InspirasiPuisi

Sajak-sajak Jamil Massa

Oleh Jamil Massa

 

Tamu Terakhir dalam Sebuah  Novel Tentang Laut

Baru saja dia tiba dan menurunkan muatan terakhir dari kereta, saat disangkanya sesosok peri bermata biji kenari sedang menunggunya di salah satu balkon dekat jendela. Tapi tidak. Gadis itu bukan peri. Tidak pula menunggunya atau menunggu siapa-siapa. Gadis itu sedang membidik isyarat badai yang datang tersaruk dan bergetar, sambil menghitung kertap bintang yang melompat-lompat di tingkap.

Dia lalu membayangkan gadis itu sebagai hantu masa lalu, tapi dia tak tahu masa lalu telah berkerumun di dada gadis itu sejak lama, lantas tersaput sekaligus pada satu waktu. Dia tak tahu gadis itu telah menyesapkan banyak ingatan, banyak kenangan dari lelaki-lelaki yang pernah mencumbu dan mencoba melonggarkan jejalin temali korsetnya yang sutera. Dia tak tahu gadis itu yang telah meredup-lindapkan lampu rumah dan lampu jalanan di banyak kota.

Gadis itu sedang berharap bau laut dapat mengobati sakitnya yang larat. Gadis itu ingin mati tanpa merana. Dikubur di antara lapisan karang dan butir-butir pasir yang tua. Di dunia ini ada beribu jenis rasa sakit yang tak perlu dipahami. Gadis itu cuma mengingat satu malam ketika jiwanya memilih karam, karam, dan karam di kedalaman abadi.

Gadis itu masih bergeming wajahnya semburat. Lelaki dari kota, si tamu terakhir, meraba-raba kantong mantelnya yang menyimpan banyak alamat, juga secarik peta di mana penginapan ini tak tercatat, terlalu tabu untuk disebut dan diingat. Lelaki itu telah berjalan teramat jauh, mencari tempat seperti yang diceritakan kekasihnya lewat surat:

“Kekasihku sayang, di sini setiap ucapan adalah laut, dan setiap ingatan adalah badai yang berat.”

Di Atas Makam

Dapat didengarnya kicau burung-burung sedang bercinta di dahan-dahan pohon kamboja, sementara pohon itu satu demi satu melepas bunga-bunganya yang tak lagi remaja.

Dan setelah rebah di tanah, bunga-bunga itu dengan sedikit ragu menyapa rumput-rumput liar yang tumbuh tak jauh dari tempat mereka jatuh.

Tapi rumput-rumput bergeming walau menyangka bunga-bunga itu adalah para peri bersayap terbelah lima, yang melayang anggun dari angkasa entah untuk alasan apa.

Rumput-rumput bertubuh kerdil itu telah hidup merana terlalu lama. Tak punya waktu untuk bicara, bertanya, bahkan sekadar mendongak ke angkasa.

Sebab miskin benar tanah yang mendekap akar-akar mereka, sebab sari-sari kesuburan telah sekian tahun menguap disesap pohon kamboja yang lebih kuasa. Lebih raksasa.

Di atas makamnya, rumput-rumput kerdil berjumpa bunga-bunga tua, tapi bahkan tak satu percakapan pun menyebut namanya, atau bertanya mengapa begitu lama dia tak dikunjungi siapa-siapa. Mengapa begitu lama di makam ini tak terdengar ratapan atau pun doa.

Dia, yang sedang terbaring sesak di rahim makam itu, tak tahu namanya telah lenyap dari batu nisan setelah dilunturkan tahun-tahun dan hujan.
Seekor Semut dan Kapur Ajaib yang Membunuhnya

Tak biasanya semut hitam yang mungil itu berjalan sendirian saja
Didekatinya setitik butiran putih yang diam di ujung sana
Dia berhenti saat mencium bahaya
Lalu berjalan kembali karena cinta membuatnya buta

“Apakah kau gula atau kimia jahat buatan manusia?”
Hanya sekali dia bertanya
Sebelum racun itu mengantarnya ke surga.

Musuh Bagi Angka-angka

Barangkali aku tengah bermusuhan dengan angka-angka
Di lingkar tepi jam dinding,
mereka menyesaki tiap tempat tanpa menyisakan jeda
membuatku merasa bertambah tua lebih cepat dari semestinya
dan rindu menjadi sesuatu yang memiliki batas kadaluwarsa

Mereka melekat di tombol-tombol telepon genggam
dan berjejal di layarnya yang menyala.
Setiap ingin menghubungimu, setiap itu pula aku takut
yang menjawabku hanyalah deretan angka bersuara palsu.

Di pejamku, ada bilangan minta direka
di jagaku, ada pecahan ingin diterka.

Duduk, melangkah, menyebut namamu,
apa pun yang aku lakukan
kepalaku gaduh penuh ditindih angka-angka.
seolah kutukan untuk hidupku yang tersusun
dari rumus matematika belaka.

Senja saat ini seperti anak kecil
yang aku yakini belum kenal angka-angka.
Wajahnya memerah saga
mungkin mual melahap gulali

yang tak terhitung sebanyak berapa.

Perlahan di tiang listrik,
di tembok-tembok dan pepohonan,
bermunculan wajah-wajah asing.
lengkap dengan angka-angka
meminta siapa saja di jalan itu
memiikirkan nama tertentu di hari pemilu

Kau ingat hari itu?
pemilu beberapa tahun lalu
di remang-remang kamar kos
kita abaikan perintah negara untuk mencoblos

Kau dan aku menelusuri tubuh satu sama lain,
mencari apa saja yang bukan wajah, nama
atau jentik-jentik angka yang asing.

 

 

 

Pejalan Tidur

Ia telah tertidur sambil berjalan
menuju rembulan. Jiwanya yang pengelana
terjebak dalam tubuh kehilangan
yang letih langkah di suatu sudut mata angin.

Ia tertidur sambil berjalan
berlawanan dengan arah datangnya hujan
meninggalkan sungai tempat jentik-jentik sepi
melewati masa inkubasi.

Ia tertidur tanpa mengenakan piyama
kakinya yang telanjang lisut
oleh ceceran cuaca khas kota Jakarta.

Ia tertidur diperam ribuan cahaya
yang mengecup dan berbisik:
“Di sini malam selalu berpihak
pada yang tak mau berbalik.”

Selepas Hujan

/Lelaki di Beranda/

Seseorang mesti meminta lelaki itu berhenti berdiri di beranda. Berhenti tercenung seperti tamu di rumah tuan yang tak berkenan. Berhenti menengadah tangan mengharap jemarinya dibasahi hujan. Karena musim hujan telah habis dan langit telah lupa bahasa elok-cantik yang fasih mereka ucap untuk mempercakapkan kota, cuaca, dan politik. Katakan padanya untuk berhenti menunggu, berhenti merindu. Sebab musim cinta telah habis dan sepasang manusia tak perlu berkata-kata untuk memahami mengapa mereka bisa saling jatuh cinta tiba-tiba.

/Nuh/

Tak perlu kau khawatirkan mimpi itu. Mimpi di mana kau menjadi Nuh yang mesti membangun bahtera dari ratusan kubik kayu pohon gifar untuk menyelamatkan berpasang-pasang hewan dan manusia dari banjir besar. Banjir ini cuma setinggi mata kaki. Lihatlah, betapa lelapnya kucing itu di atas lemari. Dia belum berpikir untuk mengungsi atau mencari pasangannya sendiri.

/Pohon Mangga/

Mereka berlarian di sekitarmu. Anak-anak yang kemudian mengguncang-guncang tubuhmu agar buah-buah yang baru berkecambah itu tumpah dari ranting-rantingmu. Namun hanya sisa-sisa hujan yang semula menempel di daun-daunmu itu yang jatuh luruh menimpa kepala-kepala mereka. Dan mereka tertawa.

Kau ingin ikut tertawa tapi kau tahan, sebab tawa sebatang pohon dapat membuat anak-anak ketakutan. Maka kau biarkan mereka kembali berlarian di sekitarmu. Sampai salah satu di antara mereka ingin memanjatmu. Kau ingin berbisik melarangnya. Sebab batangmu masih licin, basah dan berlumut.

Kau khawatir dia akan jatuh dan sakit. Walau tak ada yang lebih sakit dari sakit akar-akarmu saat terinjak kaki-kaki mereka, sakit dahan-dahanmu ketika dipatahkan tangan-tangan mereka dan sakit sekujur kulitmu yang penuh toreh nama-nama mereka dan nama gadis-gadis yang mereka idam diam-diam.

Kau ingin berbisik tapi kau urungkan. sebab bisik sebatang pohon dapat membuat anak-anak ketakutan.

/Surat/

Bagaimana kau perlakukan aku mestinya? Hujan telah habis dan aku hampir kering. Huruf-huruf dan kata-kata di tubuhku terlanjur luntur. Andai aku dapat membaca, mampu berkata-kata, dan paham alasan seseorang menangis atau tertawa setelah menatahkan segenap luka di tubuhku, barangkali aku akan bercerita. Sehingga akan mudah bagimu memutuskan adakah cukup tempat yang hangat buatku di laci lemari tempat berlusin surat cinta darinya kau simpan.

Atau kau akan mengoyak, menyobek, dan membakar tubuhku saja?

Apakah aku adalah surat cintanya seperti sudah-sudah, atau sekadar cara mencapakkanmu paling mudah?

Aku terlalu lama meringkuk dalam kotak surat yang bocor. Sebagian huruf dan kata terlarut dalam hujan, terbawa arus selokan, menyatu sungai sebagian. Lainnya diserap tanah, batu dan akar pepohonan. Kelak mungkin mereka bermuara kembali di lautan, menguap dan luruh jadi hujan di musim depan.

Barangkali kau mesti mengumpulkan setiap huruf, setiap kata dalam hujan itu lalu menyusunnya. Agar kau tahu persis pesan apa yang ingin disampaikannya dan bagaimana kau perlakukan aku mestinya.

/Perkutut/

Aku selalu rindu menatapmu dari balik dedaunan dan dahan-dahan, sambil membuat siulan-siulan panjang yang mungkin membuat bulu-bulu sayapmu bergetaran. Aku selalu rindu mendudukkanmu di atas padang rumput hangat, untuk menjelaskan mengapa langit begitu tenang dan angin musim tetap berembus ke barat. Aku akan selalu rindu. Namun rindu apapun telah disembunyikan hujan teramat rapat.


Jamil Massa, lahir di Gorontalo, 14 Maret 1985. Menulis Puisi, Cerita Pendek dan Esai. Buku Puisinya berjudul Sayembara Tebu. Sejumlah karyanya pernah dimuat di beberapa media seperti: Harian Fajar, Tribun Timur, Jurnal Tanggomo, Jurnal Santarang, Jurnal Sastra (The Indonesian Literary Quarterly), Jurnal Sajak, Suara NTB, basabasi.co, Indopos, Riau Pos, Gorontalo Pos, Media Indonesia, Koran Tempo, dan Kompas. Sejumlah puisinyanya diikutkan dalam antologi puisi bersama: Pohon Ibu (2012), Wasiat Cinta (2013), Gemuruh Ingatan (2014), Jalan Cahaya (2014), dan Nun (2015); serta sebuah antologi prosa Dongeng Negeri Kita (2015). Pernah diundang dalam perhelatan Makassar International Writers Festival (2013) sebagai Penulis Muda Indonesia Timur. Saat ini bermukim di Gorontalo, bergiat di Komunitas Sastra Tanggomo dan mengasuh rubrik sastra di portal berita degorontalo.com. e-mail: [email protected]


Rubrik ini diasuh oleh M. Rois Rinaldi.


Berita Terkait :

Sajak-sajak Yadi Riadi
Sajak-sajak Dedet Setiadi
Cau Nugget Serang, Cara Baru Makan Pisang, Penasaran?

Editor : Esih Yuliasari

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Tulisan Ini Juga, Yuk!

Close