InspirasiOpini

Tahlilan, Media Komunikasi Keagamaan dan Pemersatu Umat

biem. co — Setiap yang bernyawa pasti mati. Begitulah perkataan Allah dalam Alquran. Bahkan penggalan ayat tersebut diulang berkali-kali. Dengan kata lain, Allah bermaksud mengingatkan kepada kita bahwa tiada yang kekal di dunia, tak ada satupun hal yang bisa disombongkan oleh kita manusia. Tak mengenal usia, keadaan, ataupun status sosial.

Saat salah satu sanak saudara, teman atau tetangga kita sesama Muslim meninggal, maka biasanya anggota keluarga yang ditinggalkan mengadakan acara tahlil tujuh harian, 100 hari atau haul (peringatan setahun). Namun, masih terdengar selintingan pertanyaan mengenai diperbolehkan atau tidaknya mengadakan acara tersebut? Apakah hukumnya?

Dalam pelaksanaan tradisi tahlilan, biasanya dimulai dengan membaca surat Alfatihah, yang dimulai dengan ungkapan pengkhususan kepada arwah yang meninggal. Apalagi surat Al-fatihah merupakan cahaya gemerlapan yang ”dihadiahkan” Allah khusus kepada Nabi Muhammad SAW,yang belum pernah dianugrahkan kepada nabi-nabi sebelumnya (sahih Muslim 1339).

Terdapat pula dalam pelaksanann tahlilan memberikan makanan kepada orang-orang yang mengikuti tahlilan. Selain sedekah yang pahalanya diberikan kepada orang yang telah meninggal dunia, motivasi tuan rumah adalah sebagai penghormatan kepada para tamu yang turut mendoakan keluarga yang ditinggalkan almarhum atau almarhumah. Dilihat dari sisi sedekah bahwa dalam bentuk apapun sedekah merupakan sesuatu yang sangat dianjurkan. Sabda Rasulullah SAW:

Dari Amr bin Abasah, ia berkata, saya mendatangi Rasulullah SAW. Kemudian bertanya,”Wahai Rasul, apakah Islam?” Rasulullah SAW menjawab, bertutur kata yang baik dan menyuguhkan makanan.”(HR.Ahmad 18617).

Seorang tamu yang keperluannya hanya urusan bisnis atau sekadar mengobrol harus diterima dan dijamu dengan baik. Apalagi tamu yang datang untuk mendoakan keluarga kita di akhirat, sudah seharusnya lebih dihormati dan diperhatikan. Hanya saja kemampuan ekonomi tetap menjadi pertimbangan utama. Tidak boleh memaksakan diri dengan berhutang kesana kemari atau mengambil harta anak yatim dan ahli warisnya. Lain halnya jika memilki kemampuan ekonomi yang sangat memungkinkan, selama tidak berlebih-lebihan.Dalam kondisi ini sebaiknya perjamuan diadakan ala kadarnya.

Adapun asal usul istilah ”tujuh hari” pelaksanaan tahlilan ialah mengikuti amal yang dicontohkan Rasulullah SAW, Imam Ahmad bin Hanbal r.a. berkata dalam kitab Az-Zuhd, sebagaimana yang dikutip oleh Imam Suyuthi dalam kitab Al-Hawi lil Al-Fatawi:

Hasyim bin Al-Qaim meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Al- Asyja’i meriwayatkan kepada kami dari Sufyan, ia berkata:

”Imam Thawus berkata: ”Orang  orang yang mennggal dunia diuji selama tujuh hari di dalam kubur mereka , maka kemudian para kalangan salaf mensunahkan bersedekah makanan untuk orang yang meninggal dunia selama tujuh hari itu.” (Al-Hawi li Al- Fatawi Juz 2.hal.178).

Sedangkan kata ”haul” (peringatan satu tahun setelah kematian) diambil dari sebuah ungkapan yang berasal dari hadist Rasulullah SAW, dari Al-Waqidi:

Rasulullah SAW setiap haul (setahun sekali) berziarah ke makam syuhada perang uhud (tahun 3 H). Ketika Rasulullah SAW sampai di tempat bernama Syib, beliau mengeraskan suaranya dan berseru:”Keselamatan bagimu atas kesabaranmu, alangkah baiknya tempatmu di alam akhirat. ”Abu Bakar juga melaksanakan hal seperti ini , demikian juga Umar bin Khatab r.a. dan Utsman bin Affan r.a.”(H.R Baihaqi).

Dari sisi sosial, keberadaan tradisi tahlilan mempunyai manfaat yang sangat besar untuk menjalin anggota ukhuwah pemuda dan masyarakat. Dalam sebuah penelitian ilmiah yang dilakukan Zainuddin Fanani, MA dan Atiqo Saarbadilla, MA dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta didapat kesimpulan bahwa tahlil merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan keagamaan. Di samping itu tahlil juga alat mediasi yang paling memenuhi syarat yang bisa dipakai sebagai media komunikasi keagamaan dan pemersatu umat dan mendatangkan ketenangan jiwa. Wallahu’alamu bisshowaab. (rei)

Editor : Andri Firmansyah

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *