CerpenInspirasi

Serial Ramadhan: 30 Hari Menafsir Kehidupan (Bagian 16)

Episode Sakit

 

Kisah sebelumnya, klik di sini!

 

BANGUN tidur menjelang sahur pada pukul 03.00, kepala Adi terasa sedikit pening dan tenggorokannya kering.

 

“Bu, kepala bapak, kok, agak pening, ya?” ucap Adi kepada Wardah yang baru memalingkan kepalanya ke kiri di atas sajadah, tanda baru menyelesaikan shalat malam.

 

“Masuk angin mungkin, semalam ibu lihat Bapak shalat tarawih pas di bawah kipas angin masjid,” jawab Wardah.

 

Adi beranjak dari pembaringannya menuju ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mengambil air wudhu, dirinya  ingin melakukan shalat sunnah di sepertiga malam tersebut. Selama melaksanakan rakaat demi rakaat terdengar suara bersin.

 

Beberapa kali Adi bersin dalam satu rakaat shalat tersebut.

 

“Hmmm, Bapak emang mau sakit flu kayaknya,” guman Wardah perlahan.

 

Bersin Adi tak kunjung hilang meski telah berada di meja makan.

 

“iiih, Bapak, kalau bersin ditutup, dong, mulutnya pake tisu, ntar Sahid ketularan,” celetuk Sahid sambil tertawa melihat bapaknya bersin.

 

“Iya… iya, nggak keburu ambil tisunya di saku, bersinnya ngajak balapan,” jawab Adi sambil tertawa kecil.

 

“Wah, kayaknya ada yang flu, ya? Nanti bisa antar nenek nggak ke terminal?” ucap Ibu Aminah yang keluar dari kamarnya menuju meja makan.

 

Ibu Aminah hari itu mau kembali ke kampungnya. Biasanya Adi yang mengantar menggunakan sepeda motor ke terminal yang tidak begitu jauh dari rumah Adi.

 

“Bisa, kok, Nek, tenang aja… cuma flu biasa,” jawab Adi meyakinkan Ibu Aminah bahwa dirinya bisa mengantar mertuanya itu ke terminal.

 

Sepulang dari masjid usai shalat Subuh, Adi bergegas mengeluarkan motornya, hendak mengantar Ibu Aminah ke terminal.

 

“Pake jaket yang tebal, nanti makin parah flunya!” pinta Ibu Aminah kepada Adi.

 

“Bu, ambilkan jaket bapak yang biasa dipakai kalau ke luar kota, ya,” teriak Adi kepada Wardah yang masih di dalam rumah.

 

Wardah keluar rumah membawakan jaket tebal berwarna abu-abu yang biasa di pakai Adi kalau berpergian ke luar kota menggunakan bus atau kereta api.

 

Bismillahirrahmanirrahiim…” Adi mengucap basmalah sambil membonceng Ibu Aminah.

 

Di perjalanan yang sepi tersebut, angin berembus sangat kencang, membawa udara dingin yang menembus tebalnya jaket Adi. Sementara bagi Ibu Aminah yang sehat, udara dingin tersebut terasa menyejukkan dan menyegarkan.

 

Dalam waktu kurang dari 10 menit, mereka berdua sampai di terminal bus antar kota. Dan tampak dari kejauhan, bus yang hendak ditumpangi oleh Ibu Aminah telah bersiap untuk melaju.

 

“Nek, tuh busnya sudah ada,” kata Adi sambil menunjuk ke arah bus yang dimaksud.

 

Adi membiasakan memanggil Ibu Aminah dengan sebutan nenek karena mengikuti kebiasaan Sahid yang memanggil nenek kepada Ibu Aminah.

 

Ibu Aminah bergegas menuju bus, sementara Adi mengikutinya sambil membawa tas besar berisi pakaian dan oleh-oleh yang akan dibawa oleh Ibu Aminah ke kampung.

 

“Ya sudah, terima kasih, kamu pulang dan istirahat, supaya tidak tambah parah flunya!” kata Ibu Aminah sambil menjejakkan kakinya menaiki bus.

 

“Iya, Bu, salam sama Bapak,” jawab Adi sambil melambaikan mencium mertuanya itu.

 

Adi kembali menaiki motornya dan bergerak kembali ke rumah sambil menembus dinginnya udara pagi itu.

 

Wardah mendengar suara motor mendekat ke rumahnya dengan dibarengi suara bersin bersin yang semakin kerap.

 

Setelah membuka pintu dan Adi masuk ke rumah, Wardah memegang dahi Adi untuk mengetahui kondisi suhu tubuh suaminya.

 

Masya Allah, Pak, badannya panas sekali!” teriak wardah ketika menyentuh dahi Adi.

 

“Iya, nih, Bu, bapak meriang sekali,” jawab Adi pendek.

 

“Ya sudah, Bapak berbaring saja di tempat tidur, nanti ibu balurkan balsam supaya agak hangat, ya,” kata Wardah.

 

Tidak berapa lama setelah berbaring, tubuh Adi menggigil.

 

“Allah… Allah… Allah…” bisik Adi sambil menahan dingin.

 

Sekalipun suhu di pagi itu normal seperti hari hari kemarin, namun karena suhu tubuh Adi yang bertambah tinggi maka suhu ruangan tersebut terasa lebih dingin di badan Adi.

 

Pikiran Adi melayang kepada nasihat seorang kiai sufi, Kiai Faris, yang pernah ia temui di sebuah pesantren ketika ia dan kawannya mengunjungi salah seorang muridnya yang sakit dan sedang mondok di sana.

 

“Sesungguhnya yang menyembuhkan setiap penyakit itu adalah Allah,” ucap sang kiai.

 

“Sementara dokter, tabib, dan obat, hanyalah sebuah perantara sebagai ikhtiar manusia dalam mencari kesembuhan,” lanjutnya, “itulah kenapa, ada yang yang cocok berobat ke dokter anu, atau meminum obat anu, karena semua itu hanya alat bagi Allah. Jadi tergantung Allah mau memakai siapa dan apa sebagai alat menuju kesembuhan tersebut.”

 

Lalu Kiai Faris bercerita tentang seorang dokter dari Makassar membuka klinik di Tanah Suci. Selama 6 bulan praktik, tidak ada seorang pasien pun yang datang untuk berobat. Hingga beliau merasa heran, apakah orang-orang di sini tidak pernah sakit?

Lambat laun, sang kiai akhirnya menemukan jawabannya, dari salah satu muslim di sana.

Bila kami sakit, ikhtiar pertama yg kami lakukan ialah shalat dua rakaat, dan memohon kesehatan kepada Allah. Insya Allaah sembuh dengan izin dan kasih sayangNya. Kalau belum sembuh, kami lakukan cara kedua, membaca Al Fatihah dan surat-surat lain, tiupkan pada air kemudian diminum. Dan, alhamdulillaah, kami akan sehat. Inilah ruqyah untuk diri sendiri. Tapi kalau belum sehat juga, kami lakukan ikhtiar ketiga, yaitu bersedekah, dengan niat mendapatkan pahala kebaikan, dan dijadikan jalan penyembuh sakit kami. Insya Allah akan sembuh. Kalau tidak sembuh juga, kami akan tempuh ikhtiar yang keempat, banyak-banyak istighfar, untuk bertaubat. Sebab, Nabi memberitahu kami bahwa sakit adalah salah satu sebab diampuninya dosa-dosa. Kalau belum sembuh juga, baru kami lakukan ikhtiar yang kelima, yaitu minun madu dan habbatussauda. Ikhtiar yang keenam, yaitu dengan mengonsumsi makanan herbal, seperti bawang putih, buah tin, zaitun, kurma, dan lain-lain, seperti disebut dalam Al Quran. Dan, alhamdulillaah. Laa hawlaa wa laa quwwataa illaa billaah. Jika belum sembuh juga, baru kami melakukan ikhtiar kedelapan, yaitu pergi ke dokter.

 

“Pak, balikin badannya, ibu mau gosokin balsam di punggung Bapak,” ucap Wardah sambil membawa balsam di tangannya.

 

Masya Allah, Bu, bapak, kok, teringat Pak Kiai Faris yang bercerita tentang hakikat sakit,” kata Adi sambil membalikkan badannya. “Nanti kalau sudah masuk waktu Dhuha, bapak mau shalat dua rakaat untuk meminta kesembuhan seperti nasihat Kiai Faris.”

 

Adi kembali teringat beberapa petuah dari Ustad Aslah bahwa lewat sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, diceritakan bahwa Nabi Muhammad Saw. pernah bersabda mengenai seorang muslim tak akan tertimpa penyakit, kecuali Allah menghilangkan penyakit tersebut bersamaan dengan dosa-dosanya.

 

Ada pula yang menjelaskan bahwa seorang muslim tidak akan ditimpa oleh letih, penyakit, gangguan, gundah gulana, hingga kesusahan kecuali Allah berniat menghapuskan sebagian kesalahan darinya.

 

Teringat perkataan Ustad Aslah tersebut, wajah Adi berubah menjadi lebih tenang, sekalipun hal tersebut tidak bisa menyembunyikan kondisi panas dingin yang sedang dialaminya.

(Bersambung)


Penulis: Boyke Pribadi

Editor: Setiawan Chogah

Editor :

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *