InspirasiOpiniTerkini

Leiden Is Lijden: Memimpin Berarti Bersedia Menderita

Oleh: Afif Fiqhi

Justru keberanian untuk mengevaluasi diri merupakan bentuk wibawa yang sesungguhnya, karena pemimpin yang matang memahami bahwa kewenangan tidak pernah membuat seseorang bebas dari kesalahan.”

INSPIRASI, biem.co – Ada sebuah ungkapan dalam bahasa Belanda yang memiliki kedalaman makna ketika ditempatkan dalam konteks kepemimpinan, yaitu leiden is lijden. Secara sederhana, leiden berarti memimpin, sedangkan lijden berarti menderita, menanggung beban, atau menjalani sesuatu yang tidak selalu mudah.

Kedekatan kedua kata tersebut seolah memberikan sebuah pengingat bahwa kepemimpinan tidak pernah benar-benar terpisahkan dari beban, pengorbanan, tekanan, dan tanggung jawab. Memimpin bukan sekadar berdiri di posisi paling depan, memiliki kewenangan untuk menentukan arah, atau mendapatkan penghormatan dari orang-orang yang berada dalam struktur di bawahnya.

Memimpin berarti bersedia menanggung konsekuensi dari setiap keputusan, menghadapi persoalan yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain, serta tetap berdiri ketika keadaan menjadi sulit dan tidak lagi memberikan kenyamanan. Karena itu, leiden is lijden bukan sekadar ungkapan tentang penderitaan, melainkan sebuah filosofi bahwa semakin besar tanggung jawab yang diterima, semakin besar pula kesediaan untuk berkorban yang seharusnya dimiliki.

Kepemimpinan sering kali terlihat indah dari luar karena yang tampak adalah jabatan, kewenangan, fasilitas, penghormatan, serta posisi strategis dalam sebuah organisasi. Namun yang sering tidak terlihat adalah beban yang berada di balik semuanya.

Ada keputusan yang harus dibuat ketika semua pilihan memiliki konsekuensi, ada masalah yang harus diselesaikan ketika sebagian orang memilih untuk menghindar, ada konflik yang harus dihadapi ketika semua pihak merasa dirinya paling benar, ada tekanan yang harus ditanggung ketika target tidak tercapai, dan ada tanggung jawab yang tetap harus dipikul bahkan ketika keberhasilan tidak datang sebagaimana yang diharapkan.

Inilah bagian dari kepemimpinan yang sering tidak dibicarakan karena tidak terlihat menarik. Padahal, justru di situlah kualitas seorang pemimpin diuji. Ketika keadaan baik, banyak orang dapat terlihat seperti pemimpin. Namun ketika keadaan sulit, ketika keputusan tidak populer harus diambil, ketika kesalahan harus dipertanggungjawabkan, dan ketika tidak ada tepuk tangan yang menunggu, pada saat itulah terlihat siapa yang benar-benar memahami arti memimpin.

Memimpin berarti bersedia menempatkan tanggung jawab di atas kenyamanan pribadi. Pemimpin tidak seharusnya hanya mengambil bagian dari kepemimpinan yang menyenangkan, seperti menerima penghormatan ketika berhasil, mendapatkan apresiasi ketika target tercapai, atau menikmati fasilitas yang melekat pada jabatan, tetapi kemudian menyerahkan bagian yang sulit kepada orang lain.

Tidak seharusnya keberhasilan disebut sebagai hasil kepemimpinan ketika seluruh penghargaan ingin diterima sendiri, sementara ketika terjadi kegagalan, kesalahan dengan cepat diarahkan kepada bawahan. Kepemimpinan yang demikian hanya menjadikan jabatan sebagai alat untuk mendapatkan keuntungan dari struktur, bukan sebagai amanah untuk bertanggung jawab terhadap manusia yang berada di dalamnya.

Sebab ketika keberhasilan dianggap sebagai hasil kerja bersama, kegagalan juga harus dipandang sebagai ruang evaluasi bersama. Bawahan tentu tetap memiliki tanggung jawab atas pekerjaan masing-masing, tetapi pemimpin memiliki tanggung jawab yang lebih besar terhadap arah, sistem, komunikasi, pembinaan, pengawasan, dan lingkungan kerja yang membentuk perilaku serta kinerja tim.

Memimpin berarti bersedia mengambil bagian paling berat dari sebuah tanggung jawab, bukan mengambil bagian paling ringan dari sebuah penghargaan. Seorang pemimpin seharusnya menjadi orang yang pertama kali bertanya apa yang dapat diperbaiki ketika sesuatu tidak berjalan dengan baik, bukan orang pertama yang mencari siapa yang harus disalahkan. Mencari kesalahan memang jauh lebih mudah daripada mencari akar persoalan.

Menunjuk orang lain membutuhkan keberanian yang relatif kecil, sedangkan bercermin dan mengakui bahwa terdapat kekurangan dalam cara memimpin membutuhkan kedewasaan yang jauh lebih besar. Karena itu, seorang pemimpin yang mampu mengatakan bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki dari cara kepemimpinannya bukan berarti kehilangan wibawa.

Justru keberanian untuk mengevaluasi diri merupakan bentuk wibawa yang sesungguhnya, karena pemimpin yang matang memahami bahwa kewenangan tidak pernah membuat seseorang bebas dari kesalahan.

Kepemimpinan yang kuat tidak dibangun dari rasa takut, tetapi dari kepercayaan. Rasa takut memang dapat membuat orang patuh, tetapi kepatuhan yang lahir dari ketakutan tidak selalu menghasilkan komitmen. Orang mungkin menjalankan tugas karena khawatir terhadap konsekuensi, tetapi belum tentu memberikan gagasan terbaik, belum tentu berani menyampaikan masalah, dan belum tentu memiliki keinginan untuk melakukan lebih dari sekadar kewajiban.

Sebaliknya, kepercayaan menciptakan ruang bagi manusia untuk bekerja dengan kesadaran. Ketika seseorang merasa dihargai, didengar, dipercaya, dan diperlakukan secara adil, muncul dorongan untuk memberikan kontribusi yang lebih besar. Karena itu, pemimpin yang hanya membangun kepatuhan akan mendapatkan orang-orang yang bekerja karena kewajiban, sedangkan pemimpin yang membangun kepercayaan memiliki peluang lebih besar untuk membangun orang-orang yang bekerja karena rasa memiliki.

Rasa memiliki atau sense of belonging tidak dapat diperintahkan melalui instruksi, tidak dapat dibentuk hanya melalui slogan, dan tidak dapat dipaksakan melalui jabatan. Rasa memiliki tumbuh dari pengalaman bahwa seseorang benar-benar dianggap sebagai bagian penting dari perjalanan organisasi.

Ketika kerja keras dihargai, rasa memiliki tumbuh. Ketika pendapat didengar, rasa memiliki tumbuh. Ketika kesalahan dikoreksi secara profesional tanpa merendahkan martabat, rasa memiliki tumbuh. Ketika seorang pemimpin hadir dalam situasi sulit dan tidak hanya muncul ketika keberhasilan sedang dirayakan, rasa memiliki tumbuh.

Sebaliknya, ketika manusia hanya dipandang sebagai angka dalam laporan, sekadar pelaksana instruksi, atau sekadar sumber daya yang dituntut menghasilkan target, rasa memiliki akan perlahan kehilangan tempatnya. Orang mungkin tetap hadir, tetap bekerja, dan tetap memenuhi kewajiban, tetapi belum tentu lagi memiliki keterikatan emosional terhadap organisasi dan perjuangannya.

Karena itu, ada sesuatu yang perlu dikatakan secara jujur dan tegas: jangan terlalu cepat menuntut rasa memiliki dari bawahan apabila kepemimpinan sendiri tidak menunjukkan rasa memiliki terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Jangan terlalu cepat berbicara tentang loyalitas ketika hubungan yang dibangun hanya sebatas tuntutan dan kewajiban. Jangan terlalu cepat mempertanyakan dedikasi ketika kontribusi manusia hanya dihargai selama menghasilkan angka yang sesuai harapan.

Jangan pula menganggap bahwa setiap bentuk kritik merupakan tanda ketidakloyalan, karena terkadang kritik justru merupakan bentuk kepedulian yang masih tersisa. Ketika seseorang masih berani menyampaikan kekurangan, masih mau mengingatkan, dan masih ingin melihat sesuatu menjadi lebih baik, sesungguhnya masih ada rasa peduli di dalamnya. Yang jauh lebih mengkhawatirkan adalah ketika orang-orang tidak lagi bersuara bukan karena semuanya baik-baik saja, melainkan karena sudah tidak percaya bahwa suaranya akan didengar.

Pemimpin yang baik tidak seharusnya takut terhadap kritik. Kritik memang tidak selalu benar, tetapi kritik selalu dapat menjadi bahan untuk melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda. Perbedaan pendapat tidak selalu berarti pembangkangan, pertanyaan tidak selalu berarti perlawanan, dan ketidaksetujuan tidak selalu berarti ketidakloyalan. Organisasi membutuhkan orang-orang yang berani berpikir, bukan sekadar orang-orang yang pandai mengangguk.

Pemimpin membutuhkan tim yang mampu menyampaikan risiko, bukan hanya mereka yang selalu membawa kabar baik. Sebab organisasi yang hanya memberikan ruang kepada persetujuan akan kehilangan kemampuan untuk mendeteksi masalah sejak dini. Pada akhirnya, semua orang mungkin terlihat patuh, tetapi persoalan dapat tumbuh di bawah permukaan tanpa pernah benar-benar dibicarakan.

Kepemimpinan yang sehat memberikan ruang bagi perbedaan tanpa kehilangan struktur. Bukan berarti semua pendapat harus diterima, bukan berarti setiap keputusan harus ditentukan melalui suara terbanyak, dan bukan berarti kewenangan menjadi tidak penting. Seorang pemimpin tetap harus mampu mengambil keputusan. Namun keputusan yang baik seharusnya lahir dari kesediaan untuk mendengar, mempertimbangkan, dan memahami konsekuensi.

Ketika keputusan telah dibuat berdasarkan pertimbangan yang matang, pemimpin harus berani bertanggung jawab terhadap keputusan tersebut. Di sinilah kepemimpinan berbeda dari sekadar kekuasaan. Kekuasaan dapat digunakan untuk memerintah, tetapi kepemimpinan menuntut kesediaan untuk menjelaskan dan mempertanggungjawabkan arah yang dipilih.

Tidak semua keputusan akan membuat semua orang senang, tiidak semua kebijakan akan mendapatkan tepuk tangan. Ada saat ketika seorang pemimpin harus memilih sesuatu yang tidak populer karena pilihan tersebut memang diperlukan untuk kepentingan yang lebih besar. Ada saat ketika standar harus ditegakkan meskipun menimbulkan ketidaknyamanan.

Ada saat ketika konsekuensi harus diberikan meskipun keputusan tersebut tidak menyenangkan secara personal. Namun ketegasan tidak boleh berubah menjadi kekerasan yang kehilangan pertimbangan. Profesionalitas tidak boleh dijadikan alasan untuk menghilangkan empati. Disiplin tidak boleh berubah menjadi penghinaan. Dan kewenangan tidak boleh menjadi pembenaran untuk memperlakukan manusia tanpa penghormatan.

Seorang pemimpin harus mampu membedakan antara keras terhadap masalah dan keras terhadap manusia. Masalah harus ditangani secara tegas, tetapi manusia tetap harus diperlakukan dengan martabat. Kesalahan harus dikoreksi, tetapi koreksi seharusnya diarahkan untuk memperbaiki, bukan untuk mempermalukan.

Pelanggaran harus memiliki konsekuensi, tetapi konsekuensi harus diterapkan secara konsisten dan adil, bukan berdasarkan kedekatan, kepentingan, atau preferensi pribadi. Karena ketika standar diterapkan secara berbeda kepada orang yang berbeda, yang rusak bukan hanya disiplin organisasi, tetapi juga rasa keadilan. Dan ketika rasa keadilan hilang, kepercayaan akan mengikuti.

Kepemimpinan yang matang tidak berarti membiarkan semua hal berjalan tanpa batas. Justru karena memiliki rasa peduli, seorang pemimpin harus berani melakukan koreksi. Rasa memiliki bukan berarti membiarkan ketidakdisiplinan. Empati bukan berarti meniadakan akuntabilitas. Kepedulian bukan berarti menghapus konsekuensi.

Sebaliknya, pemimpin yang benar-benar peduli akan berusaha memastikan bahwa standar tetap dijaga karena standar tersebut dibutuhkan untuk melindungi organisasi dan orang-orang di dalamnya. Yang membedakan adalah cara. Teguran dapat disampaikan tanpa merendahkan. Evaluasi dapat dilakukan tanpa mempermalukan. Konsekuensi dapat diberikan tanpa memperlihatkan kekuasaan secara berlebihan. Karena tujuan kepemimpinan bukan membuat manusia merasa kecil, melainkan membantu organisasi dan manusia di dalamnya menjadi lebih baik.

Salah satu bentuk penderitaan dalam kepemimpinan adalah kesediaan untuk melihat keberhasilan orang lain tanpa merasa kehilangan posisi. Pemimpin yang matang tidak merasa terancam ketika bawahan menjadi lebih kompeten, ketika anggota tim mendapatkan penghargaan, atau ketika gagasan yang lebih baik datang dari orang lain. Justru kemampuan seorang pemimpin dapat terlihat dari seberapa banyak orang yang berhasil dikembangkan selama kepemimpinannya.

Pemimpin yang baik tidak menciptakan ketergantungan, tetapi membangun kemampuan. Tidak berusaha menjadi satu-satunya sumber jawaban, tetapi membentuk orang-orang yang mampu mengambil keputusan. Tidak menjadikan dirinya pusat dari semua keberhasilan, tetapi memastikan bahwa keberhasilan dapat terus berjalan meskipun suatu hari dirinya tidak lagi berada di dalam struktur tersebut.

Karena pada akhirnya, kepemimpinan bukan tentang membuat semua orang terlihat kecil agar posisi pemimpin terlihat besar. Kepemimpinan yang sehat justru membuat orang-orang di dalamnya tumbuh semakin besar tanpa membuat pemimpin kehilangan makna. Seorang pemimpin tidak seharusnya takut ketika bawahannya berkembang.

Jika keberhasilan bawahan dianggap sebagai ancaman terhadap eksistensi pemimpin, maka yang sedang dipertahankan bukan lagi kepemimpinan, melainkan ego. Dan organisasi yang terlalu lama dibangun di atas ego seseorang akan kesulitan berkembang karena semua potensi harus melewati satu pintu, semua keputusan harus berpusat pada satu orang, dan semua keberhasilan harus kembali kepada satu nama.

Leiden is lijden juga mengandung kesediaan untuk menjadi contoh sebelum meminta orang lain menjadi contoh. Sulit menuntut disiplin apabila kepemimpinan sendiri tidak konsisten. Sulit menuntut integritas apabila keputusan sering kali berubah sesuai kepentingan. Sulit meminta tanggung jawab apabila ketika terjadi masalah selalu ada alasan untuk menghindar.

Sulit meminta loyalitas apabila kepercayaan tidak diberikan. Dan sulit meminta rasa memiliki apabila hubungan dengan bawahan hanya dibangun melalui perintah. Manusia pada akhirnya lebih banyak belajar dari apa yang dilakukan daripada apa yang dikatakan. Karena itu, keteladanan bukan pelengkap dalam kepemimpinan, tetapi fondasinya.

Seorang pemimpin boleh memiliki kemampuan komunikasi yang luar biasa, tetapi apabila perilakunya tidak sejalan dengan perkataannya, kepercayaan akan hilang. Seorang pemimpin boleh memiliki visi yang sangat besar, tetapi apabila tidak mampu menunjukkan konsistensi dalam tindakan, visi tersebut akan menjadi sekadar kalimat yang indah.

Seorang pemimpin boleh berbicara panjang tentang budaya kerja, tetapi budaya yang sesungguhnya akan terlihat dari cara manusia diperlakukan ketika melakukan kesalahan, ketika menyampaikan kritik, ketika berbeda pendapat, dan ketika keberhasilannya tidak lagi dibutuhkan. Karena kepemimpinan yang sebenarnya bukan apa yang terlihat ketika banyak orang sedang memperhatikan, melainkan apa yang tetap dilakukan ketika tidak ada yang melihat.

Ada pula bentuk penderitaan lain yang sering tidak terlihat, yaitu kesediaan untuk tetap hadir ketika keadaan tidak memberikan keuntungan apa pun. Ketika organisasi sedang menghadapi tekanan, seorang pemimpin tidak boleh hanya muncul ketika semuanya sudah selesai. Ketika tim sedang mengalami kesulitan, seorang pemimpin tidak cukup hanya mengirimkan instruksi.

Kehadiran bukan berarti harus menyelesaikan semua pekerjaan bawahan, tetapi menunjukkan bahwa persoalan tersebut tidak dibiarkan menjadi beban yang harus ditanggung sendirian. Kadang-kadang manusia tidak selalu membutuhkan jawaban yang sempurna. Mereka membutuhkan kepastian bahwa ketika keadaan sulit, kepemimpinan tidak menghilang.

Kepemimpinan yang hadir tidak selalu berarti melakukan segala sesuatu. Justru pemimpin harus tetap mampu memberikan ruang agar tim bertanggung jawab terhadap tugasnya. Namun ada perbedaan antara memberikan tanggung jawab dan melepaskan tanggung jawab. Pemimpin yang memberikan tanggung jawab akan berkata, “Ini bagian yang harus diselesaikan, dan saya memastikan dukungan tersedia.”

Pemimpin yang melepaskan tanggung jawab hanya berkata, “Itu urusan kalian.” Keduanya mungkin terdengar sama-sama memberikan kewenangan, tetapi dampaknya sangat berbeda. Yang pertama membangun kemandirian, sedangkan yang kedua dapat menciptakan rasa ditinggalkan.

Karena itu, semakin tinggi posisi kepemimpinan, semakin besar pula risiko kehilangan kontak dengan realitas di lapangan. Informasi yang sampai ke atas dapat berubah, laporan dapat terlihat lebih baik daripada kenyataan, persoalan dapat diperkecil, dan suara orang-orang di bawah dapat hilang di tengah struktur. Seorang pemimpin harus bersedia turun bukan untuk mencari kesalahan, tetapi untuk memahami keadaan.

Harus bersedia bertanya bukan hanya “berapa hasilnya?”, tetapi juga “apa yang menghambat?”, “apa yang dibutuhkan?”, dan “apa yang belum pernah disampaikan?” Terkadang percakapan sederhana dapat membuka persoalan yang tidak pernah muncul dalam rapat formal. Kepemimpinan tidak selalu membutuhkan pidato panjang; terkadang kepemimpinan membutuhkan kesediaan untuk duduk, mendengar, dan memahami.

Pada titik inilah sense of belonging kembali menemukan tempatnya. Orang akan lebih mudah merasa menjadi bagian dari organisasi ketika mereka melihat bahwa kepemimpinan tidak hanya peduli terhadap hasil, tetapi juga terhadap proses yang dilalui manusia untuk mencapai hasil tersebut.

Target tetap penting. Kinerja tetap penting. Produktivitas tetap penting. Tetapi di balik semuanya terdapat manusia yang memiliki keterbatasan, aspirasi, tekanan, kebutuhan, dan harapan. Mengakui aspek manusia bukan berarti menurunkan standar profesional. Justru memahami manusia membantu pemimpin menemukan cara yang lebih efektif untuk membangun kinerja yang berkelanjutan.

Jangan salah memahami bahwa kepedulian berarti kelemahan. Pemimpin yang mampu berempati bukan berarti pemimpin yang mudah dipengaruhi. Pemimpin yang mampu mendengar bukan berarti pemimpin yang tidak mampu mengambil keputusan. Pemimpin yang memahami kesulitan bawahan bukan berarti pemimpin yang membenarkan semua kesalahan.

Justru kemampuan untuk tetap objektif setelah memahami persoalan merupakan bentuk kedewasaan. Seorang pemimpin dapat berkata, “Saya memahami kondisi ini,” sekaligus berkata, “Namun standar tetap harus dipenuhi.” Dua hal tersebut tidak bertentangan. Kepemimpinan yang matang mampu menggabungkan kemanusiaan dengan akuntabilitas.

Pada akhirnya, yang paling berbahaya bukanlah pemimpin yang tegas, tetapi pemimpin yang tidak konsisten. Ketegasan masih dapat dipahami ketika standar berlaku sama kepada semua orang. Yang sulit diterima adalah ketika standar berubah tergantung siapa yang berhadapan dengan kewenangan.

Ketika kedekatan menentukan perlakuan, ketika hubungan pribadi menentukan konsekuensi, atau ketika kesalahan tertentu dianggap besar sementara kesalahan yang sama diabaikan karena dilakukan oleh orang yang berbeda, maka organisasi sedang menghadapi masalah yang lebih besar daripada sekadar disiplin. Organisasi sedang menghadapi krisis keadilan. Dan ketika keadilan mulai dipertanyakan, rasa memiliki akan perlahan menghilang.

Pemimpin harus memahami bahwa orang-orang memperhatikan lebih banyak daripada yang terlihat. Mereka memperhatikan bagaimana keputusan dibuat, bagaimana penghargaan diberikan, bagaimana kesalahan diperlakukan, bagaimana konflik diselesaikan, dan siapa yang mendapatkan perlindungan ketika terjadi masalah.

Tidak semua hal dibicarakan secara terbuka, tetapi bukan berarti tidak diperhatikan. Karena itu, konsistensi menjadi sangat penting. Kepemimpinan tidak dapat meminta kepercayaan sambil menunjukkan perilaku yang membuat orang ragu. Tidak dapat berbicara tentang kebersamaan sambil menciptakan jarak. Tidak dapat meminta orang mengutamakan organisasi ketika kepemimpinan sendiri terlihat lebih mengutamakan kepentingan pribadi.

Jangan menginginkan kursinya jika tidak siap dengan bebannya. Jangan menginginkan penghormatannya jika tidak siap menerima kritik. Jangan menginginkan kewenangannya jika tidak siap menanggung konsekuensinya. Jangan menginginkan loyalitasnya jika tidak siap memberikan kepercayaan. D

an jangan menginginkan rasa memiliki dari orang lain jika diri sendiri tidak memiliki rasa peduli terhadap orang-orang yang dipimpin. Karena sangat mudah menjadi pemimpin ketika yang terlihat hanya fasilitas dan kewenangan, tetapi tidak semua orang bersedia menjadi pemimpin ketika yang harus dihadapi adalah tekanan, konflik, kesalahan, dan tanggung jawab.

Memimpin bukan tentang seberapa tinggi seseorang berdiri dalam struktur organisasi, tetapi tentang seberapa besar beban yang bersedia dipikul tanpa kehilangan integritas. Jabatan mungkin membuat seseorang memiliki kewenangan untuk memberikan instruksi, tetapi kepemimpinan membuat seseorang bertanggung jawab terhadap dampak dari instruksi tersebut.

Jabatan dapat membuat seseorang berada di depan secara struktural, tetapi karakter membuat orang lain bersedia berjalan bersamanya. Jabatan dapat membuat seseorang dihormati karena posisi, tetapi keteladanan membuat seseorang dihormati karena pribadi. Karena itu, kepemimpinan tidak pernah cukup hanya dengan surat keputusan atau struktur organisasi. Kepemimpinan harus dibuktikan setiap hari melalui tindakan.

Pada akhirnya, setiap jabatan akan berakhir. Struktur akan berubah, posisi akan berganti, kewenangan akan berpindah, dan orang-orang yang hari ini berada di satu tempat akan menjalani perjalanan yang berbeda pada waktunya. Ketika semua itu terjadi, yang tersisa bukanlah jabatan, melainkan jejak.

Orang mungkin tidak mengingat seluruh rapat yang pernah dipimpin, seluruh instruksi yang pernah diberikan, atau seluruh target yang pernah dicanangkan. Namun orang akan mengingat bagaimana rasanya berada dalam sebuah kepemimpinan. Apakah pernah merasa dipercaya, dihargai, didengarkan, dibantu, dikembangkan, dan diperlakukan secara adil. Karena pengalaman manusia terhadap kepemimpinan sering kali jauh lebih melekat daripada kata-kata yang pernah disampaikan.

Itulah sebabnya warisan seorang pemimpin bukan hanya tentang pencapaian organisasi, tetapi juga tentang manusia yang tumbuh selama kepemimpinan tersebut berlangsung. Jika setelah sebuah masa kepemimpinan berakhir terdapat orang-orang yang menjadi lebih kompeten, lebih berani mengambil tanggung jawab, lebih matang dalam berpikir, dan lebih siap untuk memimpin, maka ada sesuatu yang telah diwariskan.

Sebaliknya, jika yang tertinggal hanya ketakutan, ketergantungan, konflik, dan rasa tidak percaya, maka pencapaian sebesar apa pun perlu kembali dipertanyakan maknanya. Sebab organisasi yang sehat bukan hanya organisasi yang mampu menghasilkan angka, tetapi juga organisasi yang mampu membangun manusia.

Leiden is lijden pada akhirnya bukan ajakan untuk mencari penderitaan, melainkan pengingat bahwa kepemimpinan memiliki harga yang harus dibayar. Harga itu berupa kesediaan untuk menahan ego ketika keputusan membutuhkan objektivitas, menerima kritik ketika sesuatu tidak berjalan baik, mengakui kesalahan ketika memang terdapat kekeliruan, menghadapi konflik ketika semua orang memilih mencari aman, dan tetap hadir ketika keadaan tidak memberikan keuntungan pribadi. Kepemimpinan menuntut keberanian untuk melakukan apa yang benar meskipun tidak selalu populer, serta kesediaan untuk menanggung konsekuensi dari keputusan yang telah diambil.

Karena itu, memimpin berarti bersedia menderita dalam pengertian yang paling bermartabat: bersedia menempatkan tanggung jawab di atas kenyamanan, kepentingan bersama di atas ego pribadi, dan keberlanjutan organisasi di atas kepentingan sesaat. Penderitaan dalam kepemimpinan bukan sesuatu yang harus dipamerkan untuk mendapatkan simpati. Ia justru sering berlangsung dalam diam.

Ada beban yang tidak diketahui bawahan, ada keputusan yang tidak pernah diceritakan, ada tekanan yang tidak perlu dipublikasikan, dan ada pengorbanan yang cukup disimpan sebagai bagian dari tanggung jawab. Pemimpin tidak membutuhkan panggung untuk menunjukkan bahwa dirinya berkorban. Jika memang kepemimpinan dijalankan dengan tulus, pengorbanan akan terlihat melalui konsistensi.

Maka pada akhirnya, jangan ukur kepemimpinan hanya dari seberapa banyak orang yang berada di bawah sebuah jabatan. Ukurlah dari seberapa banyak orang yang tumbuh karena kepemimpinan tersebut. Jangan ukur dari seberapa sering nama disebut ketika keberhasilan datang.

Ukurlah dari seberapa besar keberhasilan itu dikembalikan kepada orang-orang yang bekerja keras. Jangan ukur dari seberapa banyak orang yang takut ketika pemimpin hadir. Ukurlah dari seberapa banyak orang yang tetap berani berkata benar karena percaya bahwa pemimpinnya mampu mendengar. Dan jangan ukur kepemimpinan dari seberapa besar kewenangan yang dimiliki, tetapi dari seberapa besar tanggung jawab yang bersedia dipikul.

Sebab kepemimpinan yang kehilangan rasa memiliki terhadap manusia yang dipimpinnya pada akhirnya akan kehilangan sesuatu yang sangat fundamental. Masih mungkin ada struktur, masih mungkin ada aturan, masih mungkin ada target, masih mungkin ada instruksi, bahkan masih mungkin ada kinerja yang terlihat baik dalam laporan.

Namun ketika hubungan antara manusia dan kepemimpinan telah kehilangan kepercayaan, organisasi hanya akan berjalan secara administratif tanpa memiliki ikatan yang kuat secara emosional. Orang mungkin tetap bekerja karena kewajiban, tetapi tidak lagi bekerja karena merasa menjadi bagian dari sesuatu yang layak diperjuangkan. Pada titik tersebut, yang tersisa hanyalah hubungan transaksional: pekerjaan ditukar dengan imbalan, kepatuhan ditukar dengan keamanan, dan kewajiban dijalankan sekadar karena struktur.

Kepemimpinan yang sejati seharusnya mampu melampaui hubungan transaksional tersebut tanpa menghilangkan profesionalitas. Ada ruang untuk target dan kepedulian, ada ruang untuk disiplin dan empati, ada ruang untuk ketegasan dan penghormatan, serta ada ruang untuk kewenangan dan rasa kemanusiaan.

Pemimpin tidak perlu menjadi sempurna, karena tidak ada manusia yang sempurna. Namun pemimpin harus memiliki kesediaan untuk terus memperbaiki diri. Kesalahan dalam kepemimpinan bukan sesuatu yang memalukan selama kesalahan tersebut diakui dan dijadikan bahan perbaikan. Yang memalukan adalah memiliki kewenangan besar tetapi tidak memiliki keberanian untuk mengevaluasi diri.

Pada akhirnya, leiden is lijden adalah sebuah pengingat sederhana namun keras bahwa memimpin bukan tentang mendapatkan posisi paling tinggi, melainkan bersedia mengambil tanggung jawab paling besar. Memimpin berarti bersedia berdiri ketika keadaan sulit, bersedia menerima tekanan ketika keputusan harus diambil, bersedia mendengar ketika kritik datang, bersedia mengakui kesalahan ketika sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya, bersedia memberikan penghargaan kepada orang lain ketika keberhasilan tercapai, dan bersedia menjaga martabat manusia bahkan ketika ketegasan harus ditegakkan.

Karena itu, jika ingin menjadi pemimpin, berarti bersiaplah untuk memikul lebih banyak daripada yang diterima. Bersiaplah untuk bertanggung jawab lebih besar daripada yang diminta. Bersiaplah untuk mendengar lebih banyak daripada berbicara. Bersiaplah untuk memberikan kepercayaan sebelum menuntut loyalitas. Bersiaplah untuk membangun rasa memiliki sebelum menuntut rasa memiliki dari orang lain. Bersiaplah untuk menjadi contoh sebelum meminta keteladanan. Dan yang paling penting, bersiaplah untuk tetap peduli ketika keadaan tidak memberikan alasan yang mudah untuk peduli.

Sebab jabatan dapat memberikan kewenangan, tetapi hanya tanggung jawab yang memberikan makna. Jabatan dapat membuat seseorang berada di atas secara struktur, tetapi tidak otomatis membuat seseorang lebih tinggi secara moral. Kewenangan dapat membuat seseorang mampu memerintah, tetapi tidak otomatis membuat orang lain bersedia mengikuti dengan hati. Semua itu harus diperoleh melalui integritas, keteladanan, konsistensi, dan keberanian untuk memikul konsekuensi.

Pada akhirnya, pemimpin yang sesungguhnya bukanlah yang paling banyak menuntut, melainkan yang paling siap bertanggung jawab. Bukan yang paling keras berbicara, melainkan yang paling kuat menanggung konsekuensi. Bukan yang paling tinggi posisinya, melainkan yang paling dalam rasa tanggung jawabnya. Bukan yang paling banyak menerima penghormatan, melainkan yang paling banyak memberikan ruang bagi orang lain untuk tumbuh. Dan bukan yang sekadar memiliki jabatan, melainkan yang memahami bahwa setiap jabatan adalah amanah untuk memikul sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan dirinya sendiri. (Red)

 

Afif Fiqhi, Penulis telah menyelesaikan pendidikan Magister Manajemen di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Memiliki pengalaman profesional di bidang sumber daya manusia pada perusahaan milik Pemerintah Provinsi Banten, serta aktif sebagai pegiat sosial dalam pengembangan sumber daya manusia, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan kolaborasi sosial. Penulis memiliki ketertarikan pada isu manajemen, pengembangan organisasi, transformasi sumber daya manusia, serta pembangunan masyarakat yang berkelanjutan.

Editor: Nadila Alsadila

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button