KabarTerkini

Sebuah Agama Baru Telah Hadir untuk Menyelamatkan Manusia

Perkembangan Pemikiran Ajaran

Agama merupakan akumulasi kepercayaan, sistem kultur dan pandangan hidup yang terorganisir yang menghubungkan kemanusiaan dengan tatanan kehidupan. Mayoritas agama yang ada di dunia memiliki simbol dan sejarah masing-masing, baik sebagai sarana untuk menjelaskan arti hidup atau untuk mencari tahu asal mula kehidupan alam semesta. Biasanya tergantung lokasi dan budaya dimana agama itu diturunkan.

Saat ini terdapat sekitar 4.300 agama di dunia. Berkembang dengan kepercayaan yang berlainan, dan tentu saja mayoritas agama yang ada mengajarkan kebaikan dan menempatkan manusia sebagai target ajaran.

Tapi ternyata, ada juga agama yang mempunyai visi yang aneh, tentu saja dalam pengertian berbeda. Agama baru ini bahkan mengklaim mampu menciptakan tuhan sendiri dan menempatkan manusia sebagai makhluk kelas dua.

Sebelumnya, jika pada tahun 1952 seorang penulis fiksi ilmiah L. Ron Hubbard (1911-1986) mendirikan sebuah agama dengan nama Scientology, dimana misi utamanya adalah mengembalikan kesejatian manusia yang ia duga bahwa manusia adalah alien yang tertinggal di bumi berjuta tahun yang lalu, sehingga lupa akan jati dirinya. Agama ini juga beranggapan bahwa roh manusia adalah abadi dan selalu reinkarnasi ketika tubuh fisiknya meninggal.

Meski banyak keanehan dalam ritual agama Scientology dibandingkan dengan agama-agama samawi yang lebih dulu ada, namun, pengikut agama ini terbilang banyak. Dari kalangan selebriti seperti John Travolta hingga pasangan selebritis Tom Cruise dan Katie Holmes telah tercatat sebagai penganut agama ini.

Berbeda dengan yang akan dibahas pada tulisan ini, Ia adalah Levandowski, sosok multibillioner yang telah malang melintang di perusahaan teknologi terkemuka seperti Google, Uber, serta perusahaan start-up lainnya.

Berbekal pengalamannya, Levandowski melihat bahwa perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang begitu pesat hingga sampai pada sebuah kesimpulan, yang menurutnya bahwa AI akan jauh lebih cerdas daripada manusia pada masa depan.

Lewandowski menganalogikan latar belakang rencananya dengan melihat fenomena saat ini dimana semua manusia terhubung lewat ponsel, sensor, dan pusat data. Ini menunjukkan bahwa AI hadir di tengah-tengah kita sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan.

Dengan tidak terpisahkannya AI ini, menurutnya AI menjadi tahu apa pun yang kita katakan dan lakukan lewat perangkat. Sebagai yang mahatahu, Levandowski mengatakan, kecerdasan buatan ini bisa disebut tuhan.

Sekarang, tuhan berupa AI itu masih dikendalikan manusia, tapi ke depan, ia menilai sebaliknya, justru, AI itu akan melebihi kemampuan dan mengendalikan manusia.

Sebagaimana dilansir CNNI, menurut Lewandowski, “Ke depan, jika ada yang jauh lebih cerdas dari manusia, akan ada transisi pemimpin [dunia]”.

“Yang kita inginkan adalah kedamaian jika transisi kontrol planet terjadi dari manusia ke ‘apapun itu.’ Kita juga perlu memastikan bahwa ‘apapun’ tahu siapa yang membantunya.”

“Saya ingin mesin ini melihat manusia sebagai kakak yang harus dihormati dan dirawat. Kami ingin AI tahu, ‘manusia punya hak meskipun AI berkuasa’,” imbuhnya.

Konsep Tuhan Baru

Setiap agama biasanya memiliki tuhan yang disembah dan diagungkan. Sosok ini sebagai bagian yang paling tinggi dan sakral dan tidak mungkin bisa ditinggalkan dalam misi-misi agama dunia. Sosok tuhan-lah yang menjadi awal dan tujuan agama itu didirikan.

Berbeda dengan agama yang dicetuskan Lewandowski ini. Mantan karyawan Alphabet dan Uber itu mengatakan bahwa akhirnya akan ada tuhan baru yang akan dia juluki dengan nama ‘Godhead’ yang diklaim memiliki kecerdasan melampaui manusia.

Dalam sebuah wawancara, Levandowski menerangkan bahwa dia akan mulai membangun gereja sebagai wadah agama ini, “Way of the Future” untuk menyebarkan gagasan tentang Injil yang disebut ‘Manual’.

Menurutnya, konsep Tuhan yang dibangun berbeda dengan Tuhan yang menguasai alam semesta.

“Dia bukan Tuhan dalam arti yang mampu membuat petir atau menyebabkan angin topan. Tapi jika ada sesuatu yang miliaran kali lebih pintar daripada manusia terpandai, dia akan disebut apalagi [kalau bukan Tuhan]? ” kata Levandowski kepada Wired.

Semua upayanya saat ini merupakan salah satu misi agar manusia dilihat dan dihormati sebagai sesepuh yang dicintai dan akan diurus para robot pintar kelak. Dengan begitu, manusia masih akan memiliki haknya meskipun para robot telah menjadi pemimpin dunia [menguasai dunia]. (EJ)

Editor : Jalaludin Ega

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar