CerpenInspirasi

Cerpen Agus Hiplunudin: Membakar Kenangan

Oleh: Agus Hiplunudin

biem.co — Sepagi itu aku telah terjaga dari lelap tidurku. Selekas sembahyang Subuh, seperti biasa kusibukkan diriku dengan segelas air kopi agak manis yang begitu nikmat kala kuseruput, dan begitu lezat kebap aromanya. Sebagai penikmat kopi sejati—ala petani kampung; tak lengkap rasanya bila mengopi tanpa kehadiran batang-batang rokok. Kusulut sebatang sigaret keretik, dengan segera asap berhamburan dari kedua lubang hidungku juga lewat lubang mututku. Dan lagi kuseruput air kopi yang masih mengepul itu.

Lewat kaca jendela kuperhatikan ibuku, ia sedang terbungkuk-bungkuk menyapu halaman rumah yang dirimbuni oleh tiga pohon mangga, atas karenannya setiap pagi dan menjelang senja halaman rumahku selalu berserakan oleh daun-daun mangga yang berguguran jatuh ke bumi tersedot oleh gaya gravitasi. Nampak olehku; daun-daun kering tersebut telah terkumpul, ibuku membakarnya, dan api dengan segera menyala.

Sebenarnya ingin rasanya aku menyapu daun-daun kering mangga tersebut, namun ibuku tak pernah memberi kesempatan padaku; “Biar Ibu saja. Menyapu pekerjaan perempuan, kau anak laki-laki. Jika kau menyapu lama-ke-lamaan nanti kau pakai konde,” tukas Ibu kala kuminta biarlah aku yang membersihkan halaman. Mungkin, perkataan ibuku itu hanya akal-akalannya saja, aku tahu aku adalah yang tersayang baginya—mungkin karena aku anak bungsu, yang secara umum memang patut dimanja, dan itu membuat aku menjadi makhluk termalas di kampungku, mungkin!

Kulihat api berkobar melumat daun-daun kering, kali ini aku terpana melihatnya, betapa api yang memakan daun kering menohokku; kiranya, alangkah baiknya jika semua kenangan yang ada dalam kepalaku dibakar saja, terutama kenangan indah ketika aku masih bersamanya.

Aku terhenyak puzle kenangan itu kembali berbondong-bondong menyeruak memenuhi benakku. Puzle kenangan itu berpendar bagai kilau permata, namun selang beberapa saat—pendaran tersebut berubah menjadi sebuah belati berkarat menurih hatiku, bukan main sakitnya; terkadang hingga melelehkan air mata, itu karena saking sakitnya.

*

Sore menjelang senja, selekas aku menulis sebuah syair, aku melihat ibuku kembali terbungkuk-bungkuk menyapu daun-daun kering, lalu daun-daun kering itu dibakarnya, api dengan segera menyala, asap putih menghitam membumbung tinggi, dan itu kembali menohokku, alangkah baiknya jika kubakar saja semua kenangan bersamanya—yang berserakan dalam benakku.

Sore itu juga kunyalakan sepeda motorku, kupanaskan mesinnya dan kulajukan secara perlahan, biar menikmati suasana perjalanan. Sampailah aku ke tempat yang kutuju; yaitu sebuah danau. Danau inilah tampat aku dan dirinya bertemu, dahulu. Dan peristiwa itu diabadikan dalam kenangan yang bersarang di dalam benakku.

Kusetandarkan sepeda motor, aku duduk di sampingnya. Kuperhatikan pepohonan janda merana berjajar memagari bibir danau, angin berembus sepoi, serentak dedaunan janda merana bergerak, gerakannya serentak menyerupai gerakan sebuah tarian. Angin kembali berhenti embusannya, dedaunan janda merana pun tak lagi bergerak, kini janda merana merunduk, menyerupai para perempuan berambut panjang yang sedang ditimpa kesedihan.

Aku terkejut ketika pundakku ada yang meraba dari arah belakang, mukaku mendongak memperhatikan wajah orang yang telah lancang meraba pundakku itu. Ia tersenyum, rekah bibirnya seindah kuntum mawar merah, kulitnya kuning serupa bunga sedap malam, giginya putih seputih bunga melati, dari tubuhnya sumerbak mewangi, sewangi zaitun.

“Siapa kau?” tanyaku terbata.

“Aku perempuan penunggu danau ini!” jawabnya.

“Aku sudah begitu sering mengunjungi tempat ini. Namun, baru kali ini aku melihatmu!”

