ReviewUlasan Produk

Hari Ini Kita Merdeka Sekali Lagi

 

Judul buku: Antologi Puisi Hari Ini Kita Merdeka Sekali Lagi

Penulis: Leistar Adiguna dan Solida FirjaTullah

Cetakan pertama, Agustus 2016

Tebal: viii + 70 hlm

Ukuran: 13,5 cm x 20 cm

Harga: Rp22.000
 

biem.co – Entah apa yang membuat saya dan kakak mengumpulkan puisi-puisi kami untuk diterbitkan. Padahal, puisi—seperti halnya kamu—merupakan objek yang jarang diminati publik negeri ini. Masih banyak yang beranggapan bahwa puisi adalah tren usang yang monoton. Tak kurang juga yang berbicara bahwa puisi hadir dengan kata-kata yang berbelit-belit dan memusingkan kepala, sehingga sulit untuk dinikmati. Masyarakat kita lebih memilih menonton Haji Muhidin ketimbang membaca puisi.

 

Memang, seperti itulah puisi, saya tak bisa menampik. Saya sendiri kadang merasa kesulitan menafsirkan sebuah puisi. Tengoklah beberapa bait puisi dalam Perayaan II gubahan Faisal Oddang ini:

 

Kita telah lupa kapan pertama kali/ Tuhan menciptakan kebahagian/ dan kita merayakannya sebagai sebuah sunah/ sementara kesedihan sudah berubah menjadi air mata/ yang tidak lagi mengingat dari tangisan siapa ia jatuh//

 

Saya jamin, jika Anda adalah seseorang  yang baru pertama kali baca puisi, Anda tidak akan paham sama sekali maknanya.

 

Tapi justru di situlah nilai estetika sebuah puisi lahir. Puisi indah karena kata-katanya yang rumit bahkan irasional. Puisi amatlah menggoda dengan kata-katanya yang membingungkan. Puisi malah menggemaskan seiring dengan kata-katanya yang bikin pusing  tujuh keliling. Bahkan muncul sebuah stereotip yang berkembang di para penikmat puisi bahwa semakin membingungkannya sebuah puisi, semakin apik puisi tersebut. Meskipun ini tidak sepenuhnya benar, juga tak sepenuhnya salah.

 

Namun seiring berkembangnya zaman, puisi lama-kelamaan mulai mendapatkan posisi di hati orang-orang, khususnya anak muda. Hal ini tak lepas dari komunitas-komunitas sastra yang lihai memanfaatkan dengan baik potensi media sosial. Mereka mengampanyekan puisi dengan lewat media sosial seperti Facebook dan Twitter.

 

Salah satu komunitas sastra seperti Narasi Zaman, mereka mengemas puisi yang elegan dengan mengutip sebait atau dua bait puisi dan mengubahnya menjadi gambar. Sebuah gambar sederhana yang hanya berisikan kata-kata nan puitis. Dengan media seperti tadi, tentulah masyarakat akhirnya dapat menerima puisi, karena kalimatnya yang tak terlalu panjang dan pengemasannya yang menarik. Berkat komunitas-komunitas sastra yang memanfaatkan media sosial dengan baik, puisi kian populer seiring berkembangnya zaman.

 

Sebuah indikasi yang mengatakan bahwa masyarakat kita, khususnya anak muda, mulai menyukai puisi adalah mereka yang mulai gemar mengutip bait-bait puisi dari penyair-penyair terkenal, bahkan memberanikan diri untuk juga menulis puisi. Mereka juga ikut meramaikan jagat maya dengan menulis puisi-puisi singkat dan juga mengemasnya jadi sebuah gambar. Media sosial menjadi wadah sempurna yang memudahkan mereka untuk berekspresi dengan bebas.

 

Beberapa orang memang mulai menyukai puisi, namun jumlahnya tentu masihlah terpaut jauh bila dibandingkan dengan angka yang tidak menyukai. Puisi masih belum menembus semua elemen masyarakat. Hal inilah yang membuat saya dan kakak memutuskan untuk menerbitkan kumpulan puisi kami. Kami ingin puisi juga bisa menjadi sebuah hiburan edukatif yang bisa dinikmati masyarakat. Sekaligus juga ingin mengajak semua orang untuk mulai percaya diri dalam menulis puisinya karena syarat penciptaan puisi tak harus dengan kata-kata yang retorik, akan tetapi dengan perasaan. Perasaan yang ingin Anda tuliskan pada puisi tersebut.

 

Apa yang ada dalam buku ini?

1. Hari Ini Kita Merdeka Sekali Lagi adalah kumpulan puisi saya dan kakak yang pernah mengenyam pendidikan di Gontor sehingga kaya akan pengaruh sastra Arab.

2. Semua hal yang dialami kami, baik yang bersifat personal maupun kejadian nasional, direkam dan ditulis dalam bentuk puisi. Umur kami yang masih dalam tahap menuju dewasa memengaruhi materi, tema, gaya, dan diksi pada penulisan puisi-puisi kami.

3. Gara-gara puisi, saya pernah dihukum dari Gontor selama satu tahun ajaran. Dalam buku ini saya menceritakan sedikit bagaimana puisi bisa sampai membuat saya dihukum.

4. Beberapa bentuk puisi di buku ini tidak seperti bentuk puisi kebanyakan. Kami terilhami oleh teknik penulisan copywriting yang juga biasanya dipakai pada iklan-iklan sebuah produk perusahaan. Maka dari itu, beberapa puisi di sini relatif singkat namun lugas.

 

Selebihnya, buku puisi ini adalah buku puisi biasa. Bila Anda tertarik untuk menambah atau mengurangi nilainya, buku ini dapat dibeli dengan menghubungi nomor 087774807963.

Editor :

Related Articles

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *