OpiniReview

R. Guntur Karyapati: Media Harus Bisa Mengawinkan Antara Edukasi dan Hiburan

KOTA SERANG, biem.co – Media merupakan salah satu wadah untuk menyebarluaskan informasi kepada publik, sehingga keakuratannya sangat diperlukan agar publik tidak mendapat info yang salah.

Di era globalisasi seperti sekarang ini semua orang dapat dengan mudah menyebarkan informasi tanpa memikirkan kualitas kebenarannya, baik melalui media cetak maupun elektronik. Oleh karena itu, kemampuan media dalam menyajikan informasi yang bermanfaat dan menghibur sangat diutamakan.

Seperti yang diutarakan oleh Koordinator Tenaga Ahli Pengawasan Isi Siaran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), R. Guntur Karyapati, beberapa waktu lalu saat memberikan materi pada acara Talkshow Interaksi Penyiaran bertema ‘Sensor dalam Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS)’, di salah satu kampus di Serang.

Guntur menuturkan, media yang baik adalah media yang mampu mengawinkan anatara unsur eduaksi dan hiburan.

“Sekarang ini sangat sulit mendapatkan media yang mampu menyajikan informasi yang bernilai edukasi dan menghibur. Media memang harus menghibur, namun tidak merusak moralitas,” terang Guntur.

Ditambahkan Guntur, saat ini KPI lebih fokus kepada perlindugan anak-anak dan remaja dari tontonan yang merusak moral, karena kebanyakan media hanya menyajikan realitas semu, tidak lebih kepada realitas nyata. Hal ini kadang membuat moral anak-anak dan remaja khususnya cepat sekali ingin meniru apa yang ditontonya, tanpa ada pengawasan.

“KPI pun sangat bertanggungjawab untuk mengubah pola pikir masyarakat, bukan hanya dari hilir namun lebih kepada hulunya, yaitu mengembalikan kesadaran masyarakat atas tontonan yang dapat merusak karakter kebangsaan, dari shadow reality (realitas semu, red) kembali pada real reality atau realitas yang sebenarnnya,” lanjut pria kelahiran Jiput, Pandeglang, Banten itu.

Maka, untuk mencegah hal tersebut, sampai saat ini KPI sudah melakukan beberapa langkah konkrit agar para pelaku media dapat menyajikan tontonan yang baik.

“KPI sudah melakukan beberapa langkah konkrit, yaitu menyelenggarakan pembinaan, pendekatan persuasif kepada lembaga-lembaga penyiaran agar program yang mereka sajikan menjadi lebih baik. Selain itu, KPI juga sudah memberikan sanksi kepada mereka atas pelanggaran yang sudah tidak bisa ditolerir lagi,” tambah Guntur.

Guntur juga sangat menyayangkan terhadap dunia penyiaran yang saat ini masih berkiblat kepada Nilson, yaitu semata-mata untuk mengejar rating. 

“Kini KPI sudah memiliki lembaga survei indeks kualitas program, di mana tidak hanya melihat tayangan dari sisi kuantitas para penontonnya, namun lebih kepada sisi kualitas programnya,” tutur Guntur.

Ke depan, KPI berencana untuk melakukan adendum (aturan tambahan, red) pada P3SPS atas pasal yang kurang detail.

“KPI akan terus berupaya agar tontonan yang ada di layar kaca kita lebih sehat, bermanfaat, dan menghibur,” pungkasnya.

Guntur juga berpesan kepada seluruh lapisan mayarakat agar bersama-sama saling mengawasi tontonan yang tidak baik.

“Yuk, sama-sama awasi media, kita sadarkan orang-orang di sekeliling kita agar tidak menonton tontonan yang tidak sehat, supaya tayangan yang tidak mendidik tidak menduduki rating yang tinggi,” tutup Guntur. (linna/andri)

Editor : Muhammad Iqwa Mu'tashim Billah

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *