ResensiReview

Resensi Buku: A Thousand Miles in Broken Slippers

Judul Buku: A Thousand Miles in Broken Slippers

Penulis: Rosi L Simamora

Penerbit: Gramedia

Tahun Terbit: 2016 (Cetakan Pertama)

Tebal: 194

Genre: Novel Inspiratif 

 

Sepenggal Paris dan Seonggok Sandal Usang

Teruntuk:

mereka yang di malam hari tak pernah lelah bermimpi, dan yang di pagi hari cukup berani untuk bangun dan mengejar mimpi-mipi itu; entah dengan mengenakan sepatu mahal, ataupun hanya beralaskan sandal usang.

Ya, begitulah buku ini diawali. Sekelumit kalimat itu ditulis Leo Consul, selebritas asal Philipina yang meraih popularitas di Indonesia saat ini. Cerita ini memang tentang impian-impian Leo, masa kecil Leo yang mengenaskan, dan bagaimana setiap jengkal kisah hidupnya ditulis apik dan menggugah oleh Rosi L Simamora. Kisahnya benar-benar dikemas sangat epik.

Impian. Harapan. Keyakinan. Setidaknya itulah yang menjadikan sosok Leo dalam kisah ini begitu sangat mengharukan. Dimulai dengan prolog Februari 2014, mengisahkan Leo yang berhasil sampai ke Paris dengan ikon Menara Eifelnya. Mengapa Paris? Ini menjadi kisah tersendiri.    

“Bagaimanapun kami sedang menuju Paris. Menara Eiffel. Dan salju; impian yang telah lama kubiarkan merajai angan-anganku. Ah, ada sesuatu yang teramat menghidupkan dari mimpi yang menjadi kenyataan. Apalagi jika mimpi itu terasa begitu jauh dan tak pernah terbayangkan bakal tercapai.” (Hal.viii)

Sejak bab pertama, buku setebal 194 halaman ini dirajut untuk menggiring emosi pembaca dan menyimpulkan beberapa hal yang membekas di benak. Antara lain tentang perwujudan mimpi. Seperti yang tertera di halaman 8. “Sanggupkah aku memberitahu rahasiaku kepadanya? Bahwa aku datang dari keluarga miskin dan Paris sangat tidak mungkin untuk kuraih, dan justru karena itu aku…menyasarnya.”

Ini tentang mimpi seorang anak yang lahir dalam keluarga miskin serta jauh dari sempurana. Mimpi seorang anak yang telah belajar tegar menghadapi ribuan penolakan bahkan ketika dirinya masih ada di dalam kandungan. Bagi pembaca yang masih menerka-nerka apa yang harus diperjuangkan dari sebuah impian, buku ini layak dibaca.

Super Ayah

Hidup memang berliku dan berduri. Leo yang memang anak hasil perselingkuhan sang ibu dengan lelaki lain untuk alasan supaya bisa menyambung hidup, kerap jadi bulan-bulanan masyarakat sekitar yang melabelinya sebagai anak haram. Ini membuat Leo menanggung jauh lebih berat di luar dari kemiskinan yang menggerogoti lembaran hidupnya. Belum lagi saudara-saudaranya yang lain yang tak pernah jemu bersikap kasar. Belum lagi sang ibu yang seolah sangat acuh pada keberadaannya.

Beruntunglah Leo memiliki ayah meski bukan ayah kandung, yang memberinya limpahan kasih sayang dan menganggapnya sebagai darah dagingnya sendiri. Dengan perisai nasihat-nasihat yang dibisikkan sang ayah, Leo terus bertarung. “Meskipun kakiku hanya berlapis sepasang sandal yang perlahan menipis bersama setiap langkahku, memberi kakiku yang kecil dan kotor kesempatan untuk menciumi setiap senti tanah Bolinao, membawaku ke sekolah, ke tempatku menggali jalan-jalan keluar menuju dunia lewat bebrabagi turnamen dan perlombaan yang kumenangi.” Perihal ini simak halaman 12.

Dia mungkin saja tidak berasal dari  darah dan dagingku. Namun di dalam hatiku, dia anak kandungku. Begitulah ucapan Ernesto Consul, ayah tiri Leo Konsul yang dikutip dalam buku ini oleh sang penulis. Lalu kemana ayah kandung Leo? Hmm, ada baiknya baca saja buku ini yang juga mengulas sedikit Aleejandro Caasi Jr alias June, seseorang yang mengganti nama Leo yang sebelumnya Glenn Mark Consul, agar supaya Leo sekuat macan. Lelaki itu adalah ayah kandung Leo.

Popularitas di Jakarta

Kehidupan Leo di Jakarta dimulai dengan niat kuat mengikuti rekannya pergi ke Jakarta menjadi guru. Meskipun Leo lulusan Komunikasi Media, ia sangat berhasrat menjajaki dunia hiburan. Menjadi ekspatriat bukanlah hal mudah. Jika tidak memiliki perpanjangan izin tinggal, Leo kerap bermain petak umpet dengan petugas untuk datang menangkapnya dan mengembalkikannya ke negara asal.

Lika-liku Leo di Indonesia hingga mencapai ranah hiburan cukup berat. Leo sempat menjadi guru di PSB International School dan berkenalan dengan pria baik hati bernama Ismail Abdul Samat dan istrinya Habiba Samat. Di sekolah ini, Leo yang merupakan guru paling muda, sangat disukai murid.

Namun Leo memutuskan untuk menjajaki entertainment yang membuatnya jatuh cinta sejak dahulu. Ia sempat mengikuti audisi dari Sony BMG dan mengisi tempat kosong untuk anggota boyband XO-IX. Setelah enam bulan latihan dan rekaman, impiannya harus kandas. Pihak manajemen menyatakan menolak melibatkan Leo dalam syuting music video karena tidak bersedia mengeluarkan uang untuk membersekan dokumen izin tinggal di Indonesia.

Leo Eat Bulaga Indonesia terus sampat di inbox. Ini enjaidkannya diunadang ke Philipina karena Eat Bulaga tayangan sudah puluhan tahun eksis dan francvhise di berbagai negara. Di Philpina Leo dielu-elukan sebagai orang yang berhasil. Namun bukan erarti dunai entertainment Philipina cukup ram,ah menerima Leo. Leo sempat ingin menjajaki dunia hiburan di sana tapi ditawari mulai dari nol. Akhirnya Leo memutuskan kembali ke Indonesia dan menjajaki dunia hiburan di sini. Antara lain menjadi host infotainment dan reality show. Bagaimana kelanjutannya? Hmmm, langsung nikmati saja lembar demi lembar buku ini.  

Sandal Jepit

Buku ini menyajikan dua hal yang sangat kontras, sandal jepit dan Menara Eiffel. Meski begitu tetap memiliki hubungan yang sangat erat. Setidaknya mengajarkan dan menginspirasi pembaca untuk tidak takut bermimpi atau mewujudkan mimpi walaupun hanya beralas sandal usang namun tetap bisa mengunjungi Eiffel suatu saat nanti. Tidak ada yang tidak mungkin bukan jika terus berusaha.

Kata yang dirangkai Rosi L Simamora memang memikat. Ada perpaduan rasa yang berbeda. Namun jangan salah, tulisan asli Leo baik yang dikutip sebagai quote di awal-awal buku atau surat asli yang dicantumkan di buku ini juga sangat menyentuh. Entah memang tulisan aslinya yang asyik dibaca atau faktor terjemahannya yang keren. Salah satunya bisa dilihat di halaman 47. Di antaranya tentang meninggal Miss Violetta Corilla, sang guru yang membantunya untuk terus bersekolah hingga jenjang SMA dengan mengupayakan pemberian beasiswa. Mengenai ini ada di halaman 48.     

Kelebihan buku ini antara lain ada pada setiap quote yang memisahkan bab per bab. Sangat menginspirasi. Mau bukti? Ah sepertinya Anda sudah tak sabar untuk mencari buku ini di toko. Segera ya. (*)


Resensi oleh Hilal Ahmad. Hobi jajan buku dibandingkan menghabiskan uang untuk hal-hal yang cuma hilang dalam sekejap. Penulis adalah salah satu pewarta di Kota Serang, Banten.

Editor : Muhammad Iqwa Mu'tashim Billah

Related Articles

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *