Opini

Gerakan Pramuka di Persimpangan: Antara Pendidikan Karakter dan Tarikan Kepentingan

Oleh; Muhamad Wahyudin

Gerakan Pramuka sejak awal didirikan sebagai gerakan pendidikan karakter yang sukarela, nonpartisan, dan berorientasi pada pengabdian. Nilai-nilai itu menjadi fondasi kuat yang membentuk generasi muda berintegritas. Namun dalam dinamika kekinian, Pramuka menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari struktur organisasi yang kerap terasa kaku, keterbatasan ruang inovasi, hingga persepsi publik yang perlahan bergeser. Tidak sedikit yang melihat Pramuka hanya hadir dalam seremoni, padahal perannya jauh lebih substansial dari sekadar simbolik.

Situasi ini menjadi pengingat bahwa Pramuka perlu terus menjaga relevansinya di tengah perubahan sosial yang begitu cepat. Gerakan ini tidak semestinya berjalan dalam sekat-sekat kepentingan sempit. Fleksibilitas dan adaptivitas menjadi kunci, tentu tanpa meninggalkan nilai dasar yang menjadi jati diri. Fleksibel bukan berarti kehilangan arah, melainkan mampu merespons kebutuhan zaman dengan bijak, kreatif, dan tetap beretika. Pramuka idealnya hadir sebagai bagian dari solusi sosial, bukan sekadar pelengkap agenda formal.

Hal lain yang tak kalah penting adalah memperluas pemahaman bahwa Pramuka tidak hanya tumbuh di lingkungan sekolah. Perguruan tinggi merupakan ruang strategis bagi penguatan kepramukaan. Mahasiswa berada pada fase penting pembentukan kepemimpinan, nalar kebangsaan, serta tanggung jawab sosial. Di sinilah Pramuka memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam melahirkan kader intelektual yang berkarakter dan berjiwa pengabdian.

Pada dasarnya, Pramuka adalah satu kesatuan gerakan pendidikan karakter tanpa membedakan jenjang pendidikan, latar belakang, maupun institusi. Sekolah, kampus, dan masyarakat adalah satu ekosistem pembinaan yang saling terhubung. Karena itu, dikotomi antara Pramuka sekolah dan Pramuka perguruan tinggi sudah saatnya digantikan dengan semangat sinergi, kolaborasi, dan kesetaraan peran dalam satu visi besar kepramukaan.

Dalam kerangka tersebut, nilai silih asah, silih asih, dan silih asuh patut kembali ditegaskan sebagai napas gerakan. Silih asah mengajarkan pentingnya saling mencerdaskan dan membuka ruang dialog lintas generasi. Silih asih menumbuhkan sikap saling menghormati dan menjaga persaudaraan di tengah perbedaan. Sementara silih asuh menegaskan tanggung jawab moral untuk saling membimbing dan melindungi. Tanpa penghayatan nilai-nilai ini, Pramuka berisiko terjebak menjadi organisasi yang kuat secara struktur, tetapi lemah dalam ruh pendidikan.

Bagi Pramuka di Provinsi Banten, momentum ini menjadi ajakan untuk memperkuat soliditas dan integritas kelembagaan. Dari tingkat Kwartir Daerah hingga gugus depan, perbedaan perlu dirangkul dalam semangat kolektif yang sama. Kepercayaan publik hanya dapat dijaga melalui kedewasaan berorganisasi, konsistensi nilai, dan ketulusan dalam pengabdian.

Tantangan lain yang tidak bisa diabaikan adalah era digital. Pramuka, terutama di perguruan tinggi, dituntut lebih visioner dan inovatif. Kehadirannya tidak cukup hanya di lapangan kegiatan, tetapi juga perlu mengisi ruang digital dengan gagasan, aksi sosial, dan narasi positif tentang kepemudaan serta kebangsaan. Adaptasi terhadap teknologi menjadi keniscayaan, selama nilai dasar kepramukaan tetap menjadi pijakan utama.

Pada akhirnya, Gerakan Pramuka perlu terus melakukan refleksi kolektif. Pramuka bukan milik kelompok tertentu dan bukan pula alat kepentingan sesaat. Ia adalah gerakan pendidikan karakter bangsa. Ketika fleksibilitas, solidaritas, dan integritas berjalan beriringan, Pramuka akan tetap relevan bukan hanya sebagai warisan sejarah, tetapi sebagai kekuatan moral dan sosial yang hidup bagi masa depan Indonesia.


Penulis; Muhamad Wahyudin

Pembina Satuan Penegak Putra UIN SMH Banten Andalan Cabang Urusan Organisasi bidang Orgakum Kwarcab Kota Serang

Aktif Sebagai Dosen Fakultas Hukum di Universitas Primagraha 

Editor: Irwan Yusdiansyah

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button