Terkini

Yang Hilang Dari Keilmuan Kita: Keberkahan

Oleh: Ega Jalaludin

biem.co – Empat hari lalu, seusai salat Ashar di selasar musala Universitas ………., empat cangkir kopi hitam panas menemani duduk melingkar kami berempat. Obrolan mulanya cair dan sepele, dari urusan tanggal tua, anekdot harian, hingga selentingan soal melonjaknya angka perceraian di Kota Serang.

Namun, canda tawa itu perlahan menyurut ketika percakapan berbelok menabrak sebuah paradoks yang getir: mengapa orang-orang dengan deretan gelar mentereng di panggung akademis kerap menjadi aktor utama kejahatan kerah putih dan korupsi?

Dengan nada satire yang menohok, salah satu rekan di selasar berseloroh, “Ilmunya bahkan tak sanggup menyelamatkan dirinya sendiri.” Pernyataan itu terasa jujur sekaligus menampar. Realitas ini tak hanya kita tonton di panggung politik nasional yang bising, tetapi juga merayap halus ke ruang-ruang kerja dan birokrasi harian. Kita begitu sering menjumpai sosok pimpinan dengan deretan titel mentereng, tetapi membawakan gaya kepemimpinan yang dingin, kaku, dan seolah kehilangan rasa kemanusiaan.

Obrolan sore itu akhirnya berubah menjadi cermin besar bagi kami berempat. Sebuah pertanyaan mendasar menggantung di udara: ada apa sebenarnya dengan cara kita menuntut ilmu selama ini? Kami hanya bisa saling tatap, terdiam, dan pelan-pelan mengakui sebuah kenyataan pahit, kami sendiri belum benar-benar tahu di mana akar masalahnya.

Jika ditarik ke lanskap yang lebih luas, kita memang makin sering disuguhkan anomali yang sama: orang pintar, tapi jahat. Bagi saya, ini bukan lagi sekadar khilaf sesaat atau kelalaian persona yang bisa dimaklumi. Ini sudah jadi krisis nurani yang sistemik.

Pepatah Arab yang sering kita dengar mengingatkan, likulli syai’in sababa, segala sesuatu pasti ada sebabnya. Tidak ada asap tanpa api. Ketika seseorang yang terpelajar justru nekat berbuat jahat, penulis rasa itu bukan peristiwa kebetulan, melainkan buah dari adanya sesuatu yang keliru dalam proses ia menimba dan memperlakukan ilmunya selama ini.

Tengok saja bagaimana seorang ahli hukum yang menguasai seluk-beluk pasal, justru sibuk merancang celah dan akrobat regulasi demi melapangkan jalan kekuasaan kerabatnya (ini bukan tentang Gibran), atau oknum penegak hukum yang di atas kertas bersumpah atas nama integritas, tetapi ugal-ugalan memaksakan jerat hukum demi kepentingan politik praktis (ini bukan soal Nadiem Makariem). Kita juga menyaksikan teknokrat yang menyusun kebijakan publik bernilai triliunan rupiah seperti program bantuan pangan hingga proyek koperasi tetapi dalam eksekusinya di lapangan justru melukai rasa keadilan dan memakan korban rakyat kecil (bukan soal >50.000 anak keracunan).
Bahkan di tingkat yang paling dekat dengan keseharian kami, mata kami dibuat mengelus dada melihat oknum akademisi yang rela menjajakan jasa joki skripsi, tesis dan disertasi mahasiswa bimbingannya demi pundi-pundi rupiah.

Kita sedang menyaksikan keretakan hebat antara tingginya kapasitas kognitif dan rapuhnya integritas moral. Mengapa ’kejahatan berpendidikan’ ini terus berulang? Di mana letak salah (jika kita ingin mencari sebab) proses pencarian ilmu ini?

Jawaban atas kebingungan di selasar musala itu perlahan menemukan celahnya. Salah satu kolega, yang juga kebetulan seorang Kiai berseloroh santai namun menohok: “Pendidikan itu bukan cuma urusan transfer ilmu, bapak-bapak. Tapi juga soal keberkahan.” Kalimat sederhana itu tentu saja menghentak kami berempat.

Ya, Keberkahan: sebuah konsep transendental yang kian asing dan terpinggirkan dalam lanskap pendidikan modern kita yang selama ini melulu mengejar angka, hitungan utilitas, dan formalitas gelar. Jangan-jangan (sebab dari semua akibat ini) ketika nilai keberkahan itu menguap dari proses menuntut ilmu, maka kecerdasan yang tersisa hanyalah alat yang dingin, serakah, dan tak lagi memiliki jiwa.

Akhirnya, untuk satu kata itu lah: ”Keberkahan” tulisan ini dibuat. Semoga mampu memberikan pencerahan dan tentu saja semoga menjadi bagian dari amal jariyah penulis.
___________
Ada sebuah perdebatan klasik dalam ilmu pengetahuan: ”Ketika pintar tak otomatis berbuat baik.” Sejarah pemikiran Barat sudah lama berkutat dengan diksi ini. Sokrates dulu sangat optimis: menurutnya, ilmu itu sejalan dengan kebaikan. Kalau seseorang tahu mana yang benar, otomatis ia akan berbuat benar. Sayangnya, sejarah membuktikan janji itu sering meleset.

Berbeda dengan Immanuel Kant dalam Critique of Practical Reason yang mengingatkan bahwa akal budi yang canggih (pure reason) tidak serta-merta melahirkan tindakan yang etis tanpa adanya kesadaran kewajiban dan kehendak baik (good will).

Faktanya, ketika ilmu kehilangan fondasi moral dan transendensi, terjadilah apa yang disebut Theodor Adorno dan Max Horkheimer sebagai Dialectic of Enlightenment, di mana akal budi yang sejatinya lahir untuk membebaskan manusia dari kegelapan, malah berbalik menjadi instrumen penindasan dan manipulasi yang dingin.

Kondisi ini makin diperparah oleh iklim pendidikan modern yang menuhankan angka. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), jumlah artikel di jurnal bereputasi, dan skor sitasi dijadikan tolok ukur tunggal keberhasilan seorang cendekia. Sementara pembentukan karakter, penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), dan adab dikesampingkan begitu saja karena tak bisa dihitung secara statistik.

Dalam tradisi Islam, sependek yang penulis yakini, ilmu tak pernah hanya sekedar tumpukan data, wacana, atau ketangkasan kognitif. Ilmu adalah nur (cahaya) yang dipancarkan Allah swt ke dalam hati yang bersih. Tepatnya di sinilah kunci itu berada: keberkahan (barakah), yakni hadirnya kebaikan yang terus bertambah dan melimpah (ziyadatul khair). Dalam konsep Islam, ilmu yang berkah tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga menundukkan ego, memperhalus adab, serta menggerakkan pemiliknya untuk memberi manfaat bagi sesama. Tanpa keberkahan, yang tersisa dari proses belajar hanyalah cangkang luar: gelar mentereng, tumpukan publikasi, jabatan, dan reputasi.

Menuntut ilmu akhirnya bergeser dari penyucian jiwa menjadi ajang komodifikasi intelektual yang secara masif dikejar demi akumulasi modal, status sosial, atau sekadar pemuas kesombongan.

Dalam Al-Qur’an, sindiran menohok tentang figur berilmu tinggi yang roboh oleh hawa nafsunya Allah SWT abadikan setidaknya dalam Surah Al-A’raf ayat 175–176:
“Bacakanlah (Nabi Muhammad) kepada mereka (tentang) berita orang yang telah Kami anugerahkan ayat-ayat Kami kepadanya. Kemudian, dia melepaskan diri dari (ayat-ayat) itu, lalu setan mengikutinya (dan terus menggodanya) sehingga dia termasuk orang yang sesat. ~ Seandainya Kami menghendaki, niscaya Kami tinggikan (derajat)-nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung pada dunia dan mengikuti hawa nafsunya. Maka, perumpamaannya seperti anjing. Jika kamu menghalaunya, ia menjulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya, dia menjulurkan lidahnya (juga). Demikian itu adalah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka, ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (QS. Al-A’raf: 175–176)

Tafsir Wajiz pada Ayat 175: Ayat yang lalu mengisyaratkan bahwa keesaan Allah melekat pada diri manusia, sehingga seharusnya secara fitrah mereka beriman. Tetapi ternyata ada yang durhaka. Di sini Allah mengumpamakan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat yang diturunkan kepada rasul-Nya, dan berkata, “Bacakanlah wahai Nabi Muhammad, kepada mereka, berita atau kisah tentang orang yang telah Kami berikan ayat-ayat Kami kepadanya, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, tidak mempedulikannya dan tidak mengamalkan pesan ayat-ayat itu, melepaskan apa yang melekat pada dirinya bagaikan ular melepaskan kulitnya, maka dia diikuti oleh setan sampai dia tergoda, sehingga jadilah dia termasuk kelompok orang yang sesat.”

Sementara Tafsir Wajiz pada Ayat 176: “Ayat ini menguraikan keadaan siapa pun yang melepaskan diri dari pengetahuan tentang ke-Esa-an Allah yang telah dimilikinya. Allah menyatakan, “Dan sekiranya Kami menghendaki untuk mengangkat derajatnya ke golongan orang baik niscaya Kami tinggikan derajat-nya dengan memberinya petunjuk untuk mengamalkan ayat-ayat yang Kami turunkan itu. Akan tetapi dia selalu cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsu keinginannya yang rendah dengan penuh antusias. Maka perumpamaan keadaan-nya yang selalu berada dalam gundah gulana dan sibuk mengejar hawa nafsu duniawi, persis seperti anjing yang selalu menjulurkan lidahnya. Jika engkau menghalaunya dijulurkan lidahnya dan begitu pula jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya juga. Begitu jugalah seorang budak dunia, selalu tergila-gila dengan kesenangan dan hawa nafsu duniawi. Sesungguhnya demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat yang Kami turunkan. Maka, ceritakanlah wahai Nabi, kisah-kisah itu kepada kaummu agar mereka berpikir sehingga tidak melakukan apa yang dilakukan oleh yang dikecam ini.”

Bagi penulis, kedua ayat ini begitu menggetarkan. Ternyata, dalam konsep islam pengetahuan yang melimpah sama sekali tak menaikkan derajat seseorang jika hatinya sudah terikat pada pragmatisme duniawi (ikhlada ilal-ardli). Nabi SAW sendiri secara khusus mengajarkan doa agar terhindar dari krisis ini:

Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Salah satu doa yang biasa diucapkan Nabi SAW adalah: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari doa yang tidak didengar, dari hati yang tidak khusyuk, dan dari jiwa yang tidak pernah puas.” (HR. Ibnu Majah No. 250).

Imam Al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah membagi penuntut ilmu ke dalam beberapa golongan. Beliau menggarisbawahi bahwa siapa pun yang menuntut ilmu demi megah-megahan, popularitas, dan kekuasaan maka ia sedang berjalan menuju kebinasaan dan ilmu itu kelak tidak akan menjadi penyelamat (hujjatun lahu), melainkan menjadi dakwaan yang menuntut dirinya di hadapan Sang Pencipta (hujjatun ‘alaihi).

Al-Ghazali memberikan nasihat kepada para pembelajar agar senantiasa meluruskan niat dalam menuntut ilmu. Menurutnya, pencari ilmu terbagi menjadi tiga golongan besar, dan hanya satu di antaranya yang benar-benar beruntung di sisi Allah swt.

Pertama adalah Pencari Ilmu karena Allah swt. Golongan ini adalah mereka yang menuntut ilmu semata-mata untuk mencari rida Allah SWT dan menjadikannya bekal menuju akhirat. Mereka belajar dengan hati yang ikhlas, menjadikan ilmu sebagai sarana untuk mengenal Allah, memperbaiki diri, dan memberi manfaat bagi sesama. Al-Ghazali menyebut golongan ini sebagai orang-orang yang beruntung. Sebab, ilmu yang dituntut dengan niat suci akan menjadi cahaya yang menerangi hati dan amal perbuatan. Mereka yang menuntut ilmu dengan niat seperti ini akan diberi keberkahan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat.

Kedua, Pencari Ilmu karena Dunia. Golongan ini adalah mereka yang menuntut ilmu untuk mendapatkan kemuliaan dunia seperti jabatan, kehormatan, atau kekayaan. Mereka sadar bahwa niatnya salah, namun belum mampu meninggalkan dorongan itu. Al-Ghazali menilai golongan ini berada dalam keadaan berbahaya. Mereka belum binasa, tetapi berada di tepi jurang kebinasaan. Jika Allah memberikan hidayah sehingga mereka bertaubat dan memperbaiki niat, maka mereka akan termasuk orang-orang yang beruntung. Namun, jika ajal datang sebelum sempat bertaubat, (takutnya) mereka akan mati dalam keadaan su’ul khatimah (akhir yang buruk). Beliau mengingatkan bahwa ilmu tanpa keikhlasan dapat menjadi petaka, bukan kemuliaan.
“Orang yang bertobat dari dosanya seperti orang yang tidak memiliki dosa.” (HR Ibnu Majah). Hadits ini menjadi pengingat bahwa pintu tobat selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin meluruskan niat dan menjadikan ilmunya sebagai amal saleh.

Terakhir atau yang Ketiga adalah Pencari Ilmu yang Diperdaya Setan. Golongan ketiga ini lah yang paling berbahaya. Mereka menuntut ilmu hanya untuk memuaskan nafsu dan kepentingan pribadi. Ilmu dijadikan alat untuk mencari pengaruh, kekayaan, dan kekuasaan. Mereka merasa mulia karena pengetahuan yang dimiliki, bahkan mengira dirinya dekat dengan Allah swt, padahal hatinya jauh dari keikhlasan. Al-Ghazali menyebut mereka sebagai ulama su’ (ulama jahat/orang pandai yang jahat), yaitu orang yang tertipu oleh setan dan sulit bertaubat karena merasa sudah menjadi orang baik.

Allah swt berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?” (QS As-Shaff: 2). Nabi SAW pun bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas umatku bukanlah Dajjal, tetapi para ulama/orang pandai yang jahat.” (HR Ahmad)

Rasulullah menilai ulama/orang pandai yang jahat lebih berbahaya daripada Dajjal karena mereka menyesatkan dengan ucapan yang indah namun perbuatan yang menipu. Ucapannya mengajak zuhud, tetapi kehidupannya bergelimang dunia. Anjurannya di mimbar penuh kebaikan, tetapi sifat dan karakternya eksploitatif.

Imam al-Ghazali berpesan: “Wahai para penuntut ilmu, jadikanlah dirimu termasuk golongan pertama. Waspadalah jangan sampai engkau termasuk golongan kedua, karena banyak orang yang meninggal sebelum bertaubat. Dan jauhilah golongan ketiga, sebab mereka telah terjerumus ke jurang kebinasaan yang sulit diselamatkan.”
Imam al-Ghazali kemudian mengakhiri bahasannya dengan nasihat, indah sekali: “Ilmu itu ibarat pohon, amal adalah buahnya. Pohon tanpa buah tidak memberi manfaat. Maka siramilah akarnya dengan keikhlasan.” Dengan demikian, setiap pencari ilmu, baik di pesantren, sekolah, maupun perguruan tinggi, perlu selalu menata niat, agar ilmunya menjadi cahaya, bukan api yang membakar dirinya sendiri (di dunia dan akhirat).

Pada akhirnya, kita mendapati sebuah muara pemikiran yang lugas: kemanfaatan ilmu berpaut erat dengan keberkahannya. Penulis pikir ini bukan sekadar perbincangan teologis yang melayang di awan-awan, melainkan cermin yang dampaknya langsung terpantul pada gerak-gerik seorang yang terpelajar.

Hukumnya teramat tegas dan tanpa kompromi: jika ilmu tak sanggup menyelamatkan pemiliknya, maka ia sendiri yang akan menyeretnya menuju kebinasaan (hujjatun ‘alaihi).

Analogi sederhananya, ketika keberkahan itu sirna, ilmu tak lagi menjadi lentera, melainkan berubah bentuk menjadi racun halus yang menggerogoti jiwa. Dari sanalah lahir penyakit-penyakit nurani: rasa kagum berlebihan pada diri sendiri (’ujub), keangkuhan intelektual (takabur), rasa iri yang mengintai (hasad), hingga kemudian melakukan perbuatan tercela (madzmum). Kepakaran yang mulia perlahan didegradasi menjadi komoditas transaksional.

Riset-riset ilmiah dan idealis dengan mudah dibeli demi amplop, pundi-pundi finansial, atau takhta kekuasaan, yang jika melewati batas, tidak jarang kemudian menjerumuskannya dalam jeruji besi karena kejahatan yang dilakukannya. Pada akhirnya, nyata benar ungkapan kolega saya, ”ilmunya bahkan tidak mampu menyelamatkannya.”

Last but not least, setidaknya, ada dua retakan utama yang dapat penulis kemukakan yang dapat dikorelasikan dengan pertanyaan filosofis, Kenapa Ruh Ilmu Menguap? Penulis menganggap bahwa kehilangan arah ini tidak terjadi dalam sekejap. Setidaknya ada dua penyakit kronis yang menggerogoti lanskap pendidikan kita.

Pertama adalah Sekularisasi Keilmuan. Sistem pendidikan modern kerap terjebak dalam dogma bahwa ilmu itu netral dan bebas nilai (value-free). Garis batas antara kecakapan konsep maupun teknis dan panduan etis diputus paksa. Hasilnya, bangku perguruan tinggi melahirkan ribuan sosok tangkas yang lihai secara teknis, namun buta secara moral. Dapat kita analogikan seperti seseorang yang sangat mahir dalam ilmu akuntansi dan manajemen keuangan, namun kecerdasannya justru dipakai untuk merancang pola manipulasi pembukuan; atau seorang sarjana hukum yang begitu logis menafsirkan undang-undang, namun keahliannya ia salah gunakan untuk menyusun regulasi yang menjerat rakyat kecil dan memola kejahatan. Dalam korporasi, misalkan, seorang manajer handal lulusan universitas ternama dengan sederet gelar akademis dan gelar profesi, kecakapannya digunakan untuk meng-eksploitasi pegawai dan men-de-humanisasi pekerja.

Kedua adalah Fasad an-Niyyah (niat awal yang salah). Dalam islam, niat adalah kompas penentu. Ketika niat awal menuntut ilmu sudah terjangkit dahaga akan panggung pengakuan (riya’), pamer kemewahan status sosial, atau sekadar memburu akumulasi kekayaan, maka sejak detik itulah berkah ilmu menguap tanpa sisa.

Dalam hal ini Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari dalam Al-Hikam memberikan cermin yang jernih: ”seluruh amal perbuatan hanyalah kerangka fisik yang kaku. Ruhnya terletak pada rahasia keikhlasan yang terpatri di relung hati.”

Pada akhirnya, penulis ingin mengajak pembaca untuk bersama-sama menyelamatkan tradisi keilmuan dari jebakan komodifikasi yang ada dengan sama-sama melakukan pembenahan yang mendasar dan menyeluruh. Adab harus dikembalikan sebagai fondasi utama sebelum seseorang menimpa dirinya dengan segudang wacana. Sebagaimana pesan abadi Imam Malik kepada muridnya: “Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.” Adab adalah cawan penampungnya; jika cawannya retak atau kotor, setuang apa pun ilmu disiramkan, ia hanya akan tumpah berceceran dan tercemar.

Para akademisi, dosen, dan penuntut ilmu juga perlu jeda mengambil waktu untuk ber-muhasabah: Untuk apa sebenarnya semua gelar, tulisan, dan kepakaran ini ditumpuk?

Ilmu harus disucikan kembali sebagai jalan pengabdian kepada Sang Pencipta dan wujud pelayanan tulus bagi kemaslahatan manusia. Kecerdasan pikiran dan ketajaman rasa harus dipagari oleh kecerdasan spiritual. Sehingga muaranya akan sampai pada kesadaran bahwa setiap lembar buku yang dibaca, makalah yang ditulis, dan setiap kebijakan yang dirancang kelak akan dipertanggungjawabkan secara presisi di hadapan Penguasa Semesta adalah benteng kokoh yang mencegah keahlian berubah menjadi senjata penindas.

Penulis pikir, mengarahkan kembali persepsi pada keberkahan (barakah) bukanlah bentuk romantisme masa lalu atau sikap anti-modernitas, melainkan langkah eksistensial untuk menyelamatkan ilmu pengetahuan dari kebangkrutan moral. Sebab, ilmu yang diberkahi tidak pernah bermuara pada kesombongan; ia bermekar menjadi kerendahan hati, membentengi pemiliknya dengan integritas yang teguh, dan mengalir menjadi muara kebaikan bagi diri sendiri dan masyarakat luas. Wallahu a’lam


Penulis adalah Advokat pada Kantor Hukum EJR dan Dosen pada Universitas Primagraha. Penulis dapat dihubungi melalui email [email protected] atau WA. 081380333400 atau Instagram @ejr.law

Editor: Irwan Yusdiansyah

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button