Irvan HqSkriptoriaTerkini

Dari Lembaga Pernikahan, Lembaga Hukum Sampai Lembaga Usaha

SKRIPTORIA, biem.co – Wilujeng Morning! Kemarin saya mendapat satu kabar baik dan satu kabar buruk ditambah bonus satu kabar menjengkelkan.

Kabar baiknya adalah alhamdulillah sahabat saya mengundang makan siang untuk sekedar berbagi kebahagiaan atas keberaniannya untuk memasuki kembali lembaga pernikahan setelah menemukan pasangan hidup yang siap membangun keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah.

Sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surat Ar-Rum ayat 21 yang menjelaskan bahwa Allah menciptakan pasangan supaya kita merasakan ketentraman, ketenangan, rasa cinta dan kasih sayang.

Kenapa disebut lembaga pernikahan? karena selain ikatan perkawinannya tercatat resmi secara hukum agama dan negara di lembaga pemerintah yang berwenang, didalamnya juga terdapat aturan dan norma yang mengatur perilaku keduanya untuk mencapai keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah sepanjang sistem aturan sosial yang lazimnya mengatur interaksi keduanya itu tidak dilanggar oleh salah satu pasangannya.

Kabar buruknya dihari yang sama saya menerima kabar rekan kerja yang sedang menjalani pemeriksaan di lembaga hukum ditetapkan sebagai tersangka. Menurut Pasal 1 angka 14 KUHAP seseorang dapat ditetapkan sebagai tersangka apabila dianggap memiliki minimal dua alat bukti permulaan yang sah, seperti keterangan saksi, keterangan ahli, keterangan tersangka, dokumen, surat, petunjuk, atau keterangan lainnya.

Terlepas dari persoalan hukum yang sedang berjalan, penetapan rekan kerja saya sebagai tersangka ini sudah pasti membuat keluarganya terpukul. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan istri dan anak-anaknya mengetahui penetapan ini ramai diberitakan di berbagai media informasi.

Yang lebih memprihatinkan lagi adalah respon rekan sekantor lainnya yang dengan senang dan berbangga hati ikut menyebarkan informasi ini di media sosial dengan caption negatif dan memberikan komentar bersifat provokatif seolah-olah dirinya sudah hidup yang paling benar.

Tidak semua rekan sekantor seperti itu, ada yang kemudian memberikan komentar-komentar yang menyejukan tanpa bermaksud membela atas kesalahan yang mungkin dilakukannya. Tetapi respon seperti ini menunjukan bahwa manusia bukan binatang yang masih punya rasa empati.

Aturan 90/10, sebuah prinsip pengelolaan diri yang dipopulerkan oleh Stephen Covey menyatakan bahwa 10% dari kehidupan kita terdiri dari apa yang terjadi pada kita, sedangkan 90% lainnya ditentukan oleh cara kita bereaksi terhadap peristiwa tersebut.

Kita tidak bisa mengontrol pikiran, perasaan dan omongan orang lain. Tapi kita bisa mengontrol mulut dan pikiran kita sendiri.”

 

Dan Kabar Buruk yang saya terima tidak selesai sampai disitu, saya mendapat bonus berupa fakta memiliki Pimpinan yang konyol dan plin plan karena kebijakannya bisa berubah tergantung pembisiknya. Sayangnya sang pemimpin sejatinya tidak memiliki pembisik yang baik tetapi justru memelihara pembusuk yang buruk.

Disini saya tidak akan menceritakan apa yang terjadi karena buat saya kebijakannya sudah terlalu konyol untuk sebuah lembaga usaha. Bagaimana mau maju ketika perusahaan lain sudah bicara tentang bagaimana bisa hidup di Planet lain, sementara di perusahaan saya Pemimpinnya merasa hidupnya sudah nyaman dikelilingi segelintir bawahan yang toxic yang siap menjilat sebasah-basahnya lidah dan siap mencari muka secara mandiri tanpa bantuan Detektif Conan.

Salam Berkarya dan Berbagi Inspoirasi !

 

Serang, 25 November 2025.
Irfan Nur Ma’ruf  

Editor: admin

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button