Inspirasi

Vivi Alatas: Anak Muda Jangan Pesimis, Hadapi Masa Depan dengan Kesiapan

JAKARTA, biem.co – Bertajuk Strategi Pemuda Menghadapi Pasar Tenaga Kerja di Masa Depan, Lead Economist Bank Dunia untuk program pengentasan kemiskinan, Vivi Alatas mengungkapkan pentingnya kesiapan sumber daya manusia dan pendidikan sebagai ruang pembentukan.

Melansir kemenkeu, dalam pemaparannya, Vivi menyampaikan sejumlah contoh. Pertama, soal sejarah disrupsi teknologi  yang terjadi berkali-kali. Di mana, dahulu di masa Socrates ketika cara menulis mulai ditemukan, ia ditakuti karena akan menggantikan peran memori otak kita. Kedua, mesin akan mengubah para pekerja menjadi pengemis yang disampaikan oleh Ratu Elizabeth I. Terakhir, pada awal abad 20, pernah pula mengemuka bahwa 100 tahun ke depan manusia tidak perlu bekerja 40 jam seminggu, karena peran itu akan tergantikan.

“Ternyata semua hal itu tidak terbukti. Pesimisme yang berlebihan ternyata tidak terjadi, harapan yang Utopia juga tidak terjadi. Untuk ke depannya juga seperti itu,” tandas Vivi, dalam Youth Talkshow yang dihelat oleh Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (28/03) di Jakarta.

Tujuannya, kata Vivi, agar anak muda tidak pesimis dengan masa depan, namun menghadapinya dengan kesiapan.

Lebih lanjut, di masa yang akan datang, Vivi melihat banyaknya harapan baru, di mana era yang disebut Revolusi Industri ke-4 ini, berbagai macam platform ekonomi banyak berkembang. Misalnya, inovasi teknologi mampu melahirkan 3D printing, internet optik, dan sebagainya, di mana akan membuka pasar yang sebelumnya tidak ada.

“Marketnya akan jadi lebih besar, bukan hanya di kecamatan kita, kabupaten, atau bahkan bukan hanya di benua kita,” paparnya.

Tidak hanya itu, imbuh Vivi, perkembangan ke depan akan menciptakan inovasi dan efisiensi yang jauh lebih baik.

“Di saat yang sama, juga akan tetap bisa melahirkan apa yang disebut dengan winner takes all,” tandasnya.

Pada masa-sama sebelumnya, kondisi ini juga terjadi, di mana ada pihak yang dikalahkan hingga melahirkan ketimpangan.

“Di titik ini, kesiapan sumber daya manusia dan pendidikan sebagai ruang pembentukannya menjadi penting dan urgen,” pungkasnya. (Af)

Editor : Redaksi

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar