CERPEN, biem.co – Pantai Harfat di Pulau Misool selalu terlihat indah saat matahari bersinar. Air laut yang jernih berkilau terkena cahaya matahari. Suara ombak terdengar pelan dari kejauhan, membuat suasana desa terasa tenang. Bagi warga desa, Pantai Harfat bukan hanya tempat untuk mencari ikan. Pantai itu sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Pada suatu pagi, Siti sedang membantu keluarganya mempersiapkan upacara Bakar Batu. Warga desa sudah mulai sibuk sejak matahari terbit. Ada yang mengumpulkan kayu, menyusun batu, dan menyiapkan makanan. Semua orang bekerja bersama karena Bakar Batu adalah tradisi yang penting bagi desa mereka.
“Siti, tolong bawa kayu ini ke sana!” Teriak Bapa Markus, ayah Siti.
“Iya, Bapa!” jawab Siti.
Siti membawa beberapa kayu dan meletakkannya di dekat tempat upacara. Setelah itu, ia kembali ke dekat hutan untuk mencari kayu lagi.
Saat sedang mengumpulkan ranting, Siti tiba-tiba merasa seperti ada seseorang yang sedang melihatnya.
Ia berhenti.
Siti menoleh ke belakang.
Tidak ada siapa-siapa.
Ia melihat ke kanan dan kiri. Hanya ada pohon-pohon tinggi dan daun yang bergerak terkena angin.
“Perasaan sa saja,” gumam Siti.
Ia kembali mengumpulkan kayu.
Namun, tiba-tiba angin bertiup sangat kencang.
Whoosh!
Daun-daun berterbangan dan ranting-ranting pohon bergerak dengan keras. Siti langsung berdiri dan melihat ke arah hutan.
Untuk sesaat, ia merasa melihat seseorang berdiri di antara pohon-pohon.
Siti menyipitkan matanya.
“Siapa di sana?”
Tidak ada jawaban.
Bayangan itu tiba-tiba menghilang.
Siti merasa takut. Ia segera mengambil kayu yang sudah dikumpulkannya dan berlari kembali ke desa.
Keesokan paginya, warga sudah berkumpul untuk memulai upacara Bakar Batu. Makanan sudah disiapkan dan batu-batu sudah disusun. Namun, ada satu masalah.
Kepala warga tidak datang.
“Dari tadi sa tidak lihat kepala warga,” kata salah satu warga.
“Sa juga tidak lihat. Mungkin dia masih di rumah,” jawab warga lainnya.
Beberapa warga pergi mencarinya. Mereka memeriksa rumahnya, pantai, kebun, dan jalan di sekitar desa. Namun, kepala warga tidak ditemukan.
Siti mulai merasa tidak tenang.
Tiba-tiba, Mama Maria datang dengan wajah panik.
“Siti! Dina juga tra ada!”
Siti langsung terkejut.
“Dina?”
Adik Siti, Dina, juga menghilang.
Warga mulai mencari mereka berdua. Suasana desa yang sebelumnya ramai berubah menjadi penuh rasa takut.
Siti mencoba mengingat apa yang terjadi malam sebelumnya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
“Bapa,” kata Siti kepada ayahnya, “sa ada lihat kepala warga tadi malam.”
Bapa Markus langsung melihatnya.
“Ko lihat di mana?”
“Di dekat hutan. Dia sedang baku marah dengan seseorang.”
“Ko bisa lihat siapa orangnya?”
Siti menggeleng.
“Tidak jelas. Tapi sa tahu itu laki-laki.”
Bapa Markus berpikir sebentar.
“Kita harus cari tahu.”
Siti dan Bapa Markus pergi menuju hutan. Mereka berjalan pelan sambil memanggil nama Dina dan kepala warga.
“Dina!”
“Kepala warga!”
Tidak ada jawaban.
Mereka terus berjalan lebih dalam.
Setelah beberapa menit, Siti melihat sesuatu di tanah.
“Bapa, tunggu!”
Ia berjongkok dan mengambil benda kecil dari antara daun-daun.
Sebuah kalung.
Siti langsung mengenalinya.
“Itu kalung kepala warga!”
Bapa Markus melihat kalung itu.
“Ko yakin?”
“Iya. Kepala warga selalu pakai kalung ini. Sa tidak pernah lihat dia lepas.”
Mereka saling melihat.
Kalung itu berarti kepala warga pernah berada di tempat tersebut.
“Bapa, menurut Bapa apa yang terjadi?”
“Sa tidak tahu. Tapi kita harus terus cari.”
Saat mereka hendak berjalan lagi, tiba-tiba terdengar suara dari belakang.
“Jangan masuk terlalu dalam!”
Siti dan Bapa Markus langsung berbalik.
Mama Maria berdiri di belakang mereka. Wajahnya terlihat pucat.
“Ko berdua pulang saja,” katanya.
“Tapi Dina dengan kepala warga masih hilang,” jawab Siti.
“Sa bilang pulang!”
Siti terkejut mendengar suara ibunya.
“Mama tahu sesuatu?”
Mama Maria tidak menjawab.
Ia hanya berkata, “Hutan ini tra aman. Lebih baik torang pulang.”
Siti merasa semakin bingung.
Mengapa Mama Maria sangat takut?
Setelah kembali ke rumah, Mama Maria meminta Siti dan Bapa Markus untuk tidak pergi lagi. Karena terlalu lelah, Mama Maria akhirnya tertidur.
Siti melihat ayahnya.
“Bapa,” bisiknya, “kita harus kembali.”
Bapa Markus Mengangguk.
Mereka menunggu sampai Mama Maria benar-benar tertidur. Setelah itu, mereka kembali masuk ke hutan.
Kali ini mereka menemukan jejak kaki di tanah. Jejak itu terlihat baru dan mengarah semakin jauh ke dalam hutan.
Mereka mengikutinya dengan hati-hati.
Tidak lama kemudian, Siti mendengar suara orang berbicara.
“Bapa, itu suara orang!”
Mereka bersembunyi di balik pohon dan melihat ke depan.
Siti langsung terkejut.
“Dina!”
Dina dan kepala warga berada di sebuah tempat kecil di antara pohon. Mereka masih selamat, tetapi ada seorang laki-laki yang menjaga mereka.
Siti melihat laki-laki itu dengan jelas.
“Bapa,” bisiknya, “itu orang yang sa lihat baku marah dengan kepala warga malam itu.”
Bapa Markus mengangguk pelan.
Mereka mencoba mendekat.
Namun, tiba-tiba kaki Siti menginjak ranting kering.
Krek!
Laki-laki itu langsung menoleh.
“Siapa di sana?”
Siti panik.
“Bapa, lari!”
Laki-laki itu mengejar mereka. Bapa Markus berdiri di depan Siti untuk melindunginya. Namun, sebelum keadaan menjadi lebih buruk, kepala warga berteriak.
“Sudah! Jangan kejar mereka!”
Laki-laki itu berhenti.
Kepala warga kemudian melihatnya.
“Ko sebenarnya mau apa?”
Laki-laki itu diam sebentar.
“Sa cuma mau ko dengar sa,” katanya.
“Apa maksud ko?”
“Keputusan ko membuat keluarga sa kehilangan tempat untuk menanam. Kebun itu sudah keluarga sa gunakan sejak dulu. Sa sudah coba bicara dengan ko, tapi ko tra dengar.”
Kepala warga terdiam.
Siti mulai mengerti apa yang terjadi.
Laki-laki itu bukan ingin membuat masalah. Ia hanya merasa marah karena tidak didengarkan.
Kepala warga kemudian berkata,
“Sa minta maaf.”
Laki-laki itu menatapnya.
“Seharusnya sa dengar ko dan ko pung keluarga dulu sebelum ambil keputusan. Sa terlalu cepat membuat keputusan sendiri.”
Laki-laki itu menunduk.
“Sa juga salah. Sa terlalu marah sampai bawa ko dengan Dina ke sini.”
Dina yang sejak tadi diam akhirnya berkata,
“Kalau dari awal torang bicara baik-baik, mungkin tra perlu sampai begini.”
Semua orang terdiam.
Kata-kata Dina membuat mereka berpikir.
Mereka akhirnya kembali ke desa bersama-sama.
Saat melihat Dina dan Siti, Mama Maria langsung berlari dan memeluk mereka.
“Syukur Tuhan! Mama kira kalian kenapa-kenapa!”
Dina memeluk ibunya.
“Maaf, Mama.”
“Yang penting kalian sudah kembali.”
Setelah keadaan menjadi lebih tenang, kepala warga mengumpulkan semua orang di desa. Ia menjelaskan apa yang terjadi.
Ia juga meminta maaf kepada laki-laki tersebut karena tidak mau mendengarkan masalah keluarganya. Laki-laki itu juga meminta maaf karena membawa kepala warga dan Dina ke dalam hutan.
Warga kemudian membicarakan masalah kebun tersebut bersama-sama. Mereka mencari cara agar keluarga laki-laki itu tetap bisa memiliki tempat untuk menanam tanpa mengganggu kebutuhan warga lainnya.
Akhirnya, masalah itu mulai selesai.
Menjelang sore, upacara Bakar Batu akhirnya dimulai.
Api menyala di tengah desa. Warga berkumpul bersama dan menyiapkan makanan. Suasana yang sebelumnya penuh rasa takut kembali menjadi tenang.
Siti duduk di samping Dina sambil melihat api.
Pagi tadi, ia hanya berpikir tentang orang-orang yang hilang. Sekarang ia mengerti bahwa masalah mereka sebenarnya dimulai dari hal yang sederhana: seseorang merasa tidak didengarkan.
Siti melihat kepala warga berbicara dengan laki-laki itu di dekat api.
Ia tersenyum kecil.
Hari itu, Siti belajar bahwa marah tidak selalu membuat masalah menjadi selesai. Kadang-kadang, masalah bisa selesai jika kita mau mendengarkan orang lain.
Angin sore berhembus pelan dari arah Pantai Harfat. Suara ombak terdengar seperti biasa.
Namun, bagi Siti, hari itu terasa berbeda.
Ia tidak akan pernah melupakan misteri yang terjadi di hutan.
Bukan karena orang-orang yang menghilang.
Tetapi karena dari kejadian itu, ia belajar bahwa setiap orang memiliki cerita yang perlu didengarkan.
Dan terkadang, satu percakapan yang jujur bisa mencegah sebuah masalah menjadi jauh lebih besar. (Red)






