Cerpen

Cerpen Daru Pamungkas: Sebercak Darah di Teras Rumah

oleh: Daru Pamungkas

 

biem.co – Sebelumnya, aku akan membuat semacam pengakuan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada ibuku. Orang bilang, ini semua salahku. Ya, aku juga mengakui itu dan rasa-rasanya, dengan alasan apa pun, tak ada yang bisa menyangkalnya. Ibu tak lagi seperti dulu. Ia kehilangan sesuatu yang baginya sangat berarti, melebihi nyawanya sendiri.

Baiklah, sepertinya kali ini aku tak bisa berlama-lama menghabiskan waktu bersamamu. Karena sebentar lagi, setiap menjelang senja, ibu selalu meminta ditemani untuk melihat matahari terbenam. Mungkin hanya dengan begitu, ia bisa melupakan sejenak pengalaman pahit yang sempat hadir di hidupnya beberapa bulan lalu.

***

Malam itu, seperti biasa, aku tak pernah bisa tidur nyenyak sampai matahari datang. Bising pesawat terbang yang melintas tak jauh di atas langit rumah, membuat kami, masyarakat kampung Rawa Manuk terbiasa bangun lebih awal. Tapi, ibu selalu merasa bersyukur tinggal di sini. Ya, setidaknya aku dan ibu selalu bisa menyempatkan waktu salat malam.

Setelah itu ibu sibuk dengan urusan dapurnya. Sedangkan aku, gadis remaja yang terus belajar menjadi wanita sempurna, terkadang tak mampu menahan godaan untuk kembali melanjutkan tidurku yang tertunda. Meski ibu kerap melarang, tapi untuk hal yang satu itu, aku tak bisa untuk tidak melakukannya.

Sampai pagi benar-benar datang, kulihat ibu tengah menyiapkan bekal makan siang untuk bapak. Lekas aku mandi, salat, dan bersiap mengantar adik ke sekolah. Semua berjalan seperti biasa, hingga ibu mencium lengan bapak dan melepasnya dari ambang pintu, wanita hebat itu menatapku hangat.

“Selesai mengantar adikmu, cepat pulang ya, Ning. Kita akan belanja banyak hari ini!” pintanya berseri-seri.

“Memang buat apa, Bu? Setahu Aning, selamatan almarhumah nenek masih lama. Kok belanja banyak, kayak mau hajatan saja,” kataku.

Ibu tersenyum. Seraya mengajakku duduk dan melahap sarapan, ia mengatakan, sore nanti akan datang saudara-saudara dari anak-anak nenek bersilaturahmi. Begitulah ibu, lantaran ia anak paling tua, ibu akan sangat bahagia jika semua keluarganya kumpul.

Terlebih, rumah yang kami tinggali ini adalah rumah turun-temurun mulai dari uyut, nenek, sampai ke ibu. Dan juga, rumah ini tempat kesembilan anak nenek termasuk ibu menempa getir dan perihnya kehidupan. Kata ibu, uyut termasuk salah satu pendiri kampung ini. Kalau tidak ada uyut dan beberapa orang-orang berpendidikan pada waktu itu, mungkin kampung ini tak pernah ada karena habis termakan lahan Bandara.

Karena hal itu pula, sebagian besar masyarakat kampung mengenal dan menghormati ibu. Bagai ratu dan putri kerajaan berjalan di tengah rakyatnya, orang-orang di pasar, termasuk pedagang dan beberapa petugas kebersihan melempar senyum dan sapa pada ibu. Bahkan, aku kerap diberi makanan secara cuma-cuma oleh pedagang roti, daging, buah, atau yang lainnya.

Dengan motor matik pemberian bapak, aku berusaha menstabilkan keseimbangan lantaran banyaknya belanjaan yang kami beli. Pekerjaanku belum selesai, adikku yang baru bulan kemarin masuk SMP, belum bisa pulang sendiri dan harus kuantar-jemput setiap hari. Setelah itu kubantu ibu memasak. Saat itu juga aku berkesimpulan, dapur tak hanya menjadi tempat memasak bagi kami, tapi juga lokasi ternyaman untuk ibu menceritakan kisah masa lalunya.

Ya, siapa yang tak ingin memiliki kenangan? Setiap orang pasti menyimpan peristiwa indah di suatu masa. Dan layaknya naluri manusia pada umumnya, semua berhak dan ingin menceritakannya suatu hari di masa depan kepada orang tersayang. Begitulah yang terjadi pada ibu hari itu.

Kami termasuk keluarga yang beruntung. Ibu pandai memasak, bapak pandai mencari nafkah. Jika dibanding dengan saudara-saudara ibu yang lain, keluarga kami jauh lebih merasakan kenyamanan hidup. Ya, mungkin memang sudah takdirnya. Ibu berjodoh dengan bapak, seorang petani sederhana tapi tak pernah lupa pada tanggung jawabnya membahagiakan keluarga.

Sambil memotong wortel serta bahan masakan lainnya, sesekali ibu mencicipi kaldu sup daging sapi masakannya. Jika puas dan sesuai selera, ibu akan tersenyum. Jika tidak, raut wajahnya muram dan langsung menambah bumbu ini dan itu untuk menyempurnakan rasa.

Ibu bercerita, tak lama setelah wafatnya nenek, waktu itu usiaku lima tahun dan adikku belum lahir. Semua keluarga dan adik-adik ibu berkumpul untuk membicarakan warisan. Mereka semua menuntut hak bagian dari harta nenek. Lagi-lagi, itulah ibu, ia tak pernah memaksakan kehendak untuk kepentingan pribadi. Ibu menyerahkan semua harta, sawah, tanah, toko sembako, kontrakan, mobil, dan berbagai usaha keluarga lainnya. Tapi yang ia minta hanya satu, sejarah dan kenangan keluarga dalam hal ini rumah, harus menjadi miliknya. Selain itu, dengan luas halaman serta bangunannya, setiap tahun, kami selalu mengundang masyarakat untuk membaca doa dan makan bersama. Ya, tak heran jika ibu sangat menginginkan rumah ini.

Lima tahun kemudian adikku lahir. Delapan, sepuluh, dan lima belas tahun berlalu, beberapa orang adik ibu datang meminjam uang. Semua harta warisan nenek habis tak tersisa, mereka sibuk menikmati tapi lupa mengelola. Sedangkan bapak, justru terus berjuang mengelola sawah yang bagi orang kebanyakan, menganggap pekerjaan tak menjanjikan.

Akhirnya, sup daging sapi, tempe goreng, ayam kecap, sayur lodeh, dan lauk pauk lainnya terhidang di meja makan. Sebakul nasi pun tampak menggoda dengan kepulan asap di meja dekat menu makanan. Azan ashar berkumandang, ibu memintaku bergantian solat.

Tak lama, suara mobil dan klakson terdengar di depan rumah. Ibu lekas mengenakan kerudung, membuka pintu, dan melesat memeluk adik-adiknya. Tegur sapa penuh haru mewarnai perjamuan sore itu. Tanpa menunggu waktu lama, mereka, tamu-tamu ibu melahap makanan yang telah terhidang di meja makan.

Selepas itu semuanya hanyut dalam obrolan orang dewasa, lebih tepatnya para orangtua. Tiga sepupu kecilku berjingkat-jingkat ketika melihat pesawat lewat di langit depan rumah. Mereka baru pertama kali melihat pesawat sedekat itu, “Pesawat minta uang, pesawat minta uang,” teriaknya.

“Mau lihat pesawat dari dekat? Ayo ikut kakak!” seruku sambil lekas menyalakan motor.

Mereka lekas duduk di belakang bersama adikku, satu sepukuku paling kecil duduk di depan. Kami menuju jalan utama, menyebrang jembatan dan lurus sejauh seratus meter. Tepat di persimpangan jalan, kubelokkan kearah gang kampung. Setelah melewati beberapa rumah, tampak jelas pagar besi setinggi lima meter membentang memisahkan rumah warga dan perlintasan pesawat terbang.

