Puisi

Sajak-Sajak Anjrah Lelono Broto

Terungku

bila ku mati, kau juga mati
(Band Naif)

tak ada bayang terungku
dalam ketukan pertama di pintu
pada masa uban serupa ketakutan,
atau semata lawakan,
agar ku bisa mengunduh ciuman
diam-diam

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

walau samar tetapi mulai mekar
batang jeruji terungku itu di kelakar
: “Akan kubeli kaca mata kuda,
agar kau hanya melihat wanita
paling cantik di mayapada,”

seperti menepati kutukan sendiri
di masa itu aku berandai-andai
tentang terungku berjeruji di tubuh puisi
maka tengah ada yang menjalani

(Mojokerto, 2020)

 

Sebuah Ingatan

sebuah ingatan yang bersaksi
tentang selembar wajah pasi
sementara ajal sendiri hilang kendali

wajahnya senantiasa di balik kaca
pandangnya tak pernah hinggap ke luar jendela
jejurai rambut adalah selimut penawar durja

“siapa saja yang melukai sedemikian rupa,
berhati belati mungkin kisah di para-para
rumah kelahiran mereka,”

demikian
ingatan mengundang pengandaian,
déjà vu, apokalipso, juga tuduhan,
kemudian dipuisikan tanpa perlawanan

(Bajangratu, 2018-2020)

 

Narasi Blacky

sepatu hitam adalah kewajiban
demikian yang kuterima
sejak aku kanak hingga beranak kanak

rambut hitam adalah kewajaran
warna lainnya serupa perlawanan
entah pada siapa, entah pada apa

daftar hitam adalah intimidasi
semua di dalamnya layak disakiti
oleh si empu daftar tanpa basa-basi

dunia hitam adalah negasi
terhadap apa saja yang berarti
adakah satu yang kita yakini

(Segaran, 2019-2020)


Tentang Penulis

Anjrah Lelono Broto

Aktif menulis esai, cerpen, serta puisi di sejumlah media masa (berbahasa Indonesia dan Jawa). Di antaranya Media Indonesia, Lampung Post, Riau Pos, Radar Mojokerto, Radar Surabaya, Harian Surya, Harian Bhirawa, Banjarmasin Post, Surabaya Post, Surabaya Pagi, Duta Masyarakat, Solo Pos, Wawasan, Pikiran Rakyat, Malang Post, Suara Merdeka, Nusantaranews, Jendela Sastra, IdeIde, Litera, Kawaca, Pojok Seni, Galeri Buku Jakarta, Roemah Cikal, Travesia, Jaya Baya, Panjebar Semangat, Kidung (terbitan Dewan Kesenian Jawa Timur, DKJT), dll.

Beberapa puisinya masuk dalam buku antologi bersama Pasewakan (Kongres Sastra Jawa III, 2011), Tasbih Hijau Bumi (antologi puisi Lesbumi Jatim, 2014), Malam Seribu Bulan (antologi puisi Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto, 2015), Margasatwa Indonesia (Lumbung Puisi IV, 2016), Klungkung Dalam Puisi (Dewan Kesenian Klungkung, 2016), Memo Anti Kekerasan Terhadap Anak (2016), Sang Perawi Laut (2018), Tamasya Warna (2018), Kunanti di Kampar Kiri (Hari Puisi Indonesia-HPI Riau, 2018), When The Days Were Raining (Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019), dll.

Karya tunggalnya adalah Esem Ligan Randha Jombang (antologi geguritan, 2010), Orasi Jenderal Markus (naskah monolog, 2011), Emak, Sayak, Lan Hem Kothak-Kothak (antologi cerkak, 2015),  “Nampan Pencakan (Himpunan Puisi, 2017), dan Permintaan Hujan Jingga (antologi puisi, 2019). Terundang dalam agenda Muktamar Sastra (Situbondo, 2018), dan karya naskah teaternya “Nyonya Cayo” meraih nominasi dalam Sayembara Naskah Lakon DKJT 2018. S

ekarang bergiat di Lingkar Studi Sastra Setrawulan (LISSTRA) dan dapat disapa di e-mail: [email protected], FB: anjrahlelonobroto, IG: anjrahlelonobroto.

Editor: Yulia

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button