Puisi

Sajak-sajak Ahmad Sultoni

Tempat yang Dirahasiakan

 

Kau adalah nyala matahari
dalam redup jiwaku

ketika hutan-hutan tak lagi belantara
bintang-bintang di langit hilang nyala
bulan tak memendarkan keanggunan
kau pun berpikir dunia kehilangan jiwanya

di pagi hari
aneka burung
menyanyikan lagu kematian
terik matahari siang telah melebihi
panas pikiranmu di waktu muda

kau bertanya-tanya
tetapi tak lagi ada pendengar setia
pohon besar depan rumah itu
teman bicaramu yang paling mengerti
entah ke mana perginya
sejak lampu neon nyala terang
mengalahkan nuranimu
kau menjadi penyendiri yang khusyu
di tengah keramaian yang mengepung

kau mendengar
para penganjur kebenaran bermimpi
kelak seisi dunia akan pergi
tapi tidak mati
mereka, juga kau berpindah ke firdaus
memetiki buah khuldi

sebuah negeri tempat paling merdeka
buat sekawanan kucing
buat sekawanan pohon sukun
di manakah itu
kau menunjuk ke arah langit
di suatu sore yang kehilangan cuaca

berkali-kali di seberang rumahmu
ombak setinggi pohon kelapa belakang rumah
bagai monster bagi segenap jiwa alam yang hidup
gunung yang mahatenang itu
tiba-tiba ikut demam
ia muntah darah api
bumi yang ibu mahatenang itu
tak disangka turut panik
atau marah
jelasnya guncangan berkali terjadi

ya, Tuhan semesta alam
telah kami khatamkan duniawi ini
segala birahi telah kami tunaikan
di malam-malam yang ganjil
yang membisikkan suaramu itu
aku sedikit pun tak mau mendengar

kau coba bangkit
kau mencoba menenangkan semuanya
kau ingin mengatakan tidak ada apa-apa
selain siklus satu abadan kehidupan

dunia akan bangkit kembali
aneka bunga akan mekar seperti sedia kala
baca mantra yang telah diberi penganjur kebenaran
di aplikasi gawaimu yang mahacanggih itu
segala mantra hidup telah ada
kidungkan ketika dunia diliput gundah lara
sialnya, kau lupa tertidur
gawai di genggaman tanganmu
mendongengimu dengan lagu-lagu dangdut yang ganjil
hingga pagi hingga siang
tuhanmu kau lupakan

sekarang kau ingat-ingat lagi
demi musim-musim pagebluk ini
cermin di almari kamarmu begitu bening
diri yang jujur buat merenung
mengapa makin kacau dunia ini
padahal perang rudal sedang rehat
gunung sedang tak demam
lautan begitu tenang
kau juga bisa makan apa saja
tiba-tiba mendadak bikin panik
mungkinkah sebentar lagi
kita akan dikembalikan ke alamat asal
adam dan hawa?

Cilacap, 2020


Ahmad Sultoni, lahir di Cilacap 31 Agutus 1991. Ia merupakan alumnus Program Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia UNS Surakarta. Jenjang sarjana diperolehnya di UM Purwokerto jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Ia saat ini tercatat sebagai penggerak di Komunitas Penyair  Institute (KPI) Purwokerto. Sejumlah tulisannya termuat di beberapa media massa, antara lain: Kedaulatan Rakyat, Merah Putih Pos, Republika, Harian Rakyat Sultra, Suara Merdeka, Radar Banyumas, Satelite Post, Majalah Frasa, Minggu Pagi, Majalah Kita, Metro Riau, Buletin Imla, Majalah Ancas, Warta Bahari, Banjarmasin post, Majalah Candra, dll. Buku puisi anaknya yang belum lama terbit berjudul “Dongeng Pohon Pisang” (2019). Saat ini berdomisili di sebuah desa di pesisir Cilacap, Jawa Tengah. Ia bisa disapa melalui ig: @ a.su_ltoni

Editor : Irwan Yusdiansyah
Tags

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

2 Comments

  1. Ku bertanya-tanya, bagaimana bumi kita ?
    Sakitkah ia sampai sebegitu merana ?
    Ataukah ini murka-Nya pada kita manusia ?
    Ku berdo’a semoga kau cepat pulih
    Kembalikan tawa dan jangan lagi bersedih

    Bagus pak, 👍👍

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button