Di bawah pohon pinggir pagar, sepupuku berulang kali berteriak saat pesawat dengan ukuran raksasa lepas landas. Ya, inilah satu-satunya hiburan yang ada di kampungku. Kampung yang dekat dengan modernitas tapi untuk belanja ke Mal saja, harus menempuh jarak cukup jauh. Kampung yang sebagian besar masyarakatnya bekerja di Bandara dan perusahaan pesawat terbang, tapi hanya mampu melihat  tanpa bisa merasakan bagaimana sensasi menaikinya.

Kami pulang, bapak sudah duduk di teras menemani salah satu pamanku yang berbadan gemuk. Tak lama setelah solat magrib, mereka pamit. Satu-persatu kusalami punggung lengan bibi dan pamanku, mereka tampak bahagia. Tapi tidak dengan ibu, meski senyumnya masih terlihat di garis bibir, aku tahu, itu bukan senyum ibu yang seutuhnya. Dari raut wajah itu, sepertinya, pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi atau melepas rindu.

“Sampai kapan pun,” kata ibu selepas melaksanakan salat magrib, “Ibu enggak akan pernah jual rumah ini.”

“Sabar, Bu. Selama bapak masih hidup, ibu tidak akan kehilangan sekepal tanah pun dari rumah ini. Mereka hanya menggertak, tenang ya, Bu,” bapak menguatkan.

Seminggu kemudian, sepucuk surat ancaman datang membuat ibu menangis semalaman. Ia tak menyangka, sampai separah itu adik-adiknya menginginkan uang hasil penjualan rumah. Meski ibu tetap tegas mempertahankan, namun apalah daya, usia tak bisa memaksakan kehendaknya. Ibu sakit, membuat aku, adik dan bapak saling bergantian mengurus ibu karena separuh tubuhnya tak berfungsi.

Sampai tak kusadari, usiaku tak lagi remaja. Dengan gelar sarjana yang bisa terbilang cepat, entah bagaimana, aku pun tak mengerti, beberapa tawaran pekerjaan datang menghampiri. Hingga di suatu malam, mungkin inilah yang disebut perenungan, hatiku berkata, kini tiba giliranku membiayai adik yang sebentar lagi masuk kuliah. Ya, kuterima tawaran pekerjaan di salah satu bagian perkantoran di Bandara.

Baru setahun bekerja, ada seorang lelaki mendekatiku. Tampan, berkarisma, dan baru saja bercerai dengan istrinya. Ya, dia atasanku, pemimpin tertinggi di perusahaan. Siapa yang tak menyukainya? Sebagai wanita dan termasuk dalam kategori mahluk yang tak sempurna, aku tak bisa untuk berkata tidak.

Kami menikah, memiliki anak, dan hidup bahagia. Tapi itu hanya sementara. Seperti kata pepatah, kebahagiaan tak selamanya selaras dengan keabadian. Bapak kejang-kejang setelah memakan nasi boks yang dibawa suamiku. Ia berusaha bangkit, berjalan dengan langkah yang mulai tak bisa dikendalikan. Sampai tiba di teras rumah, sebercak darah dari mulutnya tumpah mengakhir hidupnya. Sejak saat itu, semua berubah tak seindah dulu.

Sikap lelaki yang kupanggil suami, lebih layak disebut perintah seorang raja terhadap budaknya ketimbang suami pada istri. Hingga pemaksaan itu terjadi, aku tak kuasa menahan bagaimana beratnya rasa bersalah itu membebani hidupku. Ya, dengan tubuh penuh luka, ditambah kilau cahaya dari pantulan pisau yang disematkan di leher ibu, kutandatangi surat persetujuan itu.

Kini aku, ibu, dan adikku, tinggal di rumah yang mungkin lebih layak disebut gudang, tak jauh dari restoran tempatku bekerja. Kudengar dari orang-orang, satu persatu warga juga ikut menjual rumahnya. Dan malam itu, dari balik tembok pembatas anatara ruang makan dan tempat pemesanan, kulihat dia, mantan suamiku, dengan rokok dan gelak tawanya yang memekakkan telinga, tampak begitu akrab bersenda gurau dengan mereka, adik-adik ibu.

About the author

Daru Pamungkas ialah nama pena dari Haidaroh, alumni KPI UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten aktif sebagai relawan di Rumah Dunia dan penanggung jawab KMRD 32.
Editor : Muhammad Iqwa Mu'tashim Billah

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *