InspirasiOpini

Laut dan Pesawahan yang Melankolis

Oleh : Duzlkifli Jumari *

Pesawahan di mata para petani juga telah menjadi latar utama bagi segenap suara yang makin lama makin gemetar dan kehilangan keberanian, walau hanya untuk mengajukan pertanyaan. Dunia menjadi lain sama sekali.”

biem.coWaktu kecil, saya sering sekali bermain di sawah sembari ngangon kerbau kepunyaan Bapak. Saya masih ingat dengan jelas kebiasaan-kebiasaan yang saya dan teman-teman lakukan ketika itu. Kerbau kami ikat di batang pohon besar di mana rerumputan tumbuh dengan subur. Kerbau kami asyik makan, sementara kami pergi menapaki pematang di tengah hamparan sawah yang sejauh pandang tampak angin menggerakkan segala apa yang berbatang dan berdaun.  Kami membawa arit kecil, hendak mencari rumput di tempat yang lain. Hanya perlu waktu 1 jam, kami kembali. Melepaskan ikatan di batang pohon lalu membawa kerbau kami ke sungai untuk dimandikan sebelum kami pulang bersama nuansa petang yang bersiaga menuju malam.

Sebagai anak kecil, kami tidak hanya mengurus kerbau. Kadang-kadang kami tinggalkan kerbau bukan untuk mencari rumput, melainkan untuk berburu belalang atau mencari ikan bayong dan belut. Kadang-kadang kalau sedang iseng, kami hanya bermain lumpur di leleran (tanah yang sudah siap ditanami benih padi). Kami saling lempar lumpur hingga sekujur tubuh kami kurang lebih sama dengan kerbau. Kami, pada banyak momen, memandikan kerbau sambil memandikan diri sendiri.

Dunia ketika saya kecil terasa begitu menyenangkan. Walau saya tidak dapat memastikan kesenangan itu karena dunianya yang memang menyenangkan atau karena anak-anak di masa itu memang menciptakan kesenangan atas suatu dunia, saya dapat pastikan, kami semua suka dan gemar bersenang-senang dengan cara itu. Saya merasa begitu dekat dengan alam. Gerak ilalang, bunga-bunga kangkung, pohon-pohon yang tidak semuanya saya ketahui namanya, dan rerumputan adalah teman keseharian kami.

Saya dan teman-teman masih bocah. Tentu tidak berkeliaran di pesawahan tanpa orang-orang dewasa yang begitu khusu’ menggarap tanah mereka. Para petani itu, orangtua, saudara, dan tetangga semua sibuk di sawah. Ada memang beberapa nama yang sering diceritakan di tengah masyarakat. Mereka merantau di kota. Tidak pulang-pulang. Katanya sudah jadi orang besar. Tetapi rata-rata orang kampung di tempat saya lahir, lahir dan menabahi hidup di sini. Rata-rata petani menanam padi. Meski begitu, ada yang menanam umbi-umbian, cabai, tomat, dan lain sebagainya untuk memenuhi kebutuhan dapur atau untuk dijual ke pasar.

Para petani di kampung saya tidak mengenal musim. Musim hujan atau kemarau tidak ada bedanya karena ada irigasi yang mengaliri pesawahan. Setiap kali setelah panen, petani tidak harus menunggu waktu lama untuk kembali menggarap lahannya agar bisa ditanami kembali. Jadi dapat dibayangkan sendiri soal kebutuhan makan sehari-hari, bukan persoalan ketika itu. Hasil panen disimpan hingga dapat memenuhi kebutuhan sampai tiba waktu panen lagi. Orang-orang yang hanya menjadi penggarap sawah orang lain pun tidak kekurangan. Tenaga mereka besar. Sawah yang mereka garap luas. Cukup untuk meladeni kebutuhan hidup. Semua ada di sawah.

Ikan ada di laut yang juga dapat kami datangi saat kami ingin memakan ikan. Saya sering bermain di pesisir untuk memancing ikan atau hanya berenang bersama teman-teman. Walau kadang, dilarang-larang juga oleh orangtua, karena konon, banyak orang yang tenggelam di laut ketika berenang. Tetapi namanya anak-anak, melihat ombak seperti melihat mainan yang menggemaskan. Kami berenang-renang sambil mencari ikan, udang, dan tripang. Kalau sedang beruntung, banyak sekali yang dapat kami tangkap. Di pesisir pantai kami membuat bara, memanggang, dan makan bersama. Perut kenyang, tanda waktu pulang datang.

Sebagaimana di pesawahan, di pesisir pantai tidak hanya ada anak-anak yang kegirangan bermain ombak. Di sana banyak peternak ikan yang membuat tambak (empang) untuk budidaya ikan laut. Ada satu sungai yang menjadi jalur bagi perahu-perahu yang digunakan para nelayan menuju laut dan mencari ikan—yang juga digunakan sebagai jalur pulang.  Kadang, ketika para nelayan baru menyandarkan kapalnya, saya dan teman-teman meminta sedikit hasil tangkapannya untuk dimasak bersama. Bakar-bakaran lagi.

Di dalam hari-hari dalam rutinitas hidup yang begitu-begitu saja, yang tidak ada perkembangan bila dipandang dari pandangan orang beraliran kemajuan peradaban dari kacamata pembangun-percepatan pertumbuhan ekonomi itu, saya tidak pernah melihat wajah putus asa para nelayan, meski napas mereka yang ngos-ngosan seringkali tampak terlampau lelah. Para nelayan selalu tampak bahagia, apalagi jika hasil tangkapannya melimpah. Tentu saja, saya dan teman-teman juga kecipratan hasil tangkapan mereka. Semakin banyak hasilnya, semakin banyak pula ikan yang kami dapat dari para nelayan. Bakar-bakaran jadi lebih semangat dan perut jadi lebih kenyang.

***

Editor: Muhammad Iqwa Mu'tashim Billah
1 2 3Next page

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button