INSPIRASI, biem.co – Maka pada akhirnya, jangan ukur kepemimpinan hanya dari seberapa banyak orang yang berada di bawah sebuah jabatan. Ukurlah dari seberapa banyak orang yang tumbuh karena kepemimpinan tersebut.
Jangan ukur dari seberapa sering nama disebut ketika keberhasilan datang. Ukurlah dari seberapa besar keberhasilan itu dikembalikan kepada orang-orang yang bekerja keras.
Jangan ukur dari seberapa banyak orang yang takut ketika pemimpin hadir. Ukurlah dari seberapa banyak orang yang tetap berani berkata benar karena percaya bahwa pemimpinnya mampu mendengar.
Dan jangan ukur kepemimpinan dari seberapa besar kewenangan yang dimiliki, tetapi dari seberapa besar tanggung jawab yang bersedia dipikul.
Sebab kepemimpinan yang kehilangan rasa memiliki terhadap manusia yang dipimpinnya pada akhirnya akan kehilangan sesuatu yang sangat fundamental.
Masih mungkin ada struktur, masih mungkin ada aturan, masih mungkin ada target, masih mungkin ada instruksi, bahkan masih mungkin ada kinerja yang terlihat baik dalam laporan.
Namun ketika hubungan antara manusia dan kepemimpinan telah kehilangan kepercayaan, organisasi hanya akan berjalan secara administratif tanpa memiliki ikatan yang kuat secara emosional. Orang mungkin tetap bekerja karena kewajiban, tetapi tidak lagi bekerja karena merasa menjadi bagian dari sesuatu yang layak diperjuangkan.
Pada titik tersebut, yang tersisa hanyalah hubungan transaksional: pekerjaan ditukar dengan imbalan, kepatuhan ditukar dengan keamanan, dan kewajiban dijalankan sekadar karena struktur.
Kepemimpinan yang sejati seharusnya mampu melampaui hubungan transaksional tersebut tanpa menghilangkan profesionalitas.
Ada ruang untuk target dan kepedulian, ada ruang untuk disiplin dan empati, ada ruang untuk ketegasan dan penghormatan, serta ada ruang untuk kewenangan dan rasa kemanusiaan.
Pemimpin tidak perlu menjadi sempurna, karena tidak ada manusia yang sempurna. Namun pemimpin harus memiliki kesediaan untuk terus memperbaiki diri.
Kesalahan dalam kepemimpinan bukan sesuatu yang memalukan selama kesalahan tersebut diakui dan dijadikan bahan perbaikan. Yang memalukan adalah memiliki kewenangan besar tetapi tidak memiliki keberanian untuk mengevaluasi diri.
Pada akhirnya, leiden is lijden adalah sebuah pengingat sederhana namun keras bahwa memimpin bukan tentang mendapatkan posisi paling tinggi, melainkan bersedia mengambil tanggung jawab paling besar.
Memimpin berarti bersedia berdiri ketika keadaan sulit, bersedia menerima tekanan ketika keputusan harus diambil, bersedia mendengar ketika kritik datang, bersedia mengakui kesalahan ketika sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya, bersedia memberikan penghargaan kepada orang lain ketika keberhasilan tercapai, dan bersedia menjaga martabat manusia bahkan ketika ketegasan harus ditegakkan.
Karena itu, jika ingin menjadi pemimpin, berarti bersiaplah untuk memikul lebih banyak daripada yang diterima. Bersiaplah untuk bertanggung jawab lebih besar daripada yang diminta. Bersiaplah untuk mendengar lebih banyak daripada berbicara.
Bersiaplah untuk memberikan kepercayaan sebelum menuntut loyalitas. Bersiaplah untuk membangun rasa memiliki sebelum menuntut rasa memiliki dari orang lain. Bersiaplah untuk menjadi contoh sebelum meminta keteladanan.
Dan yang paling penting, bersiaplah untuk tetap peduli ketika keadaan tidak memberikan alasan yang mudah untuk peduli.
Sebab jabatan dapat memberikan kewenangan, tetapi hanya tanggung jawab yang memberikan makna. Jabatan dapat membuat seseorang berada di atas secara struktur, tetapi tidak otomatis membuat seseorang lebih tinggi secara moral.
Kewenangan dapat membuat seseorang mampu memerintah, tetapi tidak otomatis membuat orang lain bersedia mengikuti dengan hati. Semua itu harus diperoleh melalui integritas, keteladanan, konsistensi, dan keberanian untuk memikul konsekuensi.
Pada akhirnya, pemimpin yang sesungguhnya bukanlah yang paling banyak menuntut, melainkan yang paling siap bertanggung jawab. Bukan yang paling keras berbicara, melainkan yang paling kuat menanggung konsekuensi. Bukan yang paling tinggi posisinya, melainkan yang paling dalam rasa tanggung jawabnya. Bukan yang paling banyak menerima penghormatan, melainkan yang paling banyak memberikan ruang bagi orang lain untuk
Maka pada akhirnya, jangan ukur kepemimpinan hanya dari seberapa banyak orang yang berada di bawah sebuah jabatan. Ukurlah dari seberapa banyak orang yang tumbuh karena kepemimpinan tersebut. Jangan ukur dari seberapa sering nama disebut ketika keberhasilan datang. Ukurlah dari seberapa besar keberhasilan itu dikembalikan kepada orang-orang yang bekerja keras. Jangan ukur dari seberapa banyak orang yang takut ketika pemimpin hadir. Ukurlah dari seberapa banyak orang yang tetap berani berkata benar karena percaya bahwa pemimpinnya mampu mendengar. Dan jangan ukur kepemimpinan dari seberapa besar kewenangan yang dimiliki, tetapi dari seberapa besar tanggung jawab yang bersedia dipikul.
Sebab kepemimpinan yang kehilangan rasa memiliki terhadap manusia yang dipimpinnya pada akhirnya akan kehilangan sesuatu yang sangat fundamental. Masih mungkin ada struktur, masih mungkin ada aturan, masih mungkin ada target, masih mungkin ada instruksi, bahkan masih mungkin ada kinerja yang terlihat baik dalam laporan. Namun ketika hubungan antara manusia dan kepemimpinan telah kehilangan kepercayaan, organisasi hanya akan berjalan secara administratif tanpa memiliki ikatan yang kuat secara emosional. Orang mungkin tetap bekerja karena kewajiban, tetapi tidak lagi bekerja karena merasa menjadi bagian dari sesuatu yang layak diperjuangkan. Pada titik tersebut, yang tersisa hanyalah hubungan transaksional: pekerjaan ditukar dengan imbalan, kepatuhan ditukar dengan keamanan, dan kewajiban dijalankan sekadar karena struktur.
Kepemimpinan yang sejati seharusnya mampu melampaui hubungan transaksional tersebut tanpa menghilangkan profesionalitas. Ada ruang untuk target dan kepedulian, ada ruang untuk disiplin dan empati, ada ruang untuk ketegasan dan penghormatan, serta ada ruang untuk kewenangan dan rasa kemanusiaan. Pemimpin tidak perlu menjadi sempurna, karena tidak ada manusia yang sempurna. Namun pemimpin harus memiliki kesediaan untuk terus memperbaiki diri. Kesalahan dalam kepemimpinan bukan sesuatu yang memalukan selama kesalahan tersebut diakui dan dijadikan bahan perbaikan. Yang memalukan adalah memiliki kewenangan besar tetapi tidak memiliki keberanian untuk mengevaluasi diri.
Pada akhirnya, leiden is lijden adalah sebuah pengingat sederhana namun keras bahwa memimpin bukan tentang mendapatkan posisi paling tinggi, melainkan bersedia mengambil tanggung jawab paling besar. Memimpin berarti bersedia berdiri ketika keadaan sulit, bersedia menerima tekanan ketika keputusan harus diambil, bersedia mendengar ketika kritik datang, bersedia mengakui kesalahan ketika sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya, bersedia memberikan penghargaan kepada orang lain ketika keberhasilan tercapai, dan bersedia menjaga martabat manusia bahkan ketika ketegasan harus ditegakkan.
Karena itu, jika ingin menjadi pemimpin, berarti bersiaplah untuk memikul lebih banyak daripada yang diterima. Bersiaplah untuk bertanggung jawab lebih besar daripada yang diminta. Bersiaplah untuk mendengar lebih banyak daripada berbicara. Bersiaplah untuk memberikan kepercayaan sebelum menuntut loyalitas. Bersiaplah untuk membangun rasa memiliki sebelum menuntut rasa memiliki dari orang lain. Bersiaplah untuk menjadi contoh sebelum meminta keteladanan. Dan yang paling penting, bersiaplah untuk tetap peduli ketika keadaan tidak memberikan alasan yang mudah untuk peduli.
Sebab jabatan dapat memberikan kewenangan, tetapi hanya tanggung jawab yang memberikan makna. Jabatan dapat membuat seseorang berada di atas secara struktur, tetapi tidak otomatis membuat seseorang lebih tinggi secara moral. Kewenangan dapat membuat seseorang mampu memerintah, tetapi tidak otomatis membuat orang lain bersedia mengikuti dengan hati. Semua itu harus diperoleh melalui integritas, keteladanan, konsistensi, dan keberanian untuk memikul konsekuensi.
Pada akhirnya, pemimpin yang sesungguhnya bukanlah yang paling banyak menuntut, melainkan yang paling siap bertanggung jawab. Bukan yang paling keras berbicara, melainkan yang paling kuat menanggung konsekuensi.
Bukan yang paling tinggi posisinya, melainkan yang paling dalam rasa tanggung jawabnya. Bukan yang paling banyak menerima penghormatan, melainkan yang paling banyak memberikan ruang bagi orang lain untuk tumbuh.
Dan bukan yang sekadar memiliki jabatan, melainkan yang memahami bahwa setiap jabatan adalah amanah untuk memikul sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan dirinya sendiri.
.Dan bukan yang sekadar memiliki jabatan, melainkan yang memahami bahwa setiap jabatan adalah amanah untuk memikul sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan dirinya sendiri. (Red)
Biodata Penulis:
- Nama lengkap: Afif Fiqhi
- Alamat: Kp. Sidayu Ds. Kebon Kec. Tirtayasa Kab. Serang – Banten, 42193
- Email: [email protected]
- Atribusi/profil singkat: Penulis telah menyelesaikan pendidikan Magister Manajemen di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Memiliki pengalaman profesional di bidang sumber daya manusia pada perusahaan milik Pemerintah Provinsi Banten, serta aktif sebagai pegiat sosial dalam pengembangan sumber daya manusia, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan kolaborasi sosial. Penulis memiliki ketertarikan pada isu manajemen, pengembangan organisasi, transformasi sumber daya manusia, serta pembangunan masyarakat yang berkelanjutan.








