CerpenInspirasiSekolah

Di Bawah Langit Baduy

Oleh: Mill Kevin Phiong

CERPEN, biem.co – Matahari bangkit perlahan dari balik bukit Desa Kanekes, menyapu embun pagi yang masih menempel di dedaunan. Dua minggu lagi, ritual Seba Baduy akan digelar.

Namun, di bawah naungan pohon rindang tempat tiga remaja biasa berkumpul, kehangatan itu mendadak menguap.

“Kita tidak usah mengajaknya,” bisik Seba lirih. Tangannya mengusap perlahan telapak tangan kirinya—sebuah bekas luka lama yang bentuknya masih jelas.

Pulung membuang napas kasar. “Aku juga lelah, Seba. Dia selalu membuat masalah.”

Nama yang mereka bicarakan adalah Kanekes. Remaja seusia mereka yang terkenal bukan karena ketangkasannya, melainkan karena tingkah jahilnya yang sering menyulut amarah warga. Pernah suatu hari ia tertangkap basah mencoba mencuri ayam cemani milik Bapak Gede. Di hari lain, ia merusak mainan kesayangan Pulung hingga tak berbentuk.

Namun, luka di tangan Seba adalah puncak dari segalanya. Suatu sore pukul tiga, saat mereka bertiga sedang asyik bermain dengan ranting pohon, Kanekes tiba-tiba menusukkan ujung kayu tajam ke telapak tangan Seba. Darah mengucur deras hingga Seba harus dilarikan ke rumah sakit. Yang paling menyakitkan bagi Seba bukan cuma rasa sakitnya, melainkan kenyataan bahwa Kanekes tak pernah menguapkan satu kata maaf pun setelah kejadian itu.

Seminggu menjelang Seba Baduy, keputusan Pulung dan Seba sudah bulat. Mereka mendatangi rumah Kanekes untuk berpura-pura mengajak, sekadar menutupi kejahatan rencana mereka.

“Kanekes, kau mau ikut kami berjalan ke upacara Seba Baduy?” tanya Pulung.

Mata Kanekes berbinar. “Boleh! Kapan pun 4kalian berangkat, aku akan menunggu ditengah desa!”

Hari upacara pun tiba. Saat fajar belum sepenuhnya menyingsing dan matahari baru bersiap berdiri tegak, Pulung dan Seba sudah mengemas perbekalan mereka. Tanpa suara, mereka berjalan cepat meninggalkan desa, sengaja membiarkan Kanekes masih terlapik dalam tidurnya.

Ketika Kanekes terbangun, suasana desa sudah sepi. Ia berlari cepat ke tengah desa, berdiri menanti dua sahabatnya dengan dada berdebar. Namun, menit berganti jam, tak ada bayangan Pulung maupun Seba. Saat menyadari ia telah ditinggalkan, Kanekes berlari sekuat tenaga menyusuri jalan setapak menuju tempat ritual. Tetapi langkah kaki sahabat-sahabatnya sudah terlalu jauh di depan.

Kanekes akhirnya tersungkur di pinggir jalan, Napasnya tersengal-sengal. Di bawah
rimbunnya pohon besar, ia menatap telapak tangannya sendiri. Rasa bersalah yang
selama ini ia sembunyikan rapat-rapat di balik tingkah jahilnya mendadak pecah. Hari
itu, ia sebenarnya hanya ingin mematahkan ranting yang tersangkut di tangan Seba,
tetapi kecerobohannya malah melukai sahabatnya. Rasa takut yang begitu besar
membuat lidahnya kufur kata maaf, sampai akhirnya segalanya terlambat.

Sementara itu, jauh di barisan depan rombongan warga, langkah Seba mendadak
terhenti.

“Ada apa, Seba?” tanya Pulung.

Seba melihat bekas luka di tangannya, lalu menatap jalan setapak yang penuh dengan
keikhlasan warga yang berjalan menuju Seba Baduy.

“Sebab ini tentang perjalanan hati
yang bersih, Pul. Bagaimana mungkin kita menyambut ritual suci ini kalau kita
melangkah dengan dendam di dada?”

Pulung terdiam. Bayangan tawa mereka bertiga sebelum insiden itu kembali berputar di ingatannya.

Tanpa ragu, keduanya berbalik arah, berjalan melawan arus rombongan.

Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan Kanekes yang terduduk lesu.

Saat Kanekes mendongak dan melihat Seba mengulurkan tangan—tangan yang
memiliki bekas luka itu—air mata yang ditahannya akhirnya jatuh.

“Seba… Pulung… aku minta maaf,” bisik Kanekes gemetar. “Aku tidak pernah berniat
melukaimu. Aku hanya penakut. ”

Seba tersenyum tipis, meremas lembut bahu Kanekes. “Kami tahu. Ayo jalan bertiga.
Perjalanan Seba kita baru saja dimulai.” (Red)

Editor: Yudha Prawira Raksa Negara

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button