“Dan karenanya aku hendak memperkenalkan diriku, padamu.”

Perempuan itu menjulurkan telapak tangannya padaku, ia mengajakku berkenalan, dan tangan itu penuh ragu kusambut.

“Nisya,” ia menyebut namanya sendiri.

“Hil,” aku memperkenalkan namaku.

Tanpa ragu ia duduk di sampingku. Ketika tatapanku beradu dengan tatapannya aku merasa bahwa perempuan ini begitu kukenal. Namun aku telah lupa, mungkin aku sedang mengalami deja vu—sebuah ilusi visual di mana situasi yang baru secara keliru telah kuanggap sebagai suatu pengulangan ingatan sebelumnya. Dan aku sadar; bahwa aku keliru, sebab aku sejatinya tak pernah mengenal perempuan ini, bahkan bertemu pun baru sekali ini.

“Apa maksudmu bahwa kau adalah penunggu danau ini?” tanyaku.

“Aku penduduk baru di sini, dan cintaku langsung tercelup ke air danau ini. Karenanya aku mendeklarasikan; bahwa aku adalah penunggu danau ini, danau Merah Marun ini.”

“Oya di manakah rumahmu?”

“Setengah kilo meter dari sini, itulah rumahku.”

“Setahuku di sekitar danau ini tak ada rumah!?”

“Tadi sudah aku bilang; bahwa aku penghuni baru di sini!”

“Oh, ia ya!” aku tertawa kecil untuk menutupi rasa maluku.

Sore telah berganti senja, langit nampak kemerahan terpantul ke air danau menyebabkan air danau pun nampak kian memerah. Di sebrang sana pepohonan janda merana masih merunduk dengan segala kesan kesedihannya. Tanah bibir danau terlihat cokelat tua, karena teduh senja sehingga seakan menghitam.

“Aku, tadi melihat ibuku sedang menyapu halaman, ia mengumpulkan daun-daun kering, lalu daun kering tersebut dibakarnya. Aku juga ingin membakar, namun bukan membakar daun-daun kering itu, tetapi ingin membakar segala kenangan yang berserakan dalam benakku,” tuturnya.

Aku terperanjat, kok bisa apa yang dipikirkannya serupa dengan apa yang dipikirkanku? Mulanya aku hendak berkata bahwa aku juga seperti halnya dirinya. Namun, tiba-tiba kerongkonganku dirasakan mengering, sehingga aku kesulitan untuk berujar.

Ponsel yang digenggamnya berdecit, ia membaca isi pesan singkat itu, kemudian ia berdiri dan bertukas; “Aku pulang dulu, ibuku telah menyuruhku untuk segera kembali ke rumah.”

“Oya! Boleh kuantar?”

“Tak usah!”

“Kenapa? Aku kan bawa sepeda motor biar kau cepat sampai ke rumah!”

“Bukan begitu. Kedua orangtuaku; mereka adalah kaum fanatik, jika aku ketahuan berdua-duaan dengan lelaki aku akan dicencangnya.”

“Oya!?”

“Tiga hari lagi mereka akan pergi, setelah mereka pergi, barulah kau bisa mengantarku ke rumah.”

“Besok kau akan kembali ke sini?”

“Selalu!”

“Bolehkah aku menemanimu, di sini?”

“Dengan senang hati!”

Nisya berjalan gontai meninggalkanku tanpa sedikit pun menoleh ke belakang, dan jalan berkelok itu menyembunyikannya dari tatapanku. Aku menyalakan sepeda motor, kupacu menuju jalan pulang, menuju rumah.

 

Keesokan harinya aku dan Nisya kembali bersua di tempat yang sama. Aku dan dia semakin akrab, dan keakraban kita seakan di antara kita telah mengenal satu sama lain jauh sebelumnya, aku betul-betul begitu sering mengalama deja vu kala bersamanya.

Pada hari ketiga, Nisya benar-benar membolehkanku mengantarnya ke rumahnya. Sebuah rumah tembok setengah badan, begitu mungil dan asri. Di balik kesederhanaan rumah itu terselip kemegahan jiwa para penghuninya.

“Ini rumahku,” Nisya sambil turun dari jok belakang sepeda motor.

“Silakan masuk,” sambungnya, dan berjalan menuju pintu rumah.

