KabarTerkini

Puncak Kemarau, Daerah Pegunungan Berpotensi Dilanda Suhu Minus 0 Derajat Celcius

biem.co — Fenomena suhu udara dingin yang tengah terjadi di Indonesia belakangan ini menjadi perbincangan banyak kalangan. Ditambah lagi dengan embun beku di lereng pegunungan Dieng yang baru-baru ini terjadi.

Dalam rilis yang dipublikasikan BMKG pada Jumat (06/07), Deputi Bidang Klimatologi Herizal menyampaikan, bahwa apa yang menyebabkan kedua hal itu terjadi disebabkan kondisi meteorologis dan musim kemarau yang saat ini tengah berlangsung.

Dikatakan Herizal, pada saat puncak kemarau, memang umumnya suhu udara terasa lebih dingin dan permukaan bumi lebih kering. Pada kondisi tersebutl, panas matahari akan lebih banyak terbuang dan hilang ke angkasa.

“Itu yang menyebabkan suhu udara musim kemarau lebih dingin daripada suhu udara musim hujan. Selain itu, kandungan air di dalam tanah menipis dan uap air pun sangat sedikit jumlahnya yang dibuktikan dengan rendahnya kelembaban udara,” ujarnya.

Kondisi puncak pada kemarau ini, terutama di daerah pegunungan di Jawa, diindikasikan akan berpeluang untuk mengalami kondisi udara permukaan kurang dari titik beku 0 derajat Celcius. Hal ini diketahui disebabkan karena molekul udara di daerah pegunungan lebih renggang daripada dataran rendah sehingga sangat cepat mengalami pendinginan.

“Lebih cepat pada saat cuaca cerah tidak tertutup awan atau hujan,” imbuhnya.

Disebut-sebut, uap air di udara akan mengalami kondensasi pada malam hari dan kemudian mengembun untuk menempel jatuh di tanah, dedaunan, dan rumput. Di mana, air embun yang menempel di pucuk daun atau rumput akan segera membeku yang disebabkan karena suhu udara yang sangat dingin ketika mencapai mInus atau nol derajat.

“Di Indonesia, beberapa tempat pernah dilaporkan mengalami fenomena ini, yaitu daerah dataran tinggi Dieng, Gunung Semeru, dan pegunungan Jayawijaya Papua,” terang Herizal. (HH)

Editor : Redaksi

Related Articles

Berikan Komentar