Aristoteles, seorang filsuf Yunani kuno, mengatakan bahwa tindakan manusia membentuk kebiasaan, dan kebiasaan membentuk karakter.”
INSPIRASI, biem.co – Bagi banyak anak muda, kata “anggaran” sering terdengar membosankan. Ia identik dengan rapat panjang, tabel rumit, dan bahasa orang dewasa yang terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, tanpa disadari, anggaran hadir sangat dekat dengan kita: dari uang jajan, biaya kuliah, sampai dana organisasi dan anggaran negara.
Anggaran bukan sekadar soal uang yang masuk dan keluar. Ia adalah soal pilihan. Ketika kita memutuskan membelanjakan uang untuk sesuatu, pada saat yang sama kita menunda atau bahkan mengorbankan hal lain. Di situlah anggaran mulai bersentuhan dengan etika.
Di tengah situasi ekonomi yang tidak selalu ramah—harga kebutuhan naik, lapangan kerja sempit, dan masa depan terasa tidak pasti—cara kita memandang uang menjadi sangat penting. Apakah uang hanya alat untuk memenuhi keinginan pribadi, atau sarana untuk membangun kehidupan yang lebih adil dan manusiawi?
Dalam organisasi mahasiswa, misalnya, anggaran menentukan arah gerak. Apakah dana kegiatan lebih banyak dihabiskan untuk seremonial, atau dialokasikan untuk program yang benar-benar berdampak bagi anggota dan masyarakat sekitar. Keputusan itu sederhana, tetapi nilai yang dikandungnya besar.
Filsafat membantu kita membaca makna di balik keputusan-keputusan kecil itu. Filsafat mengajarkan bahwa setiap tindakan manusia selalu membawa nilai. Tidak ada tindakan yang benar-benar netral. Termasuk dalam mengelola uang.
Aristoteles, seorang filsuf Yunani kuno, mengatakan bahwa tindakan manusia membentuk kebiasaan, dan kebiasaan membentuk karakter. Jika sejak muda kita terbiasa mengelola uang tanpa memikirkan dampaknya bagi orang lain, maka kita sedang membentuk karakter yang egois dan sempit.
Sebaliknya, jika kita belajar mengelola anggaran dengan mempertimbangkan keadilan dan kepedulian, kita sedang melatih kepekaan moral. Mengatur uang, ternyata juga bisa menjadi latihan etika.
Masalahnya, dunia modern sering mengajarkan logika yang berbeda. Efisiensi dijadikan ukuran utama keberhasilan. Yang penting murah, cepat, dan menguntungkan. Soal dampak sosial sering dianggap urusan belakangan, atau bahkan tidak penting.
Logika semacam ini juga masuk ke dunia pendidikan, organisasi, dan kebijakan publik. Banyak keputusan anggaran diambil tanpa mendengarkan suara mereka yang terdampak. Yang dilihat hanya angka di laporan, bukan manusia di baliknya.
Filsuf Emmanuel Levinas mengingatkan bahwa etika lahir ketika kita mau melihat wajah orang lain. Wajah itu memanggil kita untuk bertanggung jawab. Dalam konteks anggaran, wajah itu bisa berupa teman yang kesulitan membayar kuliah, pekerja yang digaji tidak layak, atau masyarakat kecil yang tidak tersentuh program bantuan.
Anggaran yang baik seharusnya tidak membuat manusia merasa tak terlihat. Ia seharusnya menjadi alat untuk menjaga martabat, bukan mengabaikannya.
Namun, berbicara tentang etika bukan berarti menolak akal sehat. Mengelola uang tetap membutuhkan perhitungan yang cermat. Anggaran yang berantakan justru bisa merugikan banyak orang. Di sinilah dibutuhkan keseimbangan antara rasionalitas dan kepekaan.
Kebijaksanaan muncul ketika kita mampu menimbang dua hal sekaligus: keberlanjutan dan keadilan. Menghemat itu perlu, tetapi jangan sampai penghematan menjadi alasan untuk bersikap tidak adil.
Bagi kaum muda, isu ini sangat relevan. Generasi hari ini tidak hanya mewarisi dunia, tetapi juga masalahnya: ketimpangan ekonomi, krisis lingkungan, dan melemahnya kepercayaan sosial. Cara kita mengelola uang hari ini akan menentukan wajah masa depan.
Mengatur anggaran pribadi, organisasi, bahkan negara, bukanlah urusan teknis semata. Ia adalah pernyataan sikap: tentang apa yang kita anggap penting dan siapa yang kita pedulikan.
Ketika uang digunakan hanya untuk memuaskan diri, kita kehilangan makna. Tetapi ketika uang dikelola dengan kesadaran etis, ia bisa menjadi sarana perubahan. Hal-hal kecil seperti transparansi, kejujuran, dan keberpihakan pada yang lemah bisa dimulai dari cara kita menyusun anggaran.
Di sinilah kaum muda memiliki peran penting. Dengan energi dan idealisme yang dimiliki, anak muda bisa menghadirkan cara pandang baru terhadap uang dan kekuasaan. Bukan sekadar mengejar keuntungan, tetapi juga memperjuangkan nilai.
Pada akhirnya, anggaran adalah cermin. Ia memantulkan siapa kita dan ke mana kita hendak pergi. Jika kita ingin masa depan yang adil dan manusiawi, kita perlu mulai dari hal yang paling dekat: cara kita memperlakukan uang hari ini.
Mengelola rupiah dengan hati nurani mungkin terdengar sederhana, tetapi dampaknya bisa luar biasa. Dari situlah perubahan besar sering kali bermula. (Red)
Vinsensius, S.Fil., M.M. adalah akademisi dan penulis yang menaruh minat pada isu filsafat, etika sosial, dan manajemen keuangan. Aktif mengajar di perguruan tinggi serta menulis esai dan opini populer tentang pendidikan, kebudayaan, dan tanggung jawab kaum muda dalam kehidupan sosial.








