CerpenInspirasi

Cerpen Fajar Martha: Hanya Hania

biem.co“Kamu laki-laki yang terlalu bergajul. Kamu berandal. Aku tidak sudi menghabiskan sisa-sisa umur bersamamu,” perempuan beralis tipis dengan sedikit lesung pipit itu berkata pelan dengan ketegasan sebongkah karang.

“Kamu takkan mengerti perasaanku. Kamu naif, merasa bangga dan berpikir bahwa segala perbuatan kejimu itu turut pula membuatku bangga. Tidak. Seratus persen tidak. Kita harus berpisah dan aku rasa kamu sudah tahu perpisahan ini akan aku ucapkan, cepat atau lambat. Engkau dan aku terlalu minyak dan air. Jangan pernah menemuiku lagi.”

Baik di bibir maupun di hati, Hania sungguh ragu mengatakannya. Tidak. Ia tidak hanya ragu. Ia takut. Lelaki yang diberinya ultimatum, Tantra, adalah tukang pukul yang menganggap perkelahian sebagai rekreasi. Lelaki di hadapannya adalah sosok yang telah empat tahun ia pacari. Setegar-tegarnya tukang pukul, toh mereka gemetaran juga kala berhadapan dengan kekuatan bernama cinta.

Tantra, yang menyaksikan Hania terus mencerocos, dalam hati mengakui kekalahannya. Dulu ia tak pernah sekejap pun berpikiran akan bisa memacari perempuan seperti Hania. Selama mereka berhubungan, Hania adalah alasan bagi dia untuk tetap tenang menjalani hidup. Hidup yang menurutnya bersanding dengan kutukan. Hania berhasil menggiringnya untuk kembali ke bangku kuliah, itu yang pertama. Yang kedua, perempuan yang lebih muda tiga tahun darinya itu juga sanggup membuat nafsu tempurnya impoten. Atau setidaknya sedikit terkendali. Tantra dikutuk untuk menjalani hidup sebagai tukang kelahi, sampai ia mati. Kematian yang datang entah lusa, entah dua puluh tahun nanti.

Berkat Hania, ia bisa menggumuli sisi lain Yogyakarta. Ia memasuki ruang-ruang yang selama ini tidak ia ketahui, atau ia pikir tidak mungkin bisa ia masuki. Bersama Hania, Tantra berkenalan dengan para seniman kota tersebut yang ternyata menghiasi hari dengan kelakar, alkohol, dan sesekali ganja. Ia tidak berminat secuil pun dengan lukisan, patung, atau foto. Ia hanya senang bergaul dengan mereka. Memiliki reputasi sebagai tukang kelahi yang tak takut mati, seniman-seniman itu memanfaatkan Tantra untuk melindungi mereka dari berbagai ancaman; tekanan dari ormas keagamaan, atau sebatas menentramkan preman-preman kampung yang selalu merasa berhak mencicipi sedikit berkah dari agenda-agenda kesenian.

Tantra bukannya tidak tahu. Ia tidak menampik peran yang harus ia jalankan karena ia senang bisa bergaul dengan mereka. Dalam hati, ia sering bertanya mengapa satu lukisan bisa dihargai satu milyar; bagaimana teman-temannya bisa mendapatkan residensi di luar negeri dengan bermodal proposal dan karya. Tetapi sebatas itu. Baginya pergaulan ini adalah anugerah. Mereka selalu bisa membuatnya tertawa. Tatkala mereka sedang mengadakan acara, Tantra turut berantusias karena ia bisa minum-minum sepuasnya. Terkadang banyak pula kawan sekampus yang menghadiri acara-acara tersebut. Tantra merasa bangga saat mereka menyaksikan dirinya tampak akrab dengan para seniman. Ia bisa berlagak jemawa lalu memamerkan keakraban tersebut kepada kawan-kawan kampusnya.

Mulanya, tidak pernah terbersit sekali pun dalam benaknya bahwa ia akan menjadi tukang pukul. Meski berbadan besar, Tantra adalah orang yang cukup penakut. Ia selalu menghindari konfrontasi. Ia tidak bisa mengingat kapan pertama kali dia berkelahi, karena memang tidak ada yang perlu diingat. Masa kecilnya berjalan dengan biasa-biasa saja. Tanpa riak atau gelombang. Ia tidak pernah menjalani kenakalan-kenakalan khas bocah lelaki. Sekadar mencuri sandal atau buah jambu ia tidak pernah. Bermain bola hingga langit memerah tidak ia kenali. Bermain kelereng atau layangan ia lakukan di hari Minggu dan hanya di hari itu. Jika suatu perkelahian belum juga mendidih, ia memilih beringsut kabur. Ia tahu gelagat-gelagat yang dapat memercikkan kontak fisik, dan ia selalu sekeras mungkin memadamkan percikan tersebut. Ia selalu memaafkan orang yang membuat hatinya bergejolak. Ini juga yang membuatnya jarang berkeriap dengan sesama kawan lelaki. Saat itu Tantra berpikir bahwa, meski menjemukan, ia akan bisa menjalani hidup dengan normal.

***

“Kau yang namanya Tantra?!” sebuah tangan mencengkeram lehernya dari belakang.

“Ya, bung, ada ap—“ belum sempat Tantra menengok, sebuah pukulan mendarat di pelipisnya. Tantra terhuyung, mencari sedikit keseimbangan. Pukulan itu begitu keras. Tapi Tantra tahu belati pun takkan bisa mengoyak tubuhnya. Ia berlagak sempoyongan demi memperhatikan suasana. Ia melihat ada lima orang yang siap menghajarnya. Tiga di antaranya mabuk. Suatu keunggulan bagi Tantra.

“Berani-beraninya kau menghajar Aldi! Kau harus berurusan dengan kami,” lelaki yang tadi mencengkeramnya lanjut berbicara. Sepertinya ialah pemimpin mereka. Di kejauhan lima meter, ia bisa melihat Aldi sedang berdiri cemas. Tantra akhirnya tahu, ini adalah upaya balas dendam karena telah membuat Aldi babak belur. Ia menghajar Aldi bukan tanpa sebab: Aldi pacar Hania yang telah lama membuat Hania menderita. Aldi senang menghajar perempuan itu. Ia baru tahu setelah Fira mengabarinya karena ternyata Hania seperti tidak berkenan untuk melepas Aldi, atau melaporkan Aldi ke polisi. Hubungan yang ganjil, pikir Tantra. Tetapi perempuan yang disengsarakan ini adalah Hania. Gadis yang di matanya selalu memancarkan cahaya.

Tantra mengenal Hania di suatu malam pementasan musik di fakultasnya. Hania berasal dari fakultas sebelah, Fakultas Ilmu dan Budaya. Hania baru semester dua waktu itu. Meski begitu, Hania tampak sudah mengenali orang-orang di lingkungan Tantra. Hania tidak kikuk meladeni rayuan-rayuan khas mahasiswa dengan logat Jawa yang dipaksakan. Rambutnya dibiarkan tergerai meluncur bebas ke pundak. Ia melihat Hania begitu bercahaya.

Beruntung, perkenalan dapat terjadi secara kasual. Untuk laki-laki pemalu, berkenalan dengan seorang bintang hanya bisa terjadi dalam angan. Perkenalan itu dijembatani Fira, satu dari sedikit teman terdekat Tantra. Mereka tak bertukar kontak. Hanya jabat tangan kaku dengan gejolak perasaan aneh di perut Tantra. Mulutnya baru berbicara saat Hania menanyakan asal Tantra. Tidak ada hey, tidak ada pula halo.

“Malimping,” ucap Tantra.

“Jakarta,” balas Hania.

Saat itu juga Tantra menyadari bahwa ia telah jatuh cinta. Jatuh cinta kepada Hania.

Tantra tahu ia harus menghajar lelaki yang sejak tadi berbicara ini. Jika sang pemimpin sudah ia buat bertekuklutut, itu bisa menjadi alat gertak ampuh saat dikeroyok. Naluri tempur yang entah Tantra peroleh dari siapa. Tantra lantas mengambil botol di meja, membantingnya, dan menyodorkan botol setengah pecah itu ke hadapan pengeroyok.

“Yang jantan kalau mau kelahi, bung! Maju satu-satu. Saya rela mati demi menghajar lelaki pengecut macam kalian dan Aldi,” bentak Tantra. Matanya nyalang. Ia sedikit berakting demi memperhatikan nyali para pengeroyoknya. Ia tahu mereka menjadi sedikit ciut. Dua di antara mereka meragu dan sedikit mundur ke belakang. Terkadang memenangkan pertarungan hanya soal bagaimana kau menggertak lawan. Tantra merengsek. Ia tarik tudung jaket sang pemimpin, ia ludahi wajahnya. Nyali sang lawan bisa Tantra rasakan semakin mengerut. Botol yang pecah ia singkirkan, untuk kemudian menghajar leher sang lawan. Ia bukan pembunuh dan untuk saat ini belum ingin membunuh.

Plakkk. Sang lawan dengan refleks memegang lehernya dengan kedua tangan. Kesempatan yang tidak Tantra sia-siakan. Sang lawan mendapati dua kejadian sial beruntun. Pertama, muka yang diludahi. Kedua, ia yang seharusnya unggul dapat dengan mudah ditekuk Tantra. Tantra langsung menyasar kedua paha. Buggh. Tumit kanannya mendarat di paha kiri. Buggh. Selanjutnya jatah bagi paha kanan. Lewat tiga jurus sederhana, penyerang pertama pun roboh.

Keempat penyerang sisa, yang awalnya ragu, dengan serampangan mengitari Tantra dan melimpahinya beribu serangan. Tantra bergeming. Ia tidak merasakan sakit sedikit pun. Ia menunggu keempatnya kehabisan tenaga. Setelah tiga menit dihujani pukulan dan tendangan, Tantra bangkit. Ia menyungging senyum. Wajah para pengeroyok menjadi pias. Tantra terkekeh sebentar. Alih-alih membalas mereka, ia berlari ke arah Aldi.

Ia menarik kerah Aldi, menyeretnya ke hadapan pria berjaket tudung yang telah tersungkur ke tanah.

“Selesaikan..” brakk – satu pukulan telak mendarat di ulu hati Aldi.

“Urusanmu..” gedebum – bogem mentah Tantra menerpa hidung Aldi.

“Sendiri..!!!” jlebbb, jlebbb, praakh, duasssh. Tantra mengoyak wajah Aldi. Darah mengucur deras, muncrat tak keruan membasahi lantai putih. Suasana menjadi anyir dan suram. Kantin kampus yang biasanya di Jumat sore sedikit sepi menjadi ramai. Keramaian yang mencekam.

Tantra lupa ia belum melumpuhkan empat pria lainnya. Salah satu dari mereka melihat botol dengan ujung meruncing yang tadi dipegang Tantra menganggur tergeletak. Dengan sebat botol itu ia ambil. Keenam orang yang saling berjibaku ini telah menjadi tontonan banyak orang. Lima satpam kampus telah siap menerjang. Sayang, kehadiran mereka terlalu terlambat. Lelaki dengan botol berujung runcing telah memantapkan tekad untuk menusuk leher Tantra.

“Hentikaaaaan…” sekumpulan suara menghiasi perkelahian seperti koor penonton di pertandingan bola.

“Mati kau!” penyerang itu telah menancapkan botol berujung runcing ke leher Tantra.

Alih-alih tersungkur atau paling tidak mengucur darah dari lehernya, Tantra justru hanya menengok sang penyerang. Botol yang runcing memantul dengan gaibnya. Lagi-lagi ia tersenyum. Tangan kirinya masih mencengkeram rambut Aldi. Penyerang itu tergeragap, melempar botol jauh-jauh, agar botol itu tak berbalik menjadi pemutus nyawanya sendiri. Ia lari sambil memohon ampun.

Seisi kantin hening memandang peristiwa gaib itu. Meski hening, benak para penyaksi dihantui apa yang baru saja mereka lihat. Tubuh Tantra tak bisa dikoyak benda tajam; Tantra memiliki ilmu kebal; Ia mungkin keturunan dukun!; Ia telah menjadi abdi setan; Jangan pernah terpikir untuk mencari masalah dengannya!

Tak sampai satu hari, reputasi Tantra berubah dan menyebar ke seantero kampus. Yang melegakan, Tantra tidak mendapat masalah berarti dari pihak kampus. Ia berkilah bahwa kejadian di sore itu hanyalah upaya melindungi diri. Kedua korbannya dirawat di rumah sakit tanpa luka atau cacat permanen. Tantra tidak mesti bertanggungjawab atau menunggu serangan balasan. Di benak para korban, mereka menyesal telah berurusan dengan orang yang salah.

Hania, mau tidak mau, menjadi bersimpati. Lewat serangkaian kencan yang mulanya sebatas saling kunjung dan bertukar cerita, keintiman pun membulat dan mengutuh menjadi asmara. Selain cantik dan memiliki pembawaan riang, Hania mengajari Tantra nikmatnya berhubungan seks. Ratusan malam mereka habiskan dengan pergumulan badan. Pergumulan yang basah dan penuh lendir. Di mana ada Tantra, di situ ada Hania. Tantra adalah Hania dan Hania adalah Tantra. Keduanya bagai air dan api, tetapi saling melengkapi.

Tantra berubah dan menikmati identitas barunya ini. Ia kecanduan anyir darah. Ia menikmati wajah takut korban-korbannya. Jika tak ada botol, gelas, atau benda pecah-belah lain, ia punya cara baru untuk menggertak lawan-lawannya. Ia akan melempar mereka dengan rokok yang sedang dia isap. Setelahnya, sebelum menghajar mereka, ia meludahi wajah-wajah malang tersebut. Tantra bertarung di mana saja. CV-nya semarak dengan pengeroyokan dan baku hantam. Ia meladeni ajakan seorang kawan untuk menghajar organisasi kemahasiswaan rival demi mengacaukan proses pemilihan ketua senat. Ia berada di barisan terdepan saat kampusnya berhadapan dengan saingan sengit, anak-anak Fakultas Teknik atau Kehutanan, di pertandingan futsal, basket, atau sepakbola. Perlahan, kegarangannya tidak ia lanjutkan di lingkup kampus. Tantra mencoba lahan-lahan lain yang lebih menantang: perebutan lahan parkir, persaingan pedagang pasar, perang antargeng, penagihan utang, atau kericuhan di ruang prostitusi. Selain dari Hania, Tantra juga mendapatkan orgasme lewat anyir darah yang mengucur dari hidung, pelipis, atau telinga lawan-lawannya. Tantra mencandu tempik sorak dari pihak yang berhasil ia menangkan. Dalam kurun dua tahun, Tantra menjadi sosok yang cukup berpengaruh di alam para gali dan begundal.

***

“Kau tidak memiliki pantangan apapun. Kau hanya perlu menenggak darah tiga ayam cemani yang kau sembelih sendiri saat bulan purnama menaungi bumi. Kau tetap bisa menjalani hidup sebagaimana orang-orang kebanyakan. Tetapi darah di tubuhmu akan selalu mendidih. Tantra, jalan hidupmu sungguh masih panjang dan lapang, nak. Mengapa kau begitu sudi menerima beban yang diturunkan uwakmu ini?”

Tantra dikerubungi enam orang anggota keluarga sepuh. Sudah lima tahun uwaknya, Wak Badri, hidup dalam kubangan derita. Tantra hanya diberitahu bahwa ia menjadi gila karena jagoannya kalah saat Pilkada. Wak Badri yang dulu hangat dan sehat, semenjak itu menjadi aneh. Kegilaan Wak Badri di mata Tantra begitu mendadak. Orang yang dulunya begitu gemar bersosialisasi kini menjalani hidup dalam isolasi. Ia jadi sering berbicara sendiri. Tatapan matanya selalu nyalang. Terkadang ia berbicara dengan bahasa yang tidak orang-orang pahami. Rambutnya kusut-masai. Suatu waktu mereka mendapati Wak Badri melayang di langit-langit kamar dengan bibir menyungging senyum. Pernah juga Wak Badri mengobarkan api dari tangan kosong, sehingga keluarga memutuskan untuk merantainya. Kamarnya dipenuhi dengan tahi dan kencing. Tatkala kamar dan tubuhnya telah dibersihkan Mak Odah, istrinya, tubuh Wak Badri masih menguarkan bau tak sedap. Campuran antara kemenyan dan amis nanah. Kegilaan Wak Badri terlalu ekstrem.

Pasca Reformasi, kota kecamatan Malimping yang berada di Selatan Jawa turut disesaki para preman dan maling. Tuah reformasi dan jargon demokratisasi bersanding dengan tumbuhnya kekuatan-kekuatan baru yang dulu tidak terlalu dalam mencampuri ranah politik. Kegelapan yang meminjam kekuatan iblis. Setiap calon-calon pemimpin yang maju di pentas demokrasi seperti wajib memiliki beking jago-jago silat yang kekuatannya tak dapat dipermanai akal sehat. Banyak dari mereka yang bisa terbang. Ada pula yang menjelma menjadi singa atau macan saat bertarung. Wak Badri menjadi salah satu dari jago silat yang bertaruh di ranah politik. Ia menjadi pengaman barisan pemuda dan sayap partai. Wak Badri tak segan menyebar ancaman dengan menculik, melukai, serta membunuh.

Pertengahan 2000an, kekuatan Wak Badri bersama patronnya mulai mengendur. Kekuatan gaib dari alam hitam ditaklukkan kekuatan paling konkret dalam kehidupan manusia: uang. Satu demi satu kroni Wak Badri menyeberang ke sisi rival. Di sisi lain, mesin politik partai pesaing begitu gencar mempengaruhi masyarakat calon pemilih dengan fitnah, propaganda, dan limpahan uang. Partai Hijau yang dibela Wak Badri dengan telak mengalami kekalahan dari Partai Kuning di pemilihan bupati. Mengalami goncangan yang cukup hebat, mental Wak Badri pun goyah. Ia tak lagi sanggup menahan kekuatan hitam yang menggemuruh di dada. Tuntutan dari iblis untuk tetap menjajal nyawa tak mau lagi ia turuti. Begitu pun dengan ritual menenggak darah ayam cemani. Kegilaan serta-merta mendatangi.

Di umur yang menjelang delapan puluh, fisik Wak Badri sehat belaka. Tetapi seantero kampung tahu bahwa sebenarnya ia sedang menuntut datangnya ajal. Ajal yang tidak akan datang bila ilmu hitamnya tidak ia warisi ke salah satu keturunannya. Belasan kyai telah mencoba mengantar Wak Badri ke kematian, tetapi semua usaha semata buang waktu. Wak Badri menempa diri dengan ilmu hitam yang tidak diketahui berasal dari mana. Beberapa kyai menyebut ilmu Wak Badri tidak ia peroleh di Pulau Jawa. Butuh kerjasama dengan guru yang telah memberikan ilmu tersebut pada Wak Badri jika keluarga ingin Wak Badri meninggal dengan tenang. Maka satu-satunya cara adalah mengalihkan ilmu itu ke orang lain. Sesuatu yang dengan keras ditampik anak-anak dan cucunya.

“Tantra anakku, besar dan mulia sekali kehendakmu ini. Di ambang sedih dan bahagia, ibu tahu uwakmu menderita. Tetapi mengapa penderitaan itu harus kamu yang menanggung? Darah dagingku sendiri. Mengapa kang Badri begitu bodoh, ya Allaaah,” ibunya menangis tersedu di sebelahnya.

Permasalahan Wak Badri adalah permasalahan keluarga besar. Semua bersimpati pada Tantra, sekaligus mengasihani sang bujang yang belum pula menginjak umur tiga puluh itu. Yang paling besar mengucap syukur tentu saja keturunan langsung Wak Badri. Sudah terlalu lama ayah dan kakek mereka menjadi beban dan aib keluarga.

Mak Odah sebenarnya tahu bahwa ia bisa membunuh Wak Badri dengan cara yang sungguh sederhana, tanpa melibatkan dukun, kyai, atau guru Wak Badri. Tetapi manusia macam apa yang tega menghabisi nyawa orang terkasih dalam keadaan sadar? Mak Odah seperti berada di tepian jurang dan hanya punya pilihan untuk melompat lalu mati di dasar jurang itu. Ia sadari kerelaan Tantra hanya akan menyumbat masalah untuk sementara. Tantra akan menjelma menjadi Wak Badri. Cepat atau lambat.

Di tengah-tengah kekosongan hidup nan hambar, Tantra merawat harapan kepada Hania. Belum pernah ia merasakan cinta yang sedemikian berkobar. Kobaran itu kemudian mendidih saat mengetahui penyiksaan yang dilakukan Aldi kepada sang perempuan cahaya. Tantra tahu keputusan ini merupakan perjudian yang bahan taruhannya bukanlah uang, tetapi jiwanya. Namun tekadnya telah bulat. Jika cintanya tak sampai, setidaknya bisa membuat hidup Hania menjadi tenang.

“Uwak-uwak yang saya kasihi. Keputusan ini telah saya pikirkan matang-matang. Sebagai bagian dari keluarga besar, saya memilih untuk mengambil penderitaan Wak Badri, agar beliau bisa pergi dengan tenang. Saya masih punya banyak waktu untuk mencari guru Wak Badri. Saya masih sanggup mencari solusi lain demi memutus kutukan ini. Jika saya menjadi tukang kelahi sepertinya, setidaknya hal itu tidak saya lakukan di kampung sendiri, dan keluarga tidak secara langsung menerima tanggungan malu. Segera lakukan proses yang harus dilakukan. Saya ikhlas.”

Setelah kaum perempuan meninggalkan rumah, Kyai Hasan memerintahkan agar kedua tubuh ditelanjangi. Yang satu masih segar, yang satu seperti ikan asin. Kyai Hasan adalah mantan jawara yang cukup berpengalaman menangani ilmu hitam. Ia pernah berada di kedua sisi, putih dan hitam. Setelah dua tubuh tanpa busana itu dijejerkan, Kyai Hasan memerintahkan hadirin untuk memegangi kedua tubuh secara saksama, karena akan ada pemberontakan mahahebat dari keduanya.

Dari luar, keluarga dan orang-orang kampung bisa mendengar raungan macan menggelegar. Padahal macan sudah lama punah di kampung tersebut. Setelah macan, keluarlah suara gagak, tangis bayi, dan tawa jahat seorang nenek. Orang-orang ketakutan dan mereka tak ingin meninggalkan kerumunan. Mereka khawatir di perjalanan pulang akan dicegat salah satu hantu yang suaranya sedang mereka dengarkan.

Setelah malam yang penuh nuansa jahat itu berlangsung selama empat jam, rumah Wak Badri mengeluarkan asap hitam. Suara-suara tak lagi terdengar. Keheningan melanda. Suasana tidak pernah seseram dan sesuram ini sejak terakhir kali tentara Jepang menduduki kota. Jejak mereka masih ada tetapi hanya berupa benteng yang berdiri di bibir pantai. Kota seperti dilanda teror karena gelegar suara juga terdengar hingga radius lima kilometer. Listrik padam. Lantas terdengar guntur bersahutan di langit Malimping. Dalam hati masing-masing, mereka berharap teror ini hanya terjadi di malam ini.

“Baca ayat kursi!” terdengar suara Kyai Hasan dari dalam rumah. Tanpa perlu mengambil kitab suci, hadirin melantunkannya dengan patuh. Tatkala bacaan telah habis dan mencapai sodaqallahul azim, Kyai Hasan memerintahkan agar mereka mengulanginya lagi. Anak-anak kecil dan remaja yang tadinya terlelap di rumahnya masing-masing turut menghadiri seremoni karena lantunan ayat suci yang muncul sekonyong-konyong itu terdengar menakutkan. Banyak bayi menangis. Suasana tambah mencekam saat pagi menjelang, ayam-ayam yang dipelihara orang kampung tidak juga berkokok.

Pukul sembilan pagi, asap hitam baru berhenti keluar dari rumah Wak Badri. Satu per satu, hadirin melihat Tantra telah mengenakan pakaian lengkap dan duduk bersila di samping Wak Badri. Ia menyungging senyum. Dengan keramahan yang luar biasa aneh, ia bangkit, menyongsong dan melambai di depan pintu, lalu berkata,

“Bapak-bapak, ibu-ibu. Silakan masuk. Almarhum baru saja meninggal. Mohon beri penghormatan terakhir untuk paman saya.”

***

Oleh karena berasal dari provinsi yang cukup kental keislamannya, serta sering bergaul di selatan kota yang merupakan basis pendukung Partai Hijau, Tantra turut bergabung dengan Barisan Pemuda Hijau (BPH), milisi sipil yang berafiliasi dengan partai tersebut. Tantra menggauli mereka untuk mengenang sosok sang paman, kader setia Partai Hijau. Di BPH, tugas Tantra sederhana belaka. Ia sering lebih menjadi pemantau ketimbang urun tenaga di medan tempur. Banyak anggota BPH yang memiliki bekal ilmu bela diri, atau sekadar nyali. Terkadang nyali saja sudah cukup jika kau bergerombol.

Satu bulan setelah asmaranya diputus Hania, Tantra semakin beringas menggunakan kesaktiannya. Tugas-tugas dari BPH ia rasakan terlalu remeh. Ia tak ingin sekadar menjaga konvoi atau kampanye partai kerena di situ nafsunya jarang terlampiaskan. Ia menghadap Pak Marno, pimpinan pusat BPH, seorang haji juragan kos-kosan dan kontraktor.

Gayung bersambut. Pak Marno menugasinya untuk memberi pelajaran pada geng pemuda Kupang yang mengacau di pusat kota. Tak sampai satu pekan, tugas tersebut dapat dilaksanakan Tantra dengan baik. Setelah pemuda Kupang, berturut-turut pemuda Lampung, Alor, juga Maluku. Jika sebelumnya hanya memimpin pemuda penganggur bermodal motor berisik, kini Tantra berada di barisan pendekar yang tidak ragu membawa pedang dan samurai.

Milisi yang ia pimpin tak lagi membenahi urusan-urusan politik. Mereka ternyata juga bermain di ladang-ladang basah seperti narkoba, gusur-menggusur tanah, hingga peneroran lawan-lawan bisnis. Darah, darah, dan darah. Tantra selalu menjadi yang terdepan di barisan ini. Semakin banyak musuh yang ia tumpas, semakin sedikit pula bayangan Hania hadir menghantui kepala.

Bersama petinggi milisi dan pejabat partai, Tantra memiliki kedudukan sama tinggi, meski tak memiliki jabatan resmi. Di suatu anjangsana malam di rumah Pak Marno, Tantra mendengar sebuah fakta yang membikin semangatnya semakin menyala.

“Tantra, apa kau tahu kabar Hania saat ini?” seorang berperut buncit bernama Handoyo melempar tanya.

“Tentu saja tidak, Pak Handoyo. Saya sudah hampir bisa melupakan perempuan itu,” Tantra pura-pura menjawab dengan santai. Asap rokok mengepul membentuk kabut mini di ruang tamu Pak Marno.

“Wah, wah. Anak muda zaman sekarang. Mudah sekali melupakan cinta, ya? Hahaha. Ketahuilah, Tan, mantan kekasihmu itu kini berpacaran dengan anak si Sunarto, lawan kita dari Partai Merah. Anaknya kini menjadi pemimpin Barisan Nasionalis, meski ia tidak memiliki daya tempur seperti kau,” Handoyo melanjutkan cerita.

“Kau kacaukan anaknya, dengan motif balas dendam karena telah merebut Hania. Dengan itu, aku yakin konsentrasi Sunarto di pemilihan ini bisa sedikit terpecah. Hahaha!”

“Hahahaha!” hadirin turut mengimbuhi tawa Handoyo.

Dengan ketenangan seorang sufi, Tantra menyetujui siasat tersebut. Dalam hati, tekad dan hasratnya berapi-api.

***

“Aku mencintainya sebagaimana hujan mencintai tanah. Aku memahaminya seperti nelayan memahami bintang. Hanya Hania. Hanya Hania yang kucintai dan alasan itulah yang membuatku menebar teror pada kalian. Hahaha. Kalian terlalu lemah, aku terlampau kuat. Sekuat cintaku pada Hania.” Dalam kondisi telanjang dan terikat, Tantra berbicara lantang.

“Kalian pikir ini semua urusan politik? Hahaha. Kalian salah. Aku tidak rela Hania harus jatuh ke tangan lelaki lemah macam bos kalian itu. Namanya saja aku tidak tahu. Ia terlalu tidak penting. Ia kuat karena ayahnya kuat. Hahaha!”

Selepas pertemuan di rumah Pak Marno, Tantra mengacau menjadi-jadi. Setiap bisnis yang berafiliasi dengan Sunarto, sang calon walikota, ia recoki. Setelah membuat orang babak belur atau lahan bisnis kacau balau, ia menuliskan sebuah pesan singkat dengan cat hijau, “HANYA HANIA”. Langkah itu ia lakukan untuk mengaburkan motif.

Kini, di sebuah bengkel di jalan raya sepi, Tantra dikerubungi orang-orang dari milisi dan Partai Merah. Aksi Tantra tak sekadar seperti kutu di rambut, tetap sudah menjadi ancaman nyata yang tidak bisa diindahkan. Mereka kehabisan akal untuk memupus nyawa Tantra. Segala upaya telah mereka coba. Tubuhnya yang telah ditelanjangi masih kebal menangkis tusukan, cabikan, air keras, hingga peluru panas. Di tengah-tengah itu semua Tantra terus saja menyerocos. Ia tahu, sebentar lagi bantuan akan datang dari teman-temannya.

“Aku mengenal setiap lekuk tubuh Hania seperti lekuk tubuhku sendiri. Hania berpikir dari sudut pandang yang sama sepertiku. Aku tahu Hania tidak bahagia bersamanya. Ia hanya sanggup berbahagia bersamaku. Hania adalah aku dan aku adalah Hania. Hanya Hania, brengsek. Hanya Hania. Hahaha.”

“Jika Hania bahagia bersama bajingan itu, mengapa ia sekarang lebih sering berada di Jakarta? Mengapa ia tidak melanjutkan kuliahnya? Hahaha. Jelas sekali ia tidak bahagia. Hanya aku yang bisa membuatnya bahagia. Lebih baik Hania menjalin kasih dengan pria jelek dan miskin ketimbang bersama pengecut yang berlindung di naungan kebesaran ayahnya.”

“Hahaha. Malang sekali nasibmu, Hania. Aku menabur teror demi menyadarkannya. Jika tidak, hidupnya akan mampus dirundung kehampaan. Hanya Hania. Ya, hanya Hania! Hahaha…”

“Kau salah,” suara perempuan terdengar dari pintu yang berderit. Sosok perempuan yang sejak tadi dibicarakan memasuki ruangan.

“Aku bahagia bersamanya.”

Sang perempuan cahaya melenggang ke hadapan Tantra. Seperti dulu, mereka kembali tak berjarak. Senyum di wajah Tantra menghirap, sekonyong-konyong menjadi lesi dan lesu. Ia sungguh terkejut dengan kedatangan Hania yang tiba-tiba.

Cresss..

Tanpa menunggu lama, Hania merogoh belati yang telah dilumuri darah ayam cemani, menikam jantung Tantra. Pisau berkilat menerobos kulit dan dagingnya, sekaligus memupus kesaktian hitam warisan Wak Badri.

“Padahal benar-benar hanya engkau, Hania. Hanya engkau..”

Tubuh Tantra bergeletar sesaat, lalu terkulai seperti seonggok bangkai tikus. Ia mampus dengan mata melotot dan lidah menjulur. Tantra lupa, hanya Hania yang menyimpan rahasia terbesarnya. Sebagaimana dulu Mak Odah menyimpan rahasia Wak Badri.

Pondok Bambu, April 2017


Fajar Martha, seringkali menulis esai-esai bertema musik, sepak bola, sesekali politik, dan mulai mengarang cerpen. Cerpen-cerpennya pernah terbit di Majalah Kartini, Pikiran Rakyat, dan Radar Surabaya.


Rubrik ini diasuh oleh M. Rois Rinaldi.

Editor : Esih Yuliasari

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar