CerpenInspirasiKabarTerkini

“Empati Tak Bersuara, Namun Selalu Sampai Ke Hati”

Oleh: Afif Fiqhi

INSPIRASI, biem.co – Pagi itu kota belum sepenuhnya terjaga, tetapi denyut kehidupannya telah mulai terasa. Langit berwarna pucat keperakan, udara masih menyisakan sisa dingin malam, dan kendaraan perlahan memenuhi ruas jalan utama. Orang-orang melangkah cepat dengan pikiran yang telah mendahului tubuh mereka—menuju rapat, target pekerjaan, tanggung jawab keluarga. Dalam arus rutinitas yang serba tergesa dan cepat itu, jarang ada yang benar-benar berhenti untuk melihat sekitar dengan hati.

Di antara keramaian itulah seorang pekerja menepi sejenak di sebuah kedai kopi di pusat kota. Niatnya sederhana: membeli secangkir kopi sebelum memulai hari yang panjang. Langkahnya mantap, pikirannya dipenuhi daftar tugas yang menunggu di kantor. Namun, tepat sebelum ia membuka pintu kedai, pandangannya tertahan pada sosok yang berdiri tak jauh dari pintu masuk. Seorang lelaki tua berdiri di sana. Tubuhnya kurus, punggungnya sedikit membungkuk, dan pakaiannya tampak usang dimakan waktu. Wajahnya menyimpan garis-garis kehidupan yang panjang. Jejak kerja keras, kelelahan, mungkin juga kehilangan.

Namun, bukan penampilan luarnya yang paling menarik perhatian, melainkan tatapan matanya. Sepasang mata itu menatap tanpa kata, tanpa gerakan meminta, tanpa isyarat yang memaksa. Tatapan itu tenang, namun dalam; hening seolah berbicara. Ada sesuatu yang tidak kasatmata, tetapi terasa jelas sebuah panggilan sunyi yang hanya bisa didengar oleh hati yang bersedia mendengar.

Seorang pekerja yang tampak muda itu sempat terdiam sesaat. Tidak ada percakapan di antara mereka, tetapi pertemuan pandangan itu meninggalkan kesan yang sulit dijelaskan. Ia kemudian masuk ke kedai, memesan kopi seperti biasa. Suara mesin pembuat kopi mendesis, aroma biji kopi yang digiling memenuhi ruangan, dan percakapan ringan pelanggan lain terdengar samar. Namun pikirannya tak sepenuhnya berada di sana. Di sela menunggu pesanannya, bayangan mata lelaki tua tadi terus hadir, seperti bayang yang menolak pergi. Di dalam dirinya terjadi pergulatan kecil—perdebatan antara kebiasaan untuk berlalu dan dorongan halus untuk peduli.

Ia menyadari, mungkin yang dibutuhkan lelaki tua itu bukanlah sesuatu yang besar. Mungkin hanya sepotong perhatian yang jarang singgah di dunia yang terlalu sibuk ini. Tanpa banyak pertimbangan lagi, ia menambahkan dua buah roti ke dalam pesanannya. Keputusan itu tampak sederhana, hampir sepele. Namun justru dalam kesederhanaannya tersimpan makna yang dalam. Ia tidak sedang mengubah dunia, tidak pula melakukan tindakan heroik. Ia hanya memilih untuk tidak menutup mata terhadap panggilan kemanusiaan yang hadir di hadapannya.

Ketika ia kembali keluar dan menyerahkan roti itu kepada lelaki tua tersebut, waktu seolah berjalan lebih lambat. Lelaki tua itu menerimanya dengan kedua tangan yang sedikit gemetar. Bibirnya bergetar mengucapkan terima kasih yang lirih. Namun yang paling berbicara adalah matanya—mata yang tadi redup kini berbinar, dipenuhi kilau haru yang jujur. Ada rasa dihargai, diakui keberadaannya, dirasakan kembali martabatnya sebagai manusia.

Dalam momen singkat itu, terjadi pertukaran yang tak terlihat oleh banyak orang. Bukan sekadar roti yang berpindah tangan, melainkan pengakuan akan kemanusiaan yang sama-sama mereka miliki. Seorang pekerja yang tampak muda itu melanjutkan langkahnya menuju kantor, tetapi hatinya terasa berbeda—lebih ringan, lebih hangat. Sementara lelaki tua itu berdiri dengan sorot mata yang kini menyimpan secercah harapan, seakan dunia belum sepenuhnya melupakannya.

Pagi itu membuktikan bahwa kebaikan tidak selalu hadir dalam bentuk yang megah. Ia sering lahir dari kepekaan terhadap hal-hal kecil, dari keberanian untuk berhenti sejenak di tengah kesibukan, dan dari kesediaan untuk mendengar bahasa yang tak bersuara. Dalam dunia yang kian cepat dan individualistis, tindakan sederhana itu menjadi pengingat lembut bahwa kemanusiaan masih hidup; dalam tatapan, dalam empati, dan dalam sepotong roti yang diberikan dengan hati. (Red).

Afif Fiqhipenulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Konsentrasi Manajemen Sumber Daya Manusia dan bekerja di PT Agrobisnis  Banten Mandiri (Perseroda) sebagai Kepala Seksi Kerjasma dan Pengembangan Usaha, tinggal di Kp. Sidayu, Desa Kebon Kec. Tirtaysa Serang, Banten. Disela kesibukannya,  pria kelahiran Serang pada 22 Mei 1999 ini menyempatkan diri untuk memotret berbagai sudut kehidupan sosial dalam sebuah tulisan.

Editor: admin

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button