INSPIRASI, biem.co – Menurut hemat saya, pertanyaan pada judul ini perlu ditelusuri dari tahap paling awal, sebelum pembacaan dimulai, yakni prakondisi yang disiapkan seorang pembaca puisi ketika hendak membacakan puisi. Dugaan saya, gaya mengurung makna ketika gaya disiapkan lebih dulu daripada makna.
Karena itu, dalam workshop FLS3N Tingkat Nasional, saya bertanya kepada 35 peserta: prakondisi apa yang mereka siapkan sebelum membacakan puisi? Beberapa di antara mereka menuturkan bahwa latihan mereka bermula dari pembenahan modal pembaca seperti vokal, ekspresi, dan gestur, lalu langsung membacakan puisi, mengulanginya dalam latihan membaca, dan menerima catatan dari para pelatih. Proses semacam itu tentu mungkin saja dapat ditempuh. Penafsiran teks, misalnya, dapat berlangsung serentak dengan latihan fisik dan mendesain baca. Dengan kata lain, dari jawaban mereka saya menangkap anggapan bahwa prosesnya tidak harus berjalan runtut tahap demi tahap seperti pada umumnya, yakni memilih teks yang cocok dengan pembaca, menafsirkan maknanya, mendesain pembacaan, lalu berlatih hingga menemukan keutuhan dan keselarasan.
Namun begitu, tahapan yang tidak runtut berisiko menghasilkan pembacaan yang kurang bersih dan kurang detail ketika pembacaan itu dianggap selesai. Risiko itu tampak pada penampilan mereka. Dari 35 peserta yang mewakili provinsi itu, umumnya penampilan mereka sudah baik. Katakanlah, vokalnya memadai, ekspresi dan penghayatannya terasa. Akan tetapi, tafsir atas puisinya masih terasa kurang tepat, sehingga makna puisi terganggu oleh gaya yang dibawakannya.
Ada pula yang sebaliknya. Tafsirnya sudah mendekati makna puisi, tetapi gestur, ekspresi-penghayatan, dan intonasinya belum menjadi bagian dari jiwa puisi yang dibacakan. Dengan kata lain, unsur-unsur itu tidak selaras dengan maknanya. Bahkan masih saja ditemukan gestur-tangan yang berusaha menjelas-jelaskan isi puisinya sehingga keutuhan pembacaan tidak tercapai. Ada intonasi dengan teknik teriak-teriak pada bagian teks tertentu yang justru memecah makna hingga maknanya berubah. Ada pula bibir yang dilengkungkan ke bawah, yang dianggap ekspresi autentik, lalu dipakai sepanjang pembacaan, padahal puisi tidak seragam.
Dua gejala itu berakar pada hal yang sama: gaya dan makna disiapkan sendiri-sendiri. Pada gejala pertama, gaya sudah jadi sebelum tafsirnya matang. Pada gejala kedua, tafsirnya ada, tetapi gaya tidak tumbuh darinya. Di situlah gaya mengurung makna, sebab penonton hanya menerima makna sejauh yang diizinkan oleh gaya itu.
Lantas bagaimana mengupayakan kejernihan dalam membacakan puisi? Saya mengajukan tiga hal: memahami lomba yang diikuti, mengawali proses dari tafsir, dan mengupayakan modal fisik yang selaras dengan puisi.
Keinginan Menang Saja Tidak Cukup
Mengejar kemenangan memang bukan tujuan yang sepenuhnya keliru dalam mengikuti lomba. Namun, keliru pula jika kemenangan dijadikan penggerak utama keikutsertaan kita. Ketika kemenangan menjadi penggerak utama, pembaca mudah tergoda mengejar gaya yang tampak “menang” dan melupakan puisinya. Yang perlu disadari, mengikuti lomba adalah upaya menguji keutuhan peserta, dari diri kita sebagai pembaca, tahapan proses yang kita tempuh, hingga desain pembacaan atas puisi yang dilombakan.
Lomba tidak bisa diikuti dengan bersandar pada “mudah-mudahan saya”, bertumpu pada “saya yakin”, atau mengandalkan keberuntungan. Yang pertama-tama bisa disiapkan peserta adalah pengetahuan tentang lomba. Hal ini kerap dianggap remeh, bahkan digeneralisasi, seolah-olah lomba baca puisi akan selalu sama. Padahal, lomba menjadi berbeda ketika penyelenggara menerapkan proposisi tertentu dalam menyelenggarakannya.
Pengetahuan tentang lomba dapat dimaknai sebagai proses memahami petunjuk teknis (juknis) serta meriset para pemenang sebelumnya dan melacak dewan juri yang menilai. Juknis penting karena memuat proposisi penyelenggara, yakni rumusannya tentang definisi dan tujuan lomba baca puisi yang diadakannya, sekaligus aturan dan butir-butir penilaiannya. Kita bisa membuat sebuah pengandaian. Tafsir seorang peserta sudah mendekati, penghayatan, vokal, dan gesturnya sudah baik, akan tetapi ia melenceng dari aturan. Apakah mungkin ia akan menang? Kita sudah paham nasib peserta tersebut, bukan?
Ciri khas para pemenang pun penting dipelajari, sebab ciri itu lahir dari sistem kurasi para juri. Mempelajari tidak sama dengan meniru. Yang dicari adalah ukuran yang dipakai juri, bukan gaya yang bisa disalin, sebab gaya salinan itulah yang kelak mengurung makna.
Memang, sebagian juri masih memakai parameter selera dalam menilai, dan selera kerap dianggap tidak bisa ditebak. Akan tetapi, menurut Pierre Bourdieu, selera terbentuk dari habitus, dan habitus dapat dimaknai sebagai skema berpikir, bersikap, dan bertindak yang kerap muncul tanpa disadari karena terbentuk melalui pengalaman sosial jangka panjang. Bagi saya, itu berarti selera dapat dilacak, sebab ia sesungguhnya memperlihatkan bentangan pengetahuan yang diperoleh para juri. Dari sini pula kita dapat menggolongkan mereka, apakah juri datang dari golongan praktisi, akademisi, atau orang yang dipilih dari luar untuk memberi tinjauan yang berbeda. Di samping itu, tidak sedikit juri yang bertumpu pada referensi dan arsip.
Oleh karena itu, keinginan menang saja tidak cukup untuk mengikuti lomba, apalagi lomba berskala nasional. Dengan mempelajari pengetahuan tentang lomba, peserta dan pelatih tahu ukuran apa yang dipakai. Protes atas hasil lomba yang kurang esensial pun dapat diminimalkan dan dikembalikan pada refleksi yang lebih produktif.
Awali Proses Baca Puisi dari Tafsir, Desain Kemudian
Setelah memahami lombanya, barulah kita masuk ke puisinya. Menafsirkan puisi untuk dibacakan tidak cukup dengan bertanya apa isi dan makna puisi itu. Pertanyaan tersebut baru pintu masuk. Agar tafsir lebih lengkap, kita juga perlu memperjelas jenis puisi yang dilombakan dan gaya bahasa yang dipakainya. Bila perlu, kita melacak pula biografi penyair dan pandangannya tentang puisi yang ia tulis.
Jenis dan gaya bahasa penting karena keduanya menentukan cara sebuah puisi meminta dibacakan. Puisi yang bercerita, misalnya, menuntut alur dan tempo yang berbeda dari puisi liris yang merenung. Begitu pula gaya bahasa. Sebuah ironi akan kehilangan maknanya jika dibacakan dengan intonasi dan penghayatan yang hanya mengikuti arti harfiah teksnya. Ironi menuntut pembaca melacak subteks, yaitu teks tersembunyi di balik teks yang tampak. Dengan mengenali jenis dan gaya bahasa, pembaca tahu nada apa yang sedang ia hadapi sebelum memutuskan cara menyuarakannya.
Biografi dan pandangan penyair membantu kita menguji tafsir itu. Mengetahui siapa penulisnya, kapan dan dalam keadaan apa puisi itu lahir, serta apa yang pernah ia katakan tentang puisinya membuat tafsir kita tidak berhenti pada dugaan. Bahan ini tidak menggantikan pembacaan atas teks. Ia berfungsi sebagai pembanding: apakah makna yang kita tangkap masih berpijak pada puisi, atau sudah terlalu jauh dari sana.
Sudah menjadi kesepakatan bersama bahwa tafsir adalah fondasi dalam mendesain pembacaan. Yang kerap tertinggal adalah praktiknya, seperti tampak pada jawaban para peserta tadi. Desain pembacaan sendiri dapat disederhanakan sebagai proses mengolah dan menyajikan makna, serta menginternalisasi teks dalam pembacaan. Mengolah berarti memutuskan bagian mana yang ditekankan, di mana jeda diambil, dan bagaimana tempo diatur. Menyajikan berarti menghadirkan keputusan itu lewat modal vokal, ekspresi, gestur, dan intonasi. Menginternalisasi berarti membuat teks menjadi milik pembaca, sehingga ekspresinya tumbuh dari pemahaman dan tidak sekadar ditempelkan.
Karena itu, urutannya sebaiknya tidak dibalik: tafsir dulu, desain kemudian. Latihan fisik boleh berjalan beriringan dengan tafsir, tetapi desain yang disusun tanpa tafsir tidak punya makna untuk diolah, sehingga yang tersaji hanyalah teknik. Di situlah muncul gestur yang sibuk menjelas-jelaskan teks, atau teriakan yang justru memecah makna. Sebaliknya, ketika tafsir sudah kokoh, setiap pilihan dalam desain punya alasan, dan pembacaan lebih mungkin mencapai keutuhan dan keselarasan.
Mengupayakan Modal Fisik
Menempatkan tafsir di depan tidak berarti modal fisik boleh diabaikan. Beberapa peserta melatih vokal, ekspresi, dan gestur agar tampak ideal. Latihan itu perlu, sebab ketiganya adalah modal dasar seorang pembaca puisi. Namun, latihan kerap berhenti pada kesan: suara yang berwibawa, gerak yang berkarisma, raut yang tegas. Yang lebih mendasar justru terlewat, yaitu kejelasan, kewajaran, dan kecocokan dengan tubuh sendiri.
Mengupayakan vokal yang bulat dan berwibawa itu baik, tetapi artikulasi lebih mendasar. Puisi sampai kepada penonton lewat kata, dan kata yang tidak terdengar jelas tidak tertolong oleh suara seindah apa pun. Melatih gestur tertentu agar tampak berkarisma, misalnya mengangkat tangan ke atas, bisa saja perlu. Akan tetapi, lebih penting menempatkan gestur yang wajar pada bagian yang memang memintanya, karena gestur baru bermakna ketika lahir dari konteks teks. Demikian pula ekspresi. Memahami dasar-dasar ekspresi yang tegas mencitrakan perasaan tertentu itu baik, tetapi ekspresi itu harus diselaraskan dengan garis muka sendiri. Bentuk wajah, posisi alis, jenis mata, dan bibir setiap orang berbeda, sehingga ekspresi yang sama bisa terbaca lain pada wajah yang lain. Ketika sebuah ekspresi baku tidak cocok dengan wajahnya, pembaca perlu mencari alternatif yang menyampaikan perasaan yang sama dengan lebih selaras.
Ketiga latihan fisik itu juga perlu diselaraskan satu sama lain agar tidak menimbulkan kejanggalan. Tubuh yang kecil dengan gerak tangan yang lebar, bukaan kaki yang terlalu besar, dan vokal yang dibesar-besarkan, misalnya, akan tampak dipaksakan. Pilihan semacam itu baru masuk akal bila teks puisinya memang menghendaki. Jika tidak, yang terjadi adalah miskomunikasi: perhatian penonton dan juri beralih dari puisi ke usaha pembacanya, sehingga yang mereka tangkap berbeda dari yang hendak disampaikan.
Teknik vokal, ekspresi, dan gestur penting untuk menciptakan variasi dalam desain pembacaan. Namun, teknik bukan tujuan, dan tidak semua teknik cocok untuk setiap puisi. Suasana, perasaan, dan latar dalam puisi sering berubah dari bait ke bait. Karena itu, stakato yang dipakai berlebihan, apalagi sepanjang pembacaan, justru meratakan perubahan itu dan menjadi percuma. Hal yang sama berlaku untuk vokal yang digetar-getarkan agar terasa seperti mantra, juga untuk lengkingan, teriakan, dan bisikan. Semuanya hanya berguna pada puisi yang memang membutuhkannya. Ukurannya adalah kebutuhan teks, bukan kesanggupan pembaca memamerkan teknik.
Dengan demikian, modal fisik diupayakan untuk menyelaraskan diri dengan puisi, bukan untuk mengejar bentuk yang ideal. Dengan cara itu pembaca memaksimalkan potensinya dan menghasilkan desain pembacaan yang wajar, yang dapat diterima penonton secara logis dan mengena.
Maka, kembali ke pertanyaan pada judul tulisan ini. Gaya baca puisi mengurung makna ketika ia disiapkan lebih dulu daripada tafsir, dipinjam dari pemenang, atau dipasang tanpa menimbang tubuh pembacanya sendiri. Sebaliknya, ketika pembaca memahami lombanya, mengawali proses dari tafsir, dan menyelaraskan modal fisiknya dengan puisi, gaya tidak lagi mengurung. Ia mengantarkan makna kepada penonton. (Red)








