Sejarah

Sejarah: Debus Ora Tembus

biem.co — Mengenali, menggali dan mengembangkan potensi kesenian tradisional Banten sangatlah langkah yang tepat dan strategis, karena banyaknya potensi kekayaan kesenian tradisional yang ada di wilayah Banten yang juga banyak dikenal, tetapi kurangnya penanganan yang serius dan terarah dari pemerintah.

Salah satu potensi seni budaya yang ada di Banten adalah debus. Masyarakat menyadari dan percaya bahwa seni budaya yang dimiliki warga Banten sangat potensial dan dapat dikatakan sejajar dengan seni-seni budaya lainnya yang sudah dikenal.

Sehingga diharapkan dengan adanya seni kebudayaan Banten yang dikenalkan akan mengubah masyarakat dan pemerintah menjadi peduli terhadap perkembangan seni budaya yang banyak terdapat di Banten, karena seni budaya Banten adalah cerminan atau ciri masyarakat Banten secara keseluruhan.

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Debus merupakan kesenian rakyat yang timbul di Banten setelah abad ke-16, setelah Sultan Maulana Hasanuddin mengislamkan daerah Banten maka banyak keajaiban-keajaiban yang timbul dengan kekuatan kebatinan yang didasari atas kepercayaan kepada Tuhan.

Selain debus, di Banten Selatan pun terdapat juga kesenian yang menggetarkan hati, yaitu gacle, ini hampir sama dengan debus. Seorang pemain dipotong-potong badannya kemudian dibagi-bagikan kepada penonton. Setelah beberapa lama, potongan-potongan tadi dikumpulkan kembali ketengah arena dan titutup dengan daun pisang. Gamelan dipukul gencar, kemudian daun pisang dibuka, potongan-potongan itu kembali utuh bahkan terus berdiri.

Namun sekarang ini sudah tidak ada lagi kesenian gacle ini, tidak tahu kenapa kesenian yang sangat membudaya dikalangan masyarakat Banten Selatan hilang begitu saja.

Banyak pendapat dari beberapa orang bahwa, jika seseorang mendengar kata “debus”, maka yang terlintas dalam benaknya adalah “Banten”. Konon, kesenian yang disebut sebagai debus ada hubungannya dengan tarikat Rifaiah yang dibawa oleh Nurrudin Ar-Raniry ke Aceh pada abad ke-16.

Para pengikut tarikat ini ketika sedang dalam kondisi epiphany (kegembiraan yang tak terhingga karena “bertatap muka” dengan Tuhan), kerap menghantamkan berbagai benda tajam ke tubuh mereka. Filosofi yang mereka gunakan adalah “laa haula walla Quwata ilabillahil ‘aliyyil adhim” atau tiada daya upaya melainkan karena Allah semata. Jadi, kalau Allah mengizinkan, maka pisau, golok, parang atau peluru sekalipun tidak akan melukai mereka.

Di Banten pada awalnya kesenian ini berfungsi untuk menyebarkan ajaran Islam. Namun, pada masa penjajahan Belanda dan pada saat pemerintahan Sultan Agung Tirtayasa, seni ini digunakan untuk membangkitkan semangat pejuang dan rakyat Banten untuk melawan Belanda.

Dewasa ini, seiring dengan perkembangan zaman, kesenian ini hanya berfungsi sebagai sarana hiburan semata. Para pemain debus terdiri dari seorang syekh (pemimpin permainan), beberapa orang pezikir, pemain, dan penabuh gendang. 1-2 minggu sebelum diadakannya pertunjukan debus biasanya para pemain akan melaksanakan pantangan-pantangan tertentu agar selamat ketika melakukan pertunjukan, yaitu: (1) tidak boleh minum-minuman keras; (2) tidak boleh berjudi; (3) tidak boleh mencuri; (4) tidak boleh tidur dengan isteri atau perempuan lain; dan lain sebagainya.

Permainan debus biasanya dilakukan di halaman rumah pada saat diadakannya acara-acara lain yang melibatkan banyak orang. Peralatan yang digunakan dalam permainan debus adalah: (1) debus dengan gada-nya; (2) golok yang digunakan untuk mengiris tubuh pemain debus; (3) pisau juga digunakan untuk mengiris tubuh pemain; (4) bola lampu yang akan dikunyah atau dimakan (sama seperti permainan kuda lumping di Jawa Tengah dan Timur); (5) panci yang digunakan untuk menggoreng telur di atas kepala pemain; (6) buah kelapa; (7) minyak tanah dan lain sebagainya. Sementara alat musik pengiringnya antara lain: (1) gendang besar; (2) gendang kecil; (3) rebana; (4) seruling; dan (5) kecrek.

Kesenian debus biasanya dipertunjukkan sebagai pelengkap upacara adat, atau untuk hiburan masyarakat. Pertunjukan ini dimulai dengan pembukaan (gembung), yaitu pembacaan salawat atau lantunan puji-pujian kepada Nabi Muhammad, dzikir kepada Allah, diiringi instrumen tabuh selama tiga puluh menit.
Acara selanjutnya adalah beluk, yaitu lantunan nyanyian zikir dengan suara keras, melengking, bersahut-sahutan dengan iringan tetabuhan. Permainan debus pada umumnya diawali dengan mengumandangkan beberapa lagu tradisional (sebagai lagu pembuka atau “gembung”) setelah gembung berakhir. Tujuannya adalah agar mendapat keselamatan selama mempertunjukkan debus.

Setelah zikir dan macapat selesai, maka dilanjutkan dengan permainan pencak silat yang diperagakan oleh satu atau dua pemain tanpa menggunakan senjata tajam yang dikombinasikan dengan seni tari, seni suara dan seni kebatinan yang bernuansa magis. Setelah itu barulah atraksi kekebalan tubuh didemonstrasikan sesuai dengan keinginan pemainnya: menusuk perut dengan gada, tombak atau senjata almadad tanpa luka; mengiris anggota tubuh dengan pisau atau golok; makan api; memasukkan jarum kawat ke dalam lidah, kulit pipi dan angggota tubuh lainnya sampai tebus tanpa mengeluarkan darah; mengiris anggota tubuh sampai terluka dan mengeluarkan darah tapi dapat disembuhkan seketika itu juga hanya dengan mengusapnya; menyiram tubuh dengan air keras sampai pakaian yang dikenakan hancur lumat namun kulitnya tetap utuh.

Selain itu, juga ada atraksi menggoreng kerupuk atau telur di atas kepala, membakar tubuh dengan api, menaiki atau menduduki tangga yang disusun dari golok yang sangat tajam, serta bergulingan di atas tumpukan kaca atau beling. Atraksi diakhiri dengan gemrung, yaitu permainan alat-alat musik tetabuhan.

Sebagai tambahan, pada atraksi penusukan perut dengan menggunakan debus, seorang pemain memegang debus, kemudian ujungnya yang runcing ditempelkan ke perut pemain lainnya. Setelah itu, seorang pemain lain akan memegang kayu pemukul yang disebut gada dan memukul bagian pangkal debus berkali-kali. Apabila terjadi “kecelakaan” yang mengakibatkan pemain terluka, maka Syceh akan menyembuhkannya dengan mengusap bagian tubuh yang terluka disertai dengan membaca mantra-mantra, sehingga luka tersebut dalam dapat sembuh seketika.

Kemudian, ketika atraksi penyayatan tubuh dengan sejata tajam seperti golok dan pisau, pemain akan menusukkan senjata tersebut ke beberapa bagian tubuhnya seperti: leher, perut, tangan, lengan, dan paha. Namun, melakukannya, ia mengucapkan mantra-mantra agar tubuhnya kebal dari senjata tajam. Salah satu contoh mantranya adalah: “Haram kau sentuh kulitku, haram kau minum darahku, haram kau makan dagingku, urat kawang, tulang wesi, kulit baja, aku keluar dari rahim ibunda.

Aku mengucapkan kalimat “la ilaha illahu“. Dan, ketika atraksi pemakanan kaca dan atau bola lampu, yang dimuntahkan bukannya serpihan kaca melainkan puluhan ekor kelelawar hidup. Permainan debus yang dilakukan oleh masyarakat Banten, jika dicermati secara mendalam, maka di dalamnya mengandung nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan bersama dan bekal kehidupan di kemudian hari. Nilai-nilai itu antara lain kerja sama, kerja keras, dan religius.

Nilai kerja sama tercermin dalam usaha para pemain yang saling bahu-membahu dalam menunjukkan atraksi-atraksi debus kepada para penonton. Nilai kerja keras tercermin dalam usaha pemain untuk dapat memainkan debus.

Dalam hal ini seseorang yang ingin memainkan debus harus berlatih secara terus menerus sambil menjalankan syarat-syarat dan pantangan-pantangan tertentu agar ilmu debusnya menjadi sempurna. Dan, nilai religius tercermin dalam doa-doa yang dipanjatkan oleh para pemain. Doa-doa tersebut dibacakan dengan tujuan agar para pemain selalu dilindungi dan mendapat keselamatan dari Allah SWT selama menyelenggarakan permainan debus.

Sejarahnya

Asal usul kesenian debus tidak dapat dipisahkan dari penyebaran agama Islam di Indonesia khususnya di daerah Banten. Terutama peyebarannya Islam pada masa Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), digunakan sebagai seni untuk memikat masyarakat Banten yang masih memeluk agama selain Islam dengan cara mempertontonkan kekuatan tubuh terhadap senjata tajam atau benda keras atau yang sering kita dengar dengan sebutan debus.

Pendapat lain mengatakan bahwa pada masa Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1672) debus dijadikan sebagai sarana untuk berjuang para masyarakat Banten untuk melawan keangkaramurkaan Belanda pada masa itu.
Debus atau almadad diajarkan oleh seorang ulama yang banyak mengguankan ilmu Hikayat (ilmu Tarekat Qodariah), ada persamaan Debus di daerah Banten dengan debus yang tumbuh di daerah Aceh dengan sebutan Deboah. Kemunginan besar asal kata debus juga dari kata Deboah.

Syech Almadad dari Aceh banyak mengajarkan ilmu Hikayat (tarekat) sehingga ilmu ini banyak tersebar di daerah Banten. Pada abad ke 16–17 M, debus berkembang di kalangan para prajurit karena laskar-laskar di Banten diwajibkan mempelajari debus. Kadang–kadang Sultan Abul Fathi Abdul Satah turut memimpin debus di kalangan prajurit Banten. Beliau melakukan perang-perangan dengan menggunakan alat yang tajam dan runcing, seperti tombak dan pedang, dengan keyakinan yang kuat mereka percaya tidak ada suatu benda tajam apapun yang dapat melukai kulitnya kalau tidak dikehendaki oleh Allah SWT, kemudian permainan ini teresap pada masyarakat sehingga terciptanya kesenian debus samapai sekarang.

Alat-alatnya

Alat musik yang digunakan antara lain; satu pasang kendang, dua buah rebana yang besar (disebut terbang gede), dua buah bedug kecil, terompet penca, dan kecrek, sedangkan alat yang digunakan antara lain; gada, palu besar, golok, pisau, jarum, paku, silet, dan lain sebagainya.

Cara Permainannya

Pemimpin rombongan memanjatkan doa dan berzikir yang isinya memuji-muji Allah dan salawat kepada Nabi Muhammad SAW, serta pada para sahabatnya dan kerabatnya dengan gabungan suara zikir dan tabuh tabuahan yang sangat harmonis.

Dua orang pemain yang masing-masing membawa gada bertangkai besi yang sangat runcing dan palu besar sambil menari mengikuti irama tabuh-tabuhan. Setelah beberapa kali menari berkeliling, terdengar suara Almadad yang dijawab oleh temannya hadir lalu barulah mereka berhadap-hadapan yang seorang menahan gada bertangkai besi yang runcing tersebut pada perut, dada, paha dan yang seorang lagi memalu gada temannya dengan palu besar sekuat tenaganya.

Demikianlah selanjutnya permainan ini diulang beberapa kali. Selanjutnya permainan tersebut berkembang dengan menggunakan alat-alat tajam yang lain serta caranyapun mermacam-macam, seperti; mengerat, mengiris dan membacok bagian badan, tiduran diatas paku, menggoreng telur diatas kepala dan banyak lagi atraksi yang lainnya.

Keberadaan Debus di Banten

Masa perkembangan teknologi yang begitu pesat membuat kebudayaan daerah pun menjadi berkurang kususnya debus, sekarang keberadaan seni debus ini tinggal 3 kabupaten yang masih eksis yaitu: Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak.

Di Kabupaten Pandeglang setiap kecamatan memiliki grup debus paling sedikit 1 grup, grup seni debus yang paling banyak terdapat di Kecamatan Pandeglang sebanyak 5 grup. Di Kabupaten Serang sendiri seni debus ini cukup berkembang, bahkan terdapat grup seni debus yang sangat terkenal, yaitu goup debus Surosowan pimpinan H. Idris yang terdapat di Kecamatan Walantaka. Di samping itu juga terdapat grup yang tak kalah tenarnya yang berada di Kecamatan Pabuaran pimpinan Jasiman, yaitu grup seni debus Paku Banten.

No

Kabupaten

Nama Group

Nama Pimpinan

Jumlah Anggota

Alamat

1

Lebak

Macan Laut Kidul

Sahroni

17

Kec. Panggarangan

Debus

M. Haris

12

Kec. Banjarsari

Kilat Mekar

Maman

8

Kec. Rangkasbitung

2

Serang

Surosowan

H. Idris

20

Kec. Walantaka

Paku Banten

Jasiman

20

Kec. Pabuaran

Kitapa

TB. Ruchyat Zaen

45

Lopang Gede

TTKKDH

Kundang Z.A

15

Desa Kepandean

SD 21 Debus Cilik

TB. Suherman

1

Kampus Gasbika

Sangar Seni Debus

TB. Suherman

150

Kec. Serang

3

Pandeglang

Sejumlah 32 group seni debus

Semua kecamatan memiliki kesenian debus, paling banyak kecamatan Pandeglang


Sumber Data:

  • Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1988. Aneka Ragam Hkasanah Budaya Nusantara I. Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
  • Halwany Michrob, 1989, Debus Al Madad Tradisional Pereforming Art of Banten
  • Buklet 1994, Banten Festifal 94
  • Buklet 1997, Banten The Virgin Destination of Indonesia
  • Tim penyusun Subdin Kebudayaan Dinas Pendidikan Prop. Banten, 2003, Profil Seni Budaya Banten

Penulis: DN. Halwany.

Editor : Happy Muslimah

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ragam Tulisan Lainnya
Close
Back to top button