InspirasiKesehatan

Bakteri Listeria Kembali Mewabah, Begini Penjelasan Penyakit Ini

biem.co – 15 orang warga Australia dikabarkan jatuh sakit setelah memakan buah melon yang terkontaminasi bakteri Listeria, namun tiga orang di antaranya diketahui telah meninggal dunia, pada Minggu (04/03).

Sebelumnya, pihak NSW Health telah memberikan peringatan kepada warga terhadap wabah Listeria. Mereka mengeluarkan peringatan tentang wabah listeriosis pada 23 Februari karena adanya peningkatan mendadak dalam kasus di seluruh negara tahun ini. Peringatan kedua dilakukan lima hari setelahnya.

“NSW Health mengungkapkan simpati kepada mereka yang terkena dampak wabah tersebut, namun meyakinkan masyarakat bahwa semua proses dan prosedur sudah diikuti,” kata badan pemerintah, dikutip dari Independent.

Diketahui, bahwa listeriosis telah membunuh lebih dari 17 orang di Afrika Selatan sejak Januari 2017, sementara wabah yang terkait dengan melon di AS pada 2011 menewaskan hingga 30 orang. Pada tahun 2015, kabar tentang apel impor yang tercemar bakteri listeria juga ramai diperbincangkan di Indonesia. Hingga kemudian, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia melarang perdagangan dua jenis apel impor dari luar negeri dengan merek Granny Smith dan Gala dari perusahaan Bidart Bros.

Informasi yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes RI, Dr. H. M. Subuh, MPPM yang dilansir dari website resmi Kemenkes RI, menjelaskan bahwa Listeria Monocytegenes adalah suatu bakteri yang dapat menyebabkan infeksi serius dan fatal pada bayi, anak-anak, orang sakit, lanjut usia, serta orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Namun, orang sehat juga rupanya bisa terinfeksi bakteri Listeria, dengan gejala jangka pendek yang muncul seperti demam tinggi, sakit kepala parah, pegal, mual, dakit perut, dan diare. Sementara listeriosis merupakan nama penyakit yang disebabkan oleh bakteri L. monocytogenes.

“Infeksi Listeria dapat menyebabkan keguguran pada perempuan hamil,” ujar Dr. Subuh.

Diketahui, bahwa bakteri ini menjadi salah satu penyebab penyakit yang serius dengan tingkat kematian sekitar 20-3- persen. Bahkan tingkat kematian pada bayi yang baru lahir mencapai 25-50 persen.

Sumber penularan L. monocytogenes sendiri, lanjutnya, dapat terjadi pada beberapa aspek, mulai dari pemilihan makanan, pengolahan, hingga penyajian. Pada pemilihan makanan penularan biasanya terjadi pada produk seperti susu mentah, susu yang proses pasteurisasinya kurang benar, keju (terutama jenis keju yang dimatangkan secara lunak), es krim, sayuran mentah, sosis dari daging mentah yang difermentasi, daging unggas mentah dan yang sudah dimasak, semua jenis daging mentah, dan ikan mentah atau ikan asap. Pada saat pengolahan makanan, juga dapat terjadi penularan jika menggunakan alat masak yang telah terkontaminasi L. monocytogenes.

“Selain itu, bayi bisa lahir dengan Listeria jika ibu hamil memakan makanan yang terkontaminasi bakteri selama kehamilan,” terangnya.

Untuk pencegahan, Dr. Subuh menyarankan beberapa langkah pencegahan agar terhindar dari infeksi bakteri Listeria, yaitu:

1. Bilas bahan mentah dengan air mengalir, seperti buah-buahan dan sayuran, sebelum dimakan, dipotong, atau dimasak. Bahkan jika hasil tersebut sudah dikupas, tetap harus dicuci terlebih dahulu;

2. Menggosok produk hasil pertanian, seperti melon dan mentimun, dengan menggunakan sikat bersih sebelum disimpan, dan keringkan produk dengan kain bersih atau kertas;

3. Pisahkan daging mentah dan unggas dari sayuran, makanan matang, dan makanan siap-saji;

4. Cuci peralatan masak, berupa alat atau alas pemotong, yang telah digunakan untuk daging mentah, unggas, produk-produk hewani sebelum digunakan pada produk makanan lainnya; serta

5. Cuci tangan menggunakan sabun sebelum mengolah makanan, dan saat akan makan.

“Pencegahan secara total mungkin tidak dapat dilakukan, namun makanan yang dimasak, dipanaskan dan disimpan dengan benar umumnya aman dikonsumsi karena bakteri ini akan mati pada temperatur 75C,” pungkas Dr. Subuh.

Hati-hati, ya, Sobat biem! (HH)

Editor : Redaksi

Related Articles

Berikan Komentar