OpiniReview

‘Voice’ Ade Ubaidil: PR Daerah Berjuluk Kota Santri

biem.co – Sebagaimana kita ketahui, Cilegon dan Serang—untuk mudahnya, sebut saja Provinsi Banten—memiliki salah satu sebutan yang cukup berat disandang. Tasikmalaya, Kajen, Kendal, Magelang, Jombang, Pasuruan, Martapura, dan tentu saja kota-kota di Banten memiliki julukan yang sama pula, yakni Kota Santri. Asal mulanya tak lain karena di beberapa kota yang disebutkan itu banyak berdiri pondok pesantren dan madrasah yang sebagian namanya sudah cukup dikenal khalayak. Oleh karenanya, stigma masyarakat luar akan kota-kota tersebut jelas sekali sama rata. Warga dan orang-orang yang tinggal pasti memiliki spiritualitas yang adiluhung; menerapkan ajaran-ajaran Islam dalam kesehariannya; dan menjunjung tinggi norma-norma dan nilai-nilai religiositas antarsesama. Namun, sekarang sepertinya (hampir) tidak berlaku—hilang jati diri.

Di zaman serbacepat dan canggih ini, pemanfaatan akan perkembangan teknologi seringkali tidak tepat guna. Sebagian besar cara pandang penggunanya tak lebih seperti kaum hedonisme. Akan ketinggalan zaman apabila tidak memiliki gawai supercanggih, begitu salah satu pola pikir yang berkembang di masyarakat. Dan tentu saja asumsi demikian pun menyerang pola pikir para calon cikal bakal cendekiawan santri. Jelasnya begini, tentu tak ada yang salah dengan kehadiran dan pesatnya kecanggihan teknologi, kita tak bisa menafikan hal itu. Karena sejatinya teknologi bersifat netral; bisa bermanfaat maupun bermudarat tergantung siapa yang menggunakannya. Semisal kitab-kitab kuning atau kitab gundul beralih media; yang tadinya di halaman buku yang berlembar-lembar, sekarang berwujud digital. Dan itu sama sekali bentuk pemanfaatan yang baik. Sayangnya, di lain sisi, hadirnya media digital menjauhkan kita pada hal-hal yang dekat.

Santri, yang beridentitas memiliki kehidupan sederhana, berkarakter santun dan mempunyai attittude yang baik, perlahan-lahan tergerus oleh perubahan zaman. Sifatnya yang membumi dan pandai bermasyarakat, dewasa ini, cukup jarang kita jumpai. Yang ada, mereka sibuk dengan keseharian masing-masing dan tidak mengimplementasikannya langsung ke masyarakat, semisal berbaur, bersinergi, dan bertukar gagasan. Jelas sekali di sinilah PR kita semua; bukan hanya pengasuh pondok maupun si santri itu sendiri. Tetapi peran kita, dalam hal ini masyarakat, sangat dibutuhkan. Teknologi tidak mengajarkan atau berusaha menjadikan kita penganut apatisme. Akan tetapi sifatnya berbanding lurus dengan siapa yang memegang kendali. Sebab kitalah yang memimpin sistem, bukan sebaliknya.

Sekadar menyebut satu contoh, ketika kemarin kita memperingati datangnya awal bulan Rabiul Awal (Maulid). Di sebagian kampung dan desa yang masih menerapkan adat istiadat leluhur atau tetua, biasanya melaksanakan tradisi tersebut. Berkumpul di masjid, memanjatkan doa untuk kebaikan dan bersalawat mengenang hari lahirnya Rasulullah, Nabi Muhammad SAW; membaca kitab Barjanzi (rowi) serta pembacaan yalil dan marhaban. Bagi yang berkenan, biasanya membawa berekat alakadarnya untuk nantinya dibagi rata—seperti nasi uduk, nasi yamin, ketan, dll. Tentu tradisi ini memiliki filosofi tersendiri. Keseluruhannya memiliki makna kebersamaan, keutuhan dan persaudaraan yang penuh dengan nilai-nilai silaturahim. Dan tentu saja hal semacam itu tidak boleh hilang dan tergerus zaman; baik di kampung-kampung—terlebih di wilayah Cilegon dan Serang—maupun di daerah lainnya.

Sayangnya, kekhawatiran itu mewujud nyata. Sebelum acara dimulai, dan mungkin bukan hanya di kampung kami, bunyi kaset rekaman orang mengaji (qori) diperdengarkan. Merdu? Jelas merdu dan fasih. Tetapi tetap saja, esensi dan nilai eksistensi dari tujuan yang ingin dicapai belum sempurna terejawantahkan. Pertanyaan besar lantas timbul; ke manakah para santri yang menetap-tinggal di kampung tersebut? Atau tidak adakah warga yang kompeten untuk mengaji fasih meski tak semerdu suara kaset rekaman dari qori-qori nasional dan internasional itu? Sedang daerah tersebut menyandang julukan Kota Santri? Di titik inilah kesadaran kita dipertaruhkan. Akankah kita mempertahankan tradisi atau membiarkan terlena dan terjebak oleh berkembangnya teknologi digital yang kian pesat? Atau jangan-jangan, memutar kaset rekaman mengaji sudah menjadi tradisi yang nantinya akan diwariskan secara turun-temurun ke anak cucu? Sementara orang-orang yang tinggal di lingkaran Kota Santri akan menjauhi majelis secara perlahan; melaksanakan ibadah sesuka hati dan tidak tepat waktu, bahkan hingga meninggalkan budaya silaturahim antarsesama. Na’udzubillah.

Betapa akan sangat menakutkan dan ironi andaikata sebuah keluarga yang rumahnya tinggal bersebelahan namun tidak mengenal siapa tetangganya. Masih adanya “bocah” santri adalah harapan, keberlangsungan untuk hidup bermasyarakat adalah tujuan. Kota Santri jangan biarkan hanya menjadi kenangan, tetapi patut dilestarikan. Inilah PR kita sekalian. Tentu saja. [*]

Cibeber, Cilegon, 13 Desember 2015

 

Baca juga tulisan-tulisan Ade Ubaidil:

1. Catatan Perjalanan: Negeri Singa VS Negeri Kita

2. Cerita Pendek Ade Ubaidil: Congk(l)ak

3. 'Voice' Ade Ubaidil: Andai Semua Pejabat Menulis


Ade Ubaidil berdomisili di Cilegon. Kelahiran Serang pada 2 April 1993 ini merupakan mahasiswa di Universitas Serang Raya (UNSERA) jurusan Sistem Komputer. Novel perdananya berjudul Kafe Serabi (de TEENS, 2015).

Kunjungi blognya www.quadraterz.blogspot.com. Untuk berinterkasi dengan Ade, follow Twitternya @ade_quadraterz.

Editor :

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *