OpiniReview

Esai L. Nihwan Sumuranje: Selawat Kebudayaan

Oleh L. Nihwan Sumuranje

 

biem.co — Ketika kita mengucapkan selawat serta salam semoga terlimpah curah kepada junjungan Nabi Muhammad saw., yang demikian ini sudah termasuk membaca selawat. Selawat kebudayaan. Selawat yang diucapkan dan atau diciptakan oleh para pecinta Rasulullah Muhammad saw. Tentu ada bedanya dengan selawat yang dicontohkan oleh Nabi saw., sebagaimana kita temukan dalam sejumlah hadis antara lain dalam bacaan tasyahhud.

 

Bedanya, selawat al maktsurat (yang dicontohkan Nabi saw.), selain dibaca dalam salat, juga pasti sangat bagus dibaca di luar ibadah ritual. Sementara selawat kebudayaan tidak diperkenankan dibaca dalam salat, tapi sangat bagus kita ucapkan di luar ibadah mahdhah.

 

Selawat dan Cinta

“Didiklah anak-anak kalian akan tiga hal: mencintai Nabi kalian, mencintai ahlul bait-nya (keluarga Nabi Saw.), dan membaca Alquran.” (H.R. Dailami).

 

Adakah cinta terbebas dari pujian? Adakah cinta tanpa pujian? Adakah pujian itu sesuatu yang lain dari perasaan cinta? Kalau cinta logikanya pasti memuji. Jika benci, mustahil memuji. Tidak mungkin itu pujian dan kebencian menyatu. Pasti terpisah.

 

Para ulama terdahulu memformulasikan selawat kebudayaan sebagai proses kreasi dari semangat cinta dan mempersembahkannya kepada umat. Bahwa cinta kepada Nabi adalah dengan cara meneladani seluruh akhlak beliau itu jelas sangat benar. Tetapi ungkapan cinta juga bisa terbahasakan lewat bait-bait kata. Melalui gubahan-gubahan syair.

 

Memuji tidak dilarang. Yang dilarang  bila pujian berubah menuhankan Nabi Muhammad. Sebab Muhammad hanya utusan Allah.  Bila pujian berdialektika dengan sejarah kerasulan, kenabian, akhlak Nabi Muhammad, itu bagus. Nabi pernah mengatakan, “Laa tusayyiduunii-jangan engkau sayyid-kan aku. Tetapi di lain kesempatan Rasul pun menginformasikan, ana sayyidu waladi adami… aku sayyid-nya anak-anak Adam.” (H.R.Muslim).

 

Yang menganugerahkan pujian sayyid bukan Nabi Muhammad sendiri, tapi ini informasi dari Allah Swt. Bahkan dalam Alquran, Rasul dilekatkan dengan dua sifat dari asmaul husna, yang kalau kepada selain Nabi Muhammad tidak diperkenankan memakai kata amaul husna, kecuali di depan asmaul husna diberi tambahan abdul/abdur (hamba).

 

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan (rauf) lagi penyayang (rahim) terhadap orang-orang mukmin.” (Q.S. At taubah [9]:128).

 

Menyanjung Rasulullah sepemahaman penulis bukan perkara berlebihan. Para sahabat kerap kali memperebutkan air wudhu, menyimpan segala sesuatu benda yang pernah dipakai oleh Rasul, dan Rasul tidak melarang. Satu di antara sekian banyak hadis yang bertutur tentang takdzim sahabat kepada Nabi saw. bisa kita simak penjelasan berikut:

 

“Dari Sa’ib bin Yazid, katanya: ‘Saya pergi dengan bibi saya kepada Rasulullah saw. dan bibi saya berkata ‘Wahai Rasulullah, anak perempuan saya ini terjatuh’, lalu beliau mengusap kepala saya sambil mendoakan keberkahan bagi saya. Kemudian beliau berwudhu. Lalu saya meminum air wudhunya….” (H.R. Bukhari).

 

Meminum bekas air wudhu Nabi sebagai tanda cinta. Sekali lagi yang dilarang dalam akidah Islam adalah menuhankan Muhammad. Begitu. Dan yang paling fenomenal sambutan masyarakat Madinah sewaktu kali pertama datang disambut dengan syair  thala’al badru ‘alaina-telah datang kepada kami bulan purnama. Rasul tidak menampik pujian yang dialamatkan kepada beliau. Syair senapas dan senada masih banyak kita temukan lagi.

 

Selawat dan Nyanyian

Pada menit tertentu, dalam menjalani rutinitas keseharian terkadang jiwa kita mengalami kelelahan. Tidak cuma fisik. Butuh relaksasi. Perlu penyegaran. Setelah berkreasi habis-habisan, sekian waktu kita memasuki wilayah titik kelelahan dan kebuntuan. Guna membuka ruang gerak kembali, maka diperlukan sesuatu untuk me:re-kreasi. Salah satunya dengan nyanyian, melantunkan maupun mendengarkan.    

 

Penulis termasuk yang berpedapat nyanyian itu netral. Persis sama seperti ponsel. Ponsel bisa untuk kemaslahatan, juga dapat menyeret pelakunya terhadap kemaksiatan. Bergantung kepada si penggenggamnya. Kaidah ushul fiqih mengatakan, al-Ashlu fil asyyaa yufiidul ibaha hattaa tadulla ‘ala tahrimihi-segala sesuatu itu pada dasarnya boleh, sehingga menunjukkan keharamanya.  

 

Syair yang termuat dalam selawat kebudayaan sangat indah, mencerahkan secara spiritual, menguatkan jiwa dari segi mental, dan lebih bagus dalam tinjauan kesehatan rohani. Seluruh selawat kebudayaan menjadikan Nabi Muhammad saw. sebagai panglima kehidupan. Syair-syairnya di bidang apa pun selalu merujuk dan menghadirkan kedekatan emosi dengan Nabi Muhammad.

 

Sebut saja misalnya selawat Badar. Selawat yang berkaitan dengan sejarah pada perang Badar. Sambil bernyanyi kita ingat betapa keimanan memenuhi ruang jiwa ahli Badar. Selawat al-Badriyyah adalah selawat yang mengaitkan Nabi saw. dengan sejarah.

 

Jika dulu alat musik yang dimainkan sangat sederhana, dari alat-alat senjata perang sampai rebana, sekarang tentu sudah berbeda. Alat musik berkembag sangat pesat seperti juga alat transportasi. Secara jelas Nabi pernah melarang alat musik jenis seruling, karena para peniup seruling yang tak lain Yahudi itu dengan syair-syairnya selalu menghina Nabi. Logikanya, kalau seruling diharamkan sebab menghina Rasul, rasaya sepenilaian penulis bila digunakan untuk memuji Rasul, mengingat perjuangan beliau dan untuk bentuk kemaslahatan lainnya, tidaklah mengapa.      

 

Selawat dan Mistis

Dalam diri manusia sudah disediakan sejumlah komponen yang menyertai rasa dan nalar. Yang dalam Fisfata Ilmu (Rosda Karya, 2009), DR. Ahmad Tafsir dirumuskan dalam sain, filsafat, dan mistik. Sain sangat menuntut rasionalitas, dengan metode ilmiah. Filsafat mempertayakan rasional apa tidak. Mistis lebih banyak menumpu pada persoalan keyakinan. Metodenya latihan dan percaya.

 

Sebuah contoh. Api itu panas. Sain setuju. Api membakar. Tidak bertentangan dengan hukum alam, sesuai filsafat. Tetapi siapa yang menggerakkan api menjadi panas atau tidak membakar, ini urusan mistis. Perkara keyakinan. Ada kekuatan di luar hukum alam, yakni Pencipta Alam, Allah SWT. Kalau Dia tidak menghendaki api jadi panas, maka api pun keluar dari hukum alam. Tidak lagi membakar, bahkan dingin seperti yang terjadi pada Nabi Ibrahim a.s. Yang sebenarnya juga logis-rasional pada tahap tertentu bergabung dengan unsur suprarasional.

 

Kembali ke selawat dan mistis. Di luar salat, kita diperbolehkan berdoa dengan bahasa apa pun. Yang intinya pernyataan kita ini lemah, perlu bantuan dan permohonan kepada Allah supaya mengijabah apa yang kita mohonkan dalam banyak hal. Allah sebagai solusi. Apa pun hasil akhir yang Ia berikan.

 

Salah satu selawat kebudayaan yang terkenal untuk permohonan rezeki yakni selawat Nariyah disebut juga tafrijiyyah atau kamilah. Saya tuliskan di sini terjemahannya saja.

 

“Ya Allah limpahkanlah rahmat dan keselamatan yang sempurna kepada junjungan Nabi saw. yang menjadi sebab terlepasnya ikatan dan hilangnya kesusahan, didatangkannya berbagai hajat, tercapainya segala yang diinginkan, dan baiknya penutup kehidupan serta diturunkannya hujan dari awan dengan kemuliaan dan keagungan Nabi saw. beserta para keluarga dan sahabatnya dalam setiap kedipan  mata, embusan napas sebanyak bilangan yang Engkau ketahui.”

 

Muhammad Haqqi an-Nazili dalam Khaziinatul Asrar (Absolut, 2005), meyakinkan fadilahnya antara lain guna perbaikan ekonomi. Selawat yang dihubungkan dengan doa permohonan rezeki.

 

Selawat yang biasa juga disebut selawatan, tembang, pujian menawarkan solusi alternatif di luar ibadah mahdhah guna menghubungkan diri kita dengan Allah SWT dan Nabi Muhammad saw. dalam megarungi kehidupan, yang di dalamnya di antaranya memerlukan hiburan dan solusi ekonomi. Selawat dapat membantu kita menghindari praktik seni yang tidak menyehatkan dan gaya hidup yang ribawi dan korup. Sebab, hati dan pikir berusaha terjaga dari pandangan Allah dan membangun komunikasi batin dengan Nabi Muhammad saw. [*]


L. Nihwan Sumuranje, kelahiran Serang, Banten, pada 21 Maret 1974. Pernah mengenyam pendidikan di SDN II Sumuranja, Ibtidaiyah Al Khairat, MTS Al Khairat di Desa Sumuranja, dan MAN 1 di Kota Serang. Nihwan juga mondok di Pesantren Ath-Thahiriyyah, Kaloran, Serang dan PM Baiturrahman, Bandung. Tulisannya berupa, resensi, artikel, puisi, cerpen, saduran, pernah dimuat di sejumlah media lokal dan nasional. Beberapa bukunya yang telah terbit di antaranya Puisi  Islami Bandung (YJSB, 2002). Rahasia Sukses Penulis Sukses (Mujahid Press, 2005), The Spirit of Success: Jalan Meraih Mimpi (Tinta Medina, 2012), Cinta Sejati Emha Buat Pak Harto (Kaukaba, 2013), 101+ Doa Mustajab dari Nabi Saw (Tinta Medina, 2015), dan Agar Hidup Lebih Baik dan Semakin Bahagia (Quanta-EMK, 2015).

Editor :

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *