INSPIRASI, biem.co – Kita sering mengeluh bahwa hidup terasa berat dan penuh tekanan. Rutinitas yang melelahkan, kebiasaan menunda, kecanduan gadget, atau rasa malas untuk memulai hal baru perlahan menjadi bagian dari keseharian yang dianggap wajar. Banyak orang tahu bahwa kebiasaan itu tidak baik, tetapi tetap dijalani karena terasa aman dan sudah terbiasa. Tanpa disadari, hari-hari berlalu dengan pola yang sama, sementara harapan akan hidup yang lebih baik hanya berhenti sebagai keinginan.
Padahal, di luar diri kita, dunia terus bergerak maju. Cara orang bekerja berubah, tuntutan hidup meningkat, dan kesempatan datang bagi mereka yang siap beradaptasi. Ketika kita tetap bertahan pada kebiasaan lama yang buruk, jarak antara diri kita dan dunia semakin lebar. Di titik inilah pertanyaan penting muncul: apakah kita akan terus bertahan pada kenyamanan semu, atau mulai berani berubah agar tidak tertinggal oleh arus kehidupan?
Dunia Bergerak Cepat, Kita Jalan di Tempat
Kita hidup di zaman yang serba cepat. Informasi datang tanpa henti, teknologi terus diperbarui, dan cara hidup berubah dari waktu ke waktu. Apa yang kemarin terasa baru, hari ini sudah dianggap usang. Dunia bergerak maju tanpa menunggu siapa pun. Namun, di tengah arus perubahan itu, tidak sedikit orang justru memilih berhenti dan bertahan pada kebiasaan lama.
Fenomena yang paling mudah kita temui adalah kebiasaan menunda. Banyak orang tahu apa yang seharusnya dilakukan, tetapi selalu menunggu waktu yang “lebih tepat”. Ada pula yang sadar kebiasaan lamanya merugikan—malas belajar, sulit mengatur waktu, enggan keluar dari zona nyaman—namun tetap menjalaninya karena sudah terasa akrab. Kebiasaan buruk akhirnya dianggap wajar, bahkan dibela dengan alasan “sudah begini dari dulu”.
Di sisi lain, tekanan hidup semakin nyata. Persaingan makin ketat, tuntutan untuk adaptif semakin tinggi, dan kegagalan mudah datang bagi mereka yang tidak mau berubah. Ironisnya, saat dunia meminta kita bergerak, banyak orang justru memilih diam. Mereka berharap keadaan membaik dengan sendirinya, tanpa harus mengubah apa pun dari dalam diri.
Media sosial memperkuat fenomena ini. Kita melihat keberhasilan orang lain setiap hari, tetapi lebih sering hanya menjadi penonton. Alih-alih tergerak untuk berbenah, kita tenggelam dalam perbandingan, rasa minder, atau pelarian sesaat. Waktu habis, kebiasaan buruk tetap bertahan, dan masa depan pun berjalan tanpa persiapan yang matang.
Situasi ini menunjukkan satu hal penting: masalah terbesar bukan pada dunia yang berubah terlalu cepat, melainkan pada manusia yang enggan berubah. Ketika kebiasaan lama terus dipelihara, perubahan zaman justru terasa sebagai ancaman. Padahal, perubahan tidak selalu datang untuk menghancurkan, melainkan untuk membuka peluang baru bagi mereka yang berani melangkah.
Belajar Berubah dari Herakleitos
Di tengah dunia yang terus bergerak, kegelisahan manusia terhadap perubahan sebenarnya bukan hal baru. Jauh sebelum zaman media sosial dan teknologi canggih, seorang filsuf Yunani kuno bernama Herakleitos sudah menaruh perhatian besar pada persoalan ini. Ia dikenal sebagai pemikir yang melihat hidup sebagai sesuatu yang tidak pernah diam.
Herakleitos menyampaikan gagasan sederhana namun mendalam: hidup selalu mengalir dan berubah. Tidak ada satu pun hal di dunia ini yang benar-benar tetap. Ia pernah mengibaratkan kehidupan seperti sungai—kita tidak bisa masuk ke sungai yang sama dua kali, karena airnya terus mengalir dan berubah. Gambaran ini menegaskan bahwa perubahan bukan gangguan, melainkan sifat dasar dari kehidupan itu sendiri.
Jika gagasan ini dibawa ke realitas hari ini, kita bisa melihat betapa relevannya pemikiran Herakleitos. Dunia modern dengan segala percepatannya sebenarnya hanya menegaskan apa yang sejak lama sudah ia sampaikan. Teknologi yang terus berkembang, cara bekerja yang berubah, hingga pola relasi manusia yang bergeser menunjukkan bahwa hidup memang menuntut kemampuan untuk menyesuaikan diri.
Masalah muncul ketika manusia menolak kenyataan ini. Kebiasaan lama yang buruk—menunda, malas berbenah, takut mencoba hal baru—pada dasarnya adalah upaya melawan arus kehidupan. Kita ingin dunia berubah sesuai keinginan kita, sementara diri sendiri enggan bergerak. Dalam kacamata Herakleitos, sikap seperti ini justru membuat manusia tertinggal dan kehilangan daya hidupnya.
Pemikiran Herakleitos mengajak kita melihat perubahan dengan cara yang berbeda. Berubah bukan tanda kegagalan atau ketidaksetiaan pada diri sendiri. Sebaliknya, perubahan adalah tanda bahwa kita masih hidup, masih belajar, dan masih mau bertumbuh. Dengan menerima perubahan, manusia tidak kehilangan jati dirinya, tetapi justru menemukannya dalam proses yang terus berlangsung.
Bagi dunia sekarang, pesan ini terasa semakin mendesak. Di tengah tekanan hidup dan tuntutan zaman, keberanian untuk meninggalkan kebiasaan buruk dan memulai langkah baru menjadi kunci untuk bertahan dan berkembang. Herakleitos seolah mengingatkan kita bahwa hidup tidak menunggu kesiapan kita. Ia terus mengalir, dan pilihan kita hanyalah ikut bergerak atau perlahan tertinggal. (Red)
Vinsensius, S.Fil., M.M. penulis adalah akademisi yang menaruh minat pada filsafat manusia, kebudayaan, dan refleksi kehidupan sehari-hari. Ia aktif menulis esai filsafat populer yang berupaya menjembatani gagasan para filsuf klasik dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat masa kini. Melalui tulisannya, ia mendorong pembaca—terutama kaum muda—untuk berani berubah, berpikir kritis, dan membangun kebiasaan hidup yang lebih baik. Selain menulis, ia juga mengajar filsafat dan manajemen di Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, dan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo.







