akhirnya dikabulkan setelah usaha payah dari KBRI Jeddah. Di hadapan Raja Faisal, Pak Soebandrio bercerita tentang Islam di Indonesia. Kemudian, laksana kilat, Raja Faisal memberikan pertanyaan tak terduga.

“Mengapa saudara menahan Mohammad Natsir?”

Saat itu, Mohammad Natsir memang diasingkan dan sempat menjadi tahanan politik pada tahun 1960-1966. Dengan agak gugup, Soebandrio bertanya, “Saudara tahu?” Lalu Raja Faisal menjawab: “Mohammad Natsir bukan hanya pemimpin Islam di Indonesia, tetapi juga pemimpin Islam di dunia. Kami ini adalah para pengikutnya!”

Pahlawan mengajarkan kesahajaan.

/III/

Prof. Schermerhon, Perdana Menteri Belanda (1945-1946), dalam buku Het dagboek van Schermerhon pernah berkata: “Orang tua yang sangat pandai ini adalah seorang yang jenius. Dia mampu bicara dan menulis secara sempurna sedikitnya dalam sembilan bahasa. Kelemahannya hanya satu, dia hidup melarat.”

Perkenalkan. Dialah lelaki sederhana, pejuang dan pahlawan kemerdekaan: Haji Agus Salim.

Anda tentu masih ingat tentang lelucon kambing yang terkenal itu? Kala itu, Haji Agus Salim sebagai pemimpin SI bersama HOS Cokroaminoto naik ke atas mimbar. Tidak lama kemudian, hadirin mengejek penampilan beliau, “Mbeeeek, mbeeeeek…”. Ejekan itu dilontarkan lantaran penampilan Haji Agus Salim yang berkopiah dan berjanggut.

Lelaki cerdas permata Indonesia itu tak tinggal diam. Beliau mengangkat tangannya dan berkata, “Tunggu sebentar! Bagi saya sungguh hal yang sangat menyenangkan bahwa kambing-kambing turut hadir untuk mendengarkan pidato saya. Hanya, sayang sekali mereka kurang mengerti bahasa manusia. Jadi, saya sarankan agar untuk sementara waktu mereka meninggalkan ruangan ini untuk makan rumput di lapangan. Setelah pidato saya yang ditujukkan untuk manusia ini selesai, mereka disilakan masuk kembali dan saya akan berpidato dalam bahasa kambing, khusus untuk mereka. Karena bagi kambing pun ada pidatonya dan saya menguasai banyak bahasa.”

Beberapa hadirin tertawa. Sementara mereka yang mengejek merah padam mukanya.

Pahlawan mengajarkan integritas.

/IV/

Seseorang dengan semena-mena mengirimkan pesan kepada saya. Katanya, “Menulis hanya ajang mencari popularitas dan rekognisi sosial.”

Hari ini saya ingin berkata kepadanya, bahwa menulis adalah tentang keberanian. Bahkan pedang, ujar Voltaire, tak lebih tajam dari kata-kata. “Ajari anakmu sastra, niscaya anak pengecut menjadi pemberani!” demikian nasihat Umar bin Khattab.

Para penulis itu, kalangan sastrawan di masa lalu telah mempraktikkan kepahlawanan. Mereka tak bersenjatakan bedil, tetapi pena dan kata-kata.

Jiwa-jiwa pahlawan mengerti bahwa tulisan adalah minyak yang bisa mengobarkan api sejarah. Tan Malaka menulis Massa Aksi hampir satu abad yang lalu, tetapi inspirasinya tak henti menambahkan nyala nyali perlawanan bangsa Indonesia.

Karena terinspirasi Massa Aksi karya Tan, WR. Soepratman menciptakan karya abadi “Indonesia Raya”. Karena terbakar Massa Aksi, Sukarni dan beberapa pemuda menginisiasi pertemuan besar di Lapangan Ikada. Dan Bung Karno, konon, selalu membawa Massa Aksi kala berada di Bandung dan menjadi ilham sekaligus referensi yang dikutip dalam pledoinya yang melegenda, Indonesia Menggugat.

Saat berada di Filipina, di depan pengadilan, Tan Malaka berkata: “Dari dalam kubur, suara saya akan lebih nyaring terdengar daripada ketika masih berjalan di atas muka bumi.”

Pahlawan mengajarkan kegigihan!

/V/

Pada 17 Desember 1942 ketika perang tengah berkecamuk di Pasifik, atau tepat setahun setelah penyerangan Jepang ke Pearl Harbor, lahir sosok pemberani yang di usia mudanya terkenal sebagai aktivis cerdas dan idealis: Soe Hok Gie.

Tubuhnya kurus. Tak setampan Nicolas Saputra. Tapi nyalinya besar. Idealisme dan semangatnya laksana panah api yang dia lesatkan melalui tulisan-tulisan kritisnya terhadap pemerintah.

Orde Lama pernah menjadi korban dari tulisan Gie. “Di Indonesia,” kata idola kaum muda itu, “hanya ada dua pilihan: menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan bahwa saya harus menjadi idealis sampai batas sejauh-jauhnya!”

Pada usia 17 tahun, Gie menulis: “Kita, generasi kita, ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau generasi kita, yang menjadi hakim atas mereka yang dituduh koruptor-koruptor tua. Kitalah yang dijadikan generasi yang akan memakmurkan Indonesia!”

Pahlawan mengajarkan keteguhan atas pilihan!

 

Epilog

Saya mengajak Anda semuanya untuk sesering mungkin berziarah kepada para pahlawan lewat kisah epik mereka. Salah satu buku yang bisa Anda baca, jika masih terasa berat membaca Imperium III karya Eko Laksono yang lumayan tebal, bacalah buku Leiden is Lijden karya Dea Tantyo Iskandar (Elex Media, 2017) yang menjadi salah satu inspirasi dari tulisan yang sebentar lagi Anda khatamkan.

Panaskan air dan seduhlah kopi lalu hangatkanlah diskusi-diskusi. Kita harus sadar dan selama-lamanya memelihara kesadaran itu, bahwa seorang pahlawan bisa lahir dari mana saja, termasuk diri kita. [red]

*) Tulisan ini disampaikan pada Seminar Kepahlawanan yang diselenggarakan DPD KNPI Kabupaten Pandeglang di Baitul Hamdi, Menes, 9 November 2017.


Atih Ardiansyah, adalah Direktur Eksekutif Rafe’i Ali Institute.


Rubrik ini diasuh oleh Fikri Habibi

Editor : Redaksi

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Baca Tulisan Ini Juga, Yuk!

Close