Aku duduk di tengah rumah dialasi kursi yang terbuat dari rotan, kuedarkan tatapanku kesekelilingnya; semuanya tertata sedemikian teratur. Nisya datang dari arah dapur, ia menyuguhiku segelas air kopi yang mengepul, kuseruput, rasa dan aromanya sesuai dengan seleraku seakan ia telah mengetahui segalaku.

“Aku betul-betul ingin membakar segala kenang yang berserakan dalam benakku,” kata Nisya.

Ia masuk ke kamar, tak lama berselang kembali lagi.

“Coba kau baca puisi-puisi ini,” katanya sambil meletakkan tumpukan kertas di atas meja hadapanku.

Satu per satu puisi itu kubaca, aku tak silap bahwa puisi itu adalah puisi karanganku. Namun, nama yang tertera di bawah puisi itu bukanlah namaku. Mungkin, untuk yang kesekian kalinya aku mengalami deja vu.

“Selain puisi-puisi itu, ia pun memberikan lukisan ini padaku!” katanya sambil mengambil sebuah lukisan yang sedari tadi tergeletak di kolong meja, namun aku tak memperhatikannya.

Lukisan tersebut diletakkan di atas meja. Aku merogohnya dan melihatnya, “Sebuah lukisan kucing hitam yang manis,” gumamku.

“Katanya kucing hitam adalah hewan kesukaannya,” kata Nisya.

Sebenarnya aku ingin bicara; kok bisa apa yang menjadi kesukaan lelaki kekasih nisa adalah kesukaanku juga? Namun, urung—aku khawatir disangka mengada-ngada.

“Sekarang, aku hanya bisa berharap dirinya pun sama seperti halnya diriku. Diriku yang selalu merindukannya,” lirih suara Nisya dan pasang matanya berkaca-kaca.

Tiada terasa malam terus meroket, dan aku harus segera pulang. Aku pun pulang di mana sebelumnya aku berjanji, keesokan harinya aku akan menemuinya lagi di kediamannya. Dan Nisya memberi tahu padaku bahwa dirinya hari esok tak akan bertamasya ke danau Merah, kala sore menjelang senja.

Sesampainya di rumah, tepatnya dalam kamarku, pasang mataku enggan terpejam, kantuk belum pula menggelayuti kelopak mataku. Pikiranku selalu tertuju pada Nisya, dalam hatiku; jangan-jangan ia adalah kekasihku yang telah menghilang dan kini datang kembali? Tiba-tiba aku tak sabar, ingin segera bertemu dengan hari esok, dan aku bisa berkunjung kembali ke rumah Nisya—juga bertemu dengannya.

Sore menjelang senja, tak perduli hujan merintik sedang datang bertandang. Kupacu sepeda motorku. Aku tak mampir terlebih dahulu di danau Merah, namun aku lepas—menuju rumah Nisya.

Sesampainya ke tempat yang di tuju, mataku terbelalak, sebab tatapanku tak menangkap rumah Nisya, yang kusua hanya sebuah pohon beringin yang telah tua, berumur puluhan tahun. Aku mencubit lenganku sendiri dan kurasakan sakit, itu tandanya aku bukan lagi hidup dalam mimpiku, namun aku lagi hidup dalam nyataku. Aku meninggalkan beringin tua tersebut dengan hati hampa. Aku berharap bisa bertemu dengan Nisya kembali, kekasihku yang sekarang entah di mana? Atau mungkin ia telah mati, mungkin? Sangat mungkin! Aku baru ingat bahwa kekasihku bernama Anisya dan perempuan itu bernama Nisya; bukankah itu adalah nama yang percis? Bahkah sama!?

*

Telah tiga hari berturut-turut aku bermimpi bertemu dengan Nisya. Dengan demikian, aku pun percaya; bahwa suratan takdirku telah tertulis, di mana jodohku adalah Nisya.

Pagi ini, aku kembali melihat ibuku terbungkuk-bungkuk menyapu halaman rumah, mengumpulkan daun-daun kering yang berserakan, lalu ia membakarnya. Dan aku ingin membakar semua daun kering pohon kenangan yang berserakan di benakku.

Selesai

Banten, 10 Juli 2016


Agus HiplunudinTentang Penulis

Agus Hiplunudin, Pria Kelahiran 1986, cerpennya telah dimuat diberbagai media massa, kumpulan cerpennya baru-baru ini; “Lelaki Paruh Baya yang Menikah dengan Maut.


Rubrik ini diasuh oleh M. Rois Rinaldi.

Editor : Esih Yuliasari
Tags

Artikel Terkait

Berikan Komentar