InspirasiPuisi

Sajak-sajak Pilo Poly 

Oleh Pilo Poly

 

Empang Kapuk
: edysa girsang

Di Empang Kapuk, nyamuk
mengigit bulan. Dia lebih
ganas dari kelaparan dan
pengangguran. Tulang

punggung dan mulutnya,
terbuat dari bau pesing
orang miskin yang
rajin bayar pajak.

Lihatlah pos ini
televisi mengabarkan
hura-hura pejabat. Sedang
rakyat, liurnya kering dan

rindu bau makanan mewah,
tidur nyenyak sambil
meluruskan badan dengan
sejahtera. Tak ada bunyi petasan

malam ini, lebaran yang
nyala di dada, adalah
cara untuk khusyuk pada
kata rindu, senyum keluarga,

meski bulan Juni, sepahit
kopi di atas meja penuh aroma
tikus mati, yang diterbangkan
angin di tanah penggusuran.

EMPANG KAPUK, 2018

 

 

Jembatan Peunayong
: gerry famera

Mengingatmu, kepala ini
bermunculan berbagai pariwara

kehidupan. Kita bukan orang
yang kalah, katamu, dan seharusnya

beruntung sebab ada di kota.
Di kampung-kampung, kita tak bisa

melihat cahaya lampu deretan toko,
atau lalu lalang orang berbelanja di pasar

peunayong. Tapi deru
ketakutan. Mesin pembunuhan,
dan orang-rang yang dijemput
tengah malam dan tak kembali.

Mungkin mereka mendaki
Seulawah, kataku. Menghujam
diri di sana sebagai mujahid
prang sabi, dan esoknya
berubah matahari.

Kau tak melihat, bagaimana
rumah di bakar, anak menangis
di pangkuan ibu karena ayahnya

ditembaki di sepanjang jalan

Banda Aceh-Sigli, ujarmu lagi.

BLOK M, 2018

 

 

Di Pojok Warung
: tika azaria

Kita dua bahasa yang lain,
resah yang berjauhan
dan dingin. Antara mata kita
dan detak jiwa, lantunan

mimpi yang begitu jauh dan

bergelombang. Jarak yang
begitu gelap ini, katamu,
sesekali ada juga cahaya

yang kita bawa, serupa
berteduh saat hujan sore
di Palmerah. Kau menuju
jalanmu, dan aku sering

kali membawa pulang rindu.
Sementara di tempat lain,
kita menghidu aroma sedih.
Tukang becak, abang ojek

yang dibakar terik, adalah
kerinduan itu juga. Selalu
sedih mengabarkan hari
lain pada orang rumah.

Mereka, katamu lagi, pulang
dengan lesu. Sedang minyak
goreng kering dan beras tandas.
Uang kontrakan belum juga

datang seperti keinginan.
Ya, kataku. Hidup memang
penuh liku. Sedang luka,
selalu menganga tepat di

hadapan kita tanpa ada jalan
keluarnya. Lain waktu, kau
khawatir dengan skripsi
dan omelan ibu. Sedang aku

ngilu sebab bahasa tak
lagi kukuasi. Ia bagai dinding
lapuk di kamar kosan,
dikunyah pelan-pelan rayap.

PALMERAH, 2018

 

Mei di Pertengahan Lorong
: lk ara

Bulan naik, tinggi dan merah
sedang Mei, masih di pertengahan
lorong begitu sepi. Kerinduan, pucuk

bunga yang kuyup dengan kesunyian.
Seperti matamu, yang hampa dengan
riuh kamar ini. Sebab ada yang begitu

jauh dari jangkauanmu.
Kau sendiri menyapu panjangnya
perjalanan hidup. Bibirmu pecah,

tapi kata-kata dalam hatimu selalu biak.
Kesendirian, katamu, tumbuh
dalam tubuhmu, memanjang ke

atas langit. Sedang di bawahnya,
dadamu setandus bukit-bukit
dikunyah kemarau.

KEBUN JERUK, 2018

 

 

Pakaian Baru

Aku tidur. Tapi pikiranku ada
di sebuah swalayan. Tengah membeli
pakaian baru untuk ibu.

Saat sadar. Airmataku mengalir.
Rupanya hingga kini aku
hanya pintar bermimpi!

CIKINI, 2018


 Pilo Poly, lahir di Pidie Jaya, 16 Agustus 1987. Buku puisinya adalah Yusin dan Tenggelamnya Keadilan (2014), dan Sehelai Daun yang Merindukan Ranting (2016).


Rubrik ini diasuh oleh M. Rois Rinaldi.

Editor : Andri Firmansyah

Related Articles

Berikan Komentar