ResensiReview

Asyiknya Menelusuri Sejarah dan Jejak Peradaban di Jabodetabek

Oleh: Ade Ubaidil

Judul         : Jejak

Penulis     : Diella Dachlan dan Bimo Tedjokusumo

Penerbit   : Epigraf

Cetakan   : Maret, 2018

Tebal        : 258 halaman

ISBN       : 978-602-50238-9-7

biem.co — Ada sekian banyak sejarah nusantara yang belum dituliskan. Bagi seorang pejalan, menemukan artefak peninggalan manusia di masa lalu bak mendapatkan emas di belantara lumpur dan semak belukar. Barangkali itu yang terlintas di benak Diella Dachlan dan Bimo Tedjokusumo. Siapa sangka, dari kegemarannya melakukan perjalanan, dua sahabat ini berhasil menelusuri makam tentara Jerman di kaki Gunung Pangrango, jejak kebudayaan tua di seputar Gunung Salak, jejak kerajaan tua di seputar Jakarta, Bogor hingga karawang.

Melalui buku “Jejak” ini, mereka menarasikan apa saja yang berhasil ditemui di seputaran Jabodetabek. Ternyata, jejak peradaban masa lampau banyak ditemui di sela-sela tempat wisata yang selama ini tersembunyi—atau malah terabaikan keberadaannya. Tak pelak juga berada di antara perkampungan, semak-semak hutan hingga yang rata bersama bangunan yang baru didirikan.

Mereka berbagi tugas karena minat yang agak berbeda. Bimo tertarik dengan bentuk batuan dan fotografi, sedang Diella fokus pada cerita, literatur, dan menulis. Maka, di penghujung tahun 2017, ketika pertama kali terbetik ide untuk menelusuri jejak masa lalu, mereka memulai segalanya dari nol.

Berbeda dengan buku “sejarah” kebanyakan, buku ini—meski tak ingin disebut buku panduan perjalanan—cara bertuturnya cukup ringan. Akan mudah kita sepakati seperti membaca catatan blog atau pada dinding Facebook. Meski begitu, setiap paragrafnya rimbun dengan data-data dan informasi yang faktual. Tak tanggung-tanggung, banyak buku, jurnal, dan catatan-catatan penting yang dijadikan literatur dan rujukan dalam penyusunan tulisan. Dengan begitu, tulisan yang berat akan terasa mudah dipahami bagi semua kalangan, termasuk para generasi milenials.

Situs di Gunung Salak menjadi pilihan yang pertama ditampilkan pada bab awal. Beberapa jejak yang berhasil dihimpun di antaranya: Arca Domas dan Kompleks Situs Cibalay, Batu dan Gua Langkop, Puluhan Situs Tua di Pasir Eurih hingga pada informasi mengenai cerita Prenggong Jaya di Situ Pasri Kaca (hal. 66).

Kemudian, dari satu jejak ternyata saling hubung dengan jejak peninggalan lainnya. Beberapa jejak kerajaan pun tak terlewatkan, seperti halnya Kerajaan Pakuan Pajajaran, penelusuran dan napak tilas Prabu Siliwangi, perebutan Sunda Kelapa—yang menyusuri Demak, Cirebon hingga tanah jawara Banten (hal. 119), jejak Kerajaan Tarumanegara yang ternyata raja Jayasinghawarman Rajadirajaguru (358-382 M) pendiri kerajaan tersebut pernah singgah di Kampung Muara (hal. 134). Selain itu, ada banyak sekali jenis bebatuan yang ditemukan, salah satunya batu Dakon, sebuah peninggalan purbakala yang masih terawat dan terjaga keautentikannya (hal. 138).

Jejak perang serdadu Jerman di Megamendung dan bukti situs saksi pertempuran Leuwiliang pun terekam dalam buku ini. Yang memudahkan pembaca—selain narasi yang berhasil memikat dan menimbulkan rasa penasaran—adalah foto-foto dokumentasi yang membuat kita seolah berada di tempat situs peninggalan. Seperti yang disampaikan oleh kedua alumnus Sastra Jerman Universitas Indonesia ini pada halaman Prakata, buku “Jejak” ini mungkin berguna untuk membantu merencanakan perjalanan bagi para petualang. (red)


Ade Ubaidil, pengarang asal Cilegon, Banten. Kelahiran Cibeber, 02 April 1993. Terpilih sebagai salah satu penulis Emerging Ubud Writers and Readers Festival 2017. Buku terbarunya berjudul, “Surat yang Berbicara tentang Masa Lalu” (Basabasi, 2017). Arsip tulisannya bisa dilihat di: www.quadraterz.com.

 

Editor : Happy Hawra

Related Articles

Berikan Komentar