InspirasiOpini

Uus Muhammad Husaini: Memaknai Nuzul Al-Quran

(bagian 1)

Oleh Uus M. Husaini

 

biem.co – Salah satu peristiwa penting yang terjadi di bulan Ramadhan yang menambah keistimewaannya adalah peristiwa turunnya al-Qur’an atau yang kita kenal dengan nuzul al-Qur’an, sehingga tak heran bulan tersebut juga disebut dengan bulan al-Qur’an. Berdasarkan informasi dari al-Qur’an, para ulama sepakat bahwa peristiwa tersebut terjadi pada malam yang diberkahi,[1] yaitu malam yang biasa kita kenal dengan lailatul qodr, atau malam ketetapan.[2]

Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang yang takut kepada Allah Swt., dan tidak ada keraguan di dalamnya, agar umat Islam bahagia dan selamat dalam menjalani hidup dan kehidupan baik di dunia maupun di akhirat. Dalam sebuah Hadits Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda: Telah aku tinggalkan bagi kalian dua pusaka, yang kalian tidak akan tersesat jika berpegang teguh kepada keduanya selamanya; kitabullah (al-Qur’an) dan sunnah Nabi-Nya (al-Hadits).[3]

Hadits tersebut di atas menjelaskan kepada kita, bahwa hidup manusia akan selamat baik di dunia maupun di akhirat jika berpegang teguh kepada al-Qur’an dan al-Hadits, sebaliknya hidup kita akan tersesat dan tidak akan selamat bila kita meninggalkan keduanya.

Terkait dengan pusaka yang pertama, ada banyak keistimewaan yang terkandung dalam al-Qur’an. Begitu istimewanya al-Qur’an, jangankan membacanya, mendengarkannyapun akan mendapatkan curahan rahmat dari Allah SWT. Namun sayangnya banyak umat Islam yang menyia-nyiakannya dan hanya menjadikannya sebagai jimat atau pajangan rak perpustakaan di rumah, dan merasa bangga kalau al-Qur’annya masih bagus. Padahal, tanpa disadari hal tersebut menunjukkan bahwa pemiliknya sangat jarang membaca al-Qur’an.

Diantara keistimewaan al-Qur’an sebagaimana disampaikan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud beliau berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitabullah (al-Qur’an) maka baginya pahala kebaikan, dan kebaikan itu dengan sepuluh semisalnya (dilipatgandakan dengan sepuluh pahala kebaikan), aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, melainkan alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf. (H.R. Tirmidzy).[4]

Dari hadits di atas dapat dipahami bahwa betapa Allah dan Rasulnya telah memberikan motivasi yang luar biasa dengan mengobral pahala kebaikan bagi siapa saja umatnya yang mau membaca al-Qur’an. Satu huruf yang kita baca dari al-Qur’an akan bernilai sepuluh pahala kebaikan. Bayangkan bila dalam sehari semalam kita bisa membaca satu, dua, tiga halaman, atau satu juz, berapa banyak pahala kebaikan yang akan kita dapatkan.  Terlebih di bulan Ramadhan yang di dalamnya berlimpah keberkahan dan keutamaan.

Oleh karena itu, mumpung kita masih di bulan Ramadhan mari kita manfaatkan momentum ini untuk memperbanyak amal kebaikan, khususnya membaca al-Qur’an. Alangkah ruginya seorang muslim yang menyia-nyiakan bulan yang penuh keistimewaan ini dengan tidak membaca al-Qur’an. Apalagi kalau kita mengisinya hanya dengan acara ketawa-ketiwi yang tidak berarti dan tidak memberikan manfaat atau menambah ilmu bagi kita. Ini semuanya kembali kepada kita semua, apakah kita akan menyambut tawaran Allah dengan segala kebaikannya atau kita menyi-nyiakanya begitu saja. ***


[1] Q.S. al-Dukhon [4]: 3

[2] Q.S. al-Qodar [97]: 1

[3] Abu Umar Yusuf bin Abdullah bin Muhamma bin Abdil Birr, Al-Tamhid lima fi al-Muwaththo min al-Ma’any wa al-Asanid, hadits nomor 32, (Maktabah Ibn Taimiyah, t.t.), h. 331

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ : تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابُ اللَّهِ ، وَسُنَّةُ نَبِيِّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

[4] Muhammad bin Muflih min Muhammad al-Maqdisy, al-Adab al-Syar’iyyah wa al-Minah al-Mar’iyyah, (Alam al-Kutub, t.t.), h, 328, bab pahala membaca setiap huruf dengan kebaikan yang berlipat ganda.

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ {مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلَامٌ حَرْفٌ، وَمِيمٌ حَرْفٌ} . رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ .


Uus Muhammad Husaini, adalah Pengurus Forum Dosen Agama Islam Universitas Serang Raya dan Alumni Universitas Al-Azhar Mesir.


Rubrik ini diasuh oleh Fikri Habibi

Editor : Muhammad Iqwa Mu'tashim Billah

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *