CerpenInspirasi

Serial Ramadhan: 30 Hari Menafsir Kehidupan (Bagian 3)

Episode Panggilan Azan

Kisah sebelumnya 

 

KENING Adi berkerut. Suhu udara saat adzan waktu Asar berkumandang terasa sangat menyengat. Adi melirik layar smartphone-nya, angka 32o terbaca jelas di sana.

 

Ramadhan tahun ini hadir di musim kemarau yang panas, meski beberapa minggu sebelumnya, langit sempat menurunkan rintik hujan sebagai isyarat rasa sayang dari Sang Khalik kepada manusia dan mahluk ciptaan-Nya.

 

Azan selesai berkumandang, dengan langkah yang diseret Adi berjalan menuju masjid. Dari cara dia berjalan, tampak jelas, Adi tengah dilanda malas untuk segera memenuhi panggilan Allah itu.

 

“Panas sekali udara ini, untung masjid tidak terlalu jauh dari rumah,” gumamnya seraya menyeka keringat yang mulai bertengger di pelipisnya.

 

Kaki Adi baru saja menyentuh lantai masjid, kumandang iqomat sebagai pertanda bahwa shalat wajib akan segera dimulai, sehingga Adi tidak sempat melakukan shalat sunah apapun.

 

Empat rakaat sudah dikerjakan Adi bersama jamaah lain. Kini dirinya berjalan bergandengan dengan Bang Iman, sang muadzin yang tadi mengumandangkan adzan dan iqomat.

 

Sebuah tepukan akrap mendarat di bahu Adi. “Lain kali kalau datang ke masjid lebih awal, supaya bisa melaksanakan shalat sunnah,” ujar Bang Iman.

 

“Iya, Bang,” jawab Adi kikuk.

 

“Ente tahu, Di? Bergegas mendatangi panggilan shalat adalah salah satu ciri orang bertakwa. Sebagaimana tujuan kita berpuasa pada Ramadhan, adalah agar kita semua menjadi orang yang bertakwa,” lanjut Bang Iman.

 

Adi mengangguk paham. Perkataan Bang Imam membuat ingatannya melambung pada hal yang pernah diucapkan Kang Pri padanya, salah seorang dosen yang dikenalnya ketika masih kuliah dulu.

 

Kang Pri pernah mengatakan bahwa Allah memanggil kita dengan tiga jenis panggilan. Dua macam  panggilan selalu diulang setiap hari dan setiap tahun, dan satu panggilan yang hanya di lakukan satu kali pada setiap manusia selama hidupnya di dunia.

 

Panggilan yang setiap hari diulang adalah panggilan shalat lima waktu yang ditujukan kepada diri pribadi manusia agar segera mendatanginya, dan panggilan yang diulang setiap tahun adalah panggilan untuk melaksankan ibadah Haji ke baitullah Makkah Al-Mukaromah.

 

Sedangkan panggilan yang dilakukan hanya satu kali dan tidak diulang adalah panggilan kematian sebagai kepastian yang akan menimpa setiap mahluk hidup di dunia.

 

“Dik…,’ tegur Bang Iman.

 

“Oh…, iya, Bang..” Adi terperanjat.

 

“Kok bengong?” tanya Bang Iman.

 

Adi tersenyum pias. “Ah, nggak juga, Bang, kebetulan tadi saya sedang mengingat perkataan salah seorang dosen yang saya kenal ketika di kampus dulu,” jawab Adi sembari membenarkan letak kopiah di kepalanya, yang sejatinya tidak berpindah posisi dari tadi. “Beliau pernah membahas tentang jenis-jenis panggilan yang Allah lakukan kepada seluruh manusia,” terang Adi.

 

Tidak terasa, obrolan mereka harus disudahi, Adi dan Bang Imam telah sampai di pertigaan jalan dalam komplek yang mengharuskan mereka berpisah. Adi mengambil arak ke kanan jalan, dan rumah bang Iman berada di arah kiri jalan.

 

“Oke, deh, Bang sampai jumpa magrib nanti, assalamu’alaikum,” ucap Adi.

 

“Iya, insya Allah nanti kita bertemu lagi. wa’alaikum salam,” balas Bang Iman.

***

Di tengah kesendirian menuju rumahnya yang tak begitu jauh dari pertigaan tersebut, Adi kembali terkenang beberapa perkatan Kang Pri yang masih membekas dalam benaknya.

 

Kang Pri pernah beujar tentang kebiasaan sebagian besar orang yang mengaku mengerti ilmu agama, namun ketika mereka sedang melakukan aktivitas lebih sering menganggap remah panggilan azan, sekalipun kantor atau ruangannya berdekatan dengan masjid atau musholla. Bahkan pengeras suara dari masjid terdengar sangat jelas. “Kadar ketakwaan seseorang bisa dilihat dari hal yang tampak remeh seperti bagaimana sikapnya dalam menjawab panggilan azan, Di. Apakah bersegera atau menjawabnya dengan lambat.”

 

Saya akan berusaha bersegera memenuhi panggilan azan, dan kalau memungkinkan akan bersiap beberapa saat sebelum kumandang adzan memanggil, Kang Pri, batin Adi dalam hatinya.

(Bersambung)


Penulis: Boyke Pribadi

Editor: Setiawan Chogah

Editor :

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *