CerpenInspirasi

Cerpen Alfian Putra Abdi: Rembulan di Pusara

biem.co — DIA sudah tidak uring-ringan ketika penjaga makam lupa membersihkan daun kamboja yang gugur dan hampir menutupi nisannya. Biasanya dia paling cerewet, bisa menangis semalam suntuk, hingga membuat warga yang tinggal di sekitar pemakaman menjadi merinding takut mendengarnya.

“Biarin ah. Nggak urus!” ujarnya ketus.

“Pesimis banget sih,” timpal Anton.

Tidak ada kata-kata selanjutnya yang keluar dari mulut Amanda. Keculi lirikan tajam yang membuat Anton diam, walau sebenarnya masih ada yang ingin dikeluarkannya. Namun lebih baik diam dari pada hal kemarin terulang lagi.

Kemarin Amanda mengurung diri di dalam liangnya. Berteman seekor anjing tanah gagu yang sama sekali tidak bisa diharapkan untuk berbincang dan belatung centil yang membuatnya jijik. Belatung itu menggeliat di kulitnya lalu menggodanya, yang sama sekali tak Amanda pedulikan kecuali berhasrat untuk membunuhnya.

“Kalau kamu tidak bisa diam, aku bisa saja bertindak nekat,” ancam Amanda.

“Nekat yang seperti apa, manis?” goda belatung itu, sambil melempar kedipan.

“MEMBUNUH MU!!!”

Belatung itu menggeliat semakin tinggi, menuju batas lengan dengan pundak Amanda. “Kematian akan membuat kita kekal, sayang. Mari lakukan!”

Benar juga, pikir Amanda. Membunuhnya hanya akan menjebak dirinya pada rasa jijik tak berkesudahan. Amanda mendepak belatung itu hingga terpental ke sudut liang yang gelap, lalu keluar terburu-buru mencari Anton.

***

Tidak ada perasaan paling nelangsa dari pada hidup dalam sepi tanpa seorangpun yang peduli. Membuat Anton termotivasi untuk menyerahkan hidupnya pada roti isi deterjen pakaian yang dikunyah saat lapar melanda kamar kosnya. Maka kesepian akan berakhir seiring dengan kematian tiba, begitulah yang diyakininya.

Wajahnya berpendar cahaya keemasan, ketika mendapati di samping liangnya, ada mayat baru. Malam-malamnya dihabiskan untuk mengamati pendatang baru tersebut, tanpa sekalipun bertegur sapa walau hasrat sudah memuncak. Anton masih mewarisi kebiasaan lama: was-was memulai pembicaraan dengan orang baru.

“Ketika hidup diburu sepi, saat matipun sama. Lalu buat apa Tuhan mengutus kita ke dunia?,” ujar pendatang baru,“ aku Amanda Cyla.” Tangan kanannya terjulur.

Anton salah tingkah, dalam benaknya bertanya-tanya, dari mana Amanda tahu hidupnya selalu bermasalah oleh sepi. “A-a-ku, Anton.” Menyambut juluran tangan itu dengan kikuk.

Bagai pengantin baru yang tidak rela malam pertamanya berlalu cepat. Mereka sibukan diri membicarakan banyak hal, dengan menyampingkan latar belakang masing-masing. Hal yang kemudian menjadi rutinitas mereka. Karena kehidupan sudah menjadi masa lalu dan kematian telah menjadi masa depan mereka. Anton senang akhirnya mendapatkan teman, sekaligus keyakinannya terbukti. Amanda pun sama, akhirnya menemukan orang yang hanya peduli pada cerita.

Hampir saja Anton merasakan liangnya seperti kamar kosnya dulu: dingin, sepi juga muram. Ketika dirinya mengeluarkan perkataan yang menyinggung Amanda. Perkataan yang sebenarnya umum digunakan di antara manusia, ketika melihat sesuatu yang membuat dirinya takjub. Tapi tidak bagi Amanda, yang memilih mengurung diri dalam liangnya, ketimbang memaklumi mulut Anton.

Bagaimanapun juga, kondisi tersebut sempat membuat Anton tidak nyaman. Anton menghibur diri dengan menebak rasi bintang, hal yang sejatinya hanya untuk mengulur waktu agar cepat pagi. Selebihnya malam-malamnya, dihabiskan dengan bersandar di batang kamboja.

“Mulai detik ini, aku tidur di liangmu ya,” pinta Amanda tiba-tiba, “belatung sok keren itu membuatku takut.”

Anton kaget sekaligus senang melihat kembalinya Amanda. Tanpa pikir panjang langsung menyetujui permintaannya dengan sebuah anggukan kepala. “O ya, aku minta maaf soal ucapan kemarin.”

“Lupakanlah. Apakah di liangmu ada belatung ?” Amanda coba memastikan.

“Ada,” ujar Anton, “tenang. Mereka lumpuh juga gagu.”

***

Seorang model cantik ternama yang baru saja meraih juara untuk kategori Perempuan Tercantik Nusantara 2017 versi produk kosmetik, ditemukan tewas mengenaskan di dalam mobil di sebuah parkiran mall. Di pangkuannya, tergeletak botol soda berisi handbody lotion.

Kabar duka itu lantas menjadi tajuk utama media massa dan sosial media dibanjiri obituari singkat. Tidak ketinggalan juga tanda pagar #RIPAMANDACYLA yang menjadi trending topic.

Tidak ada lagi sorot lampu kamera dan licinnya lantai cat walk. Hanya ada cahaya rembulan dan tanah merah yang becek ketika hujan turun. Tempat nongkrongnya bukan lagi kafe atau restoran binta lima, melainkan batang pohon kamboja dan papan nisan.

“Biar saja alang-alang itu menjadi belantara,” ujar Amanda, “agar tidak ada lagi yang mengenali liangku.”

“Bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu ?” tawar Anton dengan hati-hati, takut menyinggung perasaannya lagi.

Nggak,” tolak Amanda, “sampai kamu selesai mendengar ceritaku.”

Hidup sebagai simbol kecantikan, dianggap pencapaian tertinggi dalam hidup Amanda. Nyatanya dia keliru. Banyak pujian yang datang, semuanya hanya kosong dan penuh kemunafikan. Lebih parah lagi, kecantikan dirinya menjadi konsumsi seksual bagi pria menyedihkan yang rela menghabiskan batang sabun ketimbang mengeluarkan uang untuk menyewa pelacur.

“Hidupku penuh dikte. Pujian itu datang kalau aku menggunakan kosmetik dan busana yang mereka senangi. Jika tidak, mereka menyarankanku terus menerus. Seolah kecantikanku hidup jika menggunakannya,” keluh Amanda. “Apalagi pria-pria mengenaskan itu. Aku ingin cantik, karena senang melakukannya. Mereka malah menjadikanku objek onani. Apa nikmatnya ? Tidak ada sentuhan, tidak ada kata-kata yang membangkitkan gairah. Aneh!”

“Bahkan ketika aku sudah mati pun. Mereka masih menjadikanku objek nafsunya. Itu membuatku semakin gila dan ingin mati dua kali.”

“Aku sudah boleh bertanya ?” ujar Anton. Amanda mengangguk. “Sampai kapan liangmu mirip tumpukan jerami gitu ?”

“Kayaknya selamanya. Buat apa lagi liang itu. Pertama, aku benci pada belatung genit yang ada di sana. Kedua….” Amanda terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu. “Semua orang hanya melihat kecantikanku. Sementara sekarang jasadku sudah habis digerogoti anjing tanah gagu. Siapa lagi yang peduli?”

Mereka hening sejenak. Sayup-sayup terdengar irama lagu dangdut dari kampung sebelah, mencuri rasa penasaran Anton dan Amanda untuk menuju ke titik suara. Sepanjang perjalanan mereka tertawa, mengingat nasib belatung genit yang setia menunggu Amanda di liang dan bodohnya pria penggila onani. Sepanjang itu pula, warga menjadi merinding dibuatnya. (red)


Tentang Penulis

Sulung tiga bersaudara yang menghabiskan waktunya sebagai buruh aksara di sebuah media lifestyle Ibu Kota. Mengelola perpustakaan jalanan Riung Senja setiap akhir pekan, sesekali pergi ke bioskop, sesekali menyimak konser musik. Menyukai tempeh dan kretek, penikmat bir dan kopi amatir sekaligus paling buruk.

Memiliki cita-cita yang besar: hidup di hari tua hanya dengan bercengkerama bersama keluarga juga sahabat, mendengarkan musik, membaca, menulis, dan (yang terpenting) tanpa himpitan utang bank.


Rubrik ini diasuh oleh M. Rois Rinaldi.

Editor : Andri Firmansyah

Related Articles

Berikan Komentar