Cerpen

Cerpen Kanya Ahayu Ning Yatika Akasawakya: Hukuman untuk Istri Tukang Becak

biem.co — Di atas sana tampak mega-mega berarak ke arah barat siang ini. Langit berwarna kelabu pekat memayungi orang-orang yang berkerumun di dekat sumur hendak menyaksikan diselenggarakannya hukuman bagi seorang perempuan yang menduakan suaminya. Entah hukuman apa yang pantas diberikan kepada perempuan yang tak mampu menjaga kehormatan dan keutuhan keluarga.

Namanya Aminah. Warga kampung memanggilnya Minul. Di usianya ke empat puluh, ia masih tampak muda padahal sudah memiliki dua anak. Minul memiliki suami tukang becak. Setiap hari suaminya menarik becak ke kota dari matahari sebelum terbit hingga gelap baru sampai rumah. Dan manakala Minul tak bekerja, ia pasti di rumah sendiri dengan anaknya yang berusia dua tahun.

Di meja makan yang beralaskan tikar lusuh ini—ruang satu-satunya selain satu kamar tidur, kamar mandi, dan dapur, Minul selalu melayani suaminya setiap pulang dari menarik becak. Malam itu pun ia sudah menyediakan teh hangat dan sup ayam. Sembari menunggu suaminya pulang, Minul membersihkan dirinya setelah seharian ia bekerja mencuci piring di warung milik tetangga.

Tak seperti biasanya, malam itu suami Minul belum juga pulang padahal malam semakin gelap. Sudah tiga kali Minul menghangatkan sup ayam dan teh yang dingin. Sudah tiga kali pula ia membuka pintu, tengok kanan dan kiri, tetapi suaminya tak juga muncul. Pada waktu ia hendak menidurkan anaknya yang berusia dua tahun itu, pintu terketuk.

”Aku sangat mengkhawatirkanmu,” kata Minul menyambut suaminya di depan pintu.

”Di jalan tadi, aku bertemu dengan Topo, ia bilang kalau istriku ini masih seperti remaja,”

”Aku siapkan air panas untuk mandi terus nanti kita makan.”

Di kamar mandi, suami Minul mengulangi lagi ucapan Topo tadi bahwa Minul masih terlihat seperti bunga yang baru mekar. Minul menjawabnya dengan tawa dan mengatakan kalau dirinya sudah beranak dua bagaimana mungkin masih tampak muda.

”Kau memang sangat cantik.”

Ucapan suami Minul itu tak terdengar oleh istrinya yang sudah menunggu di meja makan. Demikian, seperti hari-hari yang telah lewat, selepas mandi suami Minul langsung menuju meja makan. Minul begitu setia melayani dan menunggui suaminya sampai selesai makan sementara itu ia sendiri tak ikut makan atau hanya meneguk teh hangat.

Tidak ubahnya dengan yang sudah-sudah, karena badannya sudah terlalu lelah dan penat, suami Minul langsung tidur setelah perut terisi. Minul tak protes. Ia tetap setia mengikuti suaminya ke tempat tidur. Namun, malam itu Minul tampak ingin tubuhnya dijamah, tetapi ia tak berani mengutarakan kepada suaminya. Ia hanya menggelayut di tubuh suaminya yang telah lelap mendengkur. Lambat laun, Minul pun ikut nyenyak di samping suaminya.

Keesokan harinya, Minul tak pergi bekerja. Seharian ia tak berbuat apa-apa, tetapi tubuhnya tampak sangat lelah. Ia hanya tiduran sambil menyusui anaknya di atas tikar meja makan sampai ia sendiri tertidur sementara anaknya masih asyik menyusu.

Barangkali hari itu ialah awal kesetian Minul terhadap suaminya mulai goyah. Di tengah-tengah lelapnya ia tidur, tiba-tiba saja Topo menyelonong masuk ke dalam rumah Minul yang tak terkunci. Tentu saja Topo melihat payudara Minul yang putih mulus dan tampak ranum yang sedang disusu anaknya.

Bukan saja hanya tergiur, dengan perlahan Topo telah menyentuh dan sedikit meremas payudara Minul yang masih disusu anaknya.

”Om ikut memegang sedikit ya,” bisik Topo kepada anak Minul yang tentu saja belum paham.

Akan tetapi, anak Minul merespon dengan tangis histeris yang membuat Minul terbangun dan terkinjat seketika. Topo juga ikut terkejut. Namun, dengan sigap ia menutup mulut Minul dengan tangannya lantas membawanya masuk ke kamar satu-satunya yang ada di dekat meja makan.

Minul meronta menolak tubuhnya dijamah Topo. Namun cengkraman Topo sangat kuat sehingga Minul tak dapat mencegatnya.

”Setiap hari suamimu selalu pergi. Kamu pasti butuh ini,” ucap Topo sambil mengeluarkan kemaluannya di depan muka Minul.

Awalnya Minul memang menolak, tetapi akhirnya ia terbawa juga oleh gairah Topo. Sementara berahinya dikuasi Topo, anak Minul menangis begitu kencang. Minul tak sanggup mendengar tangis itu sementara nafsunya sedang menggebu-gebu. Minul bersetubuh dengan Topo sambil menutup telinganya meskipun suara tangis anaknya masih menyusup masuk ke dalam telinganya.

***

Sejak hari itu, selepas Minul bekerja mencuci piring di warung tetangga, Topo sudah menunggunya di semak-semak samping rumahnya. Semenjak kejadian tempo itu juga, sudah menjadi kebiasaan mereka berdua untuk meluangkan waktu menuntaskan nafsu barang dua jam.

”Setelah kita melakukan hubungan badan tiga kali, kau bilang padaku untuk menjadikanku istri sahmu. Kapan?” kata Minul sambil mengenakan bajunya usai bersetubuh.

”Kau sabar ya. Nanti kita cari cara.”

”Selalu, tapi kapan pastinya?”

Topo tak menjawab. Dia berbisik kepada Minul tentang rencananya untuk menyingkirkan suami Minul dengan cara memberikan minuman berwarna serupa teh yang bisa memabukkan. Itu membuat Minul sangat terkejut. Di satu sisi ia sangat mencintai suaminya, tetapi di sisi lain ia juga ingin memiliki Topo.

Topo sebanarnya tak begitu yakin dengan langkahnya untuk menyingkirkan suami Minul itu. Namun, itu satu-satunya cara untuk memiliki Minul sepenuhnya tanpa terus didesak dengan pertanyaan kapan oleh Minul.

Setiap hari Minul selalu kepikiran dengan cara yang diutarakan oleh Topo. Ia ketar-ketir jika hal yang dibisikkan Topo kepadanya itu akan terjadi. Bukan hanya ia akan kehilangan orang yang dicintai selama ini, tetapi ia juga dibayang-bayangi oleh hukuman yang nanti akan menjeratnya.

”Apa iya itu satu-satunya cara?” tanya Minul ragu kepada Topo.

”Mau bagaimana lagi. Katanya kau sudah tak sabar ingin selalu bersamaku?”

Hanya desau angin yang terdengar. Di atas tikar lusuh meja makan yang selalu dibuat Minul untuk melayani suaminya selepas pulang dari menarik becak, ia hanya menggigit bibirnya. Sementara itu Topo justru menggoda Minul kembali setelah dua jam mereka beradu nafsu.

Kendatipun dalam keadaan cemas, tapi Minul tak sanggup menolak ketika dicumbu Topo. Minul lupa dan bahkan terbuai dengan nafsunya sendiri. Ia selalu mengesampingkan anaknya yang masih berusia dua tahun demi bisa melampiaskan nafsunya dengan Topo.

Kebetulan anak Minul yang pertama, yang sudah remaja, Ningrum namanya, sedang di pesantren. Jadi memang tak ada yang tahu atau apalagi melihat bagaimana hubungan Minul dengan Topo kecuali anaknya yang berusia dua tahun itu. Dan beruntungnya lagi, letak rumah Minul paling ujung di gang desanya, jauh dari rumah tetangga-tetangganya. Selain itu, kanan-kiri serta depan rumahnya (di seberang jalan) terbentang ladang tebu, jadi dari kejauhan rumah Minul tak terlihat.

***

Siang itu, Minul dan Topo sedang merundingkan rencananya untuk menyingkirkan Topo yang nantinya akan dilangsungkan ketika malam hari nanti sewaktu suami Minul sampai di rumah. Seperti biasa, mereka selalu berduaan di ruang depan. Dan seperti selalu juga, anak Minul yang baru berumur dua tahun itu seperti tiada.

”Aku takut,” ucap Minul lirih sambil menggelayut di tubuh Topo.

”Aku mengawasimu.”

Usai mereka berembuk, Topo menyuruh Minul untuk pergi ke toko penjual minuman. Minul membeli dua botol minuman berwarna kekuning-kuningan seperti petunjuk yang diberikan Topo. Minul begitu hati-hati ketika hendak membawanya pulang. Kedua botol itu di masukkan ke dalam tas jinjing yang sebelumnya sudah dibalut dengan kain agar tak terlihat oleh siapapun.

Minul sebelumnya tidak pernah menyuguhkan minuman tersebut kepada suaminya. Ia selalu menyajikan teh hangat yang dituangkan dari teko sedikit demi sedikit. Dengan demikian, sesampainya di rumah, Minul langsung menuangkan isi minuman yang ada di botol itu ke dalam teko.

Pada waktu itu memang agak ganjal. Biasanya Minul menyajikan teh hangat, dan minuman yang dibelinya itu tak hangat sama sekali, malah sebaliknya. Sebagai pengganti untuk menghangatkan tubuh suaminya, di samping minuman itu Minul telah menyiapkan sup ayam.

Lima jam kemudian, suami Minul baru sampai di rumah. Minul menyambutnya seperti biasa. Dibukakan pintu lantas disambut tangannya, lalu kemudian dituntunnya ke meja makan seperti malam-malam yang telah lewat.

Sebenarnya badan Minul mengeluarkan keringat dingin ketika menuangkan minuman yang tampak seperti teh ke dalam gelas. Namun, ketika melihat suaminya tampak wajar saja dan masih bicara biasa saja kepadanya, Minul pun agak sedikit kendur. Ia ikut tersenyum meski sedang cemas.

Tak sampai setengah jam, suami Minul sudah tak sadarkan diri. Minul cepat-cepat memanggil Topo yang sedari tadi ketika suami Minul pulang sudah menunggu di semak-semak seperti biasa.

Mereka berdua lantas masuk ke rumah dan dengan segera melakukan rencananya. Sementara suami Minul sudah tak berdaya, Topo langsung melingkarkan kain yang sudah disediakan Minul ke leher suami Minul.

Begitu kencang Topo manarik kain itu hingga suami Minul benar-benar kehabisan nafas. Minul yang sebelumnya sudah tahu rencana ini, bahkan memang dia dan Topo yang merencanakannya, justru menangis histeris.

”Kita akan bersama seperti yang kamu mau. Kenapa kau tangisi?”

Minul diam meski masih mengeluarkan air mata. Namun, di mana anak Minul yang umur dua tahun ketika malam itu bapaknya tak bernafas lagi? Lagi-lagi seperti biasa, anak Minul seperti tiada. Padahal anak itu sedang di depan bapaknya dan mamandang bapaknya dengan wajah yang begitu polos, seperti tak terjadi apa-apa.

***

Satu bulan kepergian suami Minul telah berlalu. Para tetangga atau apalagi Ningrum yang pulang dari pesantren karena sedang liburan menanyakan bapaknya yang tak terlihat di rumah. Minul selalu menjawab sedang dapat kerja di luar kota, tetapi hingga pada akhirnya tercium gelagat tidak sedap.

Saban hari Ningrum selalu menanyakan bapaknya. Ia merasa kepergian bapaknya begitu tak wajar. Apalagi tak lumrah bapaknya pergi selama itu. Ningrum tahu betul bahwa bapaknya pergi hanya untuk mencari nafkah.

”Bu, aku tadi malam mimpi kalau bapak mati. Dia minta dikuburkan yang baik,” kata Ningrum kepada ibunya selepas ia telah lima kali menanyakan ketiadaan bapaknya di rumah.

”Bapak mencari duit ke luar kota.”

”Tapi bu, mimpiku itu seperti nyata.”

”Ah, hanya mimpi. Bunganya tidur.”

Ningrum diam, tetapi ia begitu yakin kalau bapaknya memang bukan ke luar kota. Bapaknya telah meninggal dunia. Ningrum sendiri, tanpa diketahui oleh ibunya bahkan setiap malam mendoakan bapaknya agar tenang di tempatnya.

Ningrum tak tahu kalau bapaknya dibuang di sumur ini sebulan lalu. Sampai kemarin lima hari yang lalu ketika ia harus kembali lagi ke pesantren. Tiga minggu di rumah, Ningrum menunggu bapaknya yang kata ibunya pergi ke luar kota tetapi tak kunjung pulang.

Andaikan Ningrum tahu bapaknya dibuang oleh ibunya di sumur ini, entah apa yang akan dilakukannya kepada ibunya. Di sumur inilah bapak Ningrum bersemayam. Sumur yang tak pernah dipakai lagi di desa Minul karena airnya tak bersumber lagi. Dan di sumur ini pula telah dijadikan tempat pembuangan sampah daun kering yang berjatuhan.

Tiga hari yang lalu ketika ada seorang warga yang hendak membersihkan daun-daun berguguran di samping-samping sumur mencium bau busuk. Tatkala ia hendak membuang sampah tersebut ke dalam sumur, remang-remang ia melihat ada orang sedang jongkok di dalamnya.

Hari inilah, di atas sumur ini pula, Minul dan Topo di gantung telanjang dada di atasnya. Banyak warga yang menyaksikan hukuman mereka berdua. Sebelum eksekusi hukuman, salah seorang petinggi desa membawa sosok yang berjongkok di dalam sumur yang tiga hari lalu berhasil ditarik ke atas. Wasangka warga bahwa suami Minul telah mati bukan pergi ke luar kota benar adanya setelah sosok yang jongkok di dalam sumur itu dikerek.

Tubuh suami Minul sudah kaku, dirubung lalat dan belatung, bahkan tulang-tulangnya sudah sedikit terlihat dan masih terlilit dengan kain dileher. Pun masih ada tali yang mengikat tangan dan kaki. Itulah sosok yang berjongkok di dalam sumur ketika telah berhasil ditarik ke atas. Minul yang melihat dari atas menjerit histeris tak mampu menahan tangis. (*)


Tentang Penulis:

Kanya Ahayu Ning Yatika Akasawakya berasal dari Kudus, Jawa Tengah dan berdomisili di Tangerang Selatan. Kini ia masih menyelesaikan studi strata satu di Institut Kesenian Jakarta dengan mayor Kajian Sinema. Ia bisa dihubungi melalui surel [email protected]

Editor : Happy Hawra